Ada beragam cara yang bisa kita lakukan saat waktu luang tiba. Ada yang memanfaatkannya dengan berkumpul keluarga, berkunjung ke rumah sanak saudara, ada juga yang menikmati keindahan alam dengan berwisata. Ada pula yang memanfaatkan waktu liburan dengan mempersiapkan tugas esok, dengan cara berkunjung di perpustakaan, ke toko-toko buku, maupun menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya.
Misal, membuat akik bagi pengrajin akik, membersihkan dan memberi makan burung bagi yang pemelihara burung, juga membaca dan menulis bagi mereka yang menggeluti dunia literasi, ngopi atau aktivitas lain yang mampu membantu memulihkan keletihan selama bekerja.
Waktu ibarat emas permata, oleh karena itu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Orang Barat bilang "waktu adalah emas"'. Tidak berlebihan kiranya orang yang diburu oleh waktu, kemudian menganggap "waktu itu sangat berharga." Di manapun berada dan kapanpun waktunya, ia sempatkan untuk hal-hal yang positif. Sebab waktu seolah kumpulan kertas kosong yang harus kita isi dengan banyak hal dan beragam kegiatan lain.
Ada sebuah cerita yang sangat inspiratif yang menginspirasi dari tulisan ini. Tulisan ini merupakan kepanjangan cerita dari seorang dosen yang dulu pernah mengajar saya di kampus, yang dulu saya pernah menjadi mahasiswa di STAIN (kini IAIN Tulungagung). Ia termasuk salah satu dosen yang sangat mementingkan sebuah proses. Ia juga tak bosan-bosannya 'menyuruh' mahasiswa giat membaca dan menulis, supaya dalam mengerjakan tugas ilmiah atau bukan--makalah atau skripsi--tak mengalami kendala.
Dosen tersebut adalah Dr. Ngainun Naim. Dia memiliki kebiasaan yang luar biasa, yang ia pertahanankan beberapa tahun belakangan. Kebiasaan itu dilakukan di manapun dan kapanpun berada. Misalnya dalam perjalanan naik bus menuju tempat kerjanya, dia menyempatkan menulis. Menulis ajeg setiap hari. Tulisannya berawal dari apa yang ia lihat dan ia rasakan; dari sudut pandang ini tulisan selalu mendapat apresiasi dari para pembaca, teman-teman atau mahasiswanya. Tulisannya telah banyak menginspirasi orang.
Pun, di sela-sela kesibukannya bekerja di kantor LP2M di kampus IAIN Tulungagung, ia juga kerab menulis beberapa paragraf untuk diposting di beranda Facebook atau blog pribadinya. Kebiasaan ini ia lanjutkan di lain waktu saat ada waktu luang. Dari hasil ketelatenannya, ia bisa menghasilkan karya buku dengan judul The Power of Writing (2015).
Di akhir bulan Juli, tahun 2015, saya pernah waktu luang yang benar-benar total. Di mana di tahun itu, saya terkena gejala Demam Berdarah (DB). Penyakit itu mengharuskan saya beristirahat atau opname selama satu minggu penuh. Saya pun harus istirahat di Puskesmas. Baru 5 hari saya di Puskesmas. Itupun belum sembuh total. Namun namanya orang yang tidak pernah opname, saya sangat tidak betah di Puskesmas. Menurut Ibu, sampai dewasa ini saya baru pertama kali ini diopname, saat saya masih bayi. Jadi paling anti jika harus berobat dan opname berhari-hari di Puskesmas atau Rumah Sakit.
Tapi apalah daya, kondisi harus istirahat di Puskesmas. Namun dasarnya memang tidak krasan, saya pun minta pulang paksa dari dokter yang menangani. Akhirnya dengan berat hati dokter mengizinkan saya meninggalkan Puskesmas dengan konsekuensi sakit kambuhan lebih parah daripada sakit awalan.
Nah, saat itu penyakit saya diobati dengan obat jalan. Saya pun harus istirahat total. Tidak boleh keluar ke sana kemari. Dan, bagi saya merasakan dan menikmati waktu yang benar-benar luang adalah ketika sakit kemarin, meski banyak waktu luang di luar aktivitas lain. Selama sakit, saya hanya bisa menikmati waktu dengan hari-hari berbaring di atas kasur di kamar. Hanya itu tidak lebih. Berhubung di rumah tidak melakukan apa-apa, saya kerap kali mencari buku-buku yang beberapa hari saya tinggalkan. Mulai saat itu pula saya menyibukkan diri dengan membaca.
Namun penyakit DB itu tak kunjung sembuh. Kondisi sakit itu bertahan sampai 1 bulan penuh. Karena tak kunjung sehat, kemudian saya dibawa di Klinik kesehatan dan hasilnya penyakit itu beralih menjadi penyakit typus setelah chek darah. Saya harus benar-benar istirahat total. 2 bulan 2 tidak boleh capek-capek. Tidak boleh aktivitas terlalu berat. Lantas apa yang saya lakukan?
Saya membaca buku yang menumpuk di kamar. Sambil telentang atau tengkurap, saya baca-baca buku dan tulisan orang lain di media sosial. Selain itu, karena melihat buku yang menumpuk, yang banyak belum saya baca, maka timbullah dorongan untuk mereview ulang.
Handphone dan buku yang hanya menemani setiap hari. Tulisan via hape pun bisa saya hasilkan. Istirahat total itu kurang lebih sudah ada 2 bulan saya sakit, beberapa tulisan lahir. Keleluasaan dan kelonggaran waktu itu saya manfaatkan dengan mereview dan menulis di blog seluler seperti ini. Menulis adalah media untuk menghibur diri selama sakit dengan longgarkan waktu yang terus berputar itu, saya menulis di Blog seluler, Wordpress dan di Kompasiana.
Melalui telepon seluler inilah saya menghibur diri dengan membaca dan menulis. Menulis itu menyenangkan. Bagaimana tidak menyenangkan? Kerja keras menulis di tooth handphone seolah otak merespon kinerja otak, dan otak bekerja secara teratur. Oleh karena itu, meski sakit, otak masih terus memproduksi kata dan berimajinasi. Otak juga refreshing dengan dunia di luar sana, dari dunia imajinasi itu tadi.
Apalagi tulisan yang kita post mendapat apresiasi dari orang, sungguh sangat senang. Suatu kesenangan tiada terkira. Bagaimana tidak senang? Selama sakit dengan bantuan hape qwerty ini, saya berhasil menulis lebih dari 20 tulisan. Artinya, selama sakit saya menulis "one day one arcticel".
Dan, yang membanggakan lagi tulisan yang saya hasilkan melalui dengan hape ini/itu, saya posting di Kompasiana adalah tulisan dengan judul Bulan Puasa "Dilarang" Puas(a) Menulis masuk Headline dan Highlight di Kompasiana. Tidak hanya itu, tulisan ini juga dibaca lebih dari 596 orang (ketika saya menulis ini dan ada kemungkinan bertambah), dikomentari 13 orang dengan beragam latar belakang dan pandangan. Tidak hanya itu, ada 9 orang yang menilai tulisan itu dengan bermacam penilaian: aktual, bermanfaat dan inspiratif.
Coba bayangkan, senang sekali bukan? Ternyata sakit bisa berdakwah bil Qolam, berdakwah melaui tulisan. Saya katakan berdakwah lantaran dari peninjauan terakhir di website milik Kompas itu adalah ada 18 yang ikut mengshare melalui twitter, dan 536 orang ikut berbagi lewat akun medsos Facebook. Dugaan saya, tulisan itu akan terus bertambah, orang yang membaca dan berbagi dengan sesama lewat tulisan itu. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. Amin.
Menulis itu memang menyenangkan dan sebagai media hiburan dan menyehatkan. Bagi saya, menulis sangat tepat untuk menghibur diri ketika tidak memiliki aktivitas. Karena selama sakit, saya tidak melakukan aktivitas selain tiduran dan menikmati penyakit yang saya alami. Ini adalah berkah, meski dengan keadaan sakit, saya masih bisa melakukan kegiatan yang produktif meskipun di atas kasur. Tidak ada batasan untuk melakukan kegiatan positif, meski kondisi kurang fit. Dan, keterbatasan ini penyakit yang saya derita berkunjung sehat dan penyakit tak tahu hilang kemana.[] Salam. Wallahuallam Bishowab.
Misal, membuat akik bagi pengrajin akik, membersihkan dan memberi makan burung bagi yang pemelihara burung, juga membaca dan menulis bagi mereka yang menggeluti dunia literasi, ngopi atau aktivitas lain yang mampu membantu memulihkan keletihan selama bekerja.
Waktu ibarat emas permata, oleh karena itu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Orang Barat bilang "waktu adalah emas"'. Tidak berlebihan kiranya orang yang diburu oleh waktu, kemudian menganggap "waktu itu sangat berharga." Di manapun berada dan kapanpun waktunya, ia sempatkan untuk hal-hal yang positif. Sebab waktu seolah kumpulan kertas kosong yang harus kita isi dengan banyak hal dan beragam kegiatan lain.
Ada sebuah cerita yang sangat inspiratif yang menginspirasi dari tulisan ini. Tulisan ini merupakan kepanjangan cerita dari seorang dosen yang dulu pernah mengajar saya di kampus, yang dulu saya pernah menjadi mahasiswa di STAIN (kini IAIN Tulungagung). Ia termasuk salah satu dosen yang sangat mementingkan sebuah proses. Ia juga tak bosan-bosannya 'menyuruh' mahasiswa giat membaca dan menulis, supaya dalam mengerjakan tugas ilmiah atau bukan--makalah atau skripsi--tak mengalami kendala.
Dosen tersebut adalah Dr. Ngainun Naim. Dia memiliki kebiasaan yang luar biasa, yang ia pertahanankan beberapa tahun belakangan. Kebiasaan itu dilakukan di manapun dan kapanpun berada. Misalnya dalam perjalanan naik bus menuju tempat kerjanya, dia menyempatkan menulis. Menulis ajeg setiap hari. Tulisannya berawal dari apa yang ia lihat dan ia rasakan; dari sudut pandang ini tulisan selalu mendapat apresiasi dari para pembaca, teman-teman atau mahasiswanya. Tulisannya telah banyak menginspirasi orang.
Pun, di sela-sela kesibukannya bekerja di kantor LP2M di kampus IAIN Tulungagung, ia juga kerab menulis beberapa paragraf untuk diposting di beranda Facebook atau blog pribadinya. Kebiasaan ini ia lanjutkan di lain waktu saat ada waktu luang. Dari hasil ketelatenannya, ia bisa menghasilkan karya buku dengan judul The Power of Writing (2015).
Di akhir bulan Juli, tahun 2015, saya pernah waktu luang yang benar-benar total. Di mana di tahun itu, saya terkena gejala Demam Berdarah (DB). Penyakit itu mengharuskan saya beristirahat atau opname selama satu minggu penuh. Saya pun harus istirahat di Puskesmas. Baru 5 hari saya di Puskesmas. Itupun belum sembuh total. Namun namanya orang yang tidak pernah opname, saya sangat tidak betah di Puskesmas. Menurut Ibu, sampai dewasa ini saya baru pertama kali ini diopname, saat saya masih bayi. Jadi paling anti jika harus berobat dan opname berhari-hari di Puskesmas atau Rumah Sakit.
Tapi apalah daya, kondisi harus istirahat di Puskesmas. Namun dasarnya memang tidak krasan, saya pun minta pulang paksa dari dokter yang menangani. Akhirnya dengan berat hati dokter mengizinkan saya meninggalkan Puskesmas dengan konsekuensi sakit kambuhan lebih parah daripada sakit awalan.
Nah, saat itu penyakit saya diobati dengan obat jalan. Saya pun harus istirahat total. Tidak boleh keluar ke sana kemari. Dan, bagi saya merasakan dan menikmati waktu yang benar-benar luang adalah ketika sakit kemarin, meski banyak waktu luang di luar aktivitas lain. Selama sakit, saya hanya bisa menikmati waktu dengan hari-hari berbaring di atas kasur di kamar. Hanya itu tidak lebih. Berhubung di rumah tidak melakukan apa-apa, saya kerap kali mencari buku-buku yang beberapa hari saya tinggalkan. Mulai saat itu pula saya menyibukkan diri dengan membaca.
Namun penyakit DB itu tak kunjung sembuh. Kondisi sakit itu bertahan sampai 1 bulan penuh. Karena tak kunjung sehat, kemudian saya dibawa di Klinik kesehatan dan hasilnya penyakit itu beralih menjadi penyakit typus setelah chek darah. Saya harus benar-benar istirahat total. 2 bulan 2 tidak boleh capek-capek. Tidak boleh aktivitas terlalu berat. Lantas apa yang saya lakukan?
Saya membaca buku yang menumpuk di kamar. Sambil telentang atau tengkurap, saya baca-baca buku dan tulisan orang lain di media sosial. Selain itu, karena melihat buku yang menumpuk, yang banyak belum saya baca, maka timbullah dorongan untuk mereview ulang.
Handphone dan buku yang hanya menemani setiap hari. Tulisan via hape pun bisa saya hasilkan. Istirahat total itu kurang lebih sudah ada 2 bulan saya sakit, beberapa tulisan lahir. Keleluasaan dan kelonggaran waktu itu saya manfaatkan dengan mereview dan menulis di blog seluler seperti ini. Menulis adalah media untuk menghibur diri selama sakit dengan longgarkan waktu yang terus berputar itu, saya menulis di Blog seluler, Wordpress dan di Kompasiana.
Melalui telepon seluler inilah saya menghibur diri dengan membaca dan menulis. Menulis itu menyenangkan. Bagaimana tidak menyenangkan? Kerja keras menulis di tooth handphone seolah otak merespon kinerja otak, dan otak bekerja secara teratur. Oleh karena itu, meski sakit, otak masih terus memproduksi kata dan berimajinasi. Otak juga refreshing dengan dunia di luar sana, dari dunia imajinasi itu tadi.
Apalagi tulisan yang kita post mendapat apresiasi dari orang, sungguh sangat senang. Suatu kesenangan tiada terkira. Bagaimana tidak senang? Selama sakit dengan bantuan hape qwerty ini, saya berhasil menulis lebih dari 20 tulisan. Artinya, selama sakit saya menulis "one day one arcticel".
Dan, yang membanggakan lagi tulisan yang saya hasilkan melalui dengan hape ini/itu, saya posting di Kompasiana adalah tulisan dengan judul Bulan Puasa "Dilarang" Puas(a) Menulis masuk Headline dan Highlight di Kompasiana. Tidak hanya itu, tulisan ini juga dibaca lebih dari 596 orang (ketika saya menulis ini dan ada kemungkinan bertambah), dikomentari 13 orang dengan beragam latar belakang dan pandangan. Tidak hanya itu, ada 9 orang yang menilai tulisan itu dengan bermacam penilaian: aktual, bermanfaat dan inspiratif.
Coba bayangkan, senang sekali bukan? Ternyata sakit bisa berdakwah bil Qolam, berdakwah melaui tulisan. Saya katakan berdakwah lantaran dari peninjauan terakhir di website milik Kompas itu adalah ada 18 yang ikut mengshare melalui twitter, dan 536 orang ikut berbagi lewat akun medsos Facebook. Dugaan saya, tulisan itu akan terus bertambah, orang yang membaca dan berbagi dengan sesama lewat tulisan itu. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat. Amin.
Menulis itu memang menyenangkan dan sebagai media hiburan dan menyehatkan. Bagi saya, menulis sangat tepat untuk menghibur diri ketika tidak memiliki aktivitas. Karena selama sakit, saya tidak melakukan aktivitas selain tiduran dan menikmati penyakit yang saya alami. Ini adalah berkah, meski dengan keadaan sakit, saya masih bisa melakukan kegiatan yang produktif meskipun di atas kasur. Tidak ada batasan untuk melakukan kegiatan positif, meski kondisi kurang fit. Dan, keterbatasan ini penyakit yang saya derita berkunjung sehat dan penyakit tak tahu hilang kemana.[] Salam. Wallahuallam Bishowab.
إرسال تعليق