Setiap Manusia mempunyai potensi dan kesempatan yang sama untuk bahagia dalam hidupnya. Walau ukuran kebahagiaan manusia tidak bisa disama -ratakan, tetapi secara umum bisa dilihat dari kesuksesan yang diraih selama hidupnya. Kesuksesan itu tidak bisa didapat begitu saja, butuh perjuangan dan usaha keras. Salah satu yang harus dilakukan untuk mendapat kesuksesan tersebut adalah dengan belajar.
Karena belajar itu merupakan tugas, tanggung jawab dan panggilan pertama setiap manusia untuk menjadi pribadi yang baik. Belajar, selain membuat pengetahuan dan wawasan kita bertambah, kesempatan untuk membuka pintu kesuksesan pun juga semakin lebar.
Kesempatan seseorang menuntut ilmu atau belajar itu tidak bisa disama-ratakan. Semua memiliki kesempatan yang berbeda-beda. Ada yang dapat berproses belajar di sekolah. Ada pula mendapat berkesempatan mendapat pengetahuan dengan ikut pelatihan-pelatihan tertentu di suatu seminar. Pun, ada pula yang menikmati proses melalui buku-buku bacaan dan informasi-informasi yang lain. Kita tidak bisa mengenyampingkan proses autodidak seseorang dalam menekuni bidang tertentu melalui layar datar yang berbasis koneksi.
Dewasa ini proses yang satu ini tidak bisa kita anggap remeh. Banyak yang hanya berdiam diri di rumah, menikmati hari-harinya hanya menghadap layar datar, namun informasi dan pengetahuannya mengalahkan orang-orang yang belajar di berbagai kesempatan maupun di berbagai tempat. Proses yang demikian, bisa kita jumpai pada seorang YouTubers maupun blogger. Jika takaran sukses itu finansial maupun informasi yang sebatas--minimal mengetahui dan mengerti spesifik tertentu--maka mereka tentu lebih jago dari orang-orang yang bekerja di luar sana. Secara finansial, mereka juga bisa menghasilkan dari SEO yang didapat dari Google atas apreasiasi viewer konten yang mereka buat. Serta pemasukannya juga tak tanggung-tanggung. Lebih besar dari seorang PeeNeS (sebut saja (Guru) atau yang lain.
Hal-hal di atas tentu harus diikuti keinginan dan hasrat yang kuat untuk mencapai titik tertentu. Meski demikian, ada beberapa tipikal atau kesempatan berproses berbeda-beda. Perbedaan lamanya seseorang berproses itu memang secara alamiah. Terlebih dalam kegigihan dan kesabaran maupun ke-konsistensi-an yang sama. Tidak ada kata puas dalam usahanya.
Seseorang yang berhasil dalam proses belajarnya, maka ia akan menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin. Ia memiliki pikiran yang baik sangka. Sebab, apabila memiliki pikiran yang negatif, maka diburu oleh hal-hal yang tidak baik. Selalu tidak puas dengan apa yang ia kerjakan. Sehingga timbul perasaan iri dengan yang lain
Beda lagi dengan orang yang memiliki pikiran positif, ia selalu berpikiran luas dan dan memegang kata-kata tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau dan mampu belajar dan bekerja. Seperti apa yang dikatakan oleh Abraham Lincoln, "Saya belajar, maka kesempatan pun datang."
Sebelum mencapai puncak karirnya sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-16, ia berulang kali ikut pemilihan yang membuatnya berulang kali pula gagal di parlemen. Abraham Lincoln beberapa kali mencoba masuk dalam percaturan ranah politik dengan mencalonkan dirinya dalam pemilihan senat, tetapi beberapa kali pula itu gagal. Saking seringnya gagal, ia kemudian mendapat sebutan 'seribu kegagalan'. Sebuah sebutan yang tidak enak apabila kita rasakan dan pikirkan.
Dari pengalaman Mantan Presiden Paman Sam--terlepas dari beberapa kasus kontroversi dari negara adikuasa ini--kita bisa belajar dari kesabaran, kegigihan dan ketegarannya. Sebenarnya kita bisa belajar dari orang-orang yang telah melalui berbagai ujian, tempaan dan celaan sekalipun.
Saya tidak bisa berkata tidak. Jika tulisan ini adalah sebuah perekat (semacam pengingat) dan cambuk bahwa proses sesuatu itu dihasilkan dengan cara instan. Melainkan ada mangsa (waktu) yang tidak sebentar. Ada tahap-tahap yang harus saya lalui. Sebelum keberhasilan dan kesuksesan itu hadir di depan mata. Ini bukan hal (bagi saya) tentang saya cara mendapatkan kesuksesan atau keberhasilan. Seolah saya punya target tertentu untuk jadi orang yang berhasil.
Namun (tulisan ini dan penekanan pada judulnya) sekali lagi anggap saja begitu. Seperti yang saya tulis di atas perihal dunia blog, saya pernah (telah) dianggap oleh seseorang (teman) yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang tidak bisa konsisten dalam berproses atau belajar. Sebenarnya, dan saya merasakan sendiri bahwa saya tidak bisa konsisten apabila menemukan sesuatu yang menurut saya baik buat saya tetapi pada akhirnya saya tidak bisa berjuang dalam hal tersebut dan akhirnya kalah dalam percaturan itu dan menyesal di kemudian hari.
Seperti pada judul di atas, seyogyanya sebaik-baiknya orang itu adalah orang yang mampu bertahan dalam tempaan dan celaan serta orang yang bisa konsisten dalam berproses belajarnya. Serta jangan gampang tergiur oleh (rumput mulus) tetangga. Oleh karena itu pengalaman itu akan saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Itu harus!
Untuk itu, menjadi diri yang selalu belajar (a become learning person) diperlukan keseriusan dan usaha yang tidak kenal lelah dan menyerah. Tidak ada kesuksesan seseorang didapat dengan cara sehari semalam. Kesuksesan didapat dengan mengorbankan jerih payah, kerja keras, kerja cerdas, dan kerja-kerja yang lain. Karena kesuksesan tidak ada artinya ketika tidak ada usaha-usaha yang kuat dan konsisten dan gempuran dari luar.[]
Karena belajar itu merupakan tugas, tanggung jawab dan panggilan pertama setiap manusia untuk menjadi pribadi yang baik. Belajar, selain membuat pengetahuan dan wawasan kita bertambah, kesempatan untuk membuka pintu kesuksesan pun juga semakin lebar.
Kesempatan seseorang menuntut ilmu atau belajar itu tidak bisa disama-ratakan. Semua memiliki kesempatan yang berbeda-beda. Ada yang dapat berproses belajar di sekolah. Ada pula mendapat berkesempatan mendapat pengetahuan dengan ikut pelatihan-pelatihan tertentu di suatu seminar. Pun, ada pula yang menikmati proses melalui buku-buku bacaan dan informasi-informasi yang lain. Kita tidak bisa mengenyampingkan proses autodidak seseorang dalam menekuni bidang tertentu melalui layar datar yang berbasis koneksi.
Dewasa ini proses yang satu ini tidak bisa kita anggap remeh. Banyak yang hanya berdiam diri di rumah, menikmati hari-harinya hanya menghadap layar datar, namun informasi dan pengetahuannya mengalahkan orang-orang yang belajar di berbagai kesempatan maupun di berbagai tempat. Proses yang demikian, bisa kita jumpai pada seorang YouTubers maupun blogger. Jika takaran sukses itu finansial maupun informasi yang sebatas--minimal mengetahui dan mengerti spesifik tertentu--maka mereka tentu lebih jago dari orang-orang yang bekerja di luar sana. Secara finansial, mereka juga bisa menghasilkan dari SEO yang didapat dari Google atas apreasiasi viewer konten yang mereka buat. Serta pemasukannya juga tak tanggung-tanggung. Lebih besar dari seorang PeeNeS (sebut saja (Guru) atau yang lain.
Hal-hal di atas tentu harus diikuti keinginan dan hasrat yang kuat untuk mencapai titik tertentu. Meski demikian, ada beberapa tipikal atau kesempatan berproses berbeda-beda. Perbedaan lamanya seseorang berproses itu memang secara alamiah. Terlebih dalam kegigihan dan kesabaran maupun ke-konsistensi-an yang sama. Tidak ada kata puas dalam usahanya.
Seseorang yang berhasil dalam proses belajarnya, maka ia akan menggunakan waktunya dengan sebaik mungkin. Ia memiliki pikiran yang baik sangka. Sebab, apabila memiliki pikiran yang negatif, maka diburu oleh hal-hal yang tidak baik. Selalu tidak puas dengan apa yang ia kerjakan. Sehingga timbul perasaan iri dengan yang lain
Beda lagi dengan orang yang memiliki pikiran positif, ia selalu berpikiran luas dan dan memegang kata-kata tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini selama kita mau dan mampu belajar dan bekerja. Seperti apa yang dikatakan oleh Abraham Lincoln, "Saya belajar, maka kesempatan pun datang."
Sebelum mencapai puncak karirnya sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-16, ia berulang kali ikut pemilihan yang membuatnya berulang kali pula gagal di parlemen. Abraham Lincoln beberapa kali mencoba masuk dalam percaturan ranah politik dengan mencalonkan dirinya dalam pemilihan senat, tetapi beberapa kali pula itu gagal. Saking seringnya gagal, ia kemudian mendapat sebutan 'seribu kegagalan'. Sebuah sebutan yang tidak enak apabila kita rasakan dan pikirkan.
Dari pengalaman Mantan Presiden Paman Sam--terlepas dari beberapa kasus kontroversi dari negara adikuasa ini--kita bisa belajar dari kesabaran, kegigihan dan ketegarannya. Sebenarnya kita bisa belajar dari orang-orang yang telah melalui berbagai ujian, tempaan dan celaan sekalipun.
Saya tidak bisa berkata tidak. Jika tulisan ini adalah sebuah perekat (semacam pengingat) dan cambuk bahwa proses sesuatu itu dihasilkan dengan cara instan. Melainkan ada mangsa (waktu) yang tidak sebentar. Ada tahap-tahap yang harus saya lalui. Sebelum keberhasilan dan kesuksesan itu hadir di depan mata. Ini bukan hal (bagi saya) tentang saya cara mendapatkan kesuksesan atau keberhasilan. Seolah saya punya target tertentu untuk jadi orang yang berhasil.
Namun (tulisan ini dan penekanan pada judulnya) sekali lagi anggap saja begitu. Seperti yang saya tulis di atas perihal dunia blog, saya pernah (telah) dianggap oleh seseorang (teman) yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang tidak bisa konsisten dalam berproses atau belajar. Sebenarnya, dan saya merasakan sendiri bahwa saya tidak bisa konsisten apabila menemukan sesuatu yang menurut saya baik buat saya tetapi pada akhirnya saya tidak bisa berjuang dalam hal tersebut dan akhirnya kalah dalam percaturan itu dan menyesal di kemudian hari.
Seperti pada judul di atas, seyogyanya sebaik-baiknya orang itu adalah orang yang mampu bertahan dalam tempaan dan celaan serta orang yang bisa konsisten dalam berproses belajarnya. Serta jangan gampang tergiur oleh (rumput mulus) tetangga. Oleh karena itu pengalaman itu akan saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Itu harus!
Untuk itu, menjadi diri yang selalu belajar (a become learning person) diperlukan keseriusan dan usaha yang tidak kenal lelah dan menyerah. Tidak ada kesuksesan seseorang didapat dengan cara sehari semalam. Kesuksesan didapat dengan mengorbankan jerih payah, kerja keras, kerja cerdas, dan kerja-kerja yang lain. Karena kesuksesan tidak ada artinya ketika tidak ada usaha-usaha yang kuat dan konsisten dan gempuran dari luar.[]
Posting Komentar