Beberapa hari ini, sosoknya jadi sorotan oleh nitizen setelah melakukan wawancara dengan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Namun ia adalah seorang wartawan senior, yang telah mewawancarai politisi. Oleh karena itu, ia sudah sangat pengalaman ketika menghadapi para politisi di meja di acara Mata Najwa.
Siapa yang tidak kenal dengan sosok perempuan yang memiliki mata tajam bila memandang? Iya, benar, Najwa Shihab. Barangkali perbandingannya hanya seribu satu. Artinya, dari seribu orang hanya satu orang yang tidak mengenal perempuan yang satu ini. Perempuan yang terkenal lewat talkshow Mata Najwa, yang sering mewawancarai tokoh-tokoh penting dan mengulas isu-isu yang sedang menjadi sorotan publik.
Najwa Shihab adalah seorang alumnus Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Sebagai sarjana hukum ia tidak sepenuhnya terjun dalam kancah advokasi atau lawyer seperti kebanyakan orang, tetapi dia lebih tertarik dengan dunia jurnalistik. Dunia jurnalistik, yang diawalinya sebagai wartawan di stasiun televisi swasta, ia "magang" sebagai reporter. Televisi yang menjadi awal sebagai wartawan televisi adalah RCTI. Dan, setelah ada televisi berita baru, ia pun melamar dan hasilnya diterima, yakni stasiun televisi baru (waktu itu) sebagai reporter pertama. Sebelum mendapatkan program sendiri, Nana--sapaan akrabnya--memandu dan menjadi anchor program berita Prime Time Metro Hari Ini dan Program Talk Show Today's Dialogue.
Namun kepiawaiannya sebagai pembaca acara yang dinanti-nanti pemirsa, dilihat dari latar belakang keluarganya tidak ada yang menjadi jurnalis. Keluarga besarnya kebanyakan berprofesi sebagai pedagang, pendidik, dan politis. Dari bapaknya adalah seorang pendidik dan ulama. Bahkan, kakeknya Habib Abdul Rahman adalah seorang mantan Rektor Universitas Islam Negeri Makassar. Passion sebagai jurnalis adalah insiatif sendiri. Baginya, jurnalistik adalah dunia yang menyenangkan.
Kepandaiannya ketika mencecar pertanyaan kepada tokoh-tokoh tamu dalam acara di Mata Najwa itu, adalah produk dari pendidikan di lingkungan keluarganya. Terlihat, semasa duduk di bangku sekolah, Nana dikenal sebagai siswa yang cerdas. Kecerdasan akademiknya pun, ia mendapat penghargaan program pertukaran pelajar dari AFS (America Field Service). Program Pertukaran pelajar ke Amerika Serikat semasa duduk di bangku kelas dua SMU.
Anak dari lima bersaudara ini tidak menapaki jalan kesuksesan begitu saja. Ia terinspirasi dari sosok Ayahnya, yang juga sebagai intelektual muslim Indonesia. Quraish Shihab mengajarkan arti penting menjadi kehidupan hingga menapaki tangga kesuksesan sebagai jurnalis dengan segudang pengalaman dan prestasi. Dari sosok orang tuanya, ia banyak belajar tentang arti kedisiplinan dan ketekunan. Anak dari pakar tafsir, yang terkenal dengan tafsir al-Misbah ini mengajari pribadi yang tekun, baik dan santun. Ia bisa belajar dari kebiasaan bapaknya, yang setelah shalat Subuh, langsung duduk di depan komputer, menulis dan membaca. "Kebiasaan Abi (panggilan pada Ayah) sampai sekarang masih terkesan bagi diri saya. Ia sosok bapak yang rajin," tutur dari istri Ibrahim Syarief Assegaf. Berkat kedisiplinan dan ketekunan yang diwarisi sang Ayah itu, Najwa berhasil meraih kesuksesan sebagai seorang jurnalis yang segudang prestasi.
Prestasi yang diterimanya atas keuletan dan ketajaman dalam daya kritis memberikan laporan liputan. Hingga pada tahun 2004 sedang terjadi peristiwa yang sangat emosional, Nana tetap tajam dan aktual dari meliput berita Tsunami di Aceh ketika itu. Hingga, atas dasar itulah, ia Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 2 Februari 2005 memberikan penghargaan kepadanya. Tidak itu saja, pada Hari Pers Nasional (HPN), ia juga meraih penghargaan HPN Award, pada 9 Februari di Pekanbaru, Riau.
Penghargaan untuknya pun tidak datang dari itu saja, dari Pakar Komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali pernah menyitir judul film drama komedi terkenal Amerika, Kramer Vs Kramer, dan bagi Effendi Ghazali menganalogikan menjadi "Shihab Vs Shihab". "Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kersa Alwi Shihab," Kata Effendi Ghazali. Ia menggambarkan bagaimana Najwa Shihab tetap garang dalam menyuarakan kepentingan rakyat atau publik dan korban Tsunami di Aceh.
Keberhasilannya terjun di lapangan membawa imbas dalam membawakan acara talkshow yang ia motori sendiri. Selama sepuluh tahun menjadi presenter berita, ia akhirnya memiliki kepercayaan diri untuk memiliki acara sendiri. Apalagi kalau bukan 'Mata Najwa' talkshow yang ditunggu-tunggu khalayak. Dengan gayaa yang khasnya, acara ini menjadi salah satu acar favorit pemirsa televisi. Ciri khasnya yang begitu pandai memberikan statement, tidak sedikit bintang tamu kelimpungan di buatnya. Bahkan dengan cecaran pertanyaan membuat isu-isu yang panas menjadi menarik untuk terus dibahas. Tidak jarang pertanyaannya yang 'frontal' menjadikan semangat bagi pemirsa dan membuat kebingungan bagi yang jawab.
Di balik kesuksesan acara yang dipandu dengan nama 'Mata Najwa' memang berasal dari ciri khas dari fisik yang pada dirinya, yakni, mata. Inspirasi lahirnya acara talkshow tersebut memang representatif dari ketajaman dalam melihat dan ketajaman dalam menganalisis permasalahan. Memang, Najwa dianugerahi mata yang bulat dan besar. Dari mata yang menjadi daya tarik tersebut, membuatnya menjadi 'mata-mata' dalam acara 'Mata Najwa'. Berangkat dari mata si Najwa itu, ia berharap pemirsa bisa menitipkan pesan.
Bukan hanya mata secara fisik yang menjadi daya tarik, tapi ada nilai lain di balik 'Mata Najwa', yakni mata hati dan mata akal. Dengan mata hati, ia berharap bisa menyentuh dan menginspirasi banyak orang. Dan mampu menyentuh pula sisi hati yang lain. Pun dengan mata akal, dengan banyak akal, ia berharap mampu memberikan hipotesis yang tidak terduga. Sehingga mampu merangsang permasalahan yang belum terendus dari sisi yang dalam. 'Mata-mata' Najwa inilah yang ingin ditonjolkan. Dari filosofi mata ini, Najwa ingin memperlihatkan yang belum terlihat. "Lewat 'Mata Najwa' kita melihat yang belum terlihat. Mungkin sudah pernah dilihat tapi melalui sudut mata berbeda," ujar lulusan Master Hukum Media Melbourne Law School ini.
Ibarat mata-mata, mata Najwa terus berusaha untuk mencari informasi dan komunikasi. Mata-mata memang identik dengan bidang yang mencari tahu banyak informasi. Sehingga, ia pun mau tidak mau harus 'mengutip' di belakangnya. Ketajaman 'mata-mata' Najwa itu, ia sadar, ia harus mengupgrade dan harus banyak menggali potensi diri serta mengasah kemampuannya, salah satunya dengan membaca.
Dari kesuksesan yang didapatkannya, tidak terlepas dari sikap ketekunan dan kedisiplinannya. Dan tidak mau disetir oleh pemilik modal. Maksudnya, acara talkshow Mata Najwa diberi kebebasan dalam menentukan tema. Sebagai pembawa acara, Najwa berambisi menjadi seperti Oprah Winfrey. Ia sangat mengagumi sosok Oprah karena berasal dari keluarga miskin dan termarginalkan. "Semua orang yang bekerja di televisi pasti ingin seperti Oprah. Sempat dicap sebagai warga negara kelas dua, kini sosok Oprah masuk dalam daftar orang yang berpengaruh di Amerika. Sampai-sampai presiden ingin datang ke talk show-nya," katanya.
Dari mata-mata yang dimiliki Najwa Shihab itu, semoga memberikan informasi yang mampu bermanfaat bagi orang lain dan membukakan pintu baru untuk menghindarkan solusi dalam satu meja. Dan keluar dengan solusi yang disepakati. Melalui mata-mata itu pula, semoga mampu memberikan informasi yang tidak sekedar basi tetapi patut untuk dirundingkan, karena mata si mata najwa melihat dari mata yang berbeda.[]
Sumber: www.tokohindonesia.com
Siapa yang tidak kenal dengan sosok perempuan yang memiliki mata tajam bila memandang? Iya, benar, Najwa Shihab. Barangkali perbandingannya hanya seribu satu. Artinya, dari seribu orang hanya satu orang yang tidak mengenal perempuan yang satu ini. Perempuan yang terkenal lewat talkshow Mata Najwa, yang sering mewawancarai tokoh-tokoh penting dan mengulas isu-isu yang sedang menjadi sorotan publik.
Najwa Shihab adalah seorang alumnus Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Sebagai sarjana hukum ia tidak sepenuhnya terjun dalam kancah advokasi atau lawyer seperti kebanyakan orang, tetapi dia lebih tertarik dengan dunia jurnalistik. Dunia jurnalistik, yang diawalinya sebagai wartawan di stasiun televisi swasta, ia "magang" sebagai reporter. Televisi yang menjadi awal sebagai wartawan televisi adalah RCTI. Dan, setelah ada televisi berita baru, ia pun melamar dan hasilnya diterima, yakni stasiun televisi baru (waktu itu) sebagai reporter pertama. Sebelum mendapatkan program sendiri, Nana--sapaan akrabnya--memandu dan menjadi anchor program berita Prime Time Metro Hari Ini dan Program Talk Show Today's Dialogue.
Namun kepiawaiannya sebagai pembaca acara yang dinanti-nanti pemirsa, dilihat dari latar belakang keluarganya tidak ada yang menjadi jurnalis. Keluarga besarnya kebanyakan berprofesi sebagai pedagang, pendidik, dan politis. Dari bapaknya adalah seorang pendidik dan ulama. Bahkan, kakeknya Habib Abdul Rahman adalah seorang mantan Rektor Universitas Islam Negeri Makassar. Passion sebagai jurnalis adalah insiatif sendiri. Baginya, jurnalistik adalah dunia yang menyenangkan.
Kepandaiannya ketika mencecar pertanyaan kepada tokoh-tokoh tamu dalam acara di Mata Najwa itu, adalah produk dari pendidikan di lingkungan keluarganya. Terlihat, semasa duduk di bangku sekolah, Nana dikenal sebagai siswa yang cerdas. Kecerdasan akademiknya pun, ia mendapat penghargaan program pertukaran pelajar dari AFS (America Field Service). Program Pertukaran pelajar ke Amerika Serikat semasa duduk di bangku kelas dua SMU.
Anak dari lima bersaudara ini tidak menapaki jalan kesuksesan begitu saja. Ia terinspirasi dari sosok Ayahnya, yang juga sebagai intelektual muslim Indonesia. Quraish Shihab mengajarkan arti penting menjadi kehidupan hingga menapaki tangga kesuksesan sebagai jurnalis dengan segudang pengalaman dan prestasi. Dari sosok orang tuanya, ia banyak belajar tentang arti kedisiplinan dan ketekunan. Anak dari pakar tafsir, yang terkenal dengan tafsir al-Misbah ini mengajari pribadi yang tekun, baik dan santun. Ia bisa belajar dari kebiasaan bapaknya, yang setelah shalat Subuh, langsung duduk di depan komputer, menulis dan membaca. "Kebiasaan Abi (panggilan pada Ayah) sampai sekarang masih terkesan bagi diri saya. Ia sosok bapak yang rajin," tutur dari istri Ibrahim Syarief Assegaf. Berkat kedisiplinan dan ketekunan yang diwarisi sang Ayah itu, Najwa berhasil meraih kesuksesan sebagai seorang jurnalis yang segudang prestasi.
Prestasi yang diterimanya atas keuletan dan ketajaman dalam daya kritis memberikan laporan liputan. Hingga pada tahun 2004 sedang terjadi peristiwa yang sangat emosional, Nana tetap tajam dan aktual dari meliput berita Tsunami di Aceh ketika itu. Hingga, atas dasar itulah, ia Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 2 Februari 2005 memberikan penghargaan kepadanya. Tidak itu saja, pada Hari Pers Nasional (HPN), ia juga meraih penghargaan HPN Award, pada 9 Februari di Pekanbaru, Riau.
Penghargaan untuknya pun tidak datang dari itu saja, dari Pakar Komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendi Ghazali pernah menyitir judul film drama komedi terkenal Amerika, Kramer Vs Kramer, dan bagi Effendi Ghazali menganalogikan menjadi "Shihab Vs Shihab". "Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kersa Alwi Shihab," Kata Effendi Ghazali. Ia menggambarkan bagaimana Najwa Shihab tetap garang dalam menyuarakan kepentingan rakyat atau publik dan korban Tsunami di Aceh.
Keberhasilannya terjun di lapangan membawa imbas dalam membawakan acara talkshow yang ia motori sendiri. Selama sepuluh tahun menjadi presenter berita, ia akhirnya memiliki kepercayaan diri untuk memiliki acara sendiri. Apalagi kalau bukan 'Mata Najwa' talkshow yang ditunggu-tunggu khalayak. Dengan gayaa yang khasnya, acara ini menjadi salah satu acar favorit pemirsa televisi. Ciri khasnya yang begitu pandai memberikan statement, tidak sedikit bintang tamu kelimpungan di buatnya. Bahkan dengan cecaran pertanyaan membuat isu-isu yang panas menjadi menarik untuk terus dibahas. Tidak jarang pertanyaannya yang 'frontal' menjadikan semangat bagi pemirsa dan membuat kebingungan bagi yang jawab.
Di balik kesuksesan acara yang dipandu dengan nama 'Mata Najwa' memang berasal dari ciri khas dari fisik yang pada dirinya, yakni, mata. Inspirasi lahirnya acara talkshow tersebut memang representatif dari ketajaman dalam melihat dan ketajaman dalam menganalisis permasalahan. Memang, Najwa dianugerahi mata yang bulat dan besar. Dari mata yang menjadi daya tarik tersebut, membuatnya menjadi 'mata-mata' dalam acara 'Mata Najwa'. Berangkat dari mata si Najwa itu, ia berharap pemirsa bisa menitipkan pesan.
Bukan hanya mata secara fisik yang menjadi daya tarik, tapi ada nilai lain di balik 'Mata Najwa', yakni mata hati dan mata akal. Dengan mata hati, ia berharap bisa menyentuh dan menginspirasi banyak orang. Dan mampu menyentuh pula sisi hati yang lain. Pun dengan mata akal, dengan banyak akal, ia berharap mampu memberikan hipotesis yang tidak terduga. Sehingga mampu merangsang permasalahan yang belum terendus dari sisi yang dalam. 'Mata-mata' Najwa inilah yang ingin ditonjolkan. Dari filosofi mata ini, Najwa ingin memperlihatkan yang belum terlihat. "Lewat 'Mata Najwa' kita melihat yang belum terlihat. Mungkin sudah pernah dilihat tapi melalui sudut mata berbeda," ujar lulusan Master Hukum Media Melbourne Law School ini.
Ibarat mata-mata, mata Najwa terus berusaha untuk mencari informasi dan komunikasi. Mata-mata memang identik dengan bidang yang mencari tahu banyak informasi. Sehingga, ia pun mau tidak mau harus 'mengutip' di belakangnya. Ketajaman 'mata-mata' Najwa itu, ia sadar, ia harus mengupgrade dan harus banyak menggali potensi diri serta mengasah kemampuannya, salah satunya dengan membaca.
Dari kesuksesan yang didapatkannya, tidak terlepas dari sikap ketekunan dan kedisiplinannya. Dan tidak mau disetir oleh pemilik modal. Maksudnya, acara talkshow Mata Najwa diberi kebebasan dalam menentukan tema. Sebagai pembawa acara, Najwa berambisi menjadi seperti Oprah Winfrey. Ia sangat mengagumi sosok Oprah karena berasal dari keluarga miskin dan termarginalkan. "Semua orang yang bekerja di televisi pasti ingin seperti Oprah. Sempat dicap sebagai warga negara kelas dua, kini sosok Oprah masuk dalam daftar orang yang berpengaruh di Amerika. Sampai-sampai presiden ingin datang ke talk show-nya," katanya.
Dari mata-mata yang dimiliki Najwa Shihab itu, semoga memberikan informasi yang mampu bermanfaat bagi orang lain dan membukakan pintu baru untuk menghindarkan solusi dalam satu meja. Dan keluar dengan solusi yang disepakati. Melalui mata-mata itu pula, semoga mampu memberikan informasi yang tidak sekedar basi tetapi patut untuk dirundingkan, karena mata si mata najwa melihat dari mata yang berbeda.[]
Sumber: www.tokohindonesia.com
Posting Komentar