Selepas pulang potong rambut, kami bertiga menyempatkan diri untuk mengabadikan momen bersama di landmark bertuliskan BSD City. Momen ini jarang kami lakukan secara bersamaan. Karena kesibukan masing-masing dan lelah setelah pulang bekerja, ditambah lagi selepas pulang kerja kita mencari dan menyediakan makan, momentum keluar bersama memang sangat minim. Hal ini saya rasa sangat berharga. Dan harus kami lakukan untuk menambah kehangatan dan kebersamaan antara kita.
Secara pribadi, saya memiliki keinginan untuk mengabadikan diri dalam sebuah gambar di bawah landmark itu. Keinginan itu sebenarnya sejak pertama menginjakan kaki di kota itu, di akhir tahun 2016. Di tahun itu, saya memang sangat menganggumi landmark yang menurut saya begitu meriah dengan pernak-pernik dan selalu terang kalau malam. Landmark ini pula yang menjadi simbol masuk di daerah industri dan pertokoan itu.
Saat itu pula, saya, Amir dan Ella mengambil foto dari berbagai sudut. Dalam hati saya, akhirnya kesampaian juga keinginan untuk mengabadikan gambar saya di landmark itu. Landmark ini begitu menarik perhatian saya. Tiap kali memperingati hari besar atau hari (momentum) tertentu tidak pernah absen untuk turut berbahagia dan memberi ucapan selamat atau ucapan lainnya.
Meski hasil foto dalam gawai tak indah tetapi, bagi saya, ini melebihi kenangan yang paling berkesan dalam hidup saya. Jujur saja, dalam kamus hidup saya, sebenarnya tak ada coretan meninggalkan kampung halaman. Tak ada niatan untuk menginjakan kaki di kota besar, seperti di BSD, Tangerang ini. Sebab itulah, saya foto di bawah tulisan berbahan dasar aklarik ini sangat mengesankan meski sebentar kami hidup di kota itu.
Nama BSD sebelumnya belum pernah saya dengar. Saya juga belum pernah melihatnya secara langsung di peta. Nama BSD baru saya ketahui setelah nyata-nyata saya berakrab-akrab-an secara langsung dengan wilayah dan masyarakatnya.
BSD akronim dari Bumi Serpong Damai (BSD) adalah salah satu kota terencana di Indonesia yang terletak di kecamatan Serpong, Tangerang Selatan. Sejak diresmikan pada 16 Januari 1984, kota ini menjadi kota terpesat perkembangannya. BSD City merupakan salah satu kota satelit dari Jakarta yang pada awalnya ditujukan untuk menjadi kota mandiri, di mana semua fasilitas disediakan di kota tersebut termasuk kawasan industri, perkantoran, perdagangan, pendidikan, wisata, sekaligus perumahan.
Kota itu memang direncanakan sebagai kota yang menampung beberapa keperluan yang berkaitan dengan kota Jakarta. Perencananya adalah Pasific Consultant International, Japan City Planning Inc, Nihon Architect Engineer and Consultant Inc, dan Doxiadis; dan developernya adalah Sinarmas Land, anak perusahaan dari kelompok perusahaan konglomerat di Indonesia, Sinarmas Group, yang bekerja di bidang properti.
Saat ini nama 'BSD' tidak mengacu ke sebuah singkatan, tetapi lebih berupa kata yang berdiri sendiri. Kelompok Sinar Mas lebih mempolulerkan nama BSD City sebagai pembeda dari developer sebelumnya, dan juga menambahkan slogan "Big City. Big Opportunity" untuk mempromosikan BSD City. Pada tahun 2005 kota ini telah memiliki 100.000 penduduk. Hingga kini, kota ini semakin pesat dan semakin moncer saja.
BSD City merupakan proyek kota terencana dengan total luas lahan terbesar di Indonesia, yaitu sebesar 6.000 hektar. Dalam total luas lahan yang maha luas ini, BSD City membagi tiga tahap pembangunan dari total luas lahan yang direncanakan. Tahap awal seluas 1.300 hektar. Tahap kedua akan dikembangkan seluas 2.400 hektaree dan sisanya seluas 2.300 hektar. BSD City memiliki beberapa pusat perbelanjaan seperti BSD Plaza, ITC BSD, BSD Junction, Giant Hypermarket BSD, AEON Mall dan Teraskota. Di sini juga beberapa tempat rekreasi menarik seperti Ocean Park Water Adventure seluas 7,5 hektaree yang merupakan salah satu Thematic Waterpark terbesar di Asia Tenggara. BSD City akan dihubungkan dengan 5 pintu tol, 2 di antaranya sudah dibuka sejak 1999.
Menikmati malam dan sekali-kali jalan bersama teman kerja adalah hal yang sangat tepat untuk merawat dan memelihara kebersamaan. Ini kami lakukan untuk melupakan kepenatan dan kejenuhan selepas kerja. Selain mengisi waktu di malam hari, kami memainkan waktu dan melipur hati yang sering risau. Karena sering tertekan saat bekerja, melupakan sejenak dengan menikmati malam adalah hal yang tepat.
Malam itu adalah malam di mana, kami (saya dan Ella) akan mengakhiri perjalanan dan mengarungi kehidupan di kota Tangerang ini. Sebenarnya, saya memiliki keinginan untuk mengabadikan tempat-tempat yang kunjungi. Namun karena keterbatasan waktu dan kesempatan, maka malam itulah yang sangat tepat untuk menikmati malam sebelum benar-benar meninggalkan kota yang memberi arti perjuangan dan kerasnya hidup di kota orang.
Meski ada perasaan sedih yang mendalam saat mau meninggalkan kota yang telah memberi arti hidup di kota rantau ini, kami tetap meninggalkan. Kami banyak sekali hidup di kota orang. Banyak sekali hal-hal kecil yang dapat kami pelajari. Meski ilmu kuliner—memasak tidak sempat saya pelajari—saya patut berterimakasih dengan kota ini. Selama sembilan bulan kami bertahan, meski banyak tantangan dan benturan, kota BSD memberi lebih dari segalanya. Mengajari kami untuk tetap bersabar, rendah hati dan tetap semangat menjalani hidup.
Kota yang terus kami kenang. Meski bayangannya akhir-akhirnya menyeruak. Bagi saya, Kota Tangerang adalah keinginan dan ketagihan yang selalu saya kenang. Malam itu adalah malam yang begitu dilematis bagi kami. Malam yang selalu saya kenang secara pribadi. Tak ada maksud untuk mengenang kota di bawah landmark itu. Yang pada malam itu, kami teriak, bersuara, dan mengeluarkan keunek-unekan selepas belenggu, di dekat landmark. Semoga kami ada kesempatan untuk menikmati kota itu kembali, meski tak sekarang. Semoga. []
Secara pribadi, saya memiliki keinginan untuk mengabadikan diri dalam sebuah gambar di bawah landmark itu. Keinginan itu sebenarnya sejak pertama menginjakan kaki di kota itu, di akhir tahun 2016. Di tahun itu, saya memang sangat menganggumi landmark yang menurut saya begitu meriah dengan pernak-pernik dan selalu terang kalau malam. Landmark ini pula yang menjadi simbol masuk di daerah industri dan pertokoan itu.
Saat itu pula, saya, Amir dan Ella mengambil foto dari berbagai sudut. Dalam hati saya, akhirnya kesampaian juga keinginan untuk mengabadikan gambar saya di landmark itu. Landmark ini begitu menarik perhatian saya. Tiap kali memperingati hari besar atau hari (momentum) tertentu tidak pernah absen untuk turut berbahagia dan memberi ucapan selamat atau ucapan lainnya.
Meski hasil foto dalam gawai tak indah tetapi, bagi saya, ini melebihi kenangan yang paling berkesan dalam hidup saya. Jujur saja, dalam kamus hidup saya, sebenarnya tak ada coretan meninggalkan kampung halaman. Tak ada niatan untuk menginjakan kaki di kota besar, seperti di BSD, Tangerang ini. Sebab itulah, saya foto di bawah tulisan berbahan dasar aklarik ini sangat mengesankan meski sebentar kami hidup di kota itu.
Nama BSD sebelumnya belum pernah saya dengar. Saya juga belum pernah melihatnya secara langsung di peta. Nama BSD baru saya ketahui setelah nyata-nyata saya berakrab-akrab-an secara langsung dengan wilayah dan masyarakatnya.
BSD akronim dari Bumi Serpong Damai (BSD) adalah salah satu kota terencana di Indonesia yang terletak di kecamatan Serpong, Tangerang Selatan. Sejak diresmikan pada 16 Januari 1984, kota ini menjadi kota terpesat perkembangannya. BSD City merupakan salah satu kota satelit dari Jakarta yang pada awalnya ditujukan untuk menjadi kota mandiri, di mana semua fasilitas disediakan di kota tersebut termasuk kawasan industri, perkantoran, perdagangan, pendidikan, wisata, sekaligus perumahan.
Kota itu memang direncanakan sebagai kota yang menampung beberapa keperluan yang berkaitan dengan kota Jakarta. Perencananya adalah Pasific Consultant International, Japan City Planning Inc, Nihon Architect Engineer and Consultant Inc, dan Doxiadis; dan developernya adalah Sinarmas Land, anak perusahaan dari kelompok perusahaan konglomerat di Indonesia, Sinarmas Group, yang bekerja di bidang properti.
Saat ini nama 'BSD' tidak mengacu ke sebuah singkatan, tetapi lebih berupa kata yang berdiri sendiri. Kelompok Sinar Mas lebih mempolulerkan nama BSD City sebagai pembeda dari developer sebelumnya, dan juga menambahkan slogan "Big City. Big Opportunity" untuk mempromosikan BSD City. Pada tahun 2005 kota ini telah memiliki 100.000 penduduk. Hingga kini, kota ini semakin pesat dan semakin moncer saja.
BSD City merupakan proyek kota terencana dengan total luas lahan terbesar di Indonesia, yaitu sebesar 6.000 hektar. Dalam total luas lahan yang maha luas ini, BSD City membagi tiga tahap pembangunan dari total luas lahan yang direncanakan. Tahap awal seluas 1.300 hektar. Tahap kedua akan dikembangkan seluas 2.400 hektaree dan sisanya seluas 2.300 hektar. BSD City memiliki beberapa pusat perbelanjaan seperti BSD Plaza, ITC BSD, BSD Junction, Giant Hypermarket BSD, AEON Mall dan Teraskota. Di sini juga beberapa tempat rekreasi menarik seperti Ocean Park Water Adventure seluas 7,5 hektaree yang merupakan salah satu Thematic Waterpark terbesar di Asia Tenggara. BSD City akan dihubungkan dengan 5 pintu tol, 2 di antaranya sudah dibuka sejak 1999.
Menikmati malam dan sekali-kali jalan bersama teman kerja adalah hal yang sangat tepat untuk merawat dan memelihara kebersamaan. Ini kami lakukan untuk melupakan kepenatan dan kejenuhan selepas kerja. Selain mengisi waktu di malam hari, kami memainkan waktu dan melipur hati yang sering risau. Karena sering tertekan saat bekerja, melupakan sejenak dengan menikmati malam adalah hal yang tepat.
Malam itu adalah malam di mana, kami (saya dan Ella) akan mengakhiri perjalanan dan mengarungi kehidupan di kota Tangerang ini. Sebenarnya, saya memiliki keinginan untuk mengabadikan tempat-tempat yang kunjungi. Namun karena keterbatasan waktu dan kesempatan, maka malam itulah yang sangat tepat untuk menikmati malam sebelum benar-benar meninggalkan kota yang memberi arti perjuangan dan kerasnya hidup di kota orang.
Meski ada perasaan sedih yang mendalam saat mau meninggalkan kota yang telah memberi arti hidup di kota rantau ini, kami tetap meninggalkan. Kami banyak sekali hidup di kota orang. Banyak sekali hal-hal kecil yang dapat kami pelajari. Meski ilmu kuliner—memasak tidak sempat saya pelajari—saya patut berterimakasih dengan kota ini. Selama sembilan bulan kami bertahan, meski banyak tantangan dan benturan, kota BSD memberi lebih dari segalanya. Mengajari kami untuk tetap bersabar, rendah hati dan tetap semangat menjalani hidup.
Kota yang terus kami kenang. Meski bayangannya akhir-akhirnya menyeruak. Bagi saya, Kota Tangerang adalah keinginan dan ketagihan yang selalu saya kenang. Malam itu adalah malam yang begitu dilematis bagi kami. Malam yang selalu saya kenang secara pribadi. Tak ada maksud untuk mengenang kota di bawah landmark itu. Yang pada malam itu, kami teriak, bersuara, dan mengeluarkan keunek-unekan selepas belenggu, di dekat landmark. Semoga kami ada kesempatan untuk menikmati kota itu kembali, meski tak sekarang. Semoga. []
إرسال تعليق