“Di negara saya, kamu bisa menemukan ini di setiap rumah. Kami punya ribuan jenis torshi yang berbeda.”
Saya bongkar-bongkar file di laptop. Saat membongkar isi laptop yang mulai tak sehat, saya berhenti sejenak dan membacanya. Sebuah e-book tentang kuliner yang dibawa pengungsi. Saya ingat, buku elektronik itu saya download dari link yang dibagi oleh Fadly Rahman penulis buku Jejak Rasa Nusantara; Sejarah Makanan Indonesia.
Saya berpikir sejenak. Membayangkan bagaimana para kuliner mampu melebur dengan masyarakat sekitar, meski kuliner tersebut belum pernah berjumpa atau berkenalan langsung dengan masyarakat setempat. Saya bengong sambil teringat saat saya masih di kota orang, apa yang aku cari saat mau makan? Mencari rasa yang sesuai dengan selera lidah. E-book itu seketika menarik saya dan menuliskan bagaimana makanan menjadi sahabat dekat, menjadi pemersatu bangsa dan mencairkan keterbatasan bahasa.
Saya pernah bersinggungan dengan kuliner—meski tak secara langsung—bekerja di lingkungan pendidikan kuliner. Saya bukan tukang masak, koki atau chef pada umumnya. Di Kota Tangerang itu saya pernah mencoba bertanya dan mengumpulkan kisah-kisah tentang kuliner. Di Kota Tangerang itu saat makan saya juga mencari rasa. Di mana rasa tak selalu sama di bumi kita pijak itu.
Selama kurun waktu 9 bulan itu pagi sampai sore saya bergumul dengan chef dan mahasiswa berbagai daerah soal kuliner; mempelajari karakter bahan dan bumbu yang dipakai untuk memasak. Sementara menu-menu yang dipelajari meliputi makanan-makanan Nusantara hingga luar negeri, tidak ketinggalan pula makanan Timur Tengah.
Membaca resep dan sedikit kutipan dari e-book yang berjudul Citarasa dari Kampung Halaman; kumpulan resep dari para pengungsi membawa kita pada sebuah anggapan bahwa makanan atau menu dari sebuah negara mampu berakulturasi dengan budaya dan makanan suatu negara baru. Selain makanan memiliki kemampuan luar biasa, membawa kita ke waktu dan tempat yang benar-benar belum pernah kita datangi sebelumnya.
Berbeda dengan manusia, makanan mampu bertahan dengan resep-resep yang ada. Berbaur dengan orang-orang baru di sekitarnya. Meski jauh dari negara asal dan memiliki jenis bahan yang sedikit namun makanan mampu “menelusup” di negari orang. Makanan mampu mempersatukan keterbatasan bahasa, mampu mengatasi keterbatasan bahasa dan tentunya memberikan rasa yang berbeda kepada para juru masak.
Negari yang mengalami perang saudara orang-orangnya kehidupan di negara orang. Menncari kedamaian di negeri baru ia tempati. Mereka tak membawa bekal banyak untuk bertahan hidup. Tak banyak pula harga yang ia angkut di negara baru itu. Namun hanya modal ilmu tentang cara dan resep memasak saja yang ia pelajari saat di negaranya. Negara-negara itu adalah Afganistan, Iran dan Myanmar. Tiga negara itu satu persatu memiliki ke-khas-an kuliner yang dibagi kepada relawan JRS di Yogjakarta.
Di suatu camp pengusian selain duka yang dialami pengungsi, masih ada secercah kebahagian yang dibagi kepada relawan. Bukan harta benda yang dibagi. Membagi cerita duka menambah beban pada para pengungsi sendiri. Namun kebahagian itu hadir di dapur-dapur pengungsi.
Salah satu pengungsi dari Afganistan membagikan resep Lubia kepada relawan JRS. Ia mengaku perbedaan kuliner itu tak membuatnya bertengkar dengan keluarga dan istrinya. Ia malah menunjukkan sikap romantis di dapur kepada istrinya “Aku belum pernah memasak untuk keluargaku, karena budayaku sangat berbeda. Tapi ak sering bergurau dan menyiapkan makanan dengan istriku. Manis sekali rasanya ketika aku bilang, “sayang tolong berikan pisaunya kepadaku.”
Meski di tengah-tengah keterbatasan bahasa dan keterbasan informasi di dunia luar. Para pengungsi kerab mengundang para relawan JRS untuk makan bersama. Dengan menu-menu khas dari negara-negara pengungsi. Salah satu menu yang menjadi favorit adalah Shirbirnj dari Afganistan. Menu ini adalah satu menu favorit. Di Jawa, di tempat saya menu Shirbirnj ini mirip Jenang Lemu, yang terbuat dari beras yang dinanak memakai santan sedikit.
Unduh di sini Begitulah rasa. Meski di tanah negeri orang asing, rasa masih bisa diterima dan memberi rasa senang para juru masak. Mengundang orang untuk hadir dan mencicipi makan-makan yang baru, sebab kuliner adalah salah satu kepenuhan hidup. Hidup di manapun berada. Karena rasa selalu tahu seseorang merayakan soal kepenuhan hidup, bahasa dan persaudaraan dan perbedaan politik sekalipun.
Saya bongkar-bongkar file di laptop. Saat membongkar isi laptop yang mulai tak sehat, saya berhenti sejenak dan membacanya. Sebuah e-book tentang kuliner yang dibawa pengungsi. Saya ingat, buku elektronik itu saya download dari link yang dibagi oleh Fadly Rahman penulis buku Jejak Rasa Nusantara; Sejarah Makanan Indonesia.
Saya berpikir sejenak. Membayangkan bagaimana para kuliner mampu melebur dengan masyarakat sekitar, meski kuliner tersebut belum pernah berjumpa atau berkenalan langsung dengan masyarakat setempat. Saya bengong sambil teringat saat saya masih di kota orang, apa yang aku cari saat mau makan? Mencari rasa yang sesuai dengan selera lidah. E-book itu seketika menarik saya dan menuliskan bagaimana makanan menjadi sahabat dekat, menjadi pemersatu bangsa dan mencairkan keterbatasan bahasa.
Saya pernah bersinggungan dengan kuliner—meski tak secara langsung—bekerja di lingkungan pendidikan kuliner. Saya bukan tukang masak, koki atau chef pada umumnya. Di Kota Tangerang itu saya pernah mencoba bertanya dan mengumpulkan kisah-kisah tentang kuliner. Di Kota Tangerang itu saat makan saya juga mencari rasa. Di mana rasa tak selalu sama di bumi kita pijak itu.
Selama kurun waktu 9 bulan itu pagi sampai sore saya bergumul dengan chef dan mahasiswa berbagai daerah soal kuliner; mempelajari karakter bahan dan bumbu yang dipakai untuk memasak. Sementara menu-menu yang dipelajari meliputi makanan-makanan Nusantara hingga luar negeri, tidak ketinggalan pula makanan Timur Tengah.
Membaca resep dan sedikit kutipan dari e-book yang berjudul Citarasa dari Kampung Halaman; kumpulan resep dari para pengungsi membawa kita pada sebuah anggapan bahwa makanan atau menu dari sebuah negara mampu berakulturasi dengan budaya dan makanan suatu negara baru. Selain makanan memiliki kemampuan luar biasa, membawa kita ke waktu dan tempat yang benar-benar belum pernah kita datangi sebelumnya.
Berbeda dengan manusia, makanan mampu bertahan dengan resep-resep yang ada. Berbaur dengan orang-orang baru di sekitarnya. Meski jauh dari negara asal dan memiliki jenis bahan yang sedikit namun makanan mampu “menelusup” di negari orang. Makanan mampu mempersatukan keterbatasan bahasa, mampu mengatasi keterbatasan bahasa dan tentunya memberikan rasa yang berbeda kepada para juru masak.
Negari yang mengalami perang saudara orang-orangnya kehidupan di negara orang. Menncari kedamaian di negeri baru ia tempati. Mereka tak membawa bekal banyak untuk bertahan hidup. Tak banyak pula harga yang ia angkut di negara baru itu. Namun hanya modal ilmu tentang cara dan resep memasak saja yang ia pelajari saat di negaranya. Negara-negara itu adalah Afganistan, Iran dan Myanmar. Tiga negara itu satu persatu memiliki ke-khas-an kuliner yang dibagi kepada relawan JRS di Yogjakarta.
Di suatu camp pengusian selain duka yang dialami pengungsi, masih ada secercah kebahagian yang dibagi kepada relawan. Bukan harta benda yang dibagi. Membagi cerita duka menambah beban pada para pengungsi sendiri. Namun kebahagian itu hadir di dapur-dapur pengungsi.
Salah satu pengungsi dari Afganistan membagikan resep Lubia kepada relawan JRS. Ia mengaku perbedaan kuliner itu tak membuatnya bertengkar dengan keluarga dan istrinya. Ia malah menunjukkan sikap romantis di dapur kepada istrinya “Aku belum pernah memasak untuk keluargaku, karena budayaku sangat berbeda. Tapi ak sering bergurau dan menyiapkan makanan dengan istriku. Manis sekali rasanya ketika aku bilang, “sayang tolong berikan pisaunya kepadaku.”
Meski di tengah-tengah keterbatasan bahasa dan keterbasan informasi di dunia luar. Para pengungsi kerab mengundang para relawan JRS untuk makan bersama. Dengan menu-menu khas dari negara-negara pengungsi. Salah satu menu yang menjadi favorit adalah Shirbirnj dari Afganistan. Menu ini adalah satu menu favorit. Di Jawa, di tempat saya menu Shirbirnj ini mirip Jenang Lemu, yang terbuat dari beras yang dinanak memakai santan sedikit.
Unduh di sini Begitulah rasa. Meski di tanah negeri orang asing, rasa masih bisa diterima dan memberi rasa senang para juru masak. Mengundang orang untuk hadir dan mencicipi makan-makan yang baru, sebab kuliner adalah salah satu kepenuhan hidup. Hidup di manapun berada. Karena rasa selalu tahu seseorang merayakan soal kepenuhan hidup, bahasa dan persaudaraan dan perbedaan politik sekalipun.
Keren Mas Rokhim!
BalasHapusHahhaha. Terima kasih ya Dyvanka. Lebih keren(an) kamu loh...,
BalasHapusDuh aku jadi laper jadinya 😂😂
BalasHapusHehehe... Makan yang kenyang mbak.
BalasHapusPosting Komentar