Orang yang masih bertahan dan tidak mengikuti perkembangan zaman, maka ia akan tergerus oleh zaman. Begitu bunyi pepatah bijak bestari. Orang yang tetap mempertahankan ideologi tanpa membaca situasi sekarang, ia juga akan terhempas dari komunitas masyarakat.
Masyarakat kita sudah sedikit berubah, yang dulunya konvensional sekarang sedikit demi sedikit sudah beralih menjadi masyarakat modern. Ini terlihat dari struktur bangunan dan gaya hidup yang semakin tinggi. Selain itu taraf hidup orang desa, makin hari makin 'menyamai' orang kota, metropolitan. Hampir tak ada bedanya lagi antara perdesaan dan perkotaan. Semua telah berubah menjadi sedemikian rupa.
Perubahan yang tampak secara fisik adalah rekonstruksi bangunan di perdesaan, barangkali kita sudah mulai kehabisan stok rumah bergaya atau berstruktur lima. Rumah dengan atap rumah berbentuk segi lima kian hari kian menyusut.
Bandingkan dengan rumah dengan gaya minimalis, kita dengan mudah menyumpai rumah dengan struktur megah nan elok, rapi nan menawan.
Semua bangunan menggunakan gaya gedongan. Hanya segelintir bangun di desa memakai gedek--tembok yang terbuat dari anyaman bambu.
Setiap sisi sudut rumah telah berganti oleh semen atau bahan baku atau lainnya, yang katanya kokoh tak tertandingi, begitu janji iklan di luar sana.
Hidup di desa maupun di kota hampir tidak ada bedanya. Dari gaya hidup dan kebiasaan sudah tidak beda jauh, bahkan tidak ada jurang menganga antara desa dan semi metro.
Dari struktur bangunan hampir menyeluruh rumah tidak memakai gedek atau anyaman dari bambu. Berbicara tentang gedek, bayangan saya langsung terbang menghampiri kakek setengah baya yang selalu berjalan kaki menjual produk gedek hasil dari kreativitas dan buatannya sendiri itu.
Secara personal saya tidak mengenal dirinya. Saya tidak tahu, siapa namanya, juga tidak tahu di mana rumahnya?
Yang jelas, menurut informasi ia adalah warga kecamatan Watulimo--satu kecamatan dengan saya. Saya sering menjumpai orang tersebut dengan barang dagangannya di pundaknya, yang menutup setengah atas tubuhnya. Hanya terdengar suaranya yang parao.
Perjumpaan dengan penjual gedek keliling ini bukan kali pertama. Saya sudah berulang kali, bahkan puluhan kali melihat ia keliling desa menawarkan barangnya.
Saya tak bermaksud untuk menggeneralisasi tukang gedek tersebut. Saya hanya ingin mengambil dan menemukan hal-hal positif yang membuat saya memiliki perhatian terhadapnya.
Gedek.... Dek.... Dek.... Begitu suara dari balik anyaman, yang ia perangkul di pundaknya.
Ia sudah tua. Tampaknya usianya sudah 60 tahunan lebih. Meski usianya tak muda lagi, ada beberapa hal yang dapat saya petik dari bapak tersebut.
Pertama, sikapnya yang optimistis. Kalau kita pikir secara logika, kesempatan mendapatkan pelanggan yang mau membeli produknya itu sangat tipis. Namun ia masih tetap ingin keliling berjualan gedhexnya. Tanpa mengeluh, memelas dan memaksa orang lain untuk membeli.
Kedua, sikapnya yang kerja keras. Ia tampak tidak memikirkan, apakah akan ada pembeli di tengah zaman modern seperti ini. Ia masih tetap kerja keras untuk menjualnya keliling kampung dengan berjalan kaki. Bisa dibayangkan, bagaimana rasa memanggul beban anyaman gedhex yang lebarnya, mungkin 2x2 meter. Jelas ini pengorbanan yang harus dijadikan pelajaran kita semua, wabil khusus saya sendiri.
Ketiga, sikapnya yang religius. Bagi masyarakat Kecamatan Watulimo, orang yang saya maksud ini adalah saya sering menjumpai dengan barang dagaannya, bahkan tidak satu atau dua kali saya menjumpainya mungkin berulang kali. Dan setiap perjalanan ia menyempitkan sarung dalam anyaman bambunya tersebut. Hipotesa saya kalau bukan ia gunakan untuk sembahyang, yang buat selimut.
Namun, pada tataran ini saya lebih membuat generalisasi untuk sembahyang--sholat. Di tengah masyarakat seperti sekarang ini, dan lilitan ekonomi ini, ia masih tetap ingat kepada-Nya.
Di tengah-tengah dunia yang serba cepat dan instan ini banyak orang yang berpikiran singkat sehingga implikasinya cenderung menempuh jalan pintas untuk meraih sesuatu. Bahkan, cara pandang yang berkembang di masyarakat sering menilai prestasi bukan dari proses, melainkan dari sisi hasil.
Oleh karena itu, kegigihan penjual gedek itu perlu saya dijadikan referensi untuk keberhasilan hidup yang lebih baik lagi.
Meminjam istilah sahabat saya, Sin Siniarsana, ritual "sekilas", ritual biasa, dan ritual kualitas. Maksudnya, perlu ritual sekilas uji coba, hingga menjadi kebiasaan, kelak menjadi ritual yang mendatangkan ritual kualitas dalam hidup kita.
Meski usia sudah tak lagi muda, kaki dan tangannya mulai gemetar, ia masih tak mau berhenti dan menyerah pada keadaan. Tak mau kalah dengan keadaan. Ia masih terus berjuang dan ingin mencari Ridha-Nya.[]
Masyarakat kita sudah sedikit berubah, yang dulunya konvensional sekarang sedikit demi sedikit sudah beralih menjadi masyarakat modern. Ini terlihat dari struktur bangunan dan gaya hidup yang semakin tinggi. Selain itu taraf hidup orang desa, makin hari makin 'menyamai' orang kota, metropolitan. Hampir tak ada bedanya lagi antara perdesaan dan perkotaan. Semua telah berubah menjadi sedemikian rupa.
Perubahan yang tampak secara fisik adalah rekonstruksi bangunan di perdesaan, barangkali kita sudah mulai kehabisan stok rumah bergaya atau berstruktur lima. Rumah dengan atap rumah berbentuk segi lima kian hari kian menyusut.
Bandingkan dengan rumah dengan gaya minimalis, kita dengan mudah menyumpai rumah dengan struktur megah nan elok, rapi nan menawan.
Semua bangunan menggunakan gaya gedongan. Hanya segelintir bangun di desa memakai gedek--tembok yang terbuat dari anyaman bambu.
Setiap sisi sudut rumah telah berganti oleh semen atau bahan baku atau lainnya, yang katanya kokoh tak tertandingi, begitu janji iklan di luar sana.
Hidup di desa maupun di kota hampir tidak ada bedanya. Dari gaya hidup dan kebiasaan sudah tidak beda jauh, bahkan tidak ada jurang menganga antara desa dan semi metro.
Dari struktur bangunan hampir menyeluruh rumah tidak memakai gedek atau anyaman dari bambu. Berbicara tentang gedek, bayangan saya langsung terbang menghampiri kakek setengah baya yang selalu berjalan kaki menjual produk gedek hasil dari kreativitas dan buatannya sendiri itu.
Secara personal saya tidak mengenal dirinya. Saya tidak tahu, siapa namanya, juga tidak tahu di mana rumahnya?
Yang jelas, menurut informasi ia adalah warga kecamatan Watulimo--satu kecamatan dengan saya. Saya sering menjumpai orang tersebut dengan barang dagangannya di pundaknya, yang menutup setengah atas tubuhnya. Hanya terdengar suaranya yang parao.
Perjumpaan dengan penjual gedek keliling ini bukan kali pertama. Saya sudah berulang kali, bahkan puluhan kali melihat ia keliling desa menawarkan barangnya.
Saya tak bermaksud untuk menggeneralisasi tukang gedek tersebut. Saya hanya ingin mengambil dan menemukan hal-hal positif yang membuat saya memiliki perhatian terhadapnya.
Gedek.... Dek.... Dek.... Begitu suara dari balik anyaman, yang ia perangkul di pundaknya.
Ia sudah tua. Tampaknya usianya sudah 60 tahunan lebih. Meski usianya tak muda lagi, ada beberapa hal yang dapat saya petik dari bapak tersebut.
Pertama, sikapnya yang optimistis. Kalau kita pikir secara logika, kesempatan mendapatkan pelanggan yang mau membeli produknya itu sangat tipis. Namun ia masih tetap ingin keliling berjualan gedhexnya. Tanpa mengeluh, memelas dan memaksa orang lain untuk membeli.
Kedua, sikapnya yang kerja keras. Ia tampak tidak memikirkan, apakah akan ada pembeli di tengah zaman modern seperti ini. Ia masih tetap kerja keras untuk menjualnya keliling kampung dengan berjalan kaki. Bisa dibayangkan, bagaimana rasa memanggul beban anyaman gedhex yang lebarnya, mungkin 2x2 meter. Jelas ini pengorbanan yang harus dijadikan pelajaran kita semua, wabil khusus saya sendiri.
Ketiga, sikapnya yang religius. Bagi masyarakat Kecamatan Watulimo, orang yang saya maksud ini adalah saya sering menjumpai dengan barang dagaannya, bahkan tidak satu atau dua kali saya menjumpainya mungkin berulang kali. Dan setiap perjalanan ia menyempitkan sarung dalam anyaman bambunya tersebut. Hipotesa saya kalau bukan ia gunakan untuk sembahyang, yang buat selimut.
Namun, pada tataran ini saya lebih membuat generalisasi untuk sembahyang--sholat. Di tengah masyarakat seperti sekarang ini, dan lilitan ekonomi ini, ia masih tetap ingat kepada-Nya.
Di tengah-tengah dunia yang serba cepat dan instan ini banyak orang yang berpikiran singkat sehingga implikasinya cenderung menempuh jalan pintas untuk meraih sesuatu. Bahkan, cara pandang yang berkembang di masyarakat sering menilai prestasi bukan dari proses, melainkan dari sisi hasil.
Oleh karena itu, kegigihan penjual gedek itu perlu saya dijadikan referensi untuk keberhasilan hidup yang lebih baik lagi.
Meminjam istilah sahabat saya, Sin Siniarsana, ritual "sekilas", ritual biasa, dan ritual kualitas. Maksudnya, perlu ritual sekilas uji coba, hingga menjadi kebiasaan, kelak menjadi ritual yang mendatangkan ritual kualitas dalam hidup kita.
Meski usia sudah tak lagi muda, kaki dan tangannya mulai gemetar, ia masih tak mau berhenti dan menyerah pada keadaan. Tak mau kalah dengan keadaan. Ia masih terus berjuang dan ingin mencari Ridha-Nya.[]
Iya betul, mas.
BalasHapusTerus bergerak dengan kayakinan.
Betul, Mas. Kita yang masih muda juga harus semangat...
BalasHapusPosting Komentar