Buku ini menawarkan semacam refleksi atas perjalanan, peristiwa, kejadian, dan lain-lain. Di titik lain, yaitu berupa himpunan tulisan, terletak kekurangan sekaligus kelebihan dalam buku ini.
Saat membaca buku ini, kita seperti disodori banyak “jendela dunia” yang ada disekitar kita. Seperti tulisan yang memuat nilai plus yang jarang diperbincangkan khalayak, tentang bagaimana seorang wasit sepak bola dipimpin oleh seorang ustaz?
Sebetulnya, dunia persepakbolaan dan dunia dakwah, ibarat “dua sisi mata uang”. Namun buku dikemas begitu apik oleh seorang anak muda, bernama Roni Nuryusmansyah. Buku ini sungguh inspiratif, patut di konsumsi untuk memperdalam khazanah keislaman yang dibalut dengan kejadian dalam sepakbola.
Menurut saya, buku ini terbit, seperti jamur di musim hujan. Bagaimana tidak? Buku ini terbit bersama digelarnya piala dunia, dimana, olahraga ini menyedot banyak pasang mata. Bagaimana jika seorang “ustaz” memimpin jalannya pertandingan sepakbola? Tentu sangatlah diharapkan sebuah keadilan dan tidak ada penyimpangan yang menjadikan berhentinya pertandingan digelar.
Bisa dibayangkan sebelum pertandingan seorang ustaz memberikan kultum rohani, atau bahasanya Roni (Kuliah terserah antum, bukan kuliah tujuh menit). Seperti yang kita lihat, sebelum pertandingan di mulai seorang wasit memberipesan untuk bermain yang sportif dan jujur. Fair Play, tidak saling mencela dan Tidak saling menggugat. Entah, pemain dengan pemain, pemain dengan wasit, penonton dengan wasit, dan penonton dengan penonton.
Bertandinglah dengan jujur, dengan menjunjung nilai sportifitas. Karena Rosulullah saw mengatakan “Bahwa kejujuran akan mengantarkan hamba menuju kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan seorang hamba menuju ke surga.” Subhanallah. Tentu sepakbola akan berjalan dengan baik dan enak disaksikan milyaran pasang mata.
Apabila sebelum pertandingan ada seseorang yang hendak menyogok, memenangkan salah satu kesebelasan, ustaz pun berkata, “Astagfirullahal a’dzim.” “Bertakwalah engkau, wahai hamba Allah! Tidakkah engkau tahu Rosulullah melaknat orang yang menyuap dan disuap?!” Kultum ustad.
Ketika seseorang hendak mengeluarkan kopernya dengan pundi-pundi juta dolarnya, dan berkata “bukankah ini tolong menolong?” Ustaz pun memberi wejangan kepada seseorang tadi dengan sebuah kalamullah “Dengarlah! Tolong menolong dalam dosa itu terlarang. Allah ta’ala berfirmanyang artinya; “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 02). (Hal. 204)
Ketika pertandingan dimulai, tidak ada lagi bertengkaran seperti sundulan Zinedene Zidan ke perut Marco Materazzi, pada Piala Dunia 2004 kemarin, sundulan Pepe ke pemain Jerman, seperti piala dunia kemarin. Sehingga seorang wasit memberi petuah. “Janganlah kamu marah, begitu pesan Nabi kita yang tercinta. Karena marah adalah batu berapi yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. orang yang kuat bukanlah ia ynag mampu mengalahkan musuh. Bukan pula orang yang mencetak gol. Namun yang mampu menahan marah. Terlebih lagi ketika ia mampu melampiaskan amarahnya.” Lantaran mendapat petuah dari wasit, pemain tersebut dengan segera merangkul dan bersalaman saling mendahului minta maaf.
Ketika seseorang pemain kelelahan dan jeda pertandingan hendak minum, maka pengadil lapangan pun berkata, “Jika kamu hendak minum, maka sebutlah nama Allah untuk meminta keberkahan dari-Nya. Minumlah dengan tangan kanan, bukan tangan kiri. Karena setan minum dengan tangan kiri dan kita dilarang menyerupai setan dalam segala tindakan.”(Hal. 206)
Kemudian, pemain pun meneguk minuman dengan berucap, “Bismillah... Gluk... Gluk... aaaah, segaaaaarrr...Alhamdulillah...Thanks, wasit, sudah mengajari saya adab minum yang islami. Sekarang dahaga saya sudah hilang dan mulai bersemangat lagi untuk bermain.”
Apabila seorang pemain terhadap lawannya melakukan tackling dari belakang, yang sudah jelas dalam aturannya tidak diperkenankan oleh FIFA. Seseorang pun berkata “Maafkan saya, tadi saya terbawa emosi sehingga saya menghardikmu.” Seorang lawan pun menjawab, “Tidak apa-apa, karena tidak mengenaiku dan tadi tidak keras kok.” Dan ustaz pun berkata,“Subhanallah ini adalah kemurahan hati para pemenang.” Manakali sebuah pertandingan diwarnai perilaku yang murah hati dan kerendahan hati, tidak dimungkiri pertandingan sepakbola ini menjadi lebih merakyat lagi.
Priit... Priit...
Akhirukalam, peluit panjang pengadil lapangan ditiupkan, mereka langsung berjabat tangan dan rangkulan saling minta maaf. Dan ustaz pun berkata, “Terimakasih kepada kedua tim yang telah menunjukkan performa terbaik dalam pertandingan hari ini. Kemudian saling bertukar kostum, sambil bergandeng tangankeluar lapangan menuju ruang ganti (lokker room) pemain
Sehingga para kedua pendukung pun demikian. Pulang ke rumah dengan keadaan hati yang damai. Tidak ada rasist-rasist yang dilakukan oleh para kelompok suporter fanatik. Tidak ada bertengkaran dan bentrokan antara kedua kubu. Tidak ada musuh bebuyutan seperti Aremania dengan Bonek Mania. Atau Persija Mania dengan VikingBandung. Karena itu semua adalah sesama makhluk Allah Saw, dan bukankah sebaik-baiknya manusia adalah makhluk yang bermanfaat terhadap sesama.
“Jika kehidupan itu memiliki wasit, maka bisakah kita menjadi pemain yang baik?” Maka, marilah kita mewujudkan islam secara kaffah, menyeluruh hingga sendi dan tulang sum-sum kehidupan. Apapun profesi kita, di mana pun, kapan pun kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Masihkah kita melakukan kejahatan, kebatilan, lalu mendapat “kartu merah” dalam masyarakat dan akherat nanti.[]
Judul Buku: Jika Ustaz Jadi Wasit; Kumpulan Artikel Islami & Inspiratif
Penulis: Roni Nuryusmansyah
Penerbit: Quanta Emk/ Elex Media Komputindo
Cetakan: I/2004
Halaman: xxi+237
Peresensi: Muhammad Choirur Rokhim
Saat membaca buku ini, kita seperti disodori banyak “jendela dunia” yang ada disekitar kita. Seperti tulisan yang memuat nilai plus yang jarang diperbincangkan khalayak, tentang bagaimana seorang wasit sepak bola dipimpin oleh seorang ustaz?
Sebetulnya, dunia persepakbolaan dan dunia dakwah, ibarat “dua sisi mata uang”. Namun buku dikemas begitu apik oleh seorang anak muda, bernama Roni Nuryusmansyah. Buku ini sungguh inspiratif, patut di konsumsi untuk memperdalam khazanah keislaman yang dibalut dengan kejadian dalam sepakbola.
Menurut saya, buku ini terbit, seperti jamur di musim hujan. Bagaimana tidak? Buku ini terbit bersama digelarnya piala dunia, dimana, olahraga ini menyedot banyak pasang mata. Bagaimana jika seorang “ustaz” memimpin jalannya pertandingan sepakbola? Tentu sangatlah diharapkan sebuah keadilan dan tidak ada penyimpangan yang menjadikan berhentinya pertandingan digelar.
Bisa dibayangkan sebelum pertandingan seorang ustaz memberikan kultum rohani, atau bahasanya Roni (Kuliah terserah antum, bukan kuliah tujuh menit). Seperti yang kita lihat, sebelum pertandingan di mulai seorang wasit memberipesan untuk bermain yang sportif dan jujur. Fair Play, tidak saling mencela dan Tidak saling menggugat. Entah, pemain dengan pemain, pemain dengan wasit, penonton dengan wasit, dan penonton dengan penonton.
Bertandinglah dengan jujur, dengan menjunjung nilai sportifitas. Karena Rosulullah saw mengatakan “Bahwa kejujuran akan mengantarkan hamba menuju kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan seorang hamba menuju ke surga.” Subhanallah. Tentu sepakbola akan berjalan dengan baik dan enak disaksikan milyaran pasang mata.
Apabila sebelum pertandingan ada seseorang yang hendak menyogok, memenangkan salah satu kesebelasan, ustaz pun berkata, “Astagfirullahal a’dzim.” “Bertakwalah engkau, wahai hamba Allah! Tidakkah engkau tahu Rosulullah melaknat orang yang menyuap dan disuap?!” Kultum ustad.
Ketika seseorang hendak mengeluarkan kopernya dengan pundi-pundi juta dolarnya, dan berkata “bukankah ini tolong menolong?” Ustaz pun memberi wejangan kepada seseorang tadi dengan sebuah kalamullah “Dengarlah! Tolong menolong dalam dosa itu terlarang. Allah ta’ala berfirmanyang artinya; “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 02). (Hal. 204)
Ketika pertandingan dimulai, tidak ada lagi bertengkaran seperti sundulan Zinedene Zidan ke perut Marco Materazzi, pada Piala Dunia 2004 kemarin, sundulan Pepe ke pemain Jerman, seperti piala dunia kemarin. Sehingga seorang wasit memberi petuah. “Janganlah kamu marah, begitu pesan Nabi kita yang tercinta. Karena marah adalah batu berapi yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. orang yang kuat bukanlah ia ynag mampu mengalahkan musuh. Bukan pula orang yang mencetak gol. Namun yang mampu menahan marah. Terlebih lagi ketika ia mampu melampiaskan amarahnya.” Lantaran mendapat petuah dari wasit, pemain tersebut dengan segera merangkul dan bersalaman saling mendahului minta maaf.
Ketika seseorang pemain kelelahan dan jeda pertandingan hendak minum, maka pengadil lapangan pun berkata, “Jika kamu hendak minum, maka sebutlah nama Allah untuk meminta keberkahan dari-Nya. Minumlah dengan tangan kanan, bukan tangan kiri. Karena setan minum dengan tangan kiri dan kita dilarang menyerupai setan dalam segala tindakan.”(Hal. 206)
Kemudian, pemain pun meneguk minuman dengan berucap, “Bismillah... Gluk... Gluk... aaaah, segaaaaarrr...Alhamdulillah...Thanks, wasit, sudah mengajari saya adab minum yang islami. Sekarang dahaga saya sudah hilang dan mulai bersemangat lagi untuk bermain.”
Apabila seorang pemain terhadap lawannya melakukan tackling dari belakang, yang sudah jelas dalam aturannya tidak diperkenankan oleh FIFA. Seseorang pun berkata “Maafkan saya, tadi saya terbawa emosi sehingga saya menghardikmu.” Seorang lawan pun menjawab, “Tidak apa-apa, karena tidak mengenaiku dan tadi tidak keras kok.” Dan ustaz pun berkata,“Subhanallah ini adalah kemurahan hati para pemenang.” Manakali sebuah pertandingan diwarnai perilaku yang murah hati dan kerendahan hati, tidak dimungkiri pertandingan sepakbola ini menjadi lebih merakyat lagi.
Priit... Priit...
Akhirukalam, peluit panjang pengadil lapangan ditiupkan, mereka langsung berjabat tangan dan rangkulan saling minta maaf. Dan ustaz pun berkata, “Terimakasih kepada kedua tim yang telah menunjukkan performa terbaik dalam pertandingan hari ini. Kemudian saling bertukar kostum, sambil bergandeng tangankeluar lapangan menuju ruang ganti (lokker room) pemain
Sehingga para kedua pendukung pun demikian. Pulang ke rumah dengan keadaan hati yang damai. Tidak ada rasist-rasist yang dilakukan oleh para kelompok suporter fanatik. Tidak ada bertengkaran dan bentrokan antara kedua kubu. Tidak ada musuh bebuyutan seperti Aremania dengan Bonek Mania. Atau Persija Mania dengan VikingBandung. Karena itu semua adalah sesama makhluk Allah Saw, dan bukankah sebaik-baiknya manusia adalah makhluk yang bermanfaat terhadap sesama.
“Jika kehidupan itu memiliki wasit, maka bisakah kita menjadi pemain yang baik?” Maka, marilah kita mewujudkan islam secara kaffah, menyeluruh hingga sendi dan tulang sum-sum kehidupan. Apapun profesi kita, di mana pun, kapan pun kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Masihkah kita melakukan kejahatan, kebatilan, lalu mendapat “kartu merah” dalam masyarakat dan akherat nanti.[]
Judul Buku: Jika Ustaz Jadi Wasit; Kumpulan Artikel Islami & Inspiratif
Penulis: Roni Nuryusmansyah
Penerbit: Quanta Emk/ Elex Media Komputindo
Cetakan: I/2004
Halaman: xxi+237
Peresensi: Muhammad Choirur Rokhim
Posting Komentar