Buku hadir selalu ada penerima dan pembaca. Jika sebuah buku tak memiliki tempat bagi pembaca, bukan berarti buku tersebut tak layak dibeli dan dikonsumsi; ditarik dan dihanguskan. Karena melarang buku beredar apalagi penghangusan dan pembakaran tanpa membaca (tidak dibeli lagi) adalah kejahatan intelektual.
Buku yang beredar, sadar atau tidak, selalu mengusik pribadi seseorang, sekalipun bukan pembaca yang rakus. Buku selalu memantik untuk di-sinau-i. Dilekatkan kepada pribadi yang kadar rasa keingintahuannnya tinggi. Apalagi pembaca tersebut adalah pelajar dan pembelajar, buku harus menjadi rujukan utama dalam merengkuh hikmah dan pelajaran. Khususnya untuk pelajar, buku menjadi tak terpisahkan untuk bahan tugas dari dosen. Begitu pun seorang pembelajar, buku menjadi bahan merengkuh hikmah yang tak bertepi.
Tak berlebihan bagi saya mendeklarasikan diri sebagai penulis. Buku mendermakan saya untuk meraup khazanah yang luas cakupan pengetahuannya, yang selalu saya kunyah mentah-mentah maupun matang. Buku harus menjadi teman yang setia; baik suka maupun duka. Buku sering menjadi penambal perasaan yang berluang oleh rasa kesedihan, kekecewaan dan keasyikan.
Sebab itu, tak sedikit buku yang menginspirasi dan memikat pembaca. Jika saya ditanya, “Buku apa yang menginspirasi?” Saya sedikit dilematis dan bingung. Dari setumpuk dan sederet buku di rak, ada banyak buku yang membekas dan memikat hati dan pikiran. Meski buku tersebut ditulis oleh orang yang tidak saya kenal secara fisik.
Salah satu buku yang membekas setelah membacanya adalah, buku berjudul Indonesia bagian Dari Desa Saya, karya Emha Ainun Nadjib. Buku ini saya beli (saya tanggali) pada 28 Desember 2013 cetakan kedua. Buku pertama diterbitkan SI Press, Yogjakarta pada tahun 1983. Artinya selama tiga puluh tiga tahun masih menyapa penggemarnya—pembacanya. Sejatinya, tulisan ini diciptakan di medio tahun 1970-an.
Tulisan Cak Nun—sapaan populer—Muhammad Ainun Nadjib ini selalu mewakili pemikirannya yang jauh ke depan mengenai bangsa ini, bangsa Indonesia. “... ‘zaman edan’ yang saya gambar tiga dekade silam ternyata saat ini bukan hanya masih berlangsung, melainkan justru bertambah parah dan mencapai sejumlah puncak-puncak kegilaanya.” Seperti buku-buku Cak Nun yang lain, buku ini tak ada dalil-dalil yang mendakik-dakik, jenlentrekkan dalil-dalili, hanya kisah yang penuh kontemplatif dan ‘wisata’ kebudayaan masa lalu.
Cak Nun mengisahkan cerita-cerita dan laporan-laporannya tentang manusia utuh, yang masih sedikit menyenggol zaman modernisasi. Misal cerita Sang Kiai dengan Pak Cendhol, dan si anak kelas III SD. Masadji Pratama, dll. Buku tersebut masih dapat direnungkan selaku penguatan diri kita. Tetapi, Cak Nun tidak berhenti kenes di panggung horisontal kebudayaan belaka. Ia juga menanjaki anak tangga dimensi-dimensi vertikal kehidupan sehari-hari yang menunjuk ke Tuhan.
Kenapa saya terpikat dan terhanyut dengan buku tersebut? Secara pribadi, saya sangat suka membaca tulisan yang berbau kearifan lokal dan perpaduan dengan “khotbah-khotbah”nya. Dengan membaca buku atau tulisan masa silam, saya dapat membaca kebudayaan masyarakat; karakter, kebiasaan dan kekhasan kearifan lokal tempo doeloe. Sisi lain, saya sangat suka menulis atau menggabungkan dinamika kehidupan di sekitar. Perubahan masyarakat tempat tinggal saya sangat signifikan. Oleh karena itu, buku Cak Nun ini sangat reflektif dan kontemplatif. Kepiawaian Emha Ainun Nadjib berceramah dengan cara khasnya bersama Kiai Kanjeng, seolah saya terbius untuk bercengkerama dan berdialog kembali dengan pemikiran masa lalu dan realitas sekarang, bahkan masa yang akan mendatang masih relevan.
Di sisi lain, sejatinya banyak penulis maupun buku yang menginspirasi dan membukakan pekaan. Meski hanya dua buku yang saya sungguhkan di sini, tapi sebetulnya saya ingin saya tulis lebih banyak lagi tentang buku yang memikat lagi mencerahkan. Misal buku para guru; J. Sumardianta, Dr. Ngainun Naim, Hernowo, M. Husnaini, Much. Khoiri. Prof. Muhammad Chirzin, Munif Chatib, Zen Rs, Daoed Joesoef, Sirajudin hasbi, Abdurrahman Wahid, KH. Mustofa Bisri, Gol A Gong, dan tentunya para guru dan Kiai dan teman-teman Sahabat Pena Nusantara (SPN) sendiri. Mereka tanpa lelah menginspirasi ceruk pengetahuan saya dari petuah-petuah dan buku-bukunya dalam mensugesti saya membuka kepekaan.
Selanjutnya, buku yang kedua adalah buku Melulu Buku dari Esais muda Solo, Setyaningsih. Buku ini diterbitkan Bilik Literasi (Karanganyar; 2015) dalam Seri Buku Sejinah. Terbit yang dipandegani Bandung Mawardi dan teman-taman Bilik Literasi lain. Buku ini adalah kumpulan tulisan yang pernah nangkring di beberapa media. Judul buku yang berbincang tentang buku, yang menurut saya, menarik, mendorong, menggelitik, dan menguatkan saya untuk menulis lagi.
Sisi lain, saya sangat suka dengan karakter kepenulisan Bandung Mawardi. karakter tersebut juga diterapkan di dalam buku Melulu Buku dan Bermula Buku, Berakhir Telepon. Secara tidak langsung, Setyaningsih adalah murid (biologis) Bandung Mawardi. Oleh karena itu, karakter menulis begitu puitik; kalimatnya pendek-pendek, penuh dengan kutipan-kutipan. Dan yang paling menonjol adalah referensi yang “ditempel” adalah buku lawas-lawas. Tulisannya bertebaran di media massa saben hari. Hal tersebut menandakan betapa kuatnya ia membaca—sekalipun buku lawas. Setyaningsih mengisahkan lakon modern yang dikompilasikan dengan referensi buku-buku lawas nan “usang”. Oleh karena itu, saya sangat menikmati sajian-sajian buku kebudayaan, dan tentunya, buku ini lebih dengan laku masyarakat.
Saya bisa menyimak kesan pertemuan dengan buku-buku. Di halaman 14, ia mengkutip buku garapan Jostein Gaarder. “Setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan, jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan, segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.”
Buku membawa pembaca tidak hanya diam layaknya tamu yang duduk, tapi menjelajah dengan raga, dan membukakan kepekaan pikiran pembaca. Dari sederet buku yang pernah saya baca, hampir semua buku selalu mengisi hari dan hati. Buku apapun itu selalu mengusik untuk di-sinau-i; satu buku belum selesai dibaca, buku lain sudah menunggu untuk diintimi. Setiap buku yang lahir selalu mendapat tempat yang layak di hati pembacanya. Menginspirasi bagi penikmatnya. Sebab, buku adalah jalan menuju kepekaan. Membaca buku adalah jalan membuka kepekaan terhadap realitas sekitar. Menulis pun juga membutuhkan buku dan kepekaan terhadap fenomena sekitar. Karena itu sebabnya, saya membaca buku untuk mendekatkan dengan realitas dan membuka kepekaan terhadap realitas. Begitu. []
Buku yang beredar, sadar atau tidak, selalu mengusik pribadi seseorang, sekalipun bukan pembaca yang rakus. Buku selalu memantik untuk di-sinau-i. Dilekatkan kepada pribadi yang kadar rasa keingintahuannnya tinggi. Apalagi pembaca tersebut adalah pelajar dan pembelajar, buku harus menjadi rujukan utama dalam merengkuh hikmah dan pelajaran. Khususnya untuk pelajar, buku menjadi tak terpisahkan untuk bahan tugas dari dosen. Begitu pun seorang pembelajar, buku menjadi bahan merengkuh hikmah yang tak bertepi.
Tak berlebihan bagi saya mendeklarasikan diri sebagai penulis. Buku mendermakan saya untuk meraup khazanah yang luas cakupan pengetahuannya, yang selalu saya kunyah mentah-mentah maupun matang. Buku harus menjadi teman yang setia; baik suka maupun duka. Buku sering menjadi penambal perasaan yang berluang oleh rasa kesedihan, kekecewaan dan keasyikan.
Sebab itu, tak sedikit buku yang menginspirasi dan memikat pembaca. Jika saya ditanya, “Buku apa yang menginspirasi?” Saya sedikit dilematis dan bingung. Dari setumpuk dan sederet buku di rak, ada banyak buku yang membekas dan memikat hati dan pikiran. Meski buku tersebut ditulis oleh orang yang tidak saya kenal secara fisik.
Salah satu buku yang membekas setelah membacanya adalah, buku berjudul Indonesia bagian Dari Desa Saya, karya Emha Ainun Nadjib. Buku ini saya beli (saya tanggali) pada 28 Desember 2013 cetakan kedua. Buku pertama diterbitkan SI Press, Yogjakarta pada tahun 1983. Artinya selama tiga puluh tiga tahun masih menyapa penggemarnya—pembacanya. Sejatinya, tulisan ini diciptakan di medio tahun 1970-an.
Tulisan Cak Nun—sapaan populer—Muhammad Ainun Nadjib ini selalu mewakili pemikirannya yang jauh ke depan mengenai bangsa ini, bangsa Indonesia. “... ‘zaman edan’ yang saya gambar tiga dekade silam ternyata saat ini bukan hanya masih berlangsung, melainkan justru bertambah parah dan mencapai sejumlah puncak-puncak kegilaanya.” Seperti buku-buku Cak Nun yang lain, buku ini tak ada dalil-dalil yang mendakik-dakik, jenlentrekkan dalil-dalili, hanya kisah yang penuh kontemplatif dan ‘wisata’ kebudayaan masa lalu.
Cak Nun mengisahkan cerita-cerita dan laporan-laporannya tentang manusia utuh, yang masih sedikit menyenggol zaman modernisasi. Misal cerita Sang Kiai dengan Pak Cendhol, dan si anak kelas III SD. Masadji Pratama, dll. Buku tersebut masih dapat direnungkan selaku penguatan diri kita. Tetapi, Cak Nun tidak berhenti kenes di panggung horisontal kebudayaan belaka. Ia juga menanjaki anak tangga dimensi-dimensi vertikal kehidupan sehari-hari yang menunjuk ke Tuhan.
Kenapa saya terpikat dan terhanyut dengan buku tersebut? Secara pribadi, saya sangat suka membaca tulisan yang berbau kearifan lokal dan perpaduan dengan “khotbah-khotbah”nya. Dengan membaca buku atau tulisan masa silam, saya dapat membaca kebudayaan masyarakat; karakter, kebiasaan dan kekhasan kearifan lokal tempo doeloe. Sisi lain, saya sangat suka menulis atau menggabungkan dinamika kehidupan di sekitar. Perubahan masyarakat tempat tinggal saya sangat signifikan. Oleh karena itu, buku Cak Nun ini sangat reflektif dan kontemplatif. Kepiawaian Emha Ainun Nadjib berceramah dengan cara khasnya bersama Kiai Kanjeng, seolah saya terbius untuk bercengkerama dan berdialog kembali dengan pemikiran masa lalu dan realitas sekarang, bahkan masa yang akan mendatang masih relevan.
Di sisi lain, sejatinya banyak penulis maupun buku yang menginspirasi dan membukakan pekaan. Meski hanya dua buku yang saya sungguhkan di sini, tapi sebetulnya saya ingin saya tulis lebih banyak lagi tentang buku yang memikat lagi mencerahkan. Misal buku para guru; J. Sumardianta, Dr. Ngainun Naim, Hernowo, M. Husnaini, Much. Khoiri. Prof. Muhammad Chirzin, Munif Chatib, Zen Rs, Daoed Joesoef, Sirajudin hasbi, Abdurrahman Wahid, KH. Mustofa Bisri, Gol A Gong, dan tentunya para guru dan Kiai dan teman-teman Sahabat Pena Nusantara (SPN) sendiri. Mereka tanpa lelah menginspirasi ceruk pengetahuan saya dari petuah-petuah dan buku-bukunya dalam mensugesti saya membuka kepekaan.
Selanjutnya, buku yang kedua adalah buku Melulu Buku dari Esais muda Solo, Setyaningsih. Buku ini diterbitkan Bilik Literasi (Karanganyar; 2015) dalam Seri Buku Sejinah. Terbit yang dipandegani Bandung Mawardi dan teman-taman Bilik Literasi lain. Buku ini adalah kumpulan tulisan yang pernah nangkring di beberapa media. Judul buku yang berbincang tentang buku, yang menurut saya, menarik, mendorong, menggelitik, dan menguatkan saya untuk menulis lagi.
Sisi lain, saya sangat suka dengan karakter kepenulisan Bandung Mawardi. karakter tersebut juga diterapkan di dalam buku Melulu Buku dan Bermula Buku, Berakhir Telepon. Secara tidak langsung, Setyaningsih adalah murid (biologis) Bandung Mawardi. Oleh karena itu, karakter menulis begitu puitik; kalimatnya pendek-pendek, penuh dengan kutipan-kutipan. Dan yang paling menonjol adalah referensi yang “ditempel” adalah buku lawas-lawas. Tulisannya bertebaran di media massa saben hari. Hal tersebut menandakan betapa kuatnya ia membaca—sekalipun buku lawas. Setyaningsih mengisahkan lakon modern yang dikompilasikan dengan referensi buku-buku lawas nan “usang”. Oleh karena itu, saya sangat menikmati sajian-sajian buku kebudayaan, dan tentunya, buku ini lebih dengan laku masyarakat.
Saya bisa menyimak kesan pertemuan dengan buku-buku. Di halaman 14, ia mengkutip buku garapan Jostein Gaarder. “Setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan, jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan, segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.”
Buku membawa pembaca tidak hanya diam layaknya tamu yang duduk, tapi menjelajah dengan raga, dan membukakan kepekaan pikiran pembaca. Dari sederet buku yang pernah saya baca, hampir semua buku selalu mengisi hari dan hati. Buku apapun itu selalu mengusik untuk di-sinau-i; satu buku belum selesai dibaca, buku lain sudah menunggu untuk diintimi. Setiap buku yang lahir selalu mendapat tempat yang layak di hati pembacanya. Menginspirasi bagi penikmatnya. Sebab, buku adalah jalan menuju kepekaan. Membaca buku adalah jalan membuka kepekaan terhadap realitas sekitar. Menulis pun juga membutuhkan buku dan kepekaan terhadap fenomena sekitar. Karena itu sebabnya, saya membaca buku untuk mendekatkan dengan realitas dan membuka kepekaan terhadap realitas. Begitu. []
إرسال تعليق