“Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkan, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya, maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan bekerja keras untuk memilikinya,” Stephen King.
"Aku Harus Bisa". Slogan ini cukup menomental. Bahkan banyak instansi maupun brand yang memakai polesan kata-kata ini. “------- Bisa”. Beberapa waktu lalu, saya menjumpai penggunaan kata tersebut, termasuk SMK Bisa, Indonesia Bisa dan buku garapan Arto Soebiantoro “Merek Indonesisa Harus Bisa”. Saya secara pribadi juga ikut termotivasi menggunakan slogan tersebut untuk memotivasi diri sendiri. Sehingga dalam angan, saya ingin sekali memakai judul tersebut, sebagai pelecut semangat saya dalam menulis.
Ihwal ini menarik untuk dijadikan kalimat awal, karena mengandung spirit yang dalam diri. Kegiatan menulis biasanya mendapat beberapa masalah yang antara lain kesibukan, padatnya pekerjaan, minimnya waktu dan kadang terhadang oleh rasa malas itu sendiri.
Menggunakan slogan "Aku Harus Bisa" adalah sebuah keharusan yang kudu dijaga keyakinan itu dalam diri kita. Sehingga muncul dan tergugah untuk tetap bisa meluangkan waktu dalam beraktivitas seperti menulis ini. Semoga
Beberapa bulan terakhir ini, ada event yang dilakoni oleh Indonesia di ajang Sea Games, yang dilaksanakan di Myanmar--saat tulisan ini dibuat--yang memakai slogan serupa. Seraya menginginkan prestasi yang luar biasa di ajang tersebut, Negara Indonesia mancingnya menggunakan slogan itu.
Senada dengan beberapa instansi atau Negara Indonesia ini, saya secara pribadi menginginkan prestasi dari menulis dan harapannya bisa dengan konsisten dalam menulis. Menulis “Aku harus bisa”, bisa istiqomah menulis walau terkadang menemui halang-rintang. Karena bisa menulis secara konsisten itu sama artinya dengan menjaga agar tetap produktif dan bisa seperti yang diinginkan tadi dan menjadi prestasi yang cukup membanggakan dalam sejarah, begitu kiranya.
Memang menulis harus diusahakan dan digiatkan untuk membangun daya saing yang unggul. Untuk menciptakan daya saing baik, kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memang selalu berubah. Bahwa kita harus bisa menyesuaikan situasi seperti itu sehingga kita benar-benar mampu menciptakan kemampuan itu.
“Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya”. Begitu yang disampaikan oleh Stephen King.
“Aku menulis maka aku ada” pepatah bijak tersebut selalu terniang ketika akan memulai menulis. Bayangkan, bagaimana eksistensi kita, ketika tidak menulis (sebuah buku?) dan melakukan perubahan.
Dengan menulis sebenarnya ada banyak manfaat yang kita dapat. Mulai dari tercatatnya eksistensi kita ke dalam jaman, selalu diabadikan dalam peradaban, dan secara tidak langsung kita juga ikut melakukan perubahan dari tulisan yang kita ciptakan itu.
Saya kira, pemaparan di atas terlalu tinggi dan berlebihan. Menulis itu bukan perkara kita tercatat oleh sejarah, tetapi kita bisa mengekspor pemahaman yang kita dapat, pengetahuan yang kita punya, yang kemudian manfaat bagi orang lain.
Hal tersebut harus dilakukan dengan ajeg dan telaten. Dengan ketelatenan dan kesabaran maka tidak dipungkiri di depan kita akan mendapat prestasi yang diinginkan. Sebab keberhasilan selalu mengiringi setiap usaha; tlaten dan tawaduk dalam menulis.e
Saya harus bisa adalah slogan yang tidak bisa ditawar lagi. Maka, dengan adanya slogan itu, secara tidak sadar kita akan mendapat stimulus dalam diri kita sendiri. Untuk itu kita harus siap dengan resiko apapun yang kita hadapi nanti. Termasuk menyediakan waktu untuk menulis.<
Saya masih muda, masih punya semangat yang luar biasa. Pemuda adalah masa yang sangat produktif untuk berkegiatan. Masa muda adalah masa keemasan dalam berkarir. Mengeluarkan segala macam potensi yang tersimpan adalah hal yang sebaik-baiknya. Sebab masa muda adalah masa berjaya, masa yang sangat luar biasa.
Apabila masa muda energinya ditahan dan tidak disalurkan pada bakat-bakat yang ia miliki, ia akan stagnan (mandek). Oleh karena itu, energi usia muda harus dieksplor ke semua yang menjadi kehendak, kemauan, maupun hobinya. Seperti kata H. Rhoma Irama, "masa muda adalah masa yang berapi-api", masa yang luar biasa.
Pemuda yang aktif dan kreatif selalu mencari hal yang baru adalah hal yang wajib. Hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Dari hal yang tak biasa menjadi luar biasa.
Dunia yang serba maju ini semua bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan. Berawal dari tangan-tangan kreatifnya, semua berubah menjadi nominal yang tentunya bisa menjadi berharga bahkan bisa dihargai oleh orang lain.
Misal televisi yang rusak. Yang tidak dapat dipakai lagi dengan tangan kreatif, maka akan disulap menjadi hal yang sangat luar biasa dan dapat nyala lagi dan dapat dipakai lagi. Hari ini adalah zamannya digitalisasi. Maka apa-apa bisa menggunakan teknologi berbasis elektronik. Lewat anak muda jaman now maka berjualan maupun membeli tidak perlu pergi ke toko atau ke pasar.
Dalam usia muda yang dibutuhkan adalah ketelaten, ketelitian dan kesabaran serta keuletan. Tatkala seorang pemuda tidak-sabaran dalam menentukan bakat yang akan dikuasai, maka ia akan terlempar pada realita. Ia hanya diburu oleh egois dan emosional yang tak terkendali. Anak-anak muda seperti itu maunya yang instan, cepat saji-cepat saji. Tidak ada cerita yang diceritakan kepada orang luar maupun dibanggakan.
Aku harus bisa, maka aku harus mempertajam wawasan dunia luar. “Pikiran membutuhkan buku-buku, sebagaimana pedang membutuhkan batu asah, agar tetap tajam," begitu kata George R.R. Martin). Harapan untuk bisa harus dibarengi dengan usaha dan keuletan kerja.
Kita juga harus membutuhkan pengetahuan. Orang yang akan bepergian, bila tidak tahu jalan dan bekal yang cukup, maka bisa ditebak tidak sampai tujuan. Maka seyogyanya orang tersebut membutuhkan peta atau lebih kerennya sekarang yaitu goggle maps. Oleh karena itu, saya mempertajamnya dengan mengindahkan hari-har dengan membaca peta-peta dunia, membuka jendela dunia melalui buku-buku bacaan.
Melalui informasi yang saya baca, baik cetak maupun elektronik saya harus bisa seperti slogan "Indonesia Bisa”. Tanpa kerja keras dan kerja berat, maka hasil juga tidak maksimal. Demikian dengan saya! Aku harus selalu menimpa dahaga pengetahuan dengan membaca.
Sebab “buku-buku mencintai siapa pun yang mau membukanya. Mereka memberikan kepadamu rasa nyaman dan persahabatan namun tidak pernah mengharapkan imbalan. Mereka tidak pernah meninggalkan kita, tidak pernah, bahkan meskipun Anda memperlakukan mereka dengan buruk," begitu saran Cornelia Funke. Dengan menjelajah khazanah buku maka aku bisa, bisa bisa dan bisa.[]
"Aku Harus Bisa". Slogan ini cukup menomental. Bahkan banyak instansi maupun brand yang memakai polesan kata-kata ini. “------- Bisa”. Beberapa waktu lalu, saya menjumpai penggunaan kata tersebut, termasuk SMK Bisa, Indonesia Bisa dan buku garapan Arto Soebiantoro “Merek Indonesisa Harus Bisa”. Saya secara pribadi juga ikut termotivasi menggunakan slogan tersebut untuk memotivasi diri sendiri. Sehingga dalam angan, saya ingin sekali memakai judul tersebut, sebagai pelecut semangat saya dalam menulis.
Ihwal ini menarik untuk dijadikan kalimat awal, karena mengandung spirit yang dalam diri. Kegiatan menulis biasanya mendapat beberapa masalah yang antara lain kesibukan, padatnya pekerjaan, minimnya waktu dan kadang terhadang oleh rasa malas itu sendiri.
Menggunakan slogan "Aku Harus Bisa" adalah sebuah keharusan yang kudu dijaga keyakinan itu dalam diri kita. Sehingga muncul dan tergugah untuk tetap bisa meluangkan waktu dalam beraktivitas seperti menulis ini. Semoga
Beberapa bulan terakhir ini, ada event yang dilakoni oleh Indonesia di ajang Sea Games, yang dilaksanakan di Myanmar--saat tulisan ini dibuat--yang memakai slogan serupa. Seraya menginginkan prestasi yang luar biasa di ajang tersebut, Negara Indonesia mancingnya menggunakan slogan itu.
Senada dengan beberapa instansi atau Negara Indonesia ini, saya secara pribadi menginginkan prestasi dari menulis dan harapannya bisa dengan konsisten dalam menulis. Menulis “Aku harus bisa”, bisa istiqomah menulis walau terkadang menemui halang-rintang. Karena bisa menulis secara konsisten itu sama artinya dengan menjaga agar tetap produktif dan bisa seperti yang diinginkan tadi dan menjadi prestasi yang cukup membanggakan dalam sejarah, begitu kiranya.
Memang menulis harus diusahakan dan digiatkan untuk membangun daya saing yang unggul. Untuk menciptakan daya saing baik, kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang memang selalu berubah. Bahwa kita harus bisa menyesuaikan situasi seperti itu sehingga kita benar-benar mampu menciptakan kemampuan itu.
“Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya”. Begitu yang disampaikan oleh Stephen King.
“Aku menulis maka aku ada” pepatah bijak tersebut selalu terniang ketika akan memulai menulis. Bayangkan, bagaimana eksistensi kita, ketika tidak menulis (sebuah buku?) dan melakukan perubahan.
Dengan menulis sebenarnya ada banyak manfaat yang kita dapat. Mulai dari tercatatnya eksistensi kita ke dalam jaman, selalu diabadikan dalam peradaban, dan secara tidak langsung kita juga ikut melakukan perubahan dari tulisan yang kita ciptakan itu.
Saya kira, pemaparan di atas terlalu tinggi dan berlebihan. Menulis itu bukan perkara kita tercatat oleh sejarah, tetapi kita bisa mengekspor pemahaman yang kita dapat, pengetahuan yang kita punya, yang kemudian manfaat bagi orang lain.
Hal tersebut harus dilakukan dengan ajeg dan telaten. Dengan ketelatenan dan kesabaran maka tidak dipungkiri di depan kita akan mendapat prestasi yang diinginkan. Sebab keberhasilan selalu mengiringi setiap usaha; tlaten dan tawaduk dalam menulis.e
Saya harus bisa adalah slogan yang tidak bisa ditawar lagi. Maka, dengan adanya slogan itu, secara tidak sadar kita akan mendapat stimulus dalam diri kita sendiri. Untuk itu kita harus siap dengan resiko apapun yang kita hadapi nanti. Termasuk menyediakan waktu untuk menulis.<
Saya masih muda, masih punya semangat yang luar biasa. Pemuda adalah masa yang sangat produktif untuk berkegiatan. Masa muda adalah masa keemasan dalam berkarir. Mengeluarkan segala macam potensi yang tersimpan adalah hal yang sebaik-baiknya. Sebab masa muda adalah masa berjaya, masa yang sangat luar biasa.
Apabila masa muda energinya ditahan dan tidak disalurkan pada bakat-bakat yang ia miliki, ia akan stagnan (mandek). Oleh karena itu, energi usia muda harus dieksplor ke semua yang menjadi kehendak, kemauan, maupun hobinya. Seperti kata H. Rhoma Irama, "masa muda adalah masa yang berapi-api", masa yang luar biasa.
Pemuda yang aktif dan kreatif selalu mencari hal yang baru adalah hal yang wajib. Hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Dari hal yang tak biasa menjadi luar biasa.
Dunia yang serba maju ini semua bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan. Berawal dari tangan-tangan kreatifnya, semua berubah menjadi nominal yang tentunya bisa menjadi berharga bahkan bisa dihargai oleh orang lain.
Misal televisi yang rusak. Yang tidak dapat dipakai lagi dengan tangan kreatif, maka akan disulap menjadi hal yang sangat luar biasa dan dapat nyala lagi dan dapat dipakai lagi. Hari ini adalah zamannya digitalisasi. Maka apa-apa bisa menggunakan teknologi berbasis elektronik. Lewat anak muda jaman now maka berjualan maupun membeli tidak perlu pergi ke toko atau ke pasar.
Dalam usia muda yang dibutuhkan adalah ketelaten, ketelitian dan kesabaran serta keuletan. Tatkala seorang pemuda tidak-sabaran dalam menentukan bakat yang akan dikuasai, maka ia akan terlempar pada realita. Ia hanya diburu oleh egois dan emosional yang tak terkendali. Anak-anak muda seperti itu maunya yang instan, cepat saji-cepat saji. Tidak ada cerita yang diceritakan kepada orang luar maupun dibanggakan.
Aku harus bisa, maka aku harus mempertajam wawasan dunia luar. “Pikiran membutuhkan buku-buku, sebagaimana pedang membutuhkan batu asah, agar tetap tajam," begitu kata George R.R. Martin). Harapan untuk bisa harus dibarengi dengan usaha dan keuletan kerja.
Kita juga harus membutuhkan pengetahuan. Orang yang akan bepergian, bila tidak tahu jalan dan bekal yang cukup, maka bisa ditebak tidak sampai tujuan. Maka seyogyanya orang tersebut membutuhkan peta atau lebih kerennya sekarang yaitu goggle maps. Oleh karena itu, saya mempertajamnya dengan mengindahkan hari-har dengan membaca peta-peta dunia, membuka jendela dunia melalui buku-buku bacaan.
Melalui informasi yang saya baca, baik cetak maupun elektronik saya harus bisa seperti slogan "Indonesia Bisa”. Tanpa kerja keras dan kerja berat, maka hasil juga tidak maksimal. Demikian dengan saya! Aku harus selalu menimpa dahaga pengetahuan dengan membaca.
Sebab “buku-buku mencintai siapa pun yang mau membukanya. Mereka memberikan kepadamu rasa nyaman dan persahabatan namun tidak pernah mengharapkan imbalan. Mereka tidak pernah meninggalkan kita, tidak pernah, bahkan meskipun Anda memperlakukan mereka dengan buruk," begitu saran Cornelia Funke. Dengan menjelajah khazanah buku maka aku bisa, bisa bisa dan bisa.[]
إرسال تعليق