Sore itu, saya lagi menunggu kabar keputusan apakah benar permohonan ikut ke event di Yogjakarta dipenuhi? Memang, saya bukan termasuk mahasiswa jurusan PBSI, yang kebetulan memiliki acara kesana. Saya yang mahasiswa Penjaskesrek (Olahraga), tentu sangat sulit.
Kenapa saya ingin ikut? Karena saya menyukai dunia tulis menulis. Sebenarnya ingin rasanya meluapkan mereka langsung. Karena dijanjiin saja. Tetapi saya tahan, dan meluapkan dengan pahatan-pahatan kata-kata ini.
“Nggak ada prioritas, Kang. Semua sama. Kan kemarin aku sudah bilang, hanya untuk manusia yang mengerti tentang peradaban yang berangkat, kita tetap berangkat bareng," kata Muksin, ketua Hima PBSI UNP Kediri.
Berat rasanya mengingat ungkapan yang dilontarkan ketua Hima tersebut. Dia pernah bilang kepada saya pada (14/10) via inbox Facebook. Dari ungkapan ketua Hima itu, tidak terjadi deskriminasi. Sedangkan dia sendiri sering mendengungkan kata-kata yang anti dengan kaum penindas. Tetapi realitasnya, dia telah melakukan praktis seperti itu. Sungguh tak bisa dimengerti dengan apa yang terjadi dan sedang melakukan apa dia?
Rasa kesel dan kecewa ketika mendapat sms, yang memberi tahu bahwa saya tidak jadi berangkat ke Jogja. Dengan alasan bahwa sudah tidak ada lagi. "kursi penumpang yang sudah dilist di acara Writer Jogja Event Cultural”. Padahal sejak lama sudah pesan dan bahkan sudah mewanti-wanti kalau saya mau ikut. Tetapi apa yang aku dapat kemarin? Jauh dari harapan dan realitas yang di lontarkan oleh ketua pelaksana dari Kediri tersebut.
Pemberitahuan itu disampaikan pada pukul jam 6 sore. Bermula aku iseng-iseng sms Khafid teman saya yang juga kecewa tidak ikut juga. Dia memberi tahu bahwa acara yang seharusnya saya dan Khafid ikutin tidak jadi. Dikarenakan penuhnya ‘kursi’ travell kendaraan yang mengangkut para peserta WJEC 2013 di Borobudur tersebut. Setelah kami berdua memutuskan untuk pergi ngopi di depan kampus UNP, yang kebetulan di situ ada Muksin. Yang menunggu mobil yang akan menghantarkan ke tempat acara keesok harinya. Rifky dan A. Iwan Kafit mengampiri kami, keduanya adalah termasuk yang penanggung-jawab dengan acara tersebut dan juga mendapat rekom dari kampus UNP dan untuk menjelaskan mis-komunikasi tersebut.
“Acara itu ajang besar dan ajang tahunan, yang setiap tahun pasti di gelar.” Menurut A. Iwan Kafit. Memang acara seperti itu tidak akan ada habisnya, karena aku pribadi berfikir lebih subjektif dengan keadaan tersebut. Lantaran, saya pengen mencari kegiatan yang bisa membuatku produktif, dan itu akan saya ikuti.
Kejadian ini sudah sering terjadi kepada aku di lain acara. Kemarin pada tanggal (14/10) mendapat undangan dari sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Dalam undangan yang saya terima, bila mana bahwa ada undangan untuk buka bersama bersama Rektor UNP. Tempat di depan Ormawa. Tetapi setelah sesampainya dikantor DPM, tidak ada aktifitas yang menyambut dengan meriah acara malam takbiran Idul Adha.
Apa yang aku dapat hari itu juga? Ternyata rasa kesal, capek, marah, mangkel, laper, haus. Ini bentuk penindasan yang nyata, yang harus dipertanyakan dengan serius. Bukan maksud untuk membela diri, karena ‘saya’ yang rumahnya jaraknya tidak dekat dengan kampus UNP, merasa sangat dirugikan. Pergi perjalanan memerlukan dana, waktu, tenaga dan kesempatan. Butuh pengorbanan dan perjuangan untuk hadir dan sampai di tempat itu. Kenapa kalian apatis? Apa sebenarnya yang mereka pikirkan? Pertanyaan saya ini, harus di telusuri benang merahnya, apa yang sedang terjadi pada sistem yang diagungkan.
Karena dari pengalaman aku di atas, dari masalah yang cukup simple, dan masih banyak masalah dan masih banyak masalah yang bisa dikatakan lebih besar lagi. Tetapi sikapilah dengan bijak, tak harus memegang dan memukulnya. Itu bukan hanya stop sebagai dunia imajenernya saja, melainkan bisa melahirkan karya satra, dari sikap marah tersebut lebih bijak mengekspresikan dengan media lain.
Dan dari kejadian diatas seharusnya untuk acara kedepan untuk lebih objektif lagi, memberi kabar semua para penerima informasi. Manakala, tetap masih seperti itu, dikemudian hari. Ya, barangkali ada keluhan dan mengkritisi dengan sikap seperti itu tadi. Tanggung jawab ini tidak diserahkan pada segelincir orang saja, tetapi harus semua kalangan yang berkecimpung di dunia tersebut untuk saling membantu untuk kesuksesan ke depan.
Dari apa yang menjadi permasalahan tersebut menjadikan catatan untuk terus bersikap emosi, tetapi dalam “konteks” meluapkan emosi ini dengan sebuah tulisan dan bentuk penolakan tersebut lewat sebuah tulisan. Menulis adalah perlawanan untuk sebuah kata penindasan. Melalui tulisan ini juga kerinduanku terhadap tulis yang diselimuti rasa emosi terbendung dan terdampung menjadi tindakkan yang lebih produktik.[]
Kenapa saya ingin ikut? Karena saya menyukai dunia tulis menulis. Sebenarnya ingin rasanya meluapkan mereka langsung. Karena dijanjiin saja. Tetapi saya tahan, dan meluapkan dengan pahatan-pahatan kata-kata ini.
“Nggak ada prioritas, Kang. Semua sama. Kan kemarin aku sudah bilang, hanya untuk manusia yang mengerti tentang peradaban yang berangkat, kita tetap berangkat bareng," kata Muksin, ketua Hima PBSI UNP Kediri.
Berat rasanya mengingat ungkapan yang dilontarkan ketua Hima tersebut. Dia pernah bilang kepada saya pada (14/10) via inbox Facebook. Dari ungkapan ketua Hima itu, tidak terjadi deskriminasi. Sedangkan dia sendiri sering mendengungkan kata-kata yang anti dengan kaum penindas. Tetapi realitasnya, dia telah melakukan praktis seperti itu. Sungguh tak bisa dimengerti dengan apa yang terjadi dan sedang melakukan apa dia?
Rasa kesel dan kecewa ketika mendapat sms, yang memberi tahu bahwa saya tidak jadi berangkat ke Jogja. Dengan alasan bahwa sudah tidak ada lagi. "kursi penumpang yang sudah dilist di acara Writer Jogja Event Cultural”. Padahal sejak lama sudah pesan dan bahkan sudah mewanti-wanti kalau saya mau ikut. Tetapi apa yang aku dapat kemarin? Jauh dari harapan dan realitas yang di lontarkan oleh ketua pelaksana dari Kediri tersebut.
Pemberitahuan itu disampaikan pada pukul jam 6 sore. Bermula aku iseng-iseng sms Khafid teman saya yang juga kecewa tidak ikut juga. Dia memberi tahu bahwa acara yang seharusnya saya dan Khafid ikutin tidak jadi. Dikarenakan penuhnya ‘kursi’ travell kendaraan yang mengangkut para peserta WJEC 2013 di Borobudur tersebut. Setelah kami berdua memutuskan untuk pergi ngopi di depan kampus UNP, yang kebetulan di situ ada Muksin. Yang menunggu mobil yang akan menghantarkan ke tempat acara keesok harinya. Rifky dan A. Iwan Kafit mengampiri kami, keduanya adalah termasuk yang penanggung-jawab dengan acara tersebut dan juga mendapat rekom dari kampus UNP dan untuk menjelaskan mis-komunikasi tersebut.
“Acara itu ajang besar dan ajang tahunan, yang setiap tahun pasti di gelar.” Menurut A. Iwan Kafit. Memang acara seperti itu tidak akan ada habisnya, karena aku pribadi berfikir lebih subjektif dengan keadaan tersebut. Lantaran, saya pengen mencari kegiatan yang bisa membuatku produktif, dan itu akan saya ikuti.
Kejadian ini sudah sering terjadi kepada aku di lain acara. Kemarin pada tanggal (14/10) mendapat undangan dari sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Dalam undangan yang saya terima, bila mana bahwa ada undangan untuk buka bersama bersama Rektor UNP. Tempat di depan Ormawa. Tetapi setelah sesampainya dikantor DPM, tidak ada aktifitas yang menyambut dengan meriah acara malam takbiran Idul Adha.
Apa yang aku dapat hari itu juga? Ternyata rasa kesal, capek, marah, mangkel, laper, haus. Ini bentuk penindasan yang nyata, yang harus dipertanyakan dengan serius. Bukan maksud untuk membela diri, karena ‘saya’ yang rumahnya jaraknya tidak dekat dengan kampus UNP, merasa sangat dirugikan. Pergi perjalanan memerlukan dana, waktu, tenaga dan kesempatan. Butuh pengorbanan dan perjuangan untuk hadir dan sampai di tempat itu. Kenapa kalian apatis? Apa sebenarnya yang mereka pikirkan? Pertanyaan saya ini, harus di telusuri benang merahnya, apa yang sedang terjadi pada sistem yang diagungkan.
Karena dari pengalaman aku di atas, dari masalah yang cukup simple, dan masih banyak masalah dan masih banyak masalah yang bisa dikatakan lebih besar lagi. Tetapi sikapilah dengan bijak, tak harus memegang dan memukulnya. Itu bukan hanya stop sebagai dunia imajenernya saja, melainkan bisa melahirkan karya satra, dari sikap marah tersebut lebih bijak mengekspresikan dengan media lain.
Dan dari kejadian diatas seharusnya untuk acara kedepan untuk lebih objektif lagi, memberi kabar semua para penerima informasi. Manakala, tetap masih seperti itu, dikemudian hari. Ya, barangkali ada keluhan dan mengkritisi dengan sikap seperti itu tadi. Tanggung jawab ini tidak diserahkan pada segelincir orang saja, tetapi harus semua kalangan yang berkecimpung di dunia tersebut untuk saling membantu untuk kesuksesan ke depan.
Dari apa yang menjadi permasalahan tersebut menjadikan catatan untuk terus bersikap emosi, tetapi dalam “konteks” meluapkan emosi ini dengan sebuah tulisan dan bentuk penolakan tersebut lewat sebuah tulisan. Menulis adalah perlawanan untuk sebuah kata penindasan. Melalui tulisan ini juga kerinduanku terhadap tulis yang diselimuti rasa emosi terbendung dan terdampung menjadi tindakkan yang lebih produktik.[]
Posting Komentar