Puasa tahun adalah puasa yang berbeda buat saya. Kenapa berbeda? Karena sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, saya sudah dulu sakit. Sehingga, puasa hari pertama harus saya relakan begitu saja. Tapi, Alhamdulillahnya, puasa hari kedua masih bisa saya jalankan dengan dengan baik, dengan menjalankan perintah Allah SWT tersebut. Dan, tidak terasa, hari ini, puasa hari ketiga. Puasa hati ketiga harus saya lalui dengan berhadapan dengan dokter lagi.
Sejak opname beberapa hari yang lalu, saya harus berhadapan dengan dokter lagi. Pasalnya, kondisi fisik saya kian hari belum ada perkembangan. Masih terasa pusing dan lemes. Ketika dibuat beribadah, terutama sholat--posisi sujud--saya tidak kuat menahan pusing, mual. Dan saya pun ada gerakan atau bahasa isyarat muntah, akan tetapi tidak keluar hanya isyarat muntah saja. Kondisi ini jelas mengganggu aktivitas ibadah puasa saya. Namun, puasa dengan keadaan sakit ada banyak hikmah di balik peristiwa ini. Di antaranya, saya harus benar-benar menjaga kesehatan selama bulan puasa. Selain itu, juga menjaga asupan makanan selama puasa. Dan juga memperhatikan hal dari kebersihan lingkungan.
Memang, selama saya tidak kontrak di Kediri, saya sering tidur di beberapa tempat di kontrakan teman. Dan kondisi tempat tinggal (mohon maaf) agak lumayan kurang terawat. Dan, bisa juga ini adalah teguran Allah SWT terhadap perbuatan selama ini.
Oleh karena itu, saya awalnya terkena gejala Demam Berdarah (DB). Hingga saya harus menginap di Puskesmas selama lima hari. Setelah beberapa hari menjelang bulan puasa, saya belum juga sembuh dan sering merasa pusing--kepala pusing tujuh keliling--sehingga saya hanya tiduran saja puasa hari pertama pun terlepas begitu saja tanpa ikut merasakan euforia menyambut bulan Ramadhan ini.
Dan, hari ini adalah hari kedua saya puasa, padahal dalam hitungan orang secara umum, sejak ditetapkan oleh pemerintah mulainya puasa tanggal 18 Juni, masyarakat sudah menjalankan hari ketiga. Namun, khusus bagi saya, puasa hari ini adalah puasa yang kedua, semoga kuat hingga Magrib berkumandang.
Yang membedakan lagi, puasa saya dengan orang lain adalah puasa saya hari ini harus berhadapan dengan suntik dari dokter. Memang, dalam Islam orang sakit tidak apa-apa menjalani pengobatan meski harus disuntik. Suntik adalah salah satu upaya manusia untuk mengobati dirinya untuk menjaga atau bisa jadi mencegah penyakit. Hasil dari suntik tadi memang untuk mengetahui tingkat trombosit. Dari hasil tes laboratorium di Rumah sakit Nur Medika tersebut normal, trombosit saya 125-325. Artinya, menurut riset dokter yang menangani saya tadi normal dan sudah kembali lagi.
Karena, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, saya sering pusing tujuh keliling, dan dibuat sujud ketika sholat, maka diteslah ulang gejala sakit tersebut. Dari diagnosa dokter tersebut, saya mengidap sakit tipes. Dan semoga dengan adanya tes tersebut dan diketahuinya penyakit tersebut saya bisa sembuh dari penyakit tersebut dan tidak lagi puasa dengan melawan suntik. Karena sakit suntik itu loh di sini, di lengan kanan. Hehehe.:-)
Posting Komentar