Tulisan ini berawal dari pertemuan ketiga “Diskusi Arisan Literasi” yang dilaksanakan Minggu, (3/11). Karena kedatangan peneliti dan pemerhati budayawan dan satrawan dari Trenggalek langsung. Yaitu Rihanan salah satu penulis QLC Trenggalek, Misbahus Surur (sastrawan dan sekaligus Dosen UIN malang), dan pak ST. Sri Emyani sastrawan Jawa.
Tamu yang luar biasa ini yang mengisi diskusi pada Minggu (3/11) kemarin sangat luar biasa. Sehingga para peserta diskusi diharapkan termotivasi untuk gemar dan suka akan membaca buku dan menulis, dari wejangan dan nasehat yang di sampaikan dari penulis dan sastrawan muda Trenggalek. Lantaran budaya membaca buku yang semakin terkikis oleh tontonan telivisi yang membuat para generasi muda tidak produktif dan sering kemakan bujuk rayuan terhadap apa yang di tawarkan oleh tayangan telivisi. Banyak sekali pesan yang memdongkrak “lawan budaya tonton dengan budaya aksara”.
Komunitas Literasi Watulimo adalah wadah para pemuda Watulimo yang bergerak dalam sebuah organisasi sosial yang mengatas-namakan kesukaannya dalam sastra dan dunia tulis. Sebagai wadah meningkatkan kreatifitasnya dalam sebuah keorganisasian, dan meningkatkan kreatifitasnya dalam dunia baca tulis. Dalam setiap diskusi dan kumpulnya diadakan di rumah teman yang ‘motel’ arisannya atau tempat terbuka secara melingkar, santai, dan sekaligus Arisan Literasi sebagai agenda rutinan.
”Menonton televisi memperburuk kosakata, sedangkan membaca buku atau koran memperbaikinya.”
Untuk pertemuan hari Minggu (3/11), Komunitas Literasi Watulimo yang biasa di singkat KOLWAT, membahas kesiapan agenda Seminar dan Pengantar Menuju Sastra. Karena organisasi KOLWAT ini yang pertama kali di daerah Selatan Kab. Trenggalek, harus di dukung oleh semua pihak tanpa terkecuali. Kemudian KOLWAT memberi sumbangsih dan memberi andil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan melakukan kontribusi pada masyarakat atau lingkungan sekitar, aku merasa hidup ini ada tujuan. Hidup ini ada artinya. Melalui pemuda kawasan pesisir pantai Prigi ini suka akan dunia baca dan tulis. Lima atau sepuluh kedepan masyarakat Pesisir Pantai Prigi akan merasakan dampak yang kongrit dari adanya KOLWAT ini.
Dunia baca dan tulis menulis harus digiatkan, untuk melawan budaya tonton yang sekarang lagi menyerang semua kalangan. Maka, budaya suka dengan baca dan tulis harus digiatkan kembali untuk kearifan lokal. Dan menjadi bagian dalam kehidupan sehari, untuk mengisi waktu luang yang tak terpakai, daripada menonoton televisi. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh The National Opinion Research Center dari tahun 1974 sampai 1990 menemukan bahwa ”Menonton televisi memperburuk kosakata, sedangkan membaca buku atau koran memperbaikinya”. Pendapat tersebut di’iya’kan oleh pak Nurani Soyomukti, menurutnya menonton televisi akan mengurangi kosakata pada potensi kita. Beliau adalah dewan pembina KOLWAT.
Menulis adalah atas dasar kesukaannya membaca buku. “omong kosong, orang yang suka menulis, tidak menyukai buku.” Kata Misbarus Surur, beliau juga Sastrawan dan sekaligus Dosen di UIN Malang. Memang benar apa ynag dikatakan mas Surur. Dari kecintaanya terhadap buku, ia akan mengeksplor apa yang ada di pikirannya. Kemudian, ia akan mengulas kembali dengan tulisan, sehingga tanpa sadar kita telah menghasilkan karya lewat tulisan.
Menulislah, apa saja yang kita jumpai dan kita temui. Sehingga kita bisa mengembangkan apa yang kita ketahui, seperti bentuk puisi, cerpen atau bentuk fiksi yang lain. Menulis tidak berangkat dari fiktif. Seperti contoh, banyak penulis muda yang menulis cerita tentang cinta dengan gaya bahasa yang begitu dewasa. Karena terilhami dengan apa yang ia jumpai di sekitar. Seperti Andrea Hirata, “Ia menulis keluarganya dan teman sekampungnya dan kemudian ia kembangkan menjadi novel yang sangat fenomenal, yaitu Laskar Pelangi.”
Orang yang dikatakan seniman itu adalah orang yang memliki karya, melalui karya dari tangannya sendiri. Banyak sekali orang yang mengaku jadi seniman, karena tampang dan pakaiannya yang sangar seperti seniman jalanan. “Seniman adalah orang yang hasil karyanya dikeluarkan, bukan dilihat dari pakaiannya, ada bukti dari karya yang disampaikan ke khalayak, dan apresiator, yaitu ada orang yang menghargai dari keluh kesah dari hasil karyanya.” Kata pak ST. Sri Emyani. Jangan sampai kita dan generasi muda menjadi “bodo, Mendo koyo Bego.” hehehehe...
Membaca adalah mengisi curek jiwa kiat; agar kelak, ketika berkehidupan, kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang bodoh. Bahwa membeli buku (apapun sejenisnya) tidak akan percuma. Berbeda ketika membeli makanan yang ujung-ujungnya hanya akan menumpuk jadi sampah kotoran di septic tank dan harumnya tak lagi wangi. Tak tersisa apa-apa.
Begitu juga menulis, bukanlah pekerjaan buang-buang waktu. Menulis adalah berpikir. Menulis adalah pekerjaan yang tidak sekedar mengandalkan perasaaan, tapi juga pikiran. Menulis adalah mendokumentasikan suatu waktu, suatu masa, suatu hal pada zamannya, yang kelak akan berguna bagi beberapa generasi di depannya.
Sering kali, banyak masalah yang kita hadapi ketika menulis, secara komplek. Ketika menulis kita dihadapkan masalah yang menggrogoti pikiran kita, entah itu malas, bosen dan tak yakin. Itulah musuh seorang penulis. Bagaimana menghadapi musuh yang nyata untuk memulai menulis tersebut? “menulislah apa saja yang ada di sekitar kita, yang kita jumpai, dan kita ketahui, dengan cara mencatat, membuat out line, terus berlatih, terus memperbaharui kosakata, dengan membaca. Menulis adalah pekerjaan yang melibatkan perasaan dan pikiran serta kemauan.
KOLWAT adalah wadah untuk mengekspresikan minat dan bakat bagi para generasi muda yang ada di daerah Watulimo. Kegiatan apa pun akan kami tampung, apabila sesuai dengan koridor yang sesuai dengan misi dan visi KOLWAT. Maka, jangan pernah takut untuk mencoba untuk menulis, menulislah apa saja yang kita jumpai dan kita rekam di kehidupan sehari-hari. Kemudian, terbentuk dari pergumulan sepanjang kita mau belajar. Bukan di bangun dalam waktu semalam seperti membalikkan telapak tangan atau: Simsalabim, maka jadilah!
Membutuhkan kerja keras, belajar dan perjuangan. Sekali jatuh, bangkit, begitu terus. Jika jatuh bangkit, bangkit dan bnagkit lagi. Seperti kata motifasi yang sering aku dengar. Yaitu kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Harus ada rentang waktu karena di situlah jiwa kita terasah dan terbiasa. Aku percaya pada proses.
Sebagian catatan di atas disarikan dari buku Gong Gola "Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku, 2006".
Tamu yang luar biasa ini yang mengisi diskusi pada Minggu (3/11) kemarin sangat luar biasa. Sehingga para peserta diskusi diharapkan termotivasi untuk gemar dan suka akan membaca buku dan menulis, dari wejangan dan nasehat yang di sampaikan dari penulis dan sastrawan muda Trenggalek. Lantaran budaya membaca buku yang semakin terkikis oleh tontonan telivisi yang membuat para generasi muda tidak produktif dan sering kemakan bujuk rayuan terhadap apa yang di tawarkan oleh tayangan telivisi. Banyak sekali pesan yang memdongkrak “lawan budaya tonton dengan budaya aksara”.
Komunitas Literasi Watulimo adalah wadah para pemuda Watulimo yang bergerak dalam sebuah organisasi sosial yang mengatas-namakan kesukaannya dalam sastra dan dunia tulis. Sebagai wadah meningkatkan kreatifitasnya dalam sebuah keorganisasian, dan meningkatkan kreatifitasnya dalam dunia baca tulis. Dalam setiap diskusi dan kumpulnya diadakan di rumah teman yang ‘motel’ arisannya atau tempat terbuka secara melingkar, santai, dan sekaligus Arisan Literasi sebagai agenda rutinan.
”Menonton televisi memperburuk kosakata, sedangkan membaca buku atau koran memperbaikinya.”
Untuk pertemuan hari Minggu (3/11), Komunitas Literasi Watulimo yang biasa di singkat KOLWAT, membahas kesiapan agenda Seminar dan Pengantar Menuju Sastra. Karena organisasi KOLWAT ini yang pertama kali di daerah Selatan Kab. Trenggalek, harus di dukung oleh semua pihak tanpa terkecuali. Kemudian KOLWAT memberi sumbangsih dan memberi andil untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan melakukan kontribusi pada masyarakat atau lingkungan sekitar, aku merasa hidup ini ada tujuan. Hidup ini ada artinya. Melalui pemuda kawasan pesisir pantai Prigi ini suka akan dunia baca dan tulis. Lima atau sepuluh kedepan masyarakat Pesisir Pantai Prigi akan merasakan dampak yang kongrit dari adanya KOLWAT ini.
Dunia baca dan tulis menulis harus digiatkan, untuk melawan budaya tonton yang sekarang lagi menyerang semua kalangan. Maka, budaya suka dengan baca dan tulis harus digiatkan kembali untuk kearifan lokal. Dan menjadi bagian dalam kehidupan sehari, untuk mengisi waktu luang yang tak terpakai, daripada menonoton televisi. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh The National Opinion Research Center dari tahun 1974 sampai 1990 menemukan bahwa ”Menonton televisi memperburuk kosakata, sedangkan membaca buku atau koran memperbaikinya”. Pendapat tersebut di’iya’kan oleh pak Nurani Soyomukti, menurutnya menonton televisi akan mengurangi kosakata pada potensi kita. Beliau adalah dewan pembina KOLWAT.
Menulis adalah atas dasar kesukaannya membaca buku. “omong kosong, orang yang suka menulis, tidak menyukai buku.” Kata Misbarus Surur, beliau juga Sastrawan dan sekaligus Dosen di UIN Malang. Memang benar apa ynag dikatakan mas Surur. Dari kecintaanya terhadap buku, ia akan mengeksplor apa yang ada di pikirannya. Kemudian, ia akan mengulas kembali dengan tulisan, sehingga tanpa sadar kita telah menghasilkan karya lewat tulisan.
Menulislah, apa saja yang kita jumpai dan kita temui. Sehingga kita bisa mengembangkan apa yang kita ketahui, seperti bentuk puisi, cerpen atau bentuk fiksi yang lain. Menulis tidak berangkat dari fiktif. Seperti contoh, banyak penulis muda yang menulis cerita tentang cinta dengan gaya bahasa yang begitu dewasa. Karena terilhami dengan apa yang ia jumpai di sekitar. Seperti Andrea Hirata, “Ia menulis keluarganya dan teman sekampungnya dan kemudian ia kembangkan menjadi novel yang sangat fenomenal, yaitu Laskar Pelangi.”
Orang yang dikatakan seniman itu adalah orang yang memliki karya, melalui karya dari tangannya sendiri. Banyak sekali orang yang mengaku jadi seniman, karena tampang dan pakaiannya yang sangar seperti seniman jalanan. “Seniman adalah orang yang hasil karyanya dikeluarkan, bukan dilihat dari pakaiannya, ada bukti dari karya yang disampaikan ke khalayak, dan apresiator, yaitu ada orang yang menghargai dari keluh kesah dari hasil karyanya.” Kata pak ST. Sri Emyani. Jangan sampai kita dan generasi muda menjadi “bodo, Mendo koyo Bego.” hehehehe...
Membaca adalah mengisi curek jiwa kiat; agar kelak, ketika berkehidupan, kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang bodoh. Bahwa membeli buku (apapun sejenisnya) tidak akan percuma. Berbeda ketika membeli makanan yang ujung-ujungnya hanya akan menumpuk jadi sampah kotoran di septic tank dan harumnya tak lagi wangi. Tak tersisa apa-apa.
Begitu juga menulis, bukanlah pekerjaan buang-buang waktu. Menulis adalah berpikir. Menulis adalah pekerjaan yang tidak sekedar mengandalkan perasaaan, tapi juga pikiran. Menulis adalah mendokumentasikan suatu waktu, suatu masa, suatu hal pada zamannya, yang kelak akan berguna bagi beberapa generasi di depannya.
Sering kali, banyak masalah yang kita hadapi ketika menulis, secara komplek. Ketika menulis kita dihadapkan masalah yang menggrogoti pikiran kita, entah itu malas, bosen dan tak yakin. Itulah musuh seorang penulis. Bagaimana menghadapi musuh yang nyata untuk memulai menulis tersebut? “menulislah apa saja yang ada di sekitar kita, yang kita jumpai, dan kita ketahui, dengan cara mencatat, membuat out line, terus berlatih, terus memperbaharui kosakata, dengan membaca. Menulis adalah pekerjaan yang melibatkan perasaan dan pikiran serta kemauan.
KOLWAT adalah wadah untuk mengekspresikan minat dan bakat bagi para generasi muda yang ada di daerah Watulimo. Kegiatan apa pun akan kami tampung, apabila sesuai dengan koridor yang sesuai dengan misi dan visi KOLWAT. Maka, jangan pernah takut untuk mencoba untuk menulis, menulislah apa saja yang kita jumpai dan kita rekam di kehidupan sehari-hari. Kemudian, terbentuk dari pergumulan sepanjang kita mau belajar. Bukan di bangun dalam waktu semalam seperti membalikkan telapak tangan atau: Simsalabim, maka jadilah!
Membutuhkan kerja keras, belajar dan perjuangan. Sekali jatuh, bangkit, begitu terus. Jika jatuh bangkit, bangkit dan bnagkit lagi. Seperti kata motifasi yang sering aku dengar. Yaitu kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Harus ada rentang waktu karena di situlah jiwa kita terasah dan terbiasa. Aku percaya pada proses.
Sebagian catatan di atas disarikan dari buku Gong Gola "Menggenggam Dunia, Bukuku Hatiku, 2006".
Posting Komentar