Entah apa yang ada dalam benak saya malam itu? Malam yang dingin. Bau khas tanah masih menyeruak. Sisa hujan belum kering. Semua jadi satu bersama kenangan masa lalu. Tiga tahun yang lalu, saya memiliki ikatan emosional dengan Kota Tahu ini. Berawal dari keinginan seorang teman, saya mampir dan berkunjung di kampus saya dahulu. Karena jaraknya tidak jauh, malam itu saya pengen main-main di taman itu, karena saya memiliki kenangan bersama teman satu kosan.
Taman itu, kota itu memiliki kenangan, yang saya rajutan bersama sisa hujan. Kota ini dahulu pernah saya tumpangi, cengkeramai, saya tiduri dan menikmati kuliner-nya. Namun selepas lulus 3 tahun yang lalu, saya ingin bernostalgia dan menikmati malam di kota ini di taman Sekartaji.
Berkunjung di Taman Sekartaji malam itu, seolah bernostalgia dengan masa lalu. Sebab, dahulu, saya bersama teman-teman sempat kelaparan di tengah malam. Sambil perut keroncongan, kami menembel perut di sekitar Taman Sekartaji. Namun taman ini tidak seperti dahulu yang sangat sederhana. Taman ini telah berubah wajah, dan nampak begitu artistik nun futuristik dan modern. Taman Sekartaji yang telah diresmikan sejak tahun lalu, (26/9/2017), telah mengalami renovasi.
Taman ini merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Kediri. Taman yang memiliki luas 7 ribu persegi ini bisa rata-rata kunjungan rata-rata 425 orang, mulai dari pagi hingga malam. Hal ini tergambar pada malam hari saat saya berkunjung dengan Muksin. Saya bersama Muksin menyusuri setiap lekukan dan lekitan bangunan yang baru saya nikmati malam itu.
Malam itu, Kediri baru saja selesai diguyur hujan. Sehingga tak begitu ramai. Namun ingin mencari Taman Sekartaji ini ramai, maka datanglah akhir pecan, baik pagi maupun malam hari.
Meski demikian banyak anak muda duduk-duduk santai sambil melihat lalu lalang kendaraan bermotor. Nampak ngobrol di bawah pohon-pohon yang sangat rindang. Di lain tempat ada sejoli yang mengabadikan dirinya berdua dengan selfie. Dengan bantuan lampu kota yang berwarna kuning kecokletan, nambah romantisme yang haqiqi.
Di bangunan baru itu, yang entah apa namanya? Ada segerombolan anak muda yang melakukan aktivitas. Saya duga bahwa mereka adalah anak komunitas yang sedang melakukan kegiatan dan merancang apa yang harus dilakukan. Di bawah pohon besar, di sudut belokan bangunan ada lima tau enam anak muda bermain gitar dan alat musik seperti ketipung dikombinasikan dengan lagu yang aduhai. Menjadikan malam itu nampak tidak ada apa-apa.
Saat saya datang, taman kota tak terlalu terang. Kesan remang-remang ada. Namun remang-remang ini mengundang hal-hal negatif, sebab di sekitar taman ini dilengkapi kamera CCTV di beberapa sudut taman. Menurut sumber, ada 6 titik yang dipasangi alat perekam itu. Hal ini dilakukan untuk mengurai tindakan asusila dan pelanggaran hukum. Selain dipasangi kamera pengintai, ada juga petugas jaga sekaligus kebersihan.
Selain beberapa bangunan yang dibangun dengan gaya futuristik, di taman kota ini dilengkapi juga fasilitas wifi gratis, layanan dari Bitznet. Layanan ini sangat mendukung bagi para pengunjung yang ingin menikmati malam di Taman Sekartaji sambil mengerjakan tugas. Nah, jika ingin tetap gayem dan gayeng, Anda bisa menikmati sajian kuliner di sekitar bunderan Sekartaji dengan menu secangkir kopi dan jagung bakar. Selain harganya cukup murah, tempatnya juga enak dan pas buat rame-rame. Dan sangat cocok untuk bernostalgia.
Taman Sekartaji ini merupakan suatu taman di tengah kota, yang di dalamnya ada tempat kuliner, tempat bermain anak-anak dan sarana berolahraga. Semua orang bisa menikmati taman ini. Namun yang harus diperhatikan adalah sangat dilarang untuk merusak, pohon dipaku, rumput dicabuti serta tembok dicorat-coret. Sebab ada beberapa papan pengumuman yang melarang itu semua. Tidak itu saja, di taman ini ada tempat khusus bagi para perokok dan tidak perokok.
Selain itu, di sekitar Taman Sekartaji ada banyak tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Seperti Gereja Merah, Markas Polres Kediri Kota, rumah dinas Kapolresta, hingga bangunan SMAN 1 dan SMAN 2 yang klasik. Taman ini sarat akan kisah Kerajaan Kadiri. Taman ini berlokasi di Jalan Veteran, bersebelahan dengan Bundaran Sekartaji. Dengan menikmati malam di Taman Sekartaji ini, saya serasa bernostalgia di masa-masa perjuangan untuk menaklukan selempas ijazah di kota ini, serta cerita-cerita yang menarik di masa lalu.[]
Taman itu, kota itu memiliki kenangan, yang saya rajutan bersama sisa hujan. Kota ini dahulu pernah saya tumpangi, cengkeramai, saya tiduri dan menikmati kuliner-nya. Namun selepas lulus 3 tahun yang lalu, saya ingin bernostalgia dan menikmati malam di kota ini di taman Sekartaji.
Berkunjung di Taman Sekartaji malam itu, seolah bernostalgia dengan masa lalu. Sebab, dahulu, saya bersama teman-teman sempat kelaparan di tengah malam. Sambil perut keroncongan, kami menembel perut di sekitar Taman Sekartaji. Namun taman ini tidak seperti dahulu yang sangat sederhana. Taman ini telah berubah wajah, dan nampak begitu artistik nun futuristik dan modern. Taman Sekartaji yang telah diresmikan sejak tahun lalu, (26/9/2017), telah mengalami renovasi.
Taman ini merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH), yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Kediri. Taman yang memiliki luas 7 ribu persegi ini bisa rata-rata kunjungan rata-rata 425 orang, mulai dari pagi hingga malam. Hal ini tergambar pada malam hari saat saya berkunjung dengan Muksin. Saya bersama Muksin menyusuri setiap lekukan dan lekitan bangunan yang baru saya nikmati malam itu.
Malam itu, Kediri baru saja selesai diguyur hujan. Sehingga tak begitu ramai. Namun ingin mencari Taman Sekartaji ini ramai, maka datanglah akhir pecan, baik pagi maupun malam hari.
Meski demikian banyak anak muda duduk-duduk santai sambil melihat lalu lalang kendaraan bermotor. Nampak ngobrol di bawah pohon-pohon yang sangat rindang. Di lain tempat ada sejoli yang mengabadikan dirinya berdua dengan selfie. Dengan bantuan lampu kota yang berwarna kuning kecokletan, nambah romantisme yang haqiqi.
Di bangunan baru itu, yang entah apa namanya? Ada segerombolan anak muda yang melakukan aktivitas. Saya duga bahwa mereka adalah anak komunitas yang sedang melakukan kegiatan dan merancang apa yang harus dilakukan. Di bawah pohon besar, di sudut belokan bangunan ada lima tau enam anak muda bermain gitar dan alat musik seperti ketipung dikombinasikan dengan lagu yang aduhai. Menjadikan malam itu nampak tidak ada apa-apa.
Saat saya datang, taman kota tak terlalu terang. Kesan remang-remang ada. Namun remang-remang ini mengundang hal-hal negatif, sebab di sekitar taman ini dilengkapi kamera CCTV di beberapa sudut taman. Menurut sumber, ada 6 titik yang dipasangi alat perekam itu. Hal ini dilakukan untuk mengurai tindakan asusila dan pelanggaran hukum. Selain dipasangi kamera pengintai, ada juga petugas jaga sekaligus kebersihan.
Selain beberapa bangunan yang dibangun dengan gaya futuristik, di taman kota ini dilengkapi juga fasilitas wifi gratis, layanan dari Bitznet. Layanan ini sangat mendukung bagi para pengunjung yang ingin menikmati malam di Taman Sekartaji sambil mengerjakan tugas. Nah, jika ingin tetap gayem dan gayeng, Anda bisa menikmati sajian kuliner di sekitar bunderan Sekartaji dengan menu secangkir kopi dan jagung bakar. Selain harganya cukup murah, tempatnya juga enak dan pas buat rame-rame. Dan sangat cocok untuk bernostalgia.
Taman Sekartaji ini merupakan suatu taman di tengah kota, yang di dalamnya ada tempat kuliner, tempat bermain anak-anak dan sarana berolahraga. Semua orang bisa menikmati taman ini. Namun yang harus diperhatikan adalah sangat dilarang untuk merusak, pohon dipaku, rumput dicabuti serta tembok dicorat-coret. Sebab ada beberapa papan pengumuman yang melarang itu semua. Tidak itu saja, di taman ini ada tempat khusus bagi para perokok dan tidak perokok.
Selain itu, di sekitar Taman Sekartaji ada banyak tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Seperti Gereja Merah, Markas Polres Kediri Kota, rumah dinas Kapolresta, hingga bangunan SMAN 1 dan SMAN 2 yang klasik. Taman ini sarat akan kisah Kerajaan Kadiri. Taman ini berlokasi di Jalan Veteran, bersebelahan dengan Bundaran Sekartaji. Dengan menikmati malam di Taman Sekartaji ini, saya serasa bernostalgia di masa-masa perjuangan untuk menaklukan selempas ijazah di kota ini, serta cerita-cerita yang menarik di masa lalu.[]
إرسال تعليق