Salah satu cara yang tepat untuk membangun semangat hidup adalah belajar dari sosok inspiratif. Kita bisa belajar dari sosok inspiratif itu dari mana saja. Bisa menonton televisi, membaca koran, majalah, media sosial—facebook, twitter, kompasiana, maupun blog yang lain—yang memiliki muatan positif. Dari media sosial, kita dengan mudah mengakses berita dari gadget maupun smartphone yang kita miliki tanpa harus membeli koran di lapak koran, atau harus pergi ke toko buku. Belajar dari tokoh inspiratif itu bisa kita jadikan pertimbangan untuk hidup lebih baik lagi. Minimal ada seseorang yang bergerak untuk membangun masyarakat lewat bidang yang ia minati. Sikap yang demikian itu patut kita banggakan. Syukur-syukur kita mau dan mampu untuk melakukan hal serupa.
Saya termasuk seorang yang aktif mencari informasi yang berbau inspiratif dan edukatif. Bagi saya, informasi yang inspiratif itu mampu memberi pengetahuan dan menumbuhkan semangat lagi. Sekaligus mampu menginspirasi saya untuk melakukan serupa. Ada salah satu topik pembahasan yang—menurut saya, sangat inspiratif—yang membuat saya ingin menuliskan tentang sosok ini. Salah satu topik yang saya baca dari koran eletronik, kolom Harian Surya.com edisi 19 Mei 2015 ini adalah tertajuk “Penjual jamu Itu Ingin Racuni Pembelinya dengan Buku.” Mata saya langsung tertuju pada papan yang tertuliskan “Sak iki Jamane Moco!” dengan sangat mencolok. Karena tulisan itu terlihat nyata dengan cat warna merah. Saya rasa judul ini sangat kontradiksi.
Mana ada tukang jamu yang ingin membunuh dan meracuni pembelinya. Yang ada malah sebaliknya, yakni membantu menyembuhkan penyakit si pembeli. Namun si penjual jamu ini membawa harapan. Pertama, jamu yang dijual dapat mengobati penyakit si penderita. Yang kedua, si penjual memiliki harapan tentang resep nati kepikunan dengan memberikan bahan bacaan dengan gratis.
Buku yang diletakkan bersebelahan dengan lapak jamunya tersebut, mengindikasi bahwa si penjual ingin menyebarkan nilai positif dengan mengajak gemar membaca. Lalu terkait dengan jual ingin meracuni pembeli itu adalah pesan, bahwa racun yang dimaksud resep mujarat menghilangkan penyakit kepikunan. Membaca buku di lapak yang dibawa dengan sepeda motor bisa menjadi asupan untuk mengobati kekurangan-tahuan kita terhadap informasi.
Oleh karena itu, judul “Tukang jamu dan resep anti pikun” tetap melukiskan pesan si tukang jamu tersebut. Rasanya aneh. Mana ada jamu yang memiliki khasiat mampu menghilangkan penyakit kepikunan? Biasanya jamu yang dijual itu hanya mengobati sakit rematik, sakit pegal-pegal atau sakit yang tidak ada hubungannya dengan penyakit yang rentan diderita oleh orang usia lanjut. Pikun atau penyakit lupa, biasanya diderita oleh orang yang usianya sudah tidak muda lagi. Atau masuk usia lima puluh tahun ke atas.
Oleh karena itu, tukang jamu yang menjual dagangannya sekaligus obat anti pikun ini menarik sekali. Siapa dia? Dia adalah Muhammad Fauzi, seorang anak muda yang menjual jamu sekaligus menggratiskan buku-buku untuk dibaca kepada pelanggan. Inilah yang saya maksud obat anti pikun tersebut.
Istri dari Imroatul Mufida ini, berkeliling menjajakan jamu dengan berkendara sepeda motor. Buku-buku yang di taruh di atas lapak jamu ini, saya kira mampu memenuhi kebutuhan secara fisik maupun imajiner. Dengan jamu yang dijual ini, ia bisa membantu pelangganya dengan berobat terhadap penyakit yang diidap, juga mengobati penyakit kepikunan dengan mengupgrade pengetahuannya dengan membaca buku.
Ketika berkeliling menjajakan jamunya, ia datang bukan hanya membawa sebotol atau sekelas jamu, namun ia membawa segerobak ilmu dengan khasiat anti pikun. Kita ketahui bersama, bahwa orang yang tidak pernah membaca, maka ia akan mengalami kepikunan dini. Ia akan menjadi orang yang sering lupa atau tidak memiliki informasi yang up to date. Kalau pun memiliki informasi, itu pun tidak akan bertahan lama dan akan hilang ditelan pikiran-pikiran yang lain. Untuk itu, resep anti pikun yang dibawa oleh Muhammad Fauzi—atau lebih akrab disapa Fauzi—ini jamu penghilang lupa. Untuk itulah mengapa Fauzi beserta istrinya memiliki inisiatif membantu lingkungan masyarakatnya untuk gemar membaca.
“Saya berkeinginan besar agar buku sebagai sumber ilmu harus bisa dengan mudah untuk dibaca siapa saja. Saya berkeyakinan, banyak masyarakat yang gemar membaca buku, namun tidak semuanya bisa dengan mudah mendapatkannya. Sama seperti saya pada waktu masih kecil,” kata Fauzi.
Sebagai penjual jamu, kurang lebih sepuluh tahun, ia memiliki anggapan dengan cara menjual jamu keliling dengan menyisipkan baku-buku bekas ini mampu merasuk ke sektor di kalangan orang-orang tidak mampu atau jauhnya akses untuk pergi ke perpustakaan. Baginya menjual jamu dan membaca adalah hobinya. Fauzi sedari kecil sudah memiliki hobi membaca, karena terlahir dari keluarga tidak mampu, orang tuanya tidak mampu membelikan buku-buku untuk dibacanya. Dengan cara menjajakan buku-buku di atas rak jamunya itu, Fauzi juga membantu orang-orang yang gemar membaca, yang tidak memiliki anggaran untuk membeli buu, atau tidak memiliki waktu untuk pergi ke perpustakaan. “Saya berkeinginan besar agar buku sebagai sumber ilmu harus bisa dengan mudah untuk dibaca siapa saja. Saya berkeyakinan, banyak masyarakat yang gemar membaca buku, namun tidak semuanya bisa dengan mudah mendapatkannya. Sama seperti saya pada waktu masih kecil,” kata Fauzi.
Selain menjajakan jamu dan perpustakaan keliling di atas sepeda motornya itu, Fauzi juga menitipkan buku-bukunya ke sejumlah warung. Ia sengaja meninggalkan beberapa buku diwarung-warung itu agar dibaca para pembeli di warung. Maklum, di Desa tempat tinggalnya terdapat banyak kost dan rumah kontrakan tempat para karyawan pabrik tinggal.
Berkat usaha dan semangatnya, Fauzi beberapa kali mendapatkan penghargaan dan bantuan untuk pengembangan perpustakaan. Satu di antaranya dari sebuah perusahaan sepeda motor yang berbasis di India. Ia dianggap sebagai pemuda yang menginspirasi. Baru-baru ini, ia juga terpilih sepuluh besar mewakili Kabupaten Sidoarjo dalam perlombaan perpustakaan desa tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2015 yang diselenggarkan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Dari cerita yang inspiratif ini, saya yang sedari dulu memiliki cita-cita membangun Taman Baca untuk anak-anak lingkungan tempat tinggal, merasa mendapat suntikan moral untuk selalu optimis dan semangat memperjuangkan gerakan sadar membaca. Sosok Fauzi, dengan semangat jiwa mudanya telah memberikan pelajari kepada kita semua, bahwa jadi apapun profesi kita, dengan keterbatasan ekonomi pun tidak ada halangan untuk selalu berbagi kepada masyarakat. Berbagi menggerakan sadar akan pentingnya membaca bagi kehidupan. Karena membaca, selain untuk menambah ilmu dan wawasan kita, juga mampu “mengobati” penyakit kepikunan di usia apapun. []
Saya termasuk seorang yang aktif mencari informasi yang berbau inspiratif dan edukatif. Bagi saya, informasi yang inspiratif itu mampu memberi pengetahuan dan menumbuhkan semangat lagi. Sekaligus mampu menginspirasi saya untuk melakukan serupa. Ada salah satu topik pembahasan yang—menurut saya, sangat inspiratif—yang membuat saya ingin menuliskan tentang sosok ini. Salah satu topik yang saya baca dari koran eletronik, kolom Harian Surya.com edisi 19 Mei 2015 ini adalah tertajuk “Penjual jamu Itu Ingin Racuni Pembelinya dengan Buku.” Mata saya langsung tertuju pada papan yang tertuliskan “Sak iki Jamane Moco!” dengan sangat mencolok. Karena tulisan itu terlihat nyata dengan cat warna merah. Saya rasa judul ini sangat kontradiksi.
Mana ada tukang jamu yang ingin membunuh dan meracuni pembelinya. Yang ada malah sebaliknya, yakni membantu menyembuhkan penyakit si pembeli. Namun si penjual jamu ini membawa harapan. Pertama, jamu yang dijual dapat mengobati penyakit si penderita. Yang kedua, si penjual memiliki harapan tentang resep nati kepikunan dengan memberikan bahan bacaan dengan gratis.
Buku yang diletakkan bersebelahan dengan lapak jamunya tersebut, mengindikasi bahwa si penjual ingin menyebarkan nilai positif dengan mengajak gemar membaca. Lalu terkait dengan jual ingin meracuni pembeli itu adalah pesan, bahwa racun yang dimaksud resep mujarat menghilangkan penyakit kepikunan. Membaca buku di lapak yang dibawa dengan sepeda motor bisa menjadi asupan untuk mengobati kekurangan-tahuan kita terhadap informasi.
Oleh karena itu, judul “Tukang jamu dan resep anti pikun” tetap melukiskan pesan si tukang jamu tersebut. Rasanya aneh. Mana ada jamu yang memiliki khasiat mampu menghilangkan penyakit kepikunan? Biasanya jamu yang dijual itu hanya mengobati sakit rematik, sakit pegal-pegal atau sakit yang tidak ada hubungannya dengan penyakit yang rentan diderita oleh orang usia lanjut. Pikun atau penyakit lupa, biasanya diderita oleh orang yang usianya sudah tidak muda lagi. Atau masuk usia lima puluh tahun ke atas.
Oleh karena itu, tukang jamu yang menjual dagangannya sekaligus obat anti pikun ini menarik sekali. Siapa dia? Dia adalah Muhammad Fauzi, seorang anak muda yang menjual jamu sekaligus menggratiskan buku-buku untuk dibaca kepada pelanggan. Inilah yang saya maksud obat anti pikun tersebut.
Istri dari Imroatul Mufida ini, berkeliling menjajakan jamu dengan berkendara sepeda motor. Buku-buku yang di taruh di atas lapak jamu ini, saya kira mampu memenuhi kebutuhan secara fisik maupun imajiner. Dengan jamu yang dijual ini, ia bisa membantu pelangganya dengan berobat terhadap penyakit yang diidap, juga mengobati penyakit kepikunan dengan mengupgrade pengetahuannya dengan membaca buku.
Ketika berkeliling menjajakan jamunya, ia datang bukan hanya membawa sebotol atau sekelas jamu, namun ia membawa segerobak ilmu dengan khasiat anti pikun. Kita ketahui bersama, bahwa orang yang tidak pernah membaca, maka ia akan mengalami kepikunan dini. Ia akan menjadi orang yang sering lupa atau tidak memiliki informasi yang up to date. Kalau pun memiliki informasi, itu pun tidak akan bertahan lama dan akan hilang ditelan pikiran-pikiran yang lain. Untuk itu, resep anti pikun yang dibawa oleh Muhammad Fauzi—atau lebih akrab disapa Fauzi—ini jamu penghilang lupa. Untuk itulah mengapa Fauzi beserta istrinya memiliki inisiatif membantu lingkungan masyarakatnya untuk gemar membaca.
“Saya berkeinginan besar agar buku sebagai sumber ilmu harus bisa dengan mudah untuk dibaca siapa saja. Saya berkeyakinan, banyak masyarakat yang gemar membaca buku, namun tidak semuanya bisa dengan mudah mendapatkannya. Sama seperti saya pada waktu masih kecil,” kata Fauzi.
Sebagai penjual jamu, kurang lebih sepuluh tahun, ia memiliki anggapan dengan cara menjual jamu keliling dengan menyisipkan baku-buku bekas ini mampu merasuk ke sektor di kalangan orang-orang tidak mampu atau jauhnya akses untuk pergi ke perpustakaan. Baginya menjual jamu dan membaca adalah hobinya. Fauzi sedari kecil sudah memiliki hobi membaca, karena terlahir dari keluarga tidak mampu, orang tuanya tidak mampu membelikan buku-buku untuk dibacanya. Dengan cara menjajakan buku-buku di atas rak jamunya itu, Fauzi juga membantu orang-orang yang gemar membaca, yang tidak memiliki anggaran untuk membeli buu, atau tidak memiliki waktu untuk pergi ke perpustakaan. “Saya berkeinginan besar agar buku sebagai sumber ilmu harus bisa dengan mudah untuk dibaca siapa saja. Saya berkeyakinan, banyak masyarakat yang gemar membaca buku, namun tidak semuanya bisa dengan mudah mendapatkannya. Sama seperti saya pada waktu masih kecil,” kata Fauzi.
Selain menjajakan jamu dan perpustakaan keliling di atas sepeda motornya itu, Fauzi juga menitipkan buku-bukunya ke sejumlah warung. Ia sengaja meninggalkan beberapa buku diwarung-warung itu agar dibaca para pembeli di warung. Maklum, di Desa tempat tinggalnya terdapat banyak kost dan rumah kontrakan tempat para karyawan pabrik tinggal.
Berkat usaha dan semangatnya, Fauzi beberapa kali mendapatkan penghargaan dan bantuan untuk pengembangan perpustakaan. Satu di antaranya dari sebuah perusahaan sepeda motor yang berbasis di India. Ia dianggap sebagai pemuda yang menginspirasi. Baru-baru ini, ia juga terpilih sepuluh besar mewakili Kabupaten Sidoarjo dalam perlombaan perpustakaan desa tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2015 yang diselenggarkan Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur.
Dari cerita yang inspiratif ini, saya yang sedari dulu memiliki cita-cita membangun Taman Baca untuk anak-anak lingkungan tempat tinggal, merasa mendapat suntikan moral untuk selalu optimis dan semangat memperjuangkan gerakan sadar membaca. Sosok Fauzi, dengan semangat jiwa mudanya telah memberikan pelajari kepada kita semua, bahwa jadi apapun profesi kita, dengan keterbatasan ekonomi pun tidak ada halangan untuk selalu berbagi kepada masyarakat. Berbagi menggerakan sadar akan pentingnya membaca bagi kehidupan. Karena membaca, selain untuk menambah ilmu dan wawasan kita, juga mampu “mengobati” penyakit kepikunan di usia apapun. []
Posting Komentar