Saya tidak bisa berkata banyak tentang dunia blogger jika tidak ada Mas Trigus. Sebab di dunia blogger, saya ibarat anak bau kencur, yang bisanya hanya merepotkan dan merengek-rengek: meminta-minta dibuatkan ini-itu. Namun adanya Mas Trigus, sosoknya ibarat orang tua yang dapat memberi dolanan harapan sebagai media untuk belajar dan tentunya menghasilkan sekarung dolar atau recehan rupiah. (Uuooopssss)
Kenapa saya bilang seperti itu? Ada alasan mendasar soal dunia blog. Karena, ia sudah dua kali meracik blog pribadi saya sedemikian indah dan enak dikonsumsi (bacaannya). Yang pertama di akhir tahun 2016. Blog itu kemudian blog itu purna—matek tak terurus. Nah di awal tahun 2017 ini, saya memulai lagi untuk menulis—sebut saja—belajar dunia blog.
Di kesempatan yang kedua ini, peran Mas Trigus sangat vital. Karena semua perkara ube rampe tentang blog baru ini, dia-lah yang menanganinya. Mulai dari hal-hal kecil seperti menentukan nama blog, memilih konten sampai hal-hal mendasar tentang blog; templete, domain dan pemasangan tetek bengek nama-nama lain serta Google Adsense tidak bisa jauh dari tangan terampilnya.
Selain itu, ia tidak hanya merawat dan mengelola satu dua blog saja. Ia mengelola lebih dari tiga dan bahkan empat atau lima, enam blog selain blog pribadinya. Jika saya merawat satu blog saja bisa sampai purna alias matek di-banned google, maka melihat spartannya Mas Trigus mengelola blog sebanyak itu adalah tentuu itu bukan pekerjaan mudah.
Terlepas dari itu semua, banyak para blogger—pemula untuk tidak menyebut newbie dan mastah blogger di Trenggalek—menjadikan dirinya sebagai rujukan dan tempat untuk berdiskusi dan pengembangan dunia blogger, khhususnya di Trenggalek. Berbicara dunia pengembangan, ia telah banyak melakukan perubahan dan pengembangan di dunia digital. Salah satu kerja nyatanya adalah lahirnya pasar digital di Trenggalek atau dikenal dengan situs Paditren.com itu.
Pemuda harapanmertua bangsa ini hari-harinya dihabiskan menghadap layar datar saja. Diamnya Mas Trigus di depan komputer bukan serta-merta diam tanpa penghasilan. Ia sering ngilik-ngilik-i saya dengan transfer-an dari google dengan nominal jutaan. Sebuah hasil yang bisa buta nyambung urep bersama satu istri dan dua anaknya.
Apabila Anda ingin menjadikan rujukan tentang dunia blog, anak muda ini mudah dicari. Datang saja di kantor PAMA, maka Anda akan menemui penghuni tetap ini.
Tidak itu saja, duduk berdiam diri di depan meja bukan tanpa hasil. Ia membuat pengembangan UMKM di dunia digital untuk Trenggalek. Lewat pengembangan dunia digital tersebut, banyak produk UMKM dipasarkan melalui online. Pria kelahiran 28 tahun yang lalu ini juga pernah didaulat menjadi narasumber oleh Pemda Trenggalek, tentang pengembangan media sosial/ media online untuk UMKM.
Itu adalah kerja sosialnya. Melalui media mastrigus.com, ia telah mengumpulkan sekarung dolar dan recehan rupiah. Saya tidak tahu pasti berapa penghasilannya dalam satu bulan, yang ia hasilkan dari media itu. Namun ada sebuah blog, yang menuliskan bahwa penghasilan mastrigus.com bisa meraup 7,5 juta per bulan. Sebuah angka yang tak bakal diterima oleh mereka yang mengabdikan dirinya dalam lingkungan layanan publik.
Terlepas dari itu, ia jelas mengalami dimanika dunia nge-blog yang mudah untuk sampai di sini. Lewat dunia blog itulah ia berani dan sering memberi “judged” kepada teman-teman dekatnya. Berani-beraninya! Saya pernah diberi wejangan bahwa jangan dulu menginginkan Jenang apabila jeneng saja belum punya? Sebuah petuah yang penuh filosofis dan ke-bapak-an. Barangkali lahirnya ungkapan dari cangkemnya yang suka nyinyir itu karena ia sudah menjadi seorang bapak dari dua anak dan telah duluan mengetahui dunia passionnya tersebut.
Awal mula saya kenalan dengan Mas Trigus dari tak kesengajaan. Berawal dari posting-an yang saya unggah di media di pertengahan tahun 2016, tentang sepak bola, yang saya tulis di Fandom.id, ia berseloroh, yang mengatakan bahwa tulisan saya kurang data. Berawal dari itulah, kami intens komunikasi dan saling berbagi tulisan di nggalek.co—media tempat belajar kami—yang dipandegani oleh Misbahus Surur.
Lewat media daring inilah, pria kelahiran Desa Gemaharjo ini juga sering diundang di beberapa kegiatan dan kerap jadi pemateri. Berawal dari media nggalek.co dan situs mastrigus.com, ia telah mengubah dirinya sendiri dan bahkan orang lain. Sebab, bermula dari lambenya yang dancuk-i, banyak teman dekatnya ikut terjerumus di lembah sekte karungan dunia nge-blog, termasuk saya pribadi lantaran tergiur oleh bual-an aaaaahh (kudu misuh sak jruning ati).
Lewat tulisan ini, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih yang tak terhingga dengan lahirnya kembali masrokhim.com. Semoga tetap istiqomah membual sampai kamu menjadi DPR. Karena fans garis kerasmu di blogger siap mengantarkanmu di tampuk kekuasaan di anggota DPR. Iku lak targetmu ta, Gus? hahahahha....[]
Tabik.
Kenapa saya bilang seperti itu? Ada alasan mendasar soal dunia blog. Karena, ia sudah dua kali meracik blog pribadi saya sedemikian indah dan enak dikonsumsi (bacaannya). Yang pertama di akhir tahun 2016. Blog itu kemudian blog itu purna—matek tak terurus. Nah di awal tahun 2017 ini, saya memulai lagi untuk menulis—sebut saja—belajar dunia blog.
Di kesempatan yang kedua ini, peran Mas Trigus sangat vital. Karena semua perkara ube rampe tentang blog baru ini, dia-lah yang menanganinya. Mulai dari hal-hal kecil seperti menentukan nama blog, memilih konten sampai hal-hal mendasar tentang blog; templete, domain dan pemasangan tetek bengek nama-nama lain serta Google Adsense tidak bisa jauh dari tangan terampilnya.
Selain itu, ia tidak hanya merawat dan mengelola satu dua blog saja. Ia mengelola lebih dari tiga dan bahkan empat atau lima, enam blog selain blog pribadinya. Jika saya merawat satu blog saja bisa sampai purna alias matek di-banned google, maka melihat spartannya Mas Trigus mengelola blog sebanyak itu adalah tentuu itu bukan pekerjaan mudah.
Terlepas dari itu semua, banyak para blogger—pemula untuk tidak menyebut newbie dan mastah blogger di Trenggalek—menjadikan dirinya sebagai rujukan dan tempat untuk berdiskusi dan pengembangan dunia blogger, khhususnya di Trenggalek. Berbicara dunia pengembangan, ia telah banyak melakukan perubahan dan pengembangan di dunia digital. Salah satu kerja nyatanya adalah lahirnya pasar digital di Trenggalek atau dikenal dengan situs Paditren.com itu.
Pemuda harapan
Apabila Anda ingin menjadikan rujukan tentang dunia blog, anak muda ini mudah dicari. Datang saja di kantor PAMA, maka Anda akan menemui penghuni tetap ini.
Tidak itu saja, duduk berdiam diri di depan meja bukan tanpa hasil. Ia membuat pengembangan UMKM di dunia digital untuk Trenggalek. Lewat pengembangan dunia digital tersebut, banyak produk UMKM dipasarkan melalui online. Pria kelahiran 28 tahun yang lalu ini juga pernah didaulat menjadi narasumber oleh Pemda Trenggalek, tentang pengembangan media sosial/ media online untuk UMKM.
Itu adalah kerja sosialnya. Melalui media mastrigus.com, ia telah mengumpulkan sekarung dolar dan recehan rupiah. Saya tidak tahu pasti berapa penghasilannya dalam satu bulan, yang ia hasilkan dari media itu. Namun ada sebuah blog, yang menuliskan bahwa penghasilan mastrigus.com bisa meraup 7,5 juta per bulan. Sebuah angka yang tak bakal diterima oleh mereka yang mengabdikan dirinya dalam lingkungan layanan publik.
Terlepas dari itu, ia jelas mengalami dimanika dunia nge-blog yang mudah untuk sampai di sini. Lewat dunia blog itulah ia berani dan sering memberi “judged” kepada teman-teman dekatnya. Berani-beraninya! Saya pernah diberi wejangan bahwa jangan dulu menginginkan Jenang apabila jeneng saja belum punya? Sebuah petuah yang penuh filosofis dan ke-bapak-an. Barangkali lahirnya ungkapan dari cangkemnya yang suka nyinyir itu karena ia sudah menjadi seorang bapak dari dua anak dan telah duluan mengetahui dunia passionnya tersebut.
Awal mula saya kenalan dengan Mas Trigus dari tak kesengajaan. Berawal dari posting-an yang saya unggah di media di pertengahan tahun 2016, tentang sepak bola, yang saya tulis di Fandom.id, ia berseloroh, yang mengatakan bahwa tulisan saya kurang data. Berawal dari itulah, kami intens komunikasi dan saling berbagi tulisan di nggalek.co—media tempat belajar kami—yang dipandegani oleh Misbahus Surur.
Lewat media daring inilah, pria kelahiran Desa Gemaharjo ini juga sering diundang di beberapa kegiatan dan kerap jadi pemateri. Berawal dari media nggalek.co dan situs mastrigus.com, ia telah mengubah dirinya sendiri dan bahkan orang lain. Sebab, bermula dari lambenya yang dancuk-i, banyak teman dekatnya ikut terjerumus di lembah sekte karungan dunia nge-blog, termasuk saya pribadi lantaran tergiur oleh bual-an aaaaahh (kudu misuh sak jruning ati).
Lewat tulisan ini, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih yang tak terhingga dengan lahirnya kembali masrokhim.com. Semoga tetap istiqomah membual sampai kamu menjadi DPR. Karena fans garis kerasmu di blogger siap mengantarkanmu di tampuk kekuasaan di anggota DPR. Iku lak targetmu ta, Gus? hahahahha....[]
Tabik.
إرسال تعليق