Di sebuah kota di sudut Timur Jawa, tinggallah seorang bocah yang gemar bermain bola. Ke mana ia pergi, di situ bola melekat di kakinya. Pada usianya yang saat itu baru menginjak tiga tahun, dirinya sudah meminta untuk disekolahkan di salah satu sekolah sepak bola (SSB) di kotanya. Yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sayang, karena keterbatasan biaya, orangtuanya belum memperbolehkan untu mendaftar di SSB tersebut. Hatinya sempat kecewa, namun dia tidak terlarut dalam kesedihan.
Kesedihan itu ia bayar dengan bermain dengan rekan sebayanya di lapangan dekat rumahnya. Ia bermain bola di pekarangan yang tidak luas. Setiap ada waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya, ia gunakan untuk mengolah si kulit bundar itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, skill dalam permainan bola sedikit terasah. Dan, teknik-teknik dasar yang patut dimiliki dan dikuasai seorang pemian, ia lalu. Dari beberapa teman sebayanya, ia paling unggul dalam mengolah kemampuan bola. Sosok kecil itu, sekarang telah merangsak dewasa dan siap untuk meretas mimpi menjadi pemain sepak bola profesional, yang kita kenal sekarang.
Siapa nama pemain yang saya maksud ini? Ya, betul. Evan Dhimas Darmono. Pesepakbola asal Surabaya ini memang memiliki skill di atas rata-rata pemain lokal. Di usia yang masih muda, ia mampu mengeluarkan kemampuan yang sangat luar biasa. Beberapa waktu yang lalu, karena kepincut dengan kemampuan Gelandang Timnas Indonesia, Klub lokal divisi II Spanyol memberi kesempatan Evan Dhimas ikut TC (Tehnicel Center). Namun nasib berkata lain, ia tidak lolos dalam uji coba di klub itu. Akan tetapi hal tersebut adalah prestasi tersendiri bagi Evan Dhimas.
Siapa yang sangka, anak muda ini ketika kecil pernah terbelit masalah ekonomi. Untuk membeli sepatu untuk latihan saja, keluarganya tidak mampu. Atlet sekaligus anak dari pasangan Condro Permono dan Ana ini bukan lahir dari keluarga berada. Pria yang lahir di Surabaya 13 Maret 1995 ini, anak seorang penjaga keamanan kompleks perumahan elit. Dan ibunya seorang penjual sayur keliling. Dari hasil kedua orangtuanya, hanya mampu untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun saking cintanya kepada anaknya, Ana—ibu Evan Dhimas dan Condro—Bapak Evan Dhimas berusaha menuruti kemauan Evan Dhimas untuk bermain sepakbola. Di usia sembilan tahun, Evan Dhimas meminta sepatu bola. Karena tidak memiliki biaya lebih, mereka kelimpungan untuk membelikan sepatu bola untuk Evan Dhimas. “Demi anak. kami akhirnya mengupayakan. Saya ke pasar dan membeli sepatu bola yang harganya Rp 20 ribu. Yang murah-murah saja wis, asal Evan senang,” Kenang Ana.
Karena dukungan dari orangtua itu, Evan Dhimas belajar dengan giat. Ia belajar sepakbola di salah satu SSB di Surabaya. Awal karirnya, Evan Dhimas bergabung dengan SSB Mitra Surabaya. Siapa yang bisa menerka, anak kecil dengan modal sepatu seharga 20 ribu mampu sukses seperti sekarang. Cerita Evan ini mengingatkan saya pada film Shaolin Soccer itu. Bermodal sepatu buntut, aktor pertama dalam Shaolin Soccer, film produksi China itu, mampu meraih kesuksesan dan merebut piala kemenangan.
“Berangkat dari kesederhanaan dan semangat tinggi, karir Evan Dhimas semakin melejit dan semakin terbang gagah di angkasa. Seperti Garuda di dada yang terbang jauh di singgahsana dengan prestasi yang membanggakan.”
Hampir mirip dengan lakon Shaolin Soccer, Evan Dhimas kecil bermodal kesederhanaan mampu berjuang dan menyisihkan teman-temannya dalam rangka pencarian bakat. Ia menjadi wakil Indonesia dalam ajang pencarian bakat bertajuk “The Change Asia Tenggara”. Acara yang digagas dan disponsori oleh salah satu ambassador terkenal itu memang sangat luar biasa bagi pemain sepakbola. Pasalnya, di ajang tersebut seorang pemain akan mendapat arahan bermain sepak bola yang baik di klub Messi bermain, Barcelona. Dan Evan Dhimas tercantum dalam lembar pengumuman kelolosan dan terbangkan di klub Andreas Iniesta bermain, idola Evan Dhimas. Ia salah satu anak yang berhasil dari 100 anak yang beruntung mendapatkan besutan langsung dari mantan pelatih Barcelona, Pep Guardiola.
Meski dalam program “The Change” hanya sampai seleksi pertama, namun dampaknya ke depan semakin luar biasa. Ia semakin di kenal. Semakin dekat untuk menapaki puncak kesuksesan. Semakin mendapat kepercayaan kepada kolega dan staf kepelatihan. Untuk meletas mimpinya di tahun 2012, Evan dipercaya sebagai anggota skuad sepakbola Jawa Timur yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Pekanbaru 2012. Yang awalnya bermain dengan sepatu bola biasa, Evan mampu membeli sepatu yang lebih bagus lagi untuk kenyamanan dalam berlaga.
Lewat gerbang, selepas dari PON di Pekanbaru itu, Evan Dhimas meretas mimpinya jauh tinggi, yakni di Sea Games di Singapura. Sayang, langkah dicegal oleh negara Gajah Putih, Thailand dengan skor yang cukup telah. Kekalahannya di Sea Games, bukan akhir karir masuk dalam Timnas. Penampilannya yang ciamik di setiap event yang diikuti memberikan kesempatan Evan Dhimas dengan masuk di skuad TimNas senior. Bersanding dengan pemain seperti Ponaryo Astaman, Firman Utina, Cristiano Gonzales, Bambang Pamungkas, dll. Gerbang itulah, ia menjadi sepak bola profesional dengan usia yang masih belia.
Tidak hanya itu saja, Evan Dhimas, berbekal dengan kemampuannya mengGo-Jek bola itu, ia mendapat tawaran dari Klub kasta kedua dari Spanyol. Pria yang dinobatkan sebagai atlet terbaik di Sea Games 2015 ini, mendapat trail di klub. Namun ia dikabarkan gagal mendapatkan kontrak di klub Spanyol. Meski gagal di negara dulu ia pernah di latih oleh Pep Guardiola, Barcelona, Evan Dhimas tetap menjadi idola. Masih banyak jalan panjang yang harus ia lalui. Usia masih sangat muda, karir masih sangat panjang. Dan kesuksesan dan prestasi siap bersama Evan Dhimas, selama ia tetap mau belajar dari kesederhanaan dan bekerja cerdas menjadi pemain yang membanggakan orangtuanya, supporternya, rakyat dan bangsa Indonesia.
Dari situlah, berangkat dari kesederhanaan dan semangat tinggi, karir Evan Dhimas semakin melejit dan semakin terbang gagah di angkasa. Seperti Garuda di dada yang terbang jauh di singgahsana dengan prestasi yang membanggakan. Dan menjadi kebanggasaan orangtua maupun rakyat Indonesia dengan aksi-aksi di lapangan sepak bola itu. Semoga ke depan, Evan Dhimas menjadi pemain yang membawa perubahan di kancah persepakbolaan tanah air. []
Kesedihan itu ia bayar dengan bermain dengan rekan sebayanya di lapangan dekat rumahnya. Ia bermain bola di pekarangan yang tidak luas. Setiap ada waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya, ia gunakan untuk mengolah si kulit bundar itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, skill dalam permainan bola sedikit terasah. Dan, teknik-teknik dasar yang patut dimiliki dan dikuasai seorang pemian, ia lalu. Dari beberapa teman sebayanya, ia paling unggul dalam mengolah kemampuan bola. Sosok kecil itu, sekarang telah merangsak dewasa dan siap untuk meretas mimpi menjadi pemain sepak bola profesional, yang kita kenal sekarang.
Siapa nama pemain yang saya maksud ini? Ya, betul. Evan Dhimas Darmono. Pesepakbola asal Surabaya ini memang memiliki skill di atas rata-rata pemain lokal. Di usia yang masih muda, ia mampu mengeluarkan kemampuan yang sangat luar biasa. Beberapa waktu yang lalu, karena kepincut dengan kemampuan Gelandang Timnas Indonesia, Klub lokal divisi II Spanyol memberi kesempatan Evan Dhimas ikut TC (Tehnicel Center). Namun nasib berkata lain, ia tidak lolos dalam uji coba di klub itu. Akan tetapi hal tersebut adalah prestasi tersendiri bagi Evan Dhimas.
Siapa yang sangka, anak muda ini ketika kecil pernah terbelit masalah ekonomi. Untuk membeli sepatu untuk latihan saja, keluarganya tidak mampu. Atlet sekaligus anak dari pasangan Condro Permono dan Ana ini bukan lahir dari keluarga berada. Pria yang lahir di Surabaya 13 Maret 1995 ini, anak seorang penjaga keamanan kompleks perumahan elit. Dan ibunya seorang penjual sayur keliling. Dari hasil kedua orangtuanya, hanya mampu untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun saking cintanya kepada anaknya, Ana—ibu Evan Dhimas dan Condro—Bapak Evan Dhimas berusaha menuruti kemauan Evan Dhimas untuk bermain sepakbola. Di usia sembilan tahun, Evan Dhimas meminta sepatu bola. Karena tidak memiliki biaya lebih, mereka kelimpungan untuk membelikan sepatu bola untuk Evan Dhimas. “Demi anak. kami akhirnya mengupayakan. Saya ke pasar dan membeli sepatu bola yang harganya Rp 20 ribu. Yang murah-murah saja wis, asal Evan senang,” Kenang Ana.
Karena dukungan dari orangtua itu, Evan Dhimas belajar dengan giat. Ia belajar sepakbola di salah satu SSB di Surabaya. Awal karirnya, Evan Dhimas bergabung dengan SSB Mitra Surabaya. Siapa yang bisa menerka, anak kecil dengan modal sepatu seharga 20 ribu mampu sukses seperti sekarang. Cerita Evan ini mengingatkan saya pada film Shaolin Soccer itu. Bermodal sepatu buntut, aktor pertama dalam Shaolin Soccer, film produksi China itu, mampu meraih kesuksesan dan merebut piala kemenangan.
“Berangkat dari kesederhanaan dan semangat tinggi, karir Evan Dhimas semakin melejit dan semakin terbang gagah di angkasa. Seperti Garuda di dada yang terbang jauh di singgahsana dengan prestasi yang membanggakan.”
Hampir mirip dengan lakon Shaolin Soccer, Evan Dhimas kecil bermodal kesederhanaan mampu berjuang dan menyisihkan teman-temannya dalam rangka pencarian bakat. Ia menjadi wakil Indonesia dalam ajang pencarian bakat bertajuk “The Change Asia Tenggara”. Acara yang digagas dan disponsori oleh salah satu ambassador terkenal itu memang sangat luar biasa bagi pemain sepakbola. Pasalnya, di ajang tersebut seorang pemain akan mendapat arahan bermain sepak bola yang baik di klub Messi bermain, Barcelona. Dan Evan Dhimas tercantum dalam lembar pengumuman kelolosan dan terbangkan di klub Andreas Iniesta bermain, idola Evan Dhimas. Ia salah satu anak yang berhasil dari 100 anak yang beruntung mendapatkan besutan langsung dari mantan pelatih Barcelona, Pep Guardiola.
Meski dalam program “The Change” hanya sampai seleksi pertama, namun dampaknya ke depan semakin luar biasa. Ia semakin di kenal. Semakin dekat untuk menapaki puncak kesuksesan. Semakin mendapat kepercayaan kepada kolega dan staf kepelatihan. Untuk meletas mimpinya di tahun 2012, Evan dipercaya sebagai anggota skuad sepakbola Jawa Timur yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Pekanbaru 2012. Yang awalnya bermain dengan sepatu bola biasa, Evan mampu membeli sepatu yang lebih bagus lagi untuk kenyamanan dalam berlaga.
Lewat gerbang, selepas dari PON di Pekanbaru itu, Evan Dhimas meretas mimpinya jauh tinggi, yakni di Sea Games di Singapura. Sayang, langkah dicegal oleh negara Gajah Putih, Thailand dengan skor yang cukup telah. Kekalahannya di Sea Games, bukan akhir karir masuk dalam Timnas. Penampilannya yang ciamik di setiap event yang diikuti memberikan kesempatan Evan Dhimas dengan masuk di skuad TimNas senior. Bersanding dengan pemain seperti Ponaryo Astaman, Firman Utina, Cristiano Gonzales, Bambang Pamungkas, dll. Gerbang itulah, ia menjadi sepak bola profesional dengan usia yang masih belia.
Tidak hanya itu saja, Evan Dhimas, berbekal dengan kemampuannya mengGo-Jek bola itu, ia mendapat tawaran dari Klub kasta kedua dari Spanyol. Pria yang dinobatkan sebagai atlet terbaik di Sea Games 2015 ini, mendapat trail di klub. Namun ia dikabarkan gagal mendapatkan kontrak di klub Spanyol. Meski gagal di negara dulu ia pernah di latih oleh Pep Guardiola, Barcelona, Evan Dhimas tetap menjadi idola. Masih banyak jalan panjang yang harus ia lalui. Usia masih sangat muda, karir masih sangat panjang. Dan kesuksesan dan prestasi siap bersama Evan Dhimas, selama ia tetap mau belajar dari kesederhanaan dan bekerja cerdas menjadi pemain yang membanggakan orangtuanya, supporternya, rakyat dan bangsa Indonesia.
Dari situlah, berangkat dari kesederhanaan dan semangat tinggi, karir Evan Dhimas semakin melejit dan semakin terbang gagah di angkasa. Seperti Garuda di dada yang terbang jauh di singgahsana dengan prestasi yang membanggakan. Dan menjadi kebanggasaan orangtua maupun rakyat Indonesia dengan aksi-aksi di lapangan sepak bola itu. Semoga ke depan, Evan Dhimas menjadi pemain yang membawa perubahan di kancah persepakbolaan tanah air. []
إرسال تعليق