Kita tidak bisa mengatakan tidak bahwa salah satu faktor orang yang sukses di bidangnya adalah mereka yang bisa memanfaatkan alat. Alat menjadi sebuah perangkat yang mampu digunakan untuk memudahkan kerja dan kinerja dari orang tersebut. Adanya alat tersebut orang tentu kerjanya merasa sangat terwakili. Sebab alat merupakan sebuah benda yang digunakan untuk menyelesaikan tugas ataupun kerja.
Alat ini banyak sekali macamnya. Mulai alat yang sifatnya elektronik maupun alat yang sifatnya konvensional. Misalnya jika dahulu kita mengirim surat dengan menggunakan amplop, yang kita kirimkan via pos, sekarang kita bisa memanfaatkan alat untuk mengirim surat melalui pesan singkat atau email. Itulah perkembangan teknologi atau alat untuk mempermudah kerja.
Namun adanya alat jika tidak dibarengi dengan tindakan, kemauan dan keukehan dan keuletan dalam diri juga tak mampu memaksimalkan. Jadi bagaimana pun harus diselingi dengan kebulatan tekad, kelatenan, ketelitian dan kesabaran bagi orang untuk ‘memainkan’ fasilitas alat tersebut.
Di dunia yang hingar bingar ini, kita bisa memanfaatkan dan menggunakan sesuai dengan kebutuhan. Kemudahan dan kemajuan jaman harus dibarengi juga sikap dan pemahaman yang mumpuni untuk menghasilkan yang sesuai dengan yang diinginkan. Dari kemajuan itu semakin banyak orang yang memanfaatkan dan menggunakan jasa kilat.
Misalnya lagi adalah layanan medsos (media sosial). Berbagai aplikasi bisa kita unduh melalui layar datar yang dapat kita bawa kemana-mana. Melalui layar datar itu pulalah kita juga bisa berjualan, promosi, bahkan untuk menggapai trafik pengunjung atau ‘numpang tenar’ (viral) tidak amat sangat sulit. Sebab itu semua adalah alat yang harus digunakan dengan baik, sesuai dengan kapasitasnya. Ibarat kail, alat adalah suatu benda untuk memancing ikan besar yang akan kita nikmati.
Berbicara tentang kail, di sekitar tempat tinggal saya, masyarakat nelayan yang berada di pesisir selatan, Pantai Prigi ini memanfaatkan kailnya saat musim paceklik ikan. Mereka tidak mau berpangku tangan untuk seekor ikan. Ia harus mengayunkan kailnya di lautan ini.
Di musim ‘paceklik’ seperti sekarang ini, kita bisa melihat dengan baik banyak yang mengasah kailnya di sekitat pelabuhan. Tepatnya di depan tempat pelelangan ikan (TPI). Dengan ketelatenan, kesabarannya, banyak masyarakat melempar kail untuk memancing ikan pada siang, sore maupun malam. Selain sebagai menu laik, di musim paceklik seperti sekarang ini, harga ikan lumayan tinggi. Manakala menggunakan pancing dan umpannya tersangkut ikan, jelas suatu keuntungan tersendiri di musim paceklik seperti sekarang.
Orang-orang yang berhasil seperti itu adalah mereka yang jelas-jelas mampu memanfaatkan alat-alatnya dengan baik. Misal orang yang sukses dari dunia musik ia berhasil dari alat bermusiknya. Orang yang sukses menghasilkan ikan besar, ia berhasil mengalahkan kesabaran dan ketekunannya menunggu kail itu menyangkut pada ikan. Lalu bagi mereka yang sukses dari dunia blogger misalnya, ia tentu berdarah-darah memperjuangkan blognya untuk diapresiasi oleh Google.
Lalu, bagaimana dengan saya?
Entahlah, saya sebenarnya telah memanfaatkan alat-alat dan tidak dikatakan tidak gaptek untuk ukuran anak jaman now. Saya juga memiliki blog serta memiliki pemahaman tentang menulis--meski sekadar tulisan-tulisan sederhana yang saya unggah di blog pribadi. Saya juga mau belajar untuk mengoptimasi ke dalam SEO, meski belum diterima oleh pihak Google.
Sudah waktunya, di jaman yang serba cepat dan maju ini, saya terus berusaha dan mengupgrade alat dan memanfaatkan alat yang ada untuk kegiatan yang bermanfaat lagi menghasilkan. Jelas media sosial (medsos) memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah mencari teman. Manfaat kedua adalah bisa dimanfaatkan untuk mengunggah atau mengupload tulisan-tulisan di wall Facebook di Twitter dari blog yang saya kelola ini.
Dan ketiga adalah dengan adanya alat seperti media sosial ini saya bisa belajar bagaimana menulis yang baik dari tulisan-tulisan senior, yang mereka unggah di media online, seperti Facebook, Blog atau media-medoa lain yang sifatnya surel. Sebab adanya media daring, saya bisa membaca tulisan-tulisan penulis senior yang diunggah di media sosial seperti ini, yang jangkauannya bisa kita nikmati seperti ini.
Kita harus benar-benar memanfaatkan alat yang sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya. Melalui media sosial, orang--sebut saja saya pribadi--dengan mudah mengekspresikan tulisan saya kepada khalayak. Melalui tulisan ini pula, saya mampu memperkenalkan diri lewat tulisan yang saya buat. Saya bisa mengupload tulisan remeh temeh ini. Hasil dari tulisan Blog, catatan-catatan ringan di Note Facebook maupun media lain sebagianya.
Meski secara kualitas, tulisan-tulisan yang saya hasilkan kalah kualitas itu bukan masalah. Sebab setiap tulisan memiliki penggemarnya sendiri-sendiri.
Tulisan saya (seperti tulisan ini) adalah sebuah curhatan atau ‘sambat’ (ngeluh) sehari-hari, bagi saya selama tulisan tidak mengandung sara, seperti tulisam ini sah-sah saja dikonsumsi orang lain. Selaim secara pribadi, melalui tulisan-tulisan ringan ini, saya ingin memantik dan menyemangati diri sendiri untuk tetap semangat terus belajar menulis dan menularkan semangat berliterasi kepada orang lain.
Semua orang memiliki cita-cita, tak ingin terkenal lantaran kasus kriminal. Saya yakin dengan mempublikasikan karya-karya (tulisan) setiap hari, saya akan bertemu orang-orang hebat di luar sana. Dan hal tersebut, saya benarkan setelah mengunggah beberapa kali tulisan sederhana pun saya bisa berjumpa dengan orang-orang hebat. Yang kemudian kita bisa temu darat dengan penulis-penulis hebat tersebut. Dari dunia maya berlanjut di dunia nyata.
Saya harus yakin dengan memanfaatkan alat-alat seperti media sosial (medsos); misalnya Facebook, menulis ajeg di Blog maka kesuksesan akan mengiringi dengan sendirinya. Oleh karena itu, saya akan terus belajar dan semoga bisa konsisten dengan menulis satu hari satu tulisan. Melalui media Blog ini saya akan memulainya. Tidak ada kata dan waktu telat untuk memulai. Karena semua kembali kepada kita semua, sukses dengan memanfaatkan ‘alat’ atau media lebih mulia daripada sukses dengan jalur pintas.[]
Alat ini banyak sekali macamnya. Mulai alat yang sifatnya elektronik maupun alat yang sifatnya konvensional. Misalnya jika dahulu kita mengirim surat dengan menggunakan amplop, yang kita kirimkan via pos, sekarang kita bisa memanfaatkan alat untuk mengirim surat melalui pesan singkat atau email. Itulah perkembangan teknologi atau alat untuk mempermudah kerja.
Namun adanya alat jika tidak dibarengi dengan tindakan, kemauan dan keukehan dan keuletan dalam diri juga tak mampu memaksimalkan. Jadi bagaimana pun harus diselingi dengan kebulatan tekad, kelatenan, ketelitian dan kesabaran bagi orang untuk ‘memainkan’ fasilitas alat tersebut.
Di dunia yang hingar bingar ini, kita bisa memanfaatkan dan menggunakan sesuai dengan kebutuhan. Kemudahan dan kemajuan jaman harus dibarengi juga sikap dan pemahaman yang mumpuni untuk menghasilkan yang sesuai dengan yang diinginkan. Dari kemajuan itu semakin banyak orang yang memanfaatkan dan menggunakan jasa kilat.
Misalnya lagi adalah layanan medsos (media sosial). Berbagai aplikasi bisa kita unduh melalui layar datar yang dapat kita bawa kemana-mana. Melalui layar datar itu pulalah kita juga bisa berjualan, promosi, bahkan untuk menggapai trafik pengunjung atau ‘numpang tenar’ (viral) tidak amat sangat sulit. Sebab itu semua adalah alat yang harus digunakan dengan baik, sesuai dengan kapasitasnya. Ibarat kail, alat adalah suatu benda untuk memancing ikan besar yang akan kita nikmati.
Berbicara tentang kail, di sekitar tempat tinggal saya, masyarakat nelayan yang berada di pesisir selatan, Pantai Prigi ini memanfaatkan kailnya saat musim paceklik ikan. Mereka tidak mau berpangku tangan untuk seekor ikan. Ia harus mengayunkan kailnya di lautan ini.
Di musim ‘paceklik’ seperti sekarang ini, kita bisa melihat dengan baik banyak yang mengasah kailnya di sekitat pelabuhan. Tepatnya di depan tempat pelelangan ikan (TPI). Dengan ketelatenan, kesabarannya, banyak masyarakat melempar kail untuk memancing ikan pada siang, sore maupun malam. Selain sebagai menu laik, di musim paceklik seperti sekarang ini, harga ikan lumayan tinggi. Manakala menggunakan pancing dan umpannya tersangkut ikan, jelas suatu keuntungan tersendiri di musim paceklik seperti sekarang.
Orang-orang yang berhasil seperti itu adalah mereka yang jelas-jelas mampu memanfaatkan alat-alatnya dengan baik. Misal orang yang sukses dari dunia musik ia berhasil dari alat bermusiknya. Orang yang sukses menghasilkan ikan besar, ia berhasil mengalahkan kesabaran dan ketekunannya menunggu kail itu menyangkut pada ikan. Lalu bagi mereka yang sukses dari dunia blogger misalnya, ia tentu berdarah-darah memperjuangkan blognya untuk diapresiasi oleh Google.
Lalu, bagaimana dengan saya?
Entahlah, saya sebenarnya telah memanfaatkan alat-alat dan tidak dikatakan tidak gaptek untuk ukuran anak jaman now. Saya juga memiliki blog serta memiliki pemahaman tentang menulis--meski sekadar tulisan-tulisan sederhana yang saya unggah di blog pribadi. Saya juga mau belajar untuk mengoptimasi ke dalam SEO, meski belum diterima oleh pihak Google.
Sudah waktunya, di jaman yang serba cepat dan maju ini, saya terus berusaha dan mengupgrade alat dan memanfaatkan alat yang ada untuk kegiatan yang bermanfaat lagi menghasilkan. Jelas media sosial (medsos) memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah mencari teman. Manfaat kedua adalah bisa dimanfaatkan untuk mengunggah atau mengupload tulisan-tulisan di wall Facebook di Twitter dari blog yang saya kelola ini.
Dan ketiga adalah dengan adanya alat seperti media sosial ini saya bisa belajar bagaimana menulis yang baik dari tulisan-tulisan senior, yang mereka unggah di media online, seperti Facebook, Blog atau media-medoa lain yang sifatnya surel. Sebab adanya media daring, saya bisa membaca tulisan-tulisan penulis senior yang diunggah di media sosial seperti ini, yang jangkauannya bisa kita nikmati seperti ini.
Kita harus benar-benar memanfaatkan alat yang sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya. Melalui media sosial, orang--sebut saja saya pribadi--dengan mudah mengekspresikan tulisan saya kepada khalayak. Melalui tulisan ini pula, saya mampu memperkenalkan diri lewat tulisan yang saya buat. Saya bisa mengupload tulisan remeh temeh ini. Hasil dari tulisan Blog, catatan-catatan ringan di Note Facebook maupun media lain sebagianya.
Meski secara kualitas, tulisan-tulisan yang saya hasilkan kalah kualitas itu bukan masalah. Sebab setiap tulisan memiliki penggemarnya sendiri-sendiri.
Tulisan saya (seperti tulisan ini) adalah sebuah curhatan atau ‘sambat’ (ngeluh) sehari-hari, bagi saya selama tulisan tidak mengandung sara, seperti tulisam ini sah-sah saja dikonsumsi orang lain. Selaim secara pribadi, melalui tulisan-tulisan ringan ini, saya ingin memantik dan menyemangati diri sendiri untuk tetap semangat terus belajar menulis dan menularkan semangat berliterasi kepada orang lain.
Semua orang memiliki cita-cita, tak ingin terkenal lantaran kasus kriminal. Saya yakin dengan mempublikasikan karya-karya (tulisan) setiap hari, saya akan bertemu orang-orang hebat di luar sana. Dan hal tersebut, saya benarkan setelah mengunggah beberapa kali tulisan sederhana pun saya bisa berjumpa dengan orang-orang hebat. Yang kemudian kita bisa temu darat dengan penulis-penulis hebat tersebut. Dari dunia maya berlanjut di dunia nyata.
Saya harus yakin dengan memanfaatkan alat-alat seperti media sosial (medsos); misalnya Facebook, menulis ajeg di Blog maka kesuksesan akan mengiringi dengan sendirinya. Oleh karena itu, saya akan terus belajar dan semoga bisa konsisten dengan menulis satu hari satu tulisan. Melalui media Blog ini saya akan memulainya. Tidak ada kata dan waktu telat untuk memulai. Karena semua kembali kepada kita semua, sukses dengan memanfaatkan ‘alat’ atau media lebih mulia daripada sukses dengan jalur pintas.[]
إرسال تعليق