Bersamaan menulis judul ini, saya mengalami kegelisahan. Bahkan beberapa hari merasakan penurunan kondisi fisik. Saya teringat tulisan seorang sahabat yang menandai catatannya di beranda facebook saya, yaitu Saiful Mustofa, dia membuat judul yang menarik. Judul tersebut, tentang hal pemberitahuan dan kegelisahan. Kalau boleh saya menanggapi, catatan tersebut hampir sama, dengan apa yang saya rasakan.
Ternyata, akibat dari membagi fokus dan konsentrasi, pertama buku yang kedua hape, atau jejaring sosial lainnya.
Saya bukan orang yang pesimis akan hadirnya internet bisa di akses melalui hape, malah saya dimudahkan untuk mengakses informasi secara cepat.
Beberapa aplikasi yang mudahkan, saya akses melalui aplikasi seluler. Langsung melalui hape yang saya miliki. Saya juga menggunakan akun jejaring sosial dan sering meng-up-date postingan tulisan atau sekedar menulis status maupun komentar dan mengikuti pembaruan di facebook. Dan menulis blog pun saya menulis melalui blog seluler. Sering juga saya membaca di Website. Namun, ada beberapa keluhan setelah saya keasikan browsing ataupun memanfaatkan jejaring sosial, seperti facebook, twitter, blog, maupun membuka dan membalas email. Dulu saya suka membaca buku dan lembaran yang tebal-tebal hingga ratusan halaman. Namun sekarang saya berjuang untuk fokus pada tulisan yang panjang.
Seorang blogger juga menyebutkan fenomena tersebut. Scott Karp mengakui bahwa dia telah berhenti membaca buku yang tebal-tebal. “Di perguruan tinggi, saya mengambi jurusan sastra dan dulu saya seorang yang gila baca,” demikian tuturnya. “Apa yang terjadi?” Dia menebak-nebak jawabannya: “Bagaimana jika kebiasaan saya membaca di Web telah merubah kebiasaan berfikir saya, kebiasaan membaca di Web, semata-mata hanya mencari kenyaman, namun telah merubah kebiasaan membacanya.” Imbuhnya.
Pendapat tersebut juga disampaikan oleh seorang ahli penyakit di fakultas kedokteran University of Michigan, Friedman menjelaskan dalam buku The Shallow, “Saya tak lagi membaca War and Peace,” menurutnya, “Setelah membaca tiga atau empat paragraf sudah terlalu banyak untuk diserap”. Begitu juga Philip Davis, seorang mahasiswa doktoral jurusan komunikasi di Cornell University mengatakan “Internet mungkin telah membuat saya menjadi seorang pembaca yang tidak sabaran, namun saya kira dalam banyak hal, internet telah membuat saya lebih cerdas. Karena memiliki lebih banyak koneksi pada dokumen, dan banyak teman.”
Kita tidak bisa lari dari gegap gempita zaman informasi yang semakin maju ini, yang harus diakui mendapat kontribusi terbesar dari internet. Sebagian pihak mengingatkan kita supaya ebrsikap cerdas dan tajam di tengah gelombang yang ada. Disisi lain, menyarankan jangan biarkan diri kita tetap eksis dalam sehari-hari, dalam pekerjaan, dan dalam gaya hidup. Sementara, banyak sekali orang bisa berprestasi berkat bantuan internet. Bahkan konsep belajarnya pun tidak bisa jauh dengan namanya internet.
Kita amati, internet sudah menjajah, melanda, menguasai diri kita berbagai sisi kehidupan. Tidak bisa memungkiri, saya telah membagi konsentrasi belajar dengan gadget yang ada disekitar saya. Bisa juga pikiran atau otak, saya gerakkan untuk berfikir paralel untuk menanngkap beberapa informasi yang berbeda. Sesekali juga meraihnya untuk membalas SMS, BBM, maupun membuka facebook. Secara tidak sadar, kita telah membagi konsentrasi dan fokus kita kepada dua benda sekaligus.
Anak-anak, siswa sekolah dann mahasiswa tak jarang mengerjakan tugas atau PR sambil mendengarkan musik dengan memutar MP3, membalas email, BBM, SMS, saat membaca buku. Fokus yang semestinya dihadapkan ke bacaan atau di lembaran kertas, malah dibagi dengan hape atau alat komunikasi yang lain. Kalau kita cermat dan memiliki kecerdasan menejemen waktu, tentunya kita bisa membuka dan membalasnya seusai aktifitas belajar kita.
Selain itu, banyak sekali orang diluar sana yang melakukan seperti itu. Contoh lain adalah, orang yang melakukan perjalanan jauh menjadi tidak sabaran akan messege (sms) yang masuk di happenya, otomatis secara sepontan, ia harus membalas ketika dalam perjalanan mengendarai motornya. Mungkin itu juga seing saya lakukan ketika mengendarai sepeda motor. Padahal hal tersebut adalah tindakan yang membahayakan nyawa kita.
Dahulu sebelum internet bisa diakses melalui hape langsung, pikiran kita tenang, fokus tak terganggu oleh informasi-informasi lain. Belajar pun bisa konsen dan fokus dengan apa yang kita hadapi. Sekarang proses pikiran ini menjadi paralel—harus membagi dengan informasi maupun alat, seperti ketika hape berbunyi. Pikiran linier telah terusik dan disingkirkan oleh hal yang tak terkait dan, sering kali tumpang tindih—lebih cepat, lebih baik.
Karena kebiasaan membaca berita maupun tulisan di Website, saya mengalami perubahan dalam berfikir. Saya khawatir akan menjadi orang yang berfikiran sangat dangkal. Saya hampir kehilangan kemapuan membaca dan menyerap tulisan atau artikel yang agak panjang. Sekarang saya sangat tidak sabar dengan tulisan panjang lebar dan bertele-tele. Untuk membaca buku yang agak tebal sulitnya bukan main. Ingin rasanya segera menutup dan mengakhirnya di tengah-tengah halaman.
Internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tapi juga mengorbankan kemampuan kita berpikir secara mendalam. Demikian kata Nicholas Carr dalam bukunya The Shallow, seorang Finalis Pulitzer Award 2011 ini menunjukkan bagaimana “alat-alat pikir”—alfabet, peta, barang cetakan, jam hingga komputer—yang telah kita gunakan selama berabad-abad bisa mengubah cara kerja otak kita.
Membaca buku cetak membuat kita dapat memfokuskan perhatian, mendorong aktifitas mendalam, kreatif dan produktif. Sebaliknya, internet memaksa kita menelan informasi secara instan, cepat, dan massal sehingga membuat pikiran kita mudah teralihkan. Kita menjadi terbiasa membaca serbakilat dan cepat menyaring informasi, tapi akibatnya kita juga kehilangan kapasitas kita untuk berkonsentrasi, merenung, dan berpikir mendalam. Saya rindu akan otak lama saya Yang tak ketergantungan kepada internet. Karena internet telah merubah cara berpikir saya.[]
“Internet telah membuat pola pikir dan kemampuan belajar saya menjadi tidak konsen dan membagi fokus.”Dari judul sahabat tadi, ada kesamaan dengan kondisi saya beberapa minggu kemarin. Saya terpuruk. Untuk menyelesaikan tulisan ini, harus melawan supaya segera selesai. Hampir dua minggu, saya berjuang menulis tulisan ini, dan beberapa kali mengalami kemandekkan. Baru saja saya sadari, penyebab kenapa saya sulit untuk belajar, entah itu membaca maupun menulis sebuah catatan ringan.
Ternyata, akibat dari membagi fokus dan konsentrasi, pertama buku yang kedua hape, atau jejaring sosial lainnya.
Saya bukan orang yang pesimis akan hadirnya internet bisa di akses melalui hape, malah saya dimudahkan untuk mengakses informasi secara cepat.
Beberapa aplikasi yang mudahkan, saya akses melalui aplikasi seluler. Langsung melalui hape yang saya miliki. Saya juga menggunakan akun jejaring sosial dan sering meng-up-date postingan tulisan atau sekedar menulis status maupun komentar dan mengikuti pembaruan di facebook. Dan menulis blog pun saya menulis melalui blog seluler. Sering juga saya membaca di Website. Namun, ada beberapa keluhan setelah saya keasikan browsing ataupun memanfaatkan jejaring sosial, seperti facebook, twitter, blog, maupun membuka dan membalas email. Dulu saya suka membaca buku dan lembaran yang tebal-tebal hingga ratusan halaman. Namun sekarang saya berjuang untuk fokus pada tulisan yang panjang.
Seorang blogger juga menyebutkan fenomena tersebut. Scott Karp mengakui bahwa dia telah berhenti membaca buku yang tebal-tebal. “Di perguruan tinggi, saya mengambi jurusan sastra dan dulu saya seorang yang gila baca,” demikian tuturnya. “Apa yang terjadi?” Dia menebak-nebak jawabannya: “Bagaimana jika kebiasaan saya membaca di Web telah merubah kebiasaan berfikir saya, kebiasaan membaca di Web, semata-mata hanya mencari kenyaman, namun telah merubah kebiasaan membacanya.” Imbuhnya.
Pendapat tersebut juga disampaikan oleh seorang ahli penyakit di fakultas kedokteran University of Michigan, Friedman menjelaskan dalam buku The Shallow, “Saya tak lagi membaca War and Peace,” menurutnya, “Setelah membaca tiga atau empat paragraf sudah terlalu banyak untuk diserap”. Begitu juga Philip Davis, seorang mahasiswa doktoral jurusan komunikasi di Cornell University mengatakan “Internet mungkin telah membuat saya menjadi seorang pembaca yang tidak sabaran, namun saya kira dalam banyak hal, internet telah membuat saya lebih cerdas. Karena memiliki lebih banyak koneksi pada dokumen, dan banyak teman.”
Kita tidak bisa lari dari gegap gempita zaman informasi yang semakin maju ini, yang harus diakui mendapat kontribusi terbesar dari internet. Sebagian pihak mengingatkan kita supaya ebrsikap cerdas dan tajam di tengah gelombang yang ada. Disisi lain, menyarankan jangan biarkan diri kita tetap eksis dalam sehari-hari, dalam pekerjaan, dan dalam gaya hidup. Sementara, banyak sekali orang bisa berprestasi berkat bantuan internet. Bahkan konsep belajarnya pun tidak bisa jauh dengan namanya internet.
Kita amati, internet sudah menjajah, melanda, menguasai diri kita berbagai sisi kehidupan. Tidak bisa memungkiri, saya telah membagi konsentrasi belajar dengan gadget yang ada disekitar saya. Bisa juga pikiran atau otak, saya gerakkan untuk berfikir paralel untuk menanngkap beberapa informasi yang berbeda. Sesekali juga meraihnya untuk membalas SMS, BBM, maupun membuka facebook. Secara tidak sadar, kita telah membagi konsentrasi dan fokus kita kepada dua benda sekaligus.
Anak-anak, siswa sekolah dann mahasiswa tak jarang mengerjakan tugas atau PR sambil mendengarkan musik dengan memutar MP3, membalas email, BBM, SMS, saat membaca buku. Fokus yang semestinya dihadapkan ke bacaan atau di lembaran kertas, malah dibagi dengan hape atau alat komunikasi yang lain. Kalau kita cermat dan memiliki kecerdasan menejemen waktu, tentunya kita bisa membuka dan membalasnya seusai aktifitas belajar kita.
Selain itu, banyak sekali orang diluar sana yang melakukan seperti itu. Contoh lain adalah, orang yang melakukan perjalanan jauh menjadi tidak sabaran akan messege (sms) yang masuk di happenya, otomatis secara sepontan, ia harus membalas ketika dalam perjalanan mengendarai motornya. Mungkin itu juga seing saya lakukan ketika mengendarai sepeda motor. Padahal hal tersebut adalah tindakan yang membahayakan nyawa kita.
Dahulu sebelum internet bisa diakses melalui hape langsung, pikiran kita tenang, fokus tak terganggu oleh informasi-informasi lain. Belajar pun bisa konsen dan fokus dengan apa yang kita hadapi. Sekarang proses pikiran ini menjadi paralel—harus membagi dengan informasi maupun alat, seperti ketika hape berbunyi. Pikiran linier telah terusik dan disingkirkan oleh hal yang tak terkait dan, sering kali tumpang tindih—lebih cepat, lebih baik.
Karena kebiasaan membaca berita maupun tulisan di Website, saya mengalami perubahan dalam berfikir. Saya khawatir akan menjadi orang yang berfikiran sangat dangkal. Saya hampir kehilangan kemapuan membaca dan menyerap tulisan atau artikel yang agak panjang. Sekarang saya sangat tidak sabar dengan tulisan panjang lebar dan bertele-tele. Untuk membaca buku yang agak tebal sulitnya bukan main. Ingin rasanya segera menutup dan mengakhirnya di tengah-tengah halaman.
Internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tapi juga mengorbankan kemampuan kita berpikir secara mendalam. Demikian kata Nicholas Carr dalam bukunya The Shallow, seorang Finalis Pulitzer Award 2011 ini menunjukkan bagaimana “alat-alat pikir”—alfabet, peta, barang cetakan, jam hingga komputer—yang telah kita gunakan selama berabad-abad bisa mengubah cara kerja otak kita.
Membaca buku cetak membuat kita dapat memfokuskan perhatian, mendorong aktifitas mendalam, kreatif dan produktif. Sebaliknya, internet memaksa kita menelan informasi secara instan, cepat, dan massal sehingga membuat pikiran kita mudah teralihkan. Kita menjadi terbiasa membaca serbakilat dan cepat menyaring informasi, tapi akibatnya kita juga kehilangan kapasitas kita untuk berkonsentrasi, merenung, dan berpikir mendalam. Saya rindu akan otak lama saya Yang tak ketergantungan kepada internet. Karena internet telah merubah cara berpikir saya.[]
Duh ngena banget mas,saya juga kini mengalaminya.Ingin bebas dari rasa gusar dan gelisah karena mendengar nada notifikasi,dan hilangnya konsentrasi saat bekerja.Tapi sulit,karena kini internet sudah jadi candu.
ردحذفInternet itu, menjadi seperti sebuah makhluk hidup baru...
ردحذفMeski sejatinya dia adalah mati
Internet bisa mengalihkan, menjajah, menghancurkan
Dia memang kayak uang aja gitu, alat... tergantung yang pake
cuma, ada beberapa orang yang lebih sering makenya salah
ah begitulah
Mengalihkan, menjajah dan menghancurkan... ih aku sudah dijajah ini mas.
ردحذفTanpa charger, stopkontak dan internet hidup ini hampa. Serasa mati dan hidup tergantung 3 alat itu... duh....
Benar sekali apa yang anda tuliskan ini. Saya mengakui mengalami hal seperti itu. Membaca buku tidak fokus karena terganggu sosial media. dan
ردحذفInginnya membaca yg pendek2 saja, serta seringkali menyerap mentah2 apa yg saya baca tanpa terpikir untuk merenungkannya.
Dan tidak terasa otak/hati seringkali mudah terprovokasi oleh tulisan/pendapat/berita yang bertebaran melalui internet tanpa sempat mengkonfirmasi kebenarannya.
Terima kasih sudah berkunjung di blog kami.. lalu gimna menurut Anda untuk mengatasinya??
ردحذفInternet telah menguasai manusia.
Sama2 mas,
ردحذفWah pertanyaan yang sulit bagi saya untuk menjawabnya, karena saya sendiri mau puasa tidak membuka internet satu hari saja gak tahan. Ya mungkin spy tak terlalu dikuasai internet kita buat jadwal yang ketat ya berapa lama dan saat jam berapa kita mbuka internet, di luar jam itu mungkin kita non aktifkan dulu sambungan internetnya. Tapi terus terang ini belum pernah saya coba, baru di angan2 he he
Hehehe. Memang sulit ya mbak buat menerapkan jauh dari dunia maya. Tiap hari tanpa internet seperti terisolasi dari dunia, begitu yang saya rasakan ketika tak memiliki paket internet. Hehehe
ردحذفbetul mas, apalagi kami ada wifi di rumah, jadi godaan untuk membuka internet makin besar, krn sering atau tidak mbuka internet mbayarnya sama he he he
ردحذفHihihihi. Memang sulit. Apalagi fasilitas seperti wifi ada ya gak bisa.
ردحذفMohon maaf mas, saya pun juga demikian. Rasanya tidak bisa tanpa internet.... jadi mohon maaf banget...
ردحذفإرسال تعليق