Televisi menjadi juru dakwah yang fatwa hedonistiknya diamini oleh jutaan orang, bahkan terkadang tanpa perlawanan. Televisi juga mendekte identitas anak muda kita. Ketika Ramadhan tiba serbuan dan rayuan maut acara televisi membanjiri layar televisi setiap hari. Mulai dari acara tontonan yang terhitung guyonan (ringan) sampai rayuan gombal yang menawarkan pagar rumah paling aman pun ditawarkan di televisi.
Saat ini hampir seluruh stasiun televisi menghadirkan kuis berhadiah pada jam-jam utama menonton. Acara kuis di televisi memang bukan acara baru. Pada tahun 1990-an acara televisi biasanya berisi game, lomba, dan adu pengetahuan. Namun saat ini, hampir seluruh stasiun televisi menghadirkan kuis pada jam-jam utama menonton. Namun belakangan, acara itu berevolusi dengan hadiah-hadiah yang fantastis. Tidak hanya hiburan, perlahan kuis menjadi trendsetter pola pikir masyarakat yang berpikir serbapraktis, termasuk praktis untuk menjadi kaya.
Dulu, Antv, misalnya, hampir setiap hari--jam ketika masyarakat memiliki waktu menyaksikan televisi sehingga ratingnya tinggi--menayangkan kuis Super Family dan Super Deal 2 Milyar. Bayangkan, di tengah kondisi serba kekurangan, ada program kuis yang menjanjikan hadiah uang dua miliar. Serta tayangan-tayangan berbau-bau bumbu dapur menarik minat calon konsumen.
Apalagi ketika bulan Ramadhan datang, seruan tentang makna menahan lapar sering terdengar melalui ceramah. Lapar ternyata memiliki makna sufistik yang dalam. Bukan semata gejala biologis, lapar membantu manusia mengeja dirinya. Ternyata mempersemai ketertundukan pada perut, organ yang "bertanggungjawab" pada rasa lapar.
Karena urusan "nabi usus", manusia kerap memunculkan berbagai bentuk keserakahan. Karena urusan perut "buncit" pula mendekatkan orang pada laku culas, curang, dan licik. Atas nama "kuasa perut", manusia melakukan kekejian dan menghalalkan segala cara untuk menyambung hidup. Sampai-sampai wakil kita parlemen menelantarkan rakyat juga karena urusan perut.
Kondisi itu ditambah frustasi sosial akibat beban hidup yang makin berat sehingga menjadi semacam legitimasi seseorang untuk melakukan kekerasan. Kekerasan kemudian menjadi bahasa komunikasi yang dapat dilihat tiap hari di televisi, koran, internet, game dan playstation, juga imajinasi murahan yang dipenetrasi melalui film dan sinetron, (hal. 57).
Gambaran tersebut sangat berbeda dengan yang direpresentasikan dalam cerpen "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis, digambarkan anak-anak desa suka sekali berkunjung ke surau. Surau, yang di Jawa sering disebut langgar. Dalam gambaran cerpen AA Navis, surau sebagai tempat ibadah berukuran kecil. Atap terbuat dari ijuk atau alang-alang, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu. Di bagian depan, terdapat beranda yang biasa digunakan anak-anak untuk ngaji pada malam hari.
Di sana mereka ngaji alif-ba-ta atau cara berwudlu yang benar. Pada bulan Ramadhan mereka biasanya bermalam di sana supaya ketika saat sahur tiba bisa menabuh beduk untuk membangunkan warga. Kondisi tersebut menggambarkan sosial budaya desa yang masih sederhana. Tanpa televisi atau handphone. Kondisi demikian jadi gambaran hilangnya "kematangan" kesahajaan pada diri masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan semacam perlawanan dalam budaya masyarakat yang semakin hari semakin kompleks dan konsumtif.
Nilai Perlawanan
Hobi menulis tidak hanya membuahkan rasa senang. Bagi beberapa orang, menulis dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Rahmat Petuguran, melalui buku Melawan Kuasa Perut (2014), salah satunya. Melalui tulisan ia mengajak pembaca mewaspada konsumerisme.
Apa yang berbahaya pada konsumerisme? Bagi dosen Bahasa Indonesia Unnes ini, bahaya konsumerisme tidak hanya terlihat di luar. Ia melihat adanya ketidakseimbangan relasi antara masyarakat dengan institusi kapital. Masyarakat cenderung mengamini doktrin konsumtif institusi kapital. Dengan mekanisme sosial tertentu, kesadaran publik direkayasa agar selalu pasrah menjadi konsumen.
Melalui televisi, pembentukan identitas masyarakat dilakukan melalui instrument sosial. Ada beragam instrument, seperti mitos, iklan, bahasa, dan citraan. “Bahasa alay, misalnya, itu tidak lahir dengan sendirinya. Saya membaca, itu bagian dari rekayasa sosial yang disponsori institusi kapital. Dengan memperkenalkan ragam bahasa itu, mereka ingin membentuk identitas anak muda Indonesia yang labil, kekanak-kanakan, dan mudah terpengaruhi. Sasaran akhrinya apa? Remaja kita mudah dijadikan sasaran pasar bagi produk-produk yang mereka tawarkan,” kata Rahmat Petuguran.
"Melalui tulisan yang merefleksikan cara pandangnya, bukan dengan demontrasi fisik. Tulisan menjadi sarana perlawanannya karena ia yakin lebih demokratis dan berdampak lebih besar. Menulis memang upaya "menghibur" diri dari berbagai kepenatan. Tulisan-tulisan itu saya salurkan melalui media agar tersebar dan terbaca oleh orang lain," (hal. vii).
Melalui tiga puluh judul tulisan dalam buku yang berjudul Melawan Kuasa Perut ini, yang memuat berbagai peristiwa kontemporer dan tentu saja faktual dalam persepsi dan tangkapan individu penulis sesuai dengan pengetahuan budayanya. Ini menarik bagi saya. Dengan semangat dan potensi kerisauan yang dialami dan menyentuh hati dan pemikirannya membuat nilai perlawanan yang demokratis dan komunikasi mutakhir serta tanpa batas. Karena menulis adalah media untuk melawan tanpa harus terjun di medan demontrasi fisik.[]
Judul Buku: Melawan Kuasa Perut
Penulis: Rahmat Petuguran
Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri, Semarang
Terbit: Pertama, Mei 2014
Tebal: xii x 130 halaman
ISBN: 978-602-1220-03-0
Peresensi : Muhammad Choirur Rokhim
Saat ini hampir seluruh stasiun televisi menghadirkan kuis berhadiah pada jam-jam utama menonton. Acara kuis di televisi memang bukan acara baru. Pada tahun 1990-an acara televisi biasanya berisi game, lomba, dan adu pengetahuan. Namun saat ini, hampir seluruh stasiun televisi menghadirkan kuis pada jam-jam utama menonton. Namun belakangan, acara itu berevolusi dengan hadiah-hadiah yang fantastis. Tidak hanya hiburan, perlahan kuis menjadi trendsetter pola pikir masyarakat yang berpikir serbapraktis, termasuk praktis untuk menjadi kaya.
Dulu, Antv, misalnya, hampir setiap hari--jam ketika masyarakat memiliki waktu menyaksikan televisi sehingga ratingnya tinggi--menayangkan kuis Super Family dan Super Deal 2 Milyar. Bayangkan, di tengah kondisi serba kekurangan, ada program kuis yang menjanjikan hadiah uang dua miliar. Serta tayangan-tayangan berbau-bau bumbu dapur menarik minat calon konsumen.
Apalagi ketika bulan Ramadhan datang, seruan tentang makna menahan lapar sering terdengar melalui ceramah. Lapar ternyata memiliki makna sufistik yang dalam. Bukan semata gejala biologis, lapar membantu manusia mengeja dirinya. Ternyata mempersemai ketertundukan pada perut, organ yang "bertanggungjawab" pada rasa lapar.
Karena urusan "nabi usus", manusia kerap memunculkan berbagai bentuk keserakahan. Karena urusan perut "buncit" pula mendekatkan orang pada laku culas, curang, dan licik. Atas nama "kuasa perut", manusia melakukan kekejian dan menghalalkan segala cara untuk menyambung hidup. Sampai-sampai wakil kita parlemen menelantarkan rakyat juga karena urusan perut.
Kondisi itu ditambah frustasi sosial akibat beban hidup yang makin berat sehingga menjadi semacam legitimasi seseorang untuk melakukan kekerasan. Kekerasan kemudian menjadi bahasa komunikasi yang dapat dilihat tiap hari di televisi, koran, internet, game dan playstation, juga imajinasi murahan yang dipenetrasi melalui film dan sinetron, (hal. 57).
Gambaran tersebut sangat berbeda dengan yang direpresentasikan dalam cerpen "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis, digambarkan anak-anak desa suka sekali berkunjung ke surau. Surau, yang di Jawa sering disebut langgar. Dalam gambaran cerpen AA Navis, surau sebagai tempat ibadah berukuran kecil. Atap terbuat dari ijuk atau alang-alang, sedangkan dindingnya terbuat dari kayu. Di bagian depan, terdapat beranda yang biasa digunakan anak-anak untuk ngaji pada malam hari.
Di sana mereka ngaji alif-ba-ta atau cara berwudlu yang benar. Pada bulan Ramadhan mereka biasanya bermalam di sana supaya ketika saat sahur tiba bisa menabuh beduk untuk membangunkan warga. Kondisi tersebut menggambarkan sosial budaya desa yang masih sederhana. Tanpa televisi atau handphone. Kondisi demikian jadi gambaran hilangnya "kematangan" kesahajaan pada diri masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan semacam perlawanan dalam budaya masyarakat yang semakin hari semakin kompleks dan konsumtif.
Nilai Perlawanan
Hobi menulis tidak hanya membuahkan rasa senang. Bagi beberapa orang, menulis dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Rahmat Petuguran, melalui buku Melawan Kuasa Perut (2014), salah satunya. Melalui tulisan ia mengajak pembaca mewaspada konsumerisme.
Apa yang berbahaya pada konsumerisme? Bagi dosen Bahasa Indonesia Unnes ini, bahaya konsumerisme tidak hanya terlihat di luar. Ia melihat adanya ketidakseimbangan relasi antara masyarakat dengan institusi kapital. Masyarakat cenderung mengamini doktrin konsumtif institusi kapital. Dengan mekanisme sosial tertentu, kesadaran publik direkayasa agar selalu pasrah menjadi konsumen.
Melalui televisi, pembentukan identitas masyarakat dilakukan melalui instrument sosial. Ada beragam instrument, seperti mitos, iklan, bahasa, dan citraan. “Bahasa alay, misalnya, itu tidak lahir dengan sendirinya. Saya membaca, itu bagian dari rekayasa sosial yang disponsori institusi kapital. Dengan memperkenalkan ragam bahasa itu, mereka ingin membentuk identitas anak muda Indonesia yang labil, kekanak-kanakan, dan mudah terpengaruhi. Sasaran akhrinya apa? Remaja kita mudah dijadikan sasaran pasar bagi produk-produk yang mereka tawarkan,” kata Rahmat Petuguran.
"Melalui tulisan yang merefleksikan cara pandangnya, bukan dengan demontrasi fisik. Tulisan menjadi sarana perlawanannya karena ia yakin lebih demokratis dan berdampak lebih besar. Menulis memang upaya "menghibur" diri dari berbagai kepenatan. Tulisan-tulisan itu saya salurkan melalui media agar tersebar dan terbaca oleh orang lain," (hal. vii).
Melalui tiga puluh judul tulisan dalam buku yang berjudul Melawan Kuasa Perut ini, yang memuat berbagai peristiwa kontemporer dan tentu saja faktual dalam persepsi dan tangkapan individu penulis sesuai dengan pengetahuan budayanya. Ini menarik bagi saya. Dengan semangat dan potensi kerisauan yang dialami dan menyentuh hati dan pemikirannya membuat nilai perlawanan yang demokratis dan komunikasi mutakhir serta tanpa batas. Karena menulis adalah media untuk melawan tanpa harus terjun di medan demontrasi fisik.[]
Judul Buku: Melawan Kuasa Perut
Penulis: Rahmat Petuguran
Penerbit: Gigih Pustaka Mandiri, Semarang
Terbit: Pertama, Mei 2014
Tebal: xii x 130 halaman
ISBN: 978-602-1220-03-0
Peresensi : Muhammad Choirur Rokhim
Selalu baik dalam menyampaikan pesannya.
ردحذفKalau berkenan mas, cek tulisan ku juga ya di https://libertysites.wordpress.com/
Terima kasih
Terima kasih mas atas apreasinya. Tulisan saya masih tahap belajar mas..
ردحذفOh iya saya beberapa hari ini mau blogwalking di blog masnya tapi gak ketemu"..
Iya mas. Soalnya, nama blog punya ku kecampur sama yg dari luar. Namanya juga hampir2 mirip. He-he-he. Tapi udah nemu kan sekarang?
ردحذفHehehe. Iya mas sudah... siaap mas
ردحذفإرسال تعليق