Menulis merupakan salah satu kegiatan yang sangat mengasikkan. Asik lantaran semua kegiatan memerlukan "sebidang" tulisan. Karenanya, dari sudut manapun, dan dilihat sisi apapun kegiatan dimulai dari tulisan. Siapa pun kamu, dari mana pun asalmu, lahir dalam dan dari lingkungan apa pun dirimu, tanpa kegiatan tulis-menulis (literasi), manusia akan tetap berada di zaman kegelapan.
Oleh karena itu, kegiatan tulis-menulis dari hari ke hari. Dari generasi lama ke generasi baru, gerakan menulis semakin hari semakin semarak. Tak terbantahkan manakala lahir banyak penulis-penulis muda bermunculan—bak jamur di musim hujan. Akan tetapi untuk mencapai derajat yang tinggi, seseorang penulis muda (pemula) harus melewati dahulu ujian-ujian kelulusan. Dan tidak mungkin juga, mereka, para penulis pemula atau profesional pernah melakukan “dosa” kepenulisan. Karena tidak ada di dunia ini, manusia yang suci, yang luput dengan dosa. Begitu juga penulis profesional atau tidak mau dirinya disebut penulis sekalipun, mereka pernah melakukan “dosa” dalam proses kreatif kepenulisan. Melanggar ketentuan-ketentuan. Atau, seperti penulis belia, penulis profesional pun juga pernah mengalami kesalahan dalam proses menulisnya. Karena, tidak ada penulis yang sempurna!
Dan tidak dipungkiri, ketika menulis—tulisan ini, saya menyadari masih melanggar dosa kepenulisan. Dan, saya termasuk penulis pemula. Dan masih banyak melakukan kesalahan di sana-sini. Melalui buku yang berjudul 101 Dosa Penulis Pemula; Mengupas Inti Sari Workshop Menulis Asma Nadia ini, berharap ada perubahan dan perbaikan dalam menulis. Dan buku yang ditulis oleh Isa Alamsyah ini, tidak mustahil, penulis masih melanggar dosa kepenulisan. Hanya saja, karena diedit dan diperbaiki, beberapa kekhilafan sudah diinsafkan.
Oleh karena itu, kegiatan tulis-menulis dari hari ke hari. Dari generasi lama ke generasi baru, gerakan menulis semakin hari semakin semarak. Tak terbantahkan manakala lahir banyak penulis-penulis muda bermunculan—bak jamur di musim hujan. Akan tetapi untuk mencapai derajat yang tinggi, seseorang penulis muda (pemula) harus melewati dahulu ujian-ujian kelulusan. Dan tidak mungkin juga, mereka, para penulis pemula atau profesional pernah melakukan “dosa” kepenulisan. Karena tidak ada di dunia ini, manusia yang suci, yang luput dengan dosa. Begitu juga penulis profesional atau tidak mau dirinya disebut penulis sekalipun, mereka pernah melakukan “dosa” dalam proses kreatif kepenulisan. Melanggar ketentuan-ketentuan. Atau, seperti penulis belia, penulis profesional pun juga pernah mengalami kesalahan dalam proses menulisnya. Karena, tidak ada penulis yang sempurna!
Dan tidak dipungkiri, ketika menulis—tulisan ini, saya menyadari masih melanggar dosa kepenulisan. Dan, saya termasuk penulis pemula. Dan masih banyak melakukan kesalahan di sana-sini. Melalui buku yang berjudul 101 Dosa Penulis Pemula; Mengupas Inti Sari Workshop Menulis Asma Nadia ini, berharap ada perubahan dan perbaikan dalam menulis. Dan buku yang ditulis oleh Isa Alamsyah ini, tidak mustahil, penulis masih melanggar dosa kepenulisan. Hanya saja, karena diedit dan diperbaiki, beberapa kekhilafan sudah diinsafkan.
Kekhilafan-kekhilafan itu pernah dialami penulis pemula dan penulis profesional. Kesalahan dalam menulis pun tidak diperhatikan, sehingga masuk dalam radar “dosa” proses kreatif tersebut. Maka dari itu, perlu perbaikan dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan (kontinuitas) dalam proses menulis.
Hanya saja yang membedakan penulis masuk surga, adalah mereka para penulis yang dikategorikan “sempurna”. Karyanya dihargai, diakui, memberi sesuatu pada pembaca, dan tidak mustahil jika memberi banyak manfaat dan kontribusi bagi perubahan yang lebih baik. Namun dalam perjalanan menuju ke surga kepenulisan, mereka pernah membuat kesalahan-kesalahan kepenulisan, dan banyak “dosa” yang pernah dilanggarnya. Dan hampir semua penulis melakukannya.
Di antara kesalahan-kesalahan kepenulisan, yang pernah dilanggar penulis. Dan berbagai karya yang ada, seringkali ditemukan pelanggaran khas oleh seorang penulis. Bahkan penulis produktif buku motivasi pun tidak bisa lari dari kejaran dosa kepenulisan tersebut. Dan kerap melakukan kesalahan. Misalnya tulisan yang pernah Isa Alamsyah tulis dari buku “Jangan Takut Gagal”. Saya kutip sedikit dari buku tersebut:
Gagal dan sukses adalah satu paket, yang tidak bisa dipisahkan.
Ketika Anda mau sukses, maka mau tidak mau, Anda harus siap gagal.
Ketika Anda gagal, berarti Anda mendekati sukses.
Hanya saja jika Anda menyikapi kegagalan secara salah,
maka Anda akan terjerumus dalam kegagalan,
sebaliknya jika Anda menyikapi kegagalan secara benar,
maka kegagalan akan menjadi batu pijakan menuju sukses.
Penulis sekaliber Isa Alamsyah saja pernah mengalami pelanggaran dalam serangan Anda. Dalam kutipan di atas, Isa Alamsyah memakai kata Anda sebanyak 7 kata. Apabila diedit dan diperbaiki maka tulisan tersebut jauh dari "serangan" kata Anda. Dan, barangkali hanya membutuhkan kata Anda beberapa saja, tidak 7 kata. Tulisan di atas apabila disempurnakan dan diedit maka hasilnya seperti ini:
Hanya saja yang membedakan penulis masuk surga, adalah mereka para penulis yang dikategorikan “sempurna”. Karyanya dihargai, diakui, memberi sesuatu pada pembaca, dan tidak mustahil jika memberi banyak manfaat dan kontribusi bagi perubahan yang lebih baik. Namun dalam perjalanan menuju ke surga kepenulisan, mereka pernah membuat kesalahan-kesalahan kepenulisan, dan banyak “dosa” yang pernah dilanggarnya. Dan hampir semua penulis melakukannya.
Di antara kesalahan-kesalahan kepenulisan, yang pernah dilanggar penulis. Dan berbagai karya yang ada, seringkali ditemukan pelanggaran khas oleh seorang penulis. Bahkan penulis produktif buku motivasi pun tidak bisa lari dari kejaran dosa kepenulisan tersebut. Dan kerap melakukan kesalahan. Misalnya tulisan yang pernah Isa Alamsyah tulis dari buku “Jangan Takut Gagal”. Saya kutip sedikit dari buku tersebut:
Gagal dan sukses adalah satu paket, yang tidak bisa dipisahkan.
Ketika Anda mau sukses, maka mau tidak mau, Anda harus siap gagal.
Ketika Anda gagal, berarti Anda mendekati sukses.
Hanya saja jika Anda menyikapi kegagalan secara salah,
maka Anda akan terjerumus dalam kegagalan,
sebaliknya jika Anda menyikapi kegagalan secara benar,
maka kegagalan akan menjadi batu pijakan menuju sukses.
Penulis sekaliber Isa Alamsyah saja pernah mengalami pelanggaran dalam serangan Anda. Dalam kutipan di atas, Isa Alamsyah memakai kata Anda sebanyak 7 kata. Apabila diedit dan diperbaiki maka tulisan tersebut jauh dari "serangan" kata Anda. Dan, barangkali hanya membutuhkan kata Anda beberapa saja, tidak 7 kata. Tulisan di atas apabila disempurnakan dan diedit maka hasilnya seperti ini:
Gagal dan sukses adalah satu paket, yang tidak bisa dipisahkan
Jika ingin sukses maka mau tidak mau, Anda harus siap gagal.
Ketika gagal, berarti mendekati sukses.
Hanya saja jika Anda menyikapi kegagalan secara salah,
maka akan terjerumus dalam kegagalan,
sebaliknya, jika menyikapi kegagalan secara benar
maka kegagalan akan menjadi batu pijakan menuju sukses.
Dan Isa Alamsyah pun baru ngeh terhadap kesalahannya setelah berkali-kali mengisi workshop bersama Asma Nadia. Dan lucunya, buku motivasi itu sudah terjual puluhan ribu eksemplar. Sebuah pelanggaran yang sudah menyebar di tangan pembaca.
Kembali pada pembahasan, dilihat dari contoh di atas, seorang penulis sering terjebak dalam kalimat tidak efektif. Juga tidak tahu kapan harus pakai koma, kapan harus pakai titik. Dan kalimat terlalu panjang. Alhasil, pembaca menjadi ngos-ngosan ketika membaca. Pun penulis (pemula) juga sering memberi informasi berlebihan. Bertele-tele. Akibatnya, para pembaca dihinggapi kebosanan. Hal ini terjadi lantaran miskin dalam memilih diksi, sehingga terlalu banyak kata yang diulang, padahal bisa ditulis dengan kata lain yang serupa. Sebab, seorang penulis memiliki kebebasan untuk bermain kata. Melakukan eksperimen dengan kata dan melakukan eksplorasi atas kata-kata yang ada.
Sering kita terpukau dengan tulisan para sastrawan dan penulis profesional, yang piawai merangkai kata. Akan tetapi, kita, penulis (pemula) takut menggunakan kebebasan untuk mengeksplorasi kata-kata dan memainkan diksi. Yang membedakan antara penulis pemula dengan penulis kawakan adalah keberaniaannya untuk tampil beda atau membedakan diri untuk berekspresi.
Kesalahan yang umum kita jumpai adalah karyanya dikritisi. Tidak sedikit penulis pemula—bahkan penulis profesional—berhenti berkarya atau menulis dikritik secara pedas. Bahkan, karena kritikan yang berisi cabe rawit tersebut, mengandung efek kecut, hingga tidak menulis lagi. Ada juga yang tidak berkarya lagi karena sudah ditolak kemana-mana. Seakan karir menulisnya sudah usai. Dan tidak ada berbakat dalam dunia kepenulisan.
Padahal banyak sekali penulis top dunia yang mengalami “penganiayaan”. Mengalami penolakan. Barangkali kita tahu bagaimana J.K. Rowling mengawali karir kepenulisan. Naskah yang saat ini menjadi novel yang paling fenomenal tersebut, awalnya mengalami penolakan yang tidak bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki. Ia menerima penolakan—kurang lebih—sebanyak 40 kali. Misalnya lagi, Muhidin M. Dahlan—sapaan akrab—Gus Muh ini mengeluarkan persepsi yang sangat kontradiksi. Ia menulis artikel di koran adalah menulis untuk dikembalikan dan bukan untuk dimuat. Maksudnya, diawal kepenulisannya, ia sering sekali mendapati penolakan dari penerbit. Namun berbeda untuk sekarang. Media massa mana yang akan menolak tulisan dari Muhidin M. Dahlan. Mereka yang sudah sukses dalam karir kepenulisannya, karena memiliki mental baja. Mental yang harus dimiliki para penulis pemula. Serta terus mencoba, menulis, menulis dan menulis.
Dari mana Ide Datang?
Tidak sedikit orang yang akan memulai menulis, akan tetapi bingung. Bingung menulis dari mana? Dari mana inspirasi dan ide itu datang? Dan kapan ide itu bersemayam di otak? Dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di atas, semuanya adalah pertanyaan klasik. Sering orang tanyakan dalam workshop kepenulisan, posting-an di media sosial atau di seminar. Sebenarnya ide atau inspirasi itu bisa kita dapat dari mana saja. Ketika kita membaca buku, menghadiri workshop, di bangku warkop, di toko buku, perpustakaan, atau ketika sedang BAB, juga dalam perjalanan sekalipun. Ide datang tanpa diundang, dan kedatangannya selalu tidak membunyikan sirine (tanda).
Kendati demikian, masih banyak orang yang membiarkan menguap begitu saja ide yang terlintas di benaknya tersebut. Padahal ide merupakan langkah awal paling penting dalam menulis. jika sudah menemukan sebuah ide lengkap, maka bisa dikatakan, kita sudah menyelesaikan 50 % proses dari sebuah tulisan. Atau dalam bahasa Napoleon Hiil, Penulis Amerika, “Ideas are the beginning point point of all fortunes.” Ide adalah awal atas segala keberhasilan.
Alasan mereka adalah malas. Ide yang sudah siap untuk dieksekusi, lantas malas sedang menyapa. Penyakit ini paling familier menyapa penulis. Malas dan cepat puas adalah penyakit yang harus dibuang jauh-jauh bagi penulis. Meminjam istilahnya Asma Nadia, tidak ada tempat bagi penulis malas. No excuse!
Penyakit atau kesalahan ini masuk dalam kategori pelanggaran para penulis. Karena penyakit ini bisa menghambat proses belajar dan karir di bidang kepenulisan. Jika ingin menjadi profesional dan ingin meraih pencapaian yang diakui, dan dihargai karyanya, maka harus membuang jauh-jauh rasa malas dan cepat puas dari keseharian kita. Apalagi malas membaca. Membaca adalah kuliahnya penulis. Malas mengembangkankan diri/ malas belajar. Malas mencatat. Banyak ide brilian hilang karena penulis malas mencatat ide yang muncul. Malas menulis. Menjadi penulis tapi malas menulis, apa kata dunia? =D Malas menyelesaikan tulisan dan menyempurnakan tulisan. Semoga setelah memahami kesalahan-kesalahan dan “bertobat” dari dosa-dosa kepenulisannya. []
Judul Buku : 101 Dosa Penulis Pemula; Mengupas Inti Sari Workshop Menulis Asma Nadia
Penulis : Isa Alamsyah
Penerbit : AsmaNadia Publishing House, Depok
Terbit : Pertama, Juni 2014
Tebal : xiv+318 hlm
Perensensi : Muhammad Choirur Rokhim
Jika ingin sukses maka mau tidak mau, Anda harus siap gagal.
Ketika gagal, berarti mendekati sukses.
Hanya saja jika Anda menyikapi kegagalan secara salah,
maka akan terjerumus dalam kegagalan,
sebaliknya, jika menyikapi kegagalan secara benar
maka kegagalan akan menjadi batu pijakan menuju sukses.
Dan Isa Alamsyah pun baru ngeh terhadap kesalahannya setelah berkali-kali mengisi workshop bersama Asma Nadia. Dan lucunya, buku motivasi itu sudah terjual puluhan ribu eksemplar. Sebuah pelanggaran yang sudah menyebar di tangan pembaca.
Kembali pada pembahasan, dilihat dari contoh di atas, seorang penulis sering terjebak dalam kalimat tidak efektif. Juga tidak tahu kapan harus pakai koma, kapan harus pakai titik. Dan kalimat terlalu panjang. Alhasil, pembaca menjadi ngos-ngosan ketika membaca. Pun penulis (pemula) juga sering memberi informasi berlebihan. Bertele-tele. Akibatnya, para pembaca dihinggapi kebosanan. Hal ini terjadi lantaran miskin dalam memilih diksi, sehingga terlalu banyak kata yang diulang, padahal bisa ditulis dengan kata lain yang serupa. Sebab, seorang penulis memiliki kebebasan untuk bermain kata. Melakukan eksperimen dengan kata dan melakukan eksplorasi atas kata-kata yang ada.
Sering kita terpukau dengan tulisan para sastrawan dan penulis profesional, yang piawai merangkai kata. Akan tetapi, kita, penulis (pemula) takut menggunakan kebebasan untuk mengeksplorasi kata-kata dan memainkan diksi. Yang membedakan antara penulis pemula dengan penulis kawakan adalah keberaniaannya untuk tampil beda atau membedakan diri untuk berekspresi.
Kesalahan yang umum kita jumpai adalah karyanya dikritisi. Tidak sedikit penulis pemula—bahkan penulis profesional—berhenti berkarya atau menulis dikritik secara pedas. Bahkan, karena kritikan yang berisi cabe rawit tersebut, mengandung efek kecut, hingga tidak menulis lagi. Ada juga yang tidak berkarya lagi karena sudah ditolak kemana-mana. Seakan karir menulisnya sudah usai. Dan tidak ada berbakat dalam dunia kepenulisan.
Padahal banyak sekali penulis top dunia yang mengalami “penganiayaan”. Mengalami penolakan. Barangkali kita tahu bagaimana J.K. Rowling mengawali karir kepenulisan. Naskah yang saat ini menjadi novel yang paling fenomenal tersebut, awalnya mengalami penolakan yang tidak bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki. Ia menerima penolakan—kurang lebih—sebanyak 40 kali. Misalnya lagi, Muhidin M. Dahlan—sapaan akrab—Gus Muh ini mengeluarkan persepsi yang sangat kontradiksi. Ia menulis artikel di koran adalah menulis untuk dikembalikan dan bukan untuk dimuat. Maksudnya, diawal kepenulisannya, ia sering sekali mendapati penolakan dari penerbit. Namun berbeda untuk sekarang. Media massa mana yang akan menolak tulisan dari Muhidin M. Dahlan. Mereka yang sudah sukses dalam karir kepenulisannya, karena memiliki mental baja. Mental yang harus dimiliki para penulis pemula. Serta terus mencoba, menulis, menulis dan menulis.
Dari mana Ide Datang?
Tidak sedikit orang yang akan memulai menulis, akan tetapi bingung. Bingung menulis dari mana? Dari mana inspirasi dan ide itu datang? Dan kapan ide itu bersemayam di otak? Dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di atas, semuanya adalah pertanyaan klasik. Sering orang tanyakan dalam workshop kepenulisan, posting-an di media sosial atau di seminar. Sebenarnya ide atau inspirasi itu bisa kita dapat dari mana saja. Ketika kita membaca buku, menghadiri workshop, di bangku warkop, di toko buku, perpustakaan, atau ketika sedang BAB, juga dalam perjalanan sekalipun. Ide datang tanpa diundang, dan kedatangannya selalu tidak membunyikan sirine (tanda).
Kendati demikian, masih banyak orang yang membiarkan menguap begitu saja ide yang terlintas di benaknya tersebut. Padahal ide merupakan langkah awal paling penting dalam menulis. jika sudah menemukan sebuah ide lengkap, maka bisa dikatakan, kita sudah menyelesaikan 50 % proses dari sebuah tulisan. Atau dalam bahasa Napoleon Hiil, Penulis Amerika, “Ideas are the beginning point point of all fortunes.” Ide adalah awal atas segala keberhasilan.
Alasan mereka adalah malas. Ide yang sudah siap untuk dieksekusi, lantas malas sedang menyapa. Penyakit ini paling familier menyapa penulis. Malas dan cepat puas adalah penyakit yang harus dibuang jauh-jauh bagi penulis. Meminjam istilahnya Asma Nadia, tidak ada tempat bagi penulis malas. No excuse!
Penyakit atau kesalahan ini masuk dalam kategori pelanggaran para penulis. Karena penyakit ini bisa menghambat proses belajar dan karir di bidang kepenulisan. Jika ingin menjadi profesional dan ingin meraih pencapaian yang diakui, dan dihargai karyanya, maka harus membuang jauh-jauh rasa malas dan cepat puas dari keseharian kita. Apalagi malas membaca. Membaca adalah kuliahnya penulis. Malas mengembangkankan diri/ malas belajar. Malas mencatat. Banyak ide brilian hilang karena penulis malas mencatat ide yang muncul. Malas menulis. Menjadi penulis tapi malas menulis, apa kata dunia? =D Malas menyelesaikan tulisan dan menyempurnakan tulisan. Semoga setelah memahami kesalahan-kesalahan dan “bertobat” dari dosa-dosa kepenulisannya. []
Judul Buku : 101 Dosa Penulis Pemula; Mengupas Inti Sari Workshop Menulis Asma Nadia
Penulis : Isa Alamsyah
Penerbit : AsmaNadia Publishing House, Depok
Terbit : Pertama, Juni 2014
Tebal : xiv+318 hlm
Perensensi : Muhammad Choirur Rokhim
إرسال تعليق