Budaya membaca dan menulis atau ngeblog sejatinya bukan warisan leluhur nenek moyang kita dahulu. Ini terlihat dari judul lagu “pelaut” yang lirik lagu yang cukup fenomenal “nenek moyangku seorang pelaut”. Lagu ini memang sangat mengakar kuat di masyarakat, dan bahkan eksis di lembaga-lembaga formal seperti Paud, atau Taman Kanak-kanak (TK). Sehingga sudah jelas, budaya menulis dan meski menulis di blog bukan turunan langsung dari leluhur terdahulu. Bahkan, bagi saya, menulis bukan warisan keluarga: bapak dan ibu saya di rumah.
Jadi cukup jelas, bahwa dari cacah, cicit, ‘jabang cindilnya’, budaya membaca dan menulis sama sekali tidak mengalir dalam darah 'biru'. Secara personal, saya juga belum pernah bersinggungan langsung dengan komunitas menulis. Di lembaga pendidikan, saya mengambil jurusan pendidikan olahraga, yang jelas-jelas tidak ada kaitannya dengan dunia tulis-menulis apalagi dunia blogger.
Saya memiliki keinginan untuk keluar dari tempurung itu semua. Dari pemahaman bahwa leluhur kita bukan seorang yang melek akan tradisi menulis, sekalipun untuk mentradisikan menulis melalui media blog seperti ini. Saya sebenarnya memulai menulis dan ngeblog sejak tahun 2013. Karena mengalami pasang surut dan tidak konsisten, maka menulis dan ngeblog tidak menghasilkan apa-apa?
Hingga, suatu hari saya beberapa kali--dari teman dan sahabat--mengatakan bahwa saya mahasiswa olahraga ‘kesasar’. Namun dari kegiatan menulis dan ngeblog, saya juga mengalami kejenuhan, kebimbangan dan kejenuhan saat trafik dan kunjungan di blog tak kunjung disapa oleh pembaca. Menulis di blog atau umum disebut ngeblog adalah aktivitas produktif yang bisa menghasilkan karya atau finansial di luar sana.
Mengambil langkah ngeblog adalah salah satu keluar dari zona nyaman. Saya jadi teringat metode mengajar Prof. Rhenald Kasali, dalam buku Self Driver. Pemiliki Rumah Perubahan ini mengajarkan mahasiswa untuk nekat mencari tahu yang belum pernah ia kenali dengan menjadi touris ke negara yang belum pernah ia kunjungi. Bahkan mahasiswa juga tidak mengetahui rumpun, suku, budaya, bahasa yang sama dengan Bangsa Indonesia. Dengan bekal ke-nekat-an tersebut, mahasiswa yang mengempu mata kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia menjadi seorang yang keluar dari zona nyaman dan mempelajari banyak pengetahuan dan banyak mengetahui wawasan.
Lantas Apa Hubungannya Nekat dengan Tulis-Menulis Maupun Nge-blog?
Ada dua faktor yang mempengaruhi orang dalam bertindak, melakukan suatu pekerjaan , termasuk menulis artikel (seperti saya) atau menulis buku: Keberanian dan pertimbangan. Namun dalam buku yang berjudul Happy Writing (2010), ada empat kriteria zona yang dikategorikan oleh Andria Harefa untuk menjadi pribadi yang unggul karena keluar dari zona nyaman sehingga menjadi pribadi blogger yang tangguh dan unggul.
Zona ini adalah zona bagi orang yang kurang berani dan kurang pertimbangan untuk bertindak (menulis). Seseorang yang melakukan ngeblog tanpa banyak pertimbangan dan tidak menulis setiap hari dengan konten yang fres dan ngehit, maka tidak ada yang dihasilnya, tidak ada tindakan (tidak ada karya tulis).
2. Zona Kritikus
Zona ini banyak hal yang mempertimbangkan, sehingga keberaniaan bertindak (menulis) menjadi rendah. Hasilnya, orang yang produktifitas rendah karena terlalu banyak ‘kritikus’ dalam otak yang bersangkutan. Saya pernah melakukan kritik dalam diri saya, terkait posting-an blog yang tak kunjung naik trafiknya, sehingga rasa jenuh dan serba tidak enak datang begitu saja. Hingga suatu saat timbul rasa kritik dalam diri yang tidak akan menulis lagi di blog. Sebab orang yang seperti ini adalah memiliki sikap "keberanian dianiaya oleh pertimbangan".
Ini yang biasanya saya alami sehingga sedikit sekali melahirkan karya (tulisan dan menulis).
3. Zona Nekat
Pada zona ini keberanian tinggi dipertaruhkan dan pertimbangan kurang. Pada zona nekat inilah kekuatan dalam diri, konsistensi dan keyakinan ada di dalam diri. Saya harus mampu mencapai dan melakukan zona nekat iki supaya apa yang saya inginkan bisa tercapai. Namun satu yang perlu diperhatikan, tidak menghalalkan segala cara. Tidak nge-blog dengan asal copas milik orang lain tanpa merujuk yang dijadikan rujukan.< b>4. Zona Keunggulan atau Kearifan
Di sini produktifitas tinggi dengan hasil-hasil yang memuaskan. Tidak banyak penulis atau blogger yang sampai ke wilayah ini. Saya masih terus berjuang untuk bisa mencapainya zona-zona tersebut. Ketika memulai menulis maupun nge-blog, saya berawal dari zona kritikus kemudian ke zona nekat.
Karena ukuran seseorang yang masih tiarap, memperjuangkan konsistensi dalam menulis, dan ngeblog, produktifitas lebih baik daripada memikirkan kualitas. Meski kualitas sebaiknya juga harus dipikirkan supaya hasilnya juga sangat memuaskan.
Sementara kualitas tulisan terlalu dipersoalkan sementara produktifitas menulis masih sangat kurang, orang sulit untuk maju dan berkembang. Syarat utama adalah nekat menulis, nekat nge-blog untuk menjadi blogger yang unggul. Karena rumus menulis atau nge-blog adalah menulis, menulis, dan menulis dan tetap konsisten dalam nge-blog.[]
Jadi cukup jelas, bahwa dari cacah, cicit, ‘jabang cindilnya’, budaya membaca dan menulis sama sekali tidak mengalir dalam darah 'biru'. Secara personal, saya juga belum pernah bersinggungan langsung dengan komunitas menulis. Di lembaga pendidikan, saya mengambil jurusan pendidikan olahraga, yang jelas-jelas tidak ada kaitannya dengan dunia tulis-menulis apalagi dunia blogger.
Saya memiliki keinginan untuk keluar dari tempurung itu semua. Dari pemahaman bahwa leluhur kita bukan seorang yang melek akan tradisi menulis, sekalipun untuk mentradisikan menulis melalui media blog seperti ini. Saya sebenarnya memulai menulis dan ngeblog sejak tahun 2013. Karena mengalami pasang surut dan tidak konsisten, maka menulis dan ngeblog tidak menghasilkan apa-apa?
Hingga, suatu hari saya beberapa kali--dari teman dan sahabat--mengatakan bahwa saya mahasiswa olahraga ‘kesasar’. Namun dari kegiatan menulis dan ngeblog, saya juga mengalami kejenuhan, kebimbangan dan kejenuhan saat trafik dan kunjungan di blog tak kunjung disapa oleh pembaca. Menulis di blog atau umum disebut ngeblog adalah aktivitas produktif yang bisa menghasilkan karya atau finansial di luar sana.
Mengambil langkah ngeblog adalah salah satu keluar dari zona nyaman. Saya jadi teringat metode mengajar Prof. Rhenald Kasali, dalam buku Self Driver. Pemiliki Rumah Perubahan ini mengajarkan mahasiswa untuk nekat mencari tahu yang belum pernah ia kenali dengan menjadi touris ke negara yang belum pernah ia kunjungi. Bahkan mahasiswa juga tidak mengetahui rumpun, suku, budaya, bahasa yang sama dengan Bangsa Indonesia. Dengan bekal ke-nekat-an tersebut, mahasiswa yang mengempu mata kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia menjadi seorang yang keluar dari zona nyaman dan mempelajari banyak pengetahuan dan banyak mengetahui wawasan.
Lantas Apa Hubungannya Nekat dengan Tulis-Menulis Maupun Nge-blog?
Ada dua faktor yang mempengaruhi orang dalam bertindak, melakukan suatu pekerjaan , termasuk menulis artikel (seperti saya) atau menulis buku: Keberanian dan pertimbangan. Namun dalam buku yang berjudul Happy Writing (2010), ada empat kriteria zona yang dikategorikan oleh Andria Harefa untuk menjadi pribadi yang unggul karena keluar dari zona nyaman sehingga menjadi pribadi blogger yang tangguh dan unggul.
Zona ini adalah zona bagi orang yang kurang berani dan kurang pertimbangan untuk bertindak (menulis). Seseorang yang melakukan ngeblog tanpa banyak pertimbangan dan tidak menulis setiap hari dengan konten yang fres dan ngehit, maka tidak ada yang dihasilnya, tidak ada tindakan (tidak ada karya tulis).
2. Zona Kritikus
Zona ini banyak hal yang mempertimbangkan, sehingga keberaniaan bertindak (menulis) menjadi rendah. Hasilnya, orang yang produktifitas rendah karena terlalu banyak ‘kritikus’ dalam otak yang bersangkutan. Saya pernah melakukan kritik dalam diri saya, terkait posting-an blog yang tak kunjung naik trafiknya, sehingga rasa jenuh dan serba tidak enak datang begitu saja. Hingga suatu saat timbul rasa kritik dalam diri yang tidak akan menulis lagi di blog. Sebab orang yang seperti ini adalah memiliki sikap "keberanian dianiaya oleh pertimbangan".
Ini yang biasanya saya alami sehingga sedikit sekali melahirkan karya (tulisan dan menulis).
3. Zona Nekat
Pada zona ini keberanian tinggi dipertaruhkan dan pertimbangan kurang. Pada zona nekat inilah kekuatan dalam diri, konsistensi dan keyakinan ada di dalam diri. Saya harus mampu mencapai dan melakukan zona nekat iki supaya apa yang saya inginkan bisa tercapai. Namun satu yang perlu diperhatikan, tidak menghalalkan segala cara. Tidak nge-blog dengan asal copas milik orang lain tanpa merujuk yang dijadikan rujukan.< b>4. Zona Keunggulan atau Kearifan
Di sini produktifitas tinggi dengan hasil-hasil yang memuaskan. Tidak banyak penulis atau blogger yang sampai ke wilayah ini. Saya masih terus berjuang untuk bisa mencapainya zona-zona tersebut. Ketika memulai menulis maupun nge-blog, saya berawal dari zona kritikus kemudian ke zona nekat.
Karena ukuran seseorang yang masih tiarap, memperjuangkan konsistensi dalam menulis, dan ngeblog, produktifitas lebih baik daripada memikirkan kualitas. Meski kualitas sebaiknya juga harus dipikirkan supaya hasilnya juga sangat memuaskan.
Sementara kualitas tulisan terlalu dipersoalkan sementara produktifitas menulis masih sangat kurang, orang sulit untuk maju dan berkembang. Syarat utama adalah nekat menulis, nekat nge-blog untuk menjadi blogger yang unggul. Karena rumus menulis atau nge-blog adalah menulis, menulis, dan menulis dan tetap konsisten dalam nge-blog.[]
Posting Komentar