Dosen mempunyai keahlian dan menulis buku sudah hal biasa. Namun yang menulis buku itu seorang mahasiswa—strata kesetaraan S1—menjadi hal yang sangat luar biasa. Hal ini di civitas academica IAIN Tulungagung, kampus di sebelah Selatan Pesisir ini, mengajarkan mahasiswa menulis buku. Lewat buku yang ditulis semacam bunga rampai ini, salah satu pemicu peningkatan kualitas pribadi (afektif, kognitif dan psikomotor) mahasiswa lewat menulis. Seperti yang diungkapkan banyak para ahli atau pun dosen, sejatinya, dunia baca dan menulis hal ‘wajib’ di kalangan kampus. Kewajiban ini diproyeksikan untuk kemudahan dalam menyelesaikan tugas perkuliahan.
Karena syarat utama menyelesaikan tugas adalah skill menulis. Manakala mahasiswa memiliki keahlian menulis, ia memiliki satu ‘senjata’ ampuh untuk menyelesaikan tugas makalah dan karya tulis. Dari tugas membuat makalah tersebut, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh niscaya akan menjadi suatu kebiasaan dalam menulis. Pada akhirnya para mahasiswa ditantang untuk membuat skripsi bagi mahasiswa S-1, Tesis bagi mahasiswa S-2, dan disertasi bagi mahasiswa S-3. Di sinilah urgensi mengenai baca-tulis penting bagi lulusan seorang Sarjana (S-1, S-2, S-3).
Namun dilihat kenyataan di lapangan, pemahaman tentang pentingnya berbudaya literasi (baca-tulis) sangat minim, bahkan menjadi ‘barang langka’. Kalaupun ada hanya sebagian kecil saja. Jika kita runut asbabun nuzul-nya, secara geneologis kita tidak di warisi melek literasi dari nenek moyang. Suherman (2010) menilai bahwa manusia bangsa ini, dalam DNA-nya, dari kakek-nenek hingga orangtua, tidak memiliki minat dalam membaca dan menulis.
Terkait dengan dunia tulis-menulis ada yang menarik dari pandangan Prof. Iwan Pranoto yang dalam tulisannya di Harian Kompas (14/12/2012) yang berjudul ‘Kasmaran Berilmu Pengetahuan’ mengatakan, “Permasalalahan persekolahan kita adalah kegagalan mengangkat kegiatan belajar dari menulis menjadi menulis untuk belajar (berpikir). Dari learning to write menjadi writing to learn (and think)."
Lantas seberapa penting kah kegiatan membaca dan menulis itu bagi manusia ini? Empat belas abad yang lalu, seorang manusia suci yang tidak bisa membaca dan menulis mendapat amanat dari Tuhan untuk menyebarkan agama Islam. Nabi Muhammad Saw., mendapatkan perintah pertama dari Tuhan yang disampaikan oleh Jibril dengan sebuah ayat yang mencengangkan banyak ahli. Ayat tersebut adalah ayat “Iqra”, yang memiliki arti; bacalah! Beliau saat itu belum bisa membaca sehingga beliau menjawab, “saya tidak bisa membaca.” Namun, Jibril tetap memintanya untuk membaca sehingga diulang sampai tiga kali. Dan apakah pada akhirnya Rasulullah saw., bisa membaca dan menulis? Saya sangat yakin, iya.
Ayat tersebut adalah ayat pertama bagi umat manusia melalui nabinya, ia harus dimaknai sebagai sebuah perintah agar umat Islam menjadi umat yang paling gemar membaca (ummah qari’ah). Perintah ini juga diturunkan kepada suatu kaum yang dianggap jahiliah 14 abad yang lalu (sementara itu, ironisnya, 14 abad kemudian perintah ini masih terus diabaikan umat yang diberi amat tersebut).
Bagaimana mungkin kita membaca kalau tidak ada kalam yang bisa dibaca? (bagaimana mungkin kita menumbuhkan budaya membaca pada siswa atau mahasiswa jika sekolah/universitas tidak punya buku? Bagaimana mungkin kita menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak kita jika kita, sebagai orangtua, tidak pernah, membelikan mereka buku-buku bacaan?)
Membaca adalah pekerjaan berpikir. Oleh sebab itu, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Demikian kata Glenn Doman dalam bukunya, How to Teach Your Baby to Read (1991:19). Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan di sekolah, atau Universitas maupun kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Faar (1984) dalam bukunya Satria Dharma yang berjudul “Muslim Kok Nyebelin; Apa Kata Dunia (2013)”, menyebutkan “Reading is the heart of education”. Membaca merupakan batu loncatan bagi keberhasilan anak di sekolah dan dalam kehidupan selanjutnya kelak di tengah masyarakat. Tanpa kemampuan membaca yang banyak, keberhasilan di sekolah lanjutan dan di perguruan tinggi adalah tidak mungkin. Begitu penting kegiatan membaca, sehingga berdasarkan penelitian baldridge (1987), manusia modern dituntut untuk membaca tidak kurang dari 840.000 kata per minggu. Itu sebabnya Allah memerintahkan umat Islam untuk membaca.
Pada pengertian di atas maka literasi adalah kemampuan untuk membaca. Karena membaca identik dengan memahami, literasi kemudian identik dengan pemahaman: sejalan dengan kehidupan yang semakin kompleks, pemahaman ini tidak terikat oleh pemahaman teks saja, akan tetapi, dan inilah yang lebih penting, pemahaman terhadap kompleksitas kehidupan itu sendiri.
Dalam pemikiran orang Barat, akar segala sesuatu yang berhubungan dengan teks pasti berawal dari kata litera, yaitu leter atau huruf, dan kemudian, dalam IT dikenal dengan istilah character. Ibarat dua sisi mata uang, membaca dan menulis (literasi) memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Kata literature, yaitu sastra, misalnya, berasal dari kata litera, demikian pula kata literacy, yaitu kemampuan untuk membaca. Karena orang yang melek huruf dinamai literate, atau mampu membaca huruf, sedangkan orang yang tidak mengenal huruf alias buta huruf, dianggap sebagai orang yang illiterate. Literasi juga berkaitan dengan pemikiran. Seseorang yang kemampuan literasinya kuat akan mempu dengan baik dalam membaca, namun kemampuan menafsir berbagai aspek kehidupan, termasuk di antaranya mampu membaca tanda-tanda zaman. Seseorang tidak akan mampu menjadi filsuf, andaikata kemampuan literasinya kurang baik.
Kita pasti mengetahui cerita tentang Nabi Ibrahim. Saya selalu mengagumi pengalaman hidup Nabi Ibrahim yang lahir dari keluarga dan lingkungan penyembah berhala, karena kemampuannya berpikir kritis tentang orang-orang di sekitarnya, yang dirasa sangat irasional. Ia mampu membaca keadaan yang sangat jahiliah ketika itu. Ia terus menerus mempertanyakan semua ritual, keyakinan, dan tradisi yang dilakukan ayah dan orang-orang sekitarnya. Karena berliterasi atau membaca keadaan, ia bisa menjawab pertanyaannya, pergulatan pemikirannya, yang membuat semakin tenggelam dalam keimanannya kepada Sang Pencipta segala makhluk di bumi ini, The Supreme Being. Sehingga ia menjadi nabi kesayangan Tuhan (khalilullah), karena kemampuannya berpikir memisahkan antara yang benar dan yang batil secara kritis.
Membaca dan menulis adalah satu paket, seperti pasangan kembar. Oleh sebab itu, di kalangan akademis, yang berkecimpung dalam dunia intelektual, semisal mahasiswa atau dosen, maka sangat penting memiliki budaya baca-tulis yang kuat. Selain untuk memudahkan untuk kenaikkan gelar atau pangkat, kegiatan menulis adalah aktivitas berpikir kritis. Terlebih seorang mahasiswa yang memiliki sejarah pergerakan yang sangat kental, sebagai agen of change. Keahlian menulis sangat penting dikuasai untuk mengkritisi kebijakan kampus maupun birokrasi pemerintah. Bukan saja dengan lantang memegang megapont atau corong speaker, berorasi teriak-teriak hingga mulut berbusa, namun memiliki keahlian menulis, berbagai lapisan masyarakat akan mengetahui apa yang disuarakan. Kiranya, Scripta Manent Verba Volant, yang tertulis akan abadi, yang terucap akan dimakan zaman, begitu.
Dunia Dimulai Dari Tulisan
Sebelum saya masuk dalam subjudul dibawah, berikan saya waktu untuk mohon izin ikut rembug dalam proyek menulis buku secara bunga rampai ini. Saya mendapat undangan via inbox facebook dari Dr. Ngainun Naim, dengan senang hati saya iyakan, karena ikut menyebar kampanye tulis-menulis sesama mahasiswa.
Sementara, subjudul di atas, saya cuplik dari bukunya Agus Irawan MN (2008). Lantas, bagaimana bisa dunia di mulai dari tulisan? Ini yang menarik untuk dicari tahu jawabannya.
Pada mulanya, tulisan itu berawal dari gagasan. Gagasan itu sendiri berasal dari aktivitas akal pikiran manusia ketika menghadapi alam sekeliling kehidupannya. Akan tetapi sebesar apa pun sebuah gagasan dibangun dan dilahirkan seorang manusia, ia tetap saja akan hanya menjadi gagasan, yang tidak memiliki manfaat apa pun manakala tidak ditulis, meminjam istilah Hernowo Hasyim, mengikat dengan tulisan.
Dalam secara nasional, Indonesia membangun perguruan tinggi sedemikian besar. Semangat itu terlihat dari jumlah perguruan tinggi yang didirikan dari pihak swasta maupun negeri, tidak kurang dari 3500 perguruan tinggi di Indonesia. IAIN Tulungagung adalah sebagian kecil dari 28 STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), 17 dari IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan 8 buah UIN (Universitas Islam Negeri) yang ada dibawah naungan Departemen Agama. Sudah seharusnya kampus yang bernafaskan islami membangun budaya dari sudut pandang berliterasi.
Lantas bagaimana cara membangun budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa? Ada enam usulan yang diberikan oleh Haris Supratno dalam buku yang berjudul “Membangun Budaya Literasi; Membangun Peradaban Generasi Emas melalui Literasi (2014)”. Pertama, mahasiswa diberi tugas membaca karya sastra, baik yang berbentuk roman, novel, cerpen, drama, ataupun buku non fiksi; filsafat, pemikiran tokoh, maupun lainnya dan membuat sinopsis setiap karya yang dibacanya.
Kedua, mahasiswa diberi tugas membaca leteratur dan membuat ringkasan sekitar 5-10 buku. Dan masing-masing buku tersebut harus dibuat ringkasan, baik dalam bentuk tulisan populer ataupun makalah ilmiah. Ketiga, mahasiswa diberi tugas membuat makalah dipresentasikan atau tidak dipresentasikan. Hal ini menjadi pemicu budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa.
Keempat, Organisasi kemahasiswaan didorong untuk menerbitkan majalah atau jurnal. Kelima, Jurusan, Program Studi, Fakultas, dan Universitas memiliki majalah atau jurnal. Hal ini sebagai wadah untuk menampung gagasan seorang dosen atau mahasiswa dengan bentuk cetak atau e-jurnal. Keenam, setiap tugas akhir berupa skripsi, tesis, dan desertasi harus disertai menulis makalah yang siap dimuat dalam jurnal. Program tersebut bertujuan agar mahasiswa—tidak menutup kemungkinan dosen—terbiasa menulis, dan dapat meningkatkan budaya literasi di kalangan perguruan tinggi.
Kegiatan menulis tidak akan terjadi manakal tidak diimbangi membaca. Membaca adalah pekerjaan riset. Perbandingan antara membaca dan menulis, seperti yang diungkapkan oleh Muhidin M. Dahlan dan Diana AV Sasa yang berjudul “Berguru Pada Pesohor (2012)” adalah membaca 90 % dan menulis 10 %, jadi, membacalah!
Secara sosiologis, perguruan tinggi memiliki dekatan dan bersentuhan langsung dengan dunia keilmuan, maka sangat disarankan memiliki budaya membaca dan menulis. Terutama mahasiswa dan dosen civitas academica. Barangkali sepanjang waktu kita tidak pernah mengenal siapa Christopher Columbus, temuan-temuan brilian Thomas Alfa Edison, Albert Einsten, pemikiran-pemikiran cerdas Sir Isac Newton misalnya, atau filosuf-filosuf besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Imam Al-Ghazali, Bairuni, al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina.
Umat Islam mengalami zaman keemasan ketika muncul tokoh-tokoh semacam Ibnu sina, Ibnu Rusyd, Imam al-Ghazali dan lain-lain. Mereka membaca dan menulis dan menghasilkan banyak sekali karya tulis. Beberapa di antaranya menjadi sumber referensi bagi bangsa Barat. Ibnu Sina bahkan dikenal sebagai bapak Kedokteran dunia karena menulis banyak buku tentang medis yang akhirnya diadopsi orang-orang Eropa. Bahkan, Imam al-Ghazali Sang Hujjatul Islam mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”
Satria Dharma (2013), menilai saat ini umat Islam mengalami kemunduran dalam literasi. Menurutnya, disebabkan hilangnya budaya membaca dan menulis yang justru perintah tersurat dan tersirat dalam Al-Quran. Al-Quran kini hanya dibaca berulang-ulang dan dihafal tanpa ada upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebagaimana para ilmuwan Islam zaman dahulu. Membaca dan menulis tidak lagi menjadi budaya umat Islam. Oleh sebab itu, kita di perguruan tinggi bernafaskan islami, sudah saatnya menggerakkan menumbuhkan kembali budaya membaca dan menulis yang masif dan terstruktur.
Marilah kita mengulangi kejayaan Islam dengan mengaplikasikan perintah untuk membaca dan menulis dalam Al-Quran yang disampaikan kepada kita, sebagaimana para ilmuwan Islam terdahulu, yang telah melakukan dan membuktikan pengaruhnya yang sangat dahsyat. Oleh sebab itu, kegiatan menulis harus didominasi oleh semua kalangan, cendekiawan, intelektual, akademisi, sastrawan,-budayawan serta para mahasiswa civitas akademi di bangku perguruan tinggi, serta siapapun Anda, hendaknya mau dan memiliki kebiasaan membaca dan menulis.[]
Tulisan ini saya kirim dalam antologi "Geliat Literasi Kampus IAIN Tulungagung"
Karena syarat utama menyelesaikan tugas adalah skill menulis. Manakala mahasiswa memiliki keahlian menulis, ia memiliki satu ‘senjata’ ampuh untuk menyelesaikan tugas makalah dan karya tulis. Dari tugas membuat makalah tersebut, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh niscaya akan menjadi suatu kebiasaan dalam menulis. Pada akhirnya para mahasiswa ditantang untuk membuat skripsi bagi mahasiswa S-1, Tesis bagi mahasiswa S-2, dan disertasi bagi mahasiswa S-3. Di sinilah urgensi mengenai baca-tulis penting bagi lulusan seorang Sarjana (S-1, S-2, S-3).
Namun dilihat kenyataan di lapangan, pemahaman tentang pentingnya berbudaya literasi (baca-tulis) sangat minim, bahkan menjadi ‘barang langka’. Kalaupun ada hanya sebagian kecil saja. Jika kita runut asbabun nuzul-nya, secara geneologis kita tidak di warisi melek literasi dari nenek moyang. Suherman (2010) menilai bahwa manusia bangsa ini, dalam DNA-nya, dari kakek-nenek hingga orangtua, tidak memiliki minat dalam membaca dan menulis.
Terkait dengan dunia tulis-menulis ada yang menarik dari pandangan Prof. Iwan Pranoto yang dalam tulisannya di Harian Kompas (14/12/2012) yang berjudul ‘Kasmaran Berilmu Pengetahuan’ mengatakan, “Permasalalahan persekolahan kita adalah kegagalan mengangkat kegiatan belajar dari menulis menjadi menulis untuk belajar (berpikir). Dari learning to write menjadi writing to learn (and think)."
Lantas seberapa penting kah kegiatan membaca dan menulis itu bagi manusia ini? Empat belas abad yang lalu, seorang manusia suci yang tidak bisa membaca dan menulis mendapat amanat dari Tuhan untuk menyebarkan agama Islam. Nabi Muhammad Saw., mendapatkan perintah pertama dari Tuhan yang disampaikan oleh Jibril dengan sebuah ayat yang mencengangkan banyak ahli. Ayat tersebut adalah ayat “Iqra”, yang memiliki arti; bacalah! Beliau saat itu belum bisa membaca sehingga beliau menjawab, “saya tidak bisa membaca.” Namun, Jibril tetap memintanya untuk membaca sehingga diulang sampai tiga kali. Dan apakah pada akhirnya Rasulullah saw., bisa membaca dan menulis? Saya sangat yakin, iya.
Ayat tersebut adalah ayat pertama bagi umat manusia melalui nabinya, ia harus dimaknai sebagai sebuah perintah agar umat Islam menjadi umat yang paling gemar membaca (ummah qari’ah). Perintah ini juga diturunkan kepada suatu kaum yang dianggap jahiliah 14 abad yang lalu (sementara itu, ironisnya, 14 abad kemudian perintah ini masih terus diabaikan umat yang diberi amat tersebut).
Bagaimana mungkin kita membaca kalau tidak ada kalam yang bisa dibaca? (bagaimana mungkin kita menumbuhkan budaya membaca pada siswa atau mahasiswa jika sekolah/universitas tidak punya buku? Bagaimana mungkin kita menumbuhkan budaya membaca pada anak-anak kita jika kita, sebagai orangtua, tidak pernah, membelikan mereka buku-buku bacaan?)
Membaca adalah pekerjaan berpikir. Oleh sebab itu, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Demikian kata Glenn Doman dalam bukunya, How to Teach Your Baby to Read (1991:19). Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, tingkat keberhasilan di sekolah, atau Universitas maupun kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Faar (1984) dalam bukunya Satria Dharma yang berjudul “Muslim Kok Nyebelin; Apa Kata Dunia (2013)”, menyebutkan “Reading is the heart of education”. Membaca merupakan batu loncatan bagi keberhasilan anak di sekolah dan dalam kehidupan selanjutnya kelak di tengah masyarakat. Tanpa kemampuan membaca yang banyak, keberhasilan di sekolah lanjutan dan di perguruan tinggi adalah tidak mungkin. Begitu penting kegiatan membaca, sehingga berdasarkan penelitian baldridge (1987), manusia modern dituntut untuk membaca tidak kurang dari 840.000 kata per minggu. Itu sebabnya Allah memerintahkan umat Islam untuk membaca.
Pada pengertian di atas maka literasi adalah kemampuan untuk membaca. Karena membaca identik dengan memahami, literasi kemudian identik dengan pemahaman: sejalan dengan kehidupan yang semakin kompleks, pemahaman ini tidak terikat oleh pemahaman teks saja, akan tetapi, dan inilah yang lebih penting, pemahaman terhadap kompleksitas kehidupan itu sendiri.
Dalam pemikiran orang Barat, akar segala sesuatu yang berhubungan dengan teks pasti berawal dari kata litera, yaitu leter atau huruf, dan kemudian, dalam IT dikenal dengan istilah character. Ibarat dua sisi mata uang, membaca dan menulis (literasi) memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Kata literature, yaitu sastra, misalnya, berasal dari kata litera, demikian pula kata literacy, yaitu kemampuan untuk membaca. Karena orang yang melek huruf dinamai literate, atau mampu membaca huruf, sedangkan orang yang tidak mengenal huruf alias buta huruf, dianggap sebagai orang yang illiterate. Literasi juga berkaitan dengan pemikiran. Seseorang yang kemampuan literasinya kuat akan mempu dengan baik dalam membaca, namun kemampuan menafsir berbagai aspek kehidupan, termasuk di antaranya mampu membaca tanda-tanda zaman. Seseorang tidak akan mampu menjadi filsuf, andaikata kemampuan literasinya kurang baik.
Kita pasti mengetahui cerita tentang Nabi Ibrahim. Saya selalu mengagumi pengalaman hidup Nabi Ibrahim yang lahir dari keluarga dan lingkungan penyembah berhala, karena kemampuannya berpikir kritis tentang orang-orang di sekitarnya, yang dirasa sangat irasional. Ia mampu membaca keadaan yang sangat jahiliah ketika itu. Ia terus menerus mempertanyakan semua ritual, keyakinan, dan tradisi yang dilakukan ayah dan orang-orang sekitarnya. Karena berliterasi atau membaca keadaan, ia bisa menjawab pertanyaannya, pergulatan pemikirannya, yang membuat semakin tenggelam dalam keimanannya kepada Sang Pencipta segala makhluk di bumi ini, The Supreme Being. Sehingga ia menjadi nabi kesayangan Tuhan (khalilullah), karena kemampuannya berpikir memisahkan antara yang benar dan yang batil secara kritis.
Membaca dan menulis adalah satu paket, seperti pasangan kembar. Oleh sebab itu, di kalangan akademis, yang berkecimpung dalam dunia intelektual, semisal mahasiswa atau dosen, maka sangat penting memiliki budaya baca-tulis yang kuat. Selain untuk memudahkan untuk kenaikkan gelar atau pangkat, kegiatan menulis adalah aktivitas berpikir kritis. Terlebih seorang mahasiswa yang memiliki sejarah pergerakan yang sangat kental, sebagai agen of change. Keahlian menulis sangat penting dikuasai untuk mengkritisi kebijakan kampus maupun birokrasi pemerintah. Bukan saja dengan lantang memegang megapont atau corong speaker, berorasi teriak-teriak hingga mulut berbusa, namun memiliki keahlian menulis, berbagai lapisan masyarakat akan mengetahui apa yang disuarakan. Kiranya, Scripta Manent Verba Volant, yang tertulis akan abadi, yang terucap akan dimakan zaman, begitu.
Dunia Dimulai Dari Tulisan
Sebelum saya masuk dalam subjudul dibawah, berikan saya waktu untuk mohon izin ikut rembug dalam proyek menulis buku secara bunga rampai ini. Saya mendapat undangan via inbox facebook dari Dr. Ngainun Naim, dengan senang hati saya iyakan, karena ikut menyebar kampanye tulis-menulis sesama mahasiswa.
Sementara, subjudul di atas, saya cuplik dari bukunya Agus Irawan MN (2008). Lantas, bagaimana bisa dunia di mulai dari tulisan? Ini yang menarik untuk dicari tahu jawabannya.
Pada mulanya, tulisan itu berawal dari gagasan. Gagasan itu sendiri berasal dari aktivitas akal pikiran manusia ketika menghadapi alam sekeliling kehidupannya. Akan tetapi sebesar apa pun sebuah gagasan dibangun dan dilahirkan seorang manusia, ia tetap saja akan hanya menjadi gagasan, yang tidak memiliki manfaat apa pun manakala tidak ditulis, meminjam istilah Hernowo Hasyim, mengikat dengan tulisan.
Dalam secara nasional, Indonesia membangun perguruan tinggi sedemikian besar. Semangat itu terlihat dari jumlah perguruan tinggi yang didirikan dari pihak swasta maupun negeri, tidak kurang dari 3500 perguruan tinggi di Indonesia. IAIN Tulungagung adalah sebagian kecil dari 28 STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri), 17 dari IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan 8 buah UIN (Universitas Islam Negeri) yang ada dibawah naungan Departemen Agama. Sudah seharusnya kampus yang bernafaskan islami membangun budaya dari sudut pandang berliterasi.
Lantas bagaimana cara membangun budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa? Ada enam usulan yang diberikan oleh Haris Supratno dalam buku yang berjudul “Membangun Budaya Literasi; Membangun Peradaban Generasi Emas melalui Literasi (2014)”. Pertama, mahasiswa diberi tugas membaca karya sastra, baik yang berbentuk roman, novel, cerpen, drama, ataupun buku non fiksi; filsafat, pemikiran tokoh, maupun lainnya dan membuat sinopsis setiap karya yang dibacanya.
Kedua, mahasiswa diberi tugas membaca leteratur dan membuat ringkasan sekitar 5-10 buku. Dan masing-masing buku tersebut harus dibuat ringkasan, baik dalam bentuk tulisan populer ataupun makalah ilmiah. Ketiga, mahasiswa diberi tugas membuat makalah dipresentasikan atau tidak dipresentasikan. Hal ini menjadi pemicu budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa.
Keempat, Organisasi kemahasiswaan didorong untuk menerbitkan majalah atau jurnal. Kelima, Jurusan, Program Studi, Fakultas, dan Universitas memiliki majalah atau jurnal. Hal ini sebagai wadah untuk menampung gagasan seorang dosen atau mahasiswa dengan bentuk cetak atau e-jurnal. Keenam, setiap tugas akhir berupa skripsi, tesis, dan desertasi harus disertai menulis makalah yang siap dimuat dalam jurnal. Program tersebut bertujuan agar mahasiswa—tidak menutup kemungkinan dosen—terbiasa menulis, dan dapat meningkatkan budaya literasi di kalangan perguruan tinggi.
Kegiatan menulis tidak akan terjadi manakal tidak diimbangi membaca. Membaca adalah pekerjaan riset. Perbandingan antara membaca dan menulis, seperti yang diungkapkan oleh Muhidin M. Dahlan dan Diana AV Sasa yang berjudul “Berguru Pada Pesohor (2012)” adalah membaca 90 % dan menulis 10 %, jadi, membacalah!
Secara sosiologis, perguruan tinggi memiliki dekatan dan bersentuhan langsung dengan dunia keilmuan, maka sangat disarankan memiliki budaya membaca dan menulis. Terutama mahasiswa dan dosen civitas academica. Barangkali sepanjang waktu kita tidak pernah mengenal siapa Christopher Columbus, temuan-temuan brilian Thomas Alfa Edison, Albert Einsten, pemikiran-pemikiran cerdas Sir Isac Newton misalnya, atau filosuf-filosuf besar seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Imam Al-Ghazali, Bairuni, al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina.
Umat Islam mengalami zaman keemasan ketika muncul tokoh-tokoh semacam Ibnu sina, Ibnu Rusyd, Imam al-Ghazali dan lain-lain. Mereka membaca dan menulis dan menghasilkan banyak sekali karya tulis. Beberapa di antaranya menjadi sumber referensi bagi bangsa Barat. Ibnu Sina bahkan dikenal sebagai bapak Kedokteran dunia karena menulis banyak buku tentang medis yang akhirnya diadopsi orang-orang Eropa. Bahkan, Imam al-Ghazali Sang Hujjatul Islam mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.”
Satria Dharma (2013), menilai saat ini umat Islam mengalami kemunduran dalam literasi. Menurutnya, disebabkan hilangnya budaya membaca dan menulis yang justru perintah tersurat dan tersirat dalam Al-Quran. Al-Quran kini hanya dibaca berulang-ulang dan dihafal tanpa ada upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebagaimana para ilmuwan Islam zaman dahulu. Membaca dan menulis tidak lagi menjadi budaya umat Islam. Oleh sebab itu, kita di perguruan tinggi bernafaskan islami, sudah saatnya menggerakkan menumbuhkan kembali budaya membaca dan menulis yang masif dan terstruktur.
Marilah kita mengulangi kejayaan Islam dengan mengaplikasikan perintah untuk membaca dan menulis dalam Al-Quran yang disampaikan kepada kita, sebagaimana para ilmuwan Islam terdahulu, yang telah melakukan dan membuktikan pengaruhnya yang sangat dahsyat. Oleh sebab itu, kegiatan menulis harus didominasi oleh semua kalangan, cendekiawan, intelektual, akademisi, sastrawan,-budayawan serta para mahasiswa civitas akademi di bangku perguruan tinggi, serta siapapun Anda, hendaknya mau dan memiliki kebiasaan membaca dan menulis.[]
Tulisan ini saya kirim dalam antologi "Geliat Literasi Kampus IAIN Tulungagung"
إرسال تعليق