Kearifan adalah uraian kalimat singkat yang mengandung arti dan makna yang dalam. Di mana makna yang dikandung di dalamnya, terkadang memiliki pemikiran-pemikiran yang datang dan menghadirkan pencerahan jiwa, akal bahkan nurani orang. Kearifan Lokal atau lebih dikenal dengan sebutan wisdom, seperti itu biasanya bukan produk sekolah, tetapi suatu upaya yang dicari atau direnungkan sepanjang hidup atau hasil kontemplasi dari pengalaman hidup seseorang.
Konon, seseorang bisa menjadi arif atau bijaksana setelah ia mencari dan menemukan sesuatu dalam dirinya. Bahwa, meski menemukan sesuatu itu sebenarnya dia tidak merasa dan mengetahui apa-apa dalam dirinya. Hal ini hanya bisa terjadi pada orang yang benar-benar mencari makna hidup dan ingin menjadi lebih baik lagi dalam hidupnya. Ia terus berupaya merenungi kehidupannya dan mencoba memahami keberadaan dirinya, tujuan hidupnya, dan tentunya dari akhir dari kehdidupannya, atau bahasa sehari-harinya adalah sangkan paran dumadi.
Misalnya, pidato yang mengglegar dari Ir. Soekarno, bisa perhatikan dan renungilah, bahwa ungkapan, "Negara Republik Indonesia, bukan milik kelompok manapun, tidak juga milik agama apapun, atau pun kelompok etnis, bukan milik kelompok dengan budaya dan tradisi, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!
Ia bisa mengungkap dan menyampaikan kata-kata yang penuh dengan patriotisme ini bukan hanya di dapat hanya dari bangku sekolahan, tetapi hasil dari kontemplasi dan melihat dari realitas yang ada. Ungkapan tersebut adalah salah satu wujud wisdom atau kearifan lokal yang keluar dari dalam diri sang pemimpin seperti Bung Karno.
Dewasa ini, kita tidak akan kesulitan mencari orang pandai atau pintar. Namun, sayang--sungguh sangat disayangkan--orang pintar atau orang pandai itu orang-orang partai; misalnya saja, orang Partai Demokrat, orang Partai Pdi-P, orang Golkar, dan orang-orang yang katanya wakil rakyat itu, ia sebenarnya bisa dikatakan bukan orang Indonesia seutuhnya, meski kita mendengar kata-kata bahwa ia mewakili suara rakyat tetapi pada faktanya hanya mewakili segelitir rakyat pada golongannya sendiri
Jadi apapun hasil yang telah dicapai maka kembalinya pun ke rakyat. Namun rakyat yang mana? Mana lagi kalau bukan rakyat dari partai-partai itu.
Membangun Wisdom dalam Diri
"Rakyat jangan mau hanya jadi rakyat. Negeri kita ini kaya, kaya dan kaya raya, saudara-saudara! Berjiwa besarlah, ber-imagination. Gali! Bekerja! Gali! Bekerja!
Kita adalah suatu tanah air yang paling cantik di dunia. Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga! Perhatikan, perhatikan keadaan! sedapat mungkin.
Carilah pelajaran dari hal-hal ini semuanya, walau dulu dengan bambu runcing, Saudara-saudara kita semua siap bersedia dengan tumpah darah hingga mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, maka pekerjaan raksasa kita adalah membangun Negara dan Tanah air dan ingin memiliki bangsa yang besar, maka mempunyai kehendak bekerja, dan perlu juga mempunyai imagination.
Gitu aja kok repot. Siapa lagi kalau bukan KH. Abdurrahman Wahid. Kita harus memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya, begitu kiranya.
Manusia adalah makhluk sosial yang dibekali alat untuk berpikir. Berpikir dan bersyukur atas segala kekayaan dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Akan tetapi, kita ini celaka. 70 persen tanah air kita laut, tetapi garam saja impor. "Kalau bodoh sih nggak apa-apa, tetapi kalau disengaja kok bodoh. Saya tahu impor setiap satu ton dapat 10 dolar. Jadi, impor itu hanya menguntungkan yang impor saja," guyonan khas dari Gus Dur.
Jelas, ungkapan yang keluar dari mulut orang-orang besar di atas tidak semudah mengeluarkan kotoran dalam diri kita. Mereka sudah teruji ke-intelektualitas-nya, kebesaran, dan telah lolos uji seleksi dari sorotan masyarakat dunia. Mereka juga besar tidak hanya dirinya, melainkan besar karena pengakuan dari masyarakat luas, yang telah merasakan suntikan kontribusi dari sikap dan sifatnya yang bermanfaat bagi orang banyak, yang jelas mereka besar mampu membangun kearifan lokal yang ditempa di lingkungan mereka hidup.
Mereka lahir bukan begitu saja dibesarkan, tetapi mereka lahir karena tempaan yang telah ia rasakan. Tempaan yang tidak hanya diproses selama satu hari dua hari. Melainkan, tiada hari tanpa proses pengadilan dari masyarakat dan karena kesadaran merdeka sendiri atas pergaulan pemikirannya. Atas pergaulan pemikirannya pulalah mereka bisa mengekspresikan apa yang ia rasa tidak seusai dengan biasanya, normatif. Karena kearifan lokal seseorang itulah yang membuat pribadi orang besar itu lahir dan diamini oleh orang banyak. []
Konon, seseorang bisa menjadi arif atau bijaksana setelah ia mencari dan menemukan sesuatu dalam dirinya. Bahwa, meski menemukan sesuatu itu sebenarnya dia tidak merasa dan mengetahui apa-apa dalam dirinya. Hal ini hanya bisa terjadi pada orang yang benar-benar mencari makna hidup dan ingin menjadi lebih baik lagi dalam hidupnya. Ia terus berupaya merenungi kehidupannya dan mencoba memahami keberadaan dirinya, tujuan hidupnya, dan tentunya dari akhir dari kehdidupannya, atau bahasa sehari-harinya adalah sangkan paran dumadi.
Misalnya, pidato yang mengglegar dari Ir. Soekarno, bisa perhatikan dan renungilah, bahwa ungkapan, "Negara Republik Indonesia, bukan milik kelompok manapun, tidak juga milik agama apapun, atau pun kelompok etnis, bukan milik kelompok dengan budaya dan tradisi, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!
Ia bisa mengungkap dan menyampaikan kata-kata yang penuh dengan patriotisme ini bukan hanya di dapat hanya dari bangku sekolahan, tetapi hasil dari kontemplasi dan melihat dari realitas yang ada. Ungkapan tersebut adalah salah satu wujud wisdom atau kearifan lokal yang keluar dari dalam diri sang pemimpin seperti Bung Karno.
Dewasa ini, kita tidak akan kesulitan mencari orang pandai atau pintar. Namun, sayang--sungguh sangat disayangkan--orang pintar atau orang pandai itu orang-orang partai; misalnya saja, orang Partai Demokrat, orang Partai Pdi-P, orang Golkar, dan orang-orang yang katanya wakil rakyat itu, ia sebenarnya bisa dikatakan bukan orang Indonesia seutuhnya, meski kita mendengar kata-kata bahwa ia mewakili suara rakyat tetapi pada faktanya hanya mewakili segelitir rakyat pada golongannya sendiri
Jadi apapun hasil yang telah dicapai maka kembalinya pun ke rakyat. Namun rakyat yang mana? Mana lagi kalau bukan rakyat dari partai-partai itu.
Membangun Wisdom dalam Diri
"Rakyat jangan mau hanya jadi rakyat. Negeri kita ini kaya, kaya dan kaya raya, saudara-saudara! Berjiwa besarlah, ber-imagination. Gali! Bekerja! Gali! Bekerja!
Kita adalah suatu tanah air yang paling cantik di dunia. Buka mata, Buka mata! Buka otak! Buka telinga! Perhatikan, perhatikan keadaan! sedapat mungkin.
Carilah pelajaran dari hal-hal ini semuanya, walau dulu dengan bambu runcing, Saudara-saudara kita semua siap bersedia dengan tumpah darah hingga mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, maka pekerjaan raksasa kita adalah membangun Negara dan Tanah air dan ingin memiliki bangsa yang besar, maka mempunyai kehendak bekerja, dan perlu juga mempunyai imagination.
Gitu aja kok repot. Siapa lagi kalau bukan KH. Abdurrahman Wahid. Kita harus memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya, begitu kiranya.
Manusia adalah makhluk sosial yang dibekali alat untuk berpikir. Berpikir dan bersyukur atas segala kekayaan dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Akan tetapi, kita ini celaka. 70 persen tanah air kita laut, tetapi garam saja impor. "Kalau bodoh sih nggak apa-apa, tetapi kalau disengaja kok bodoh. Saya tahu impor setiap satu ton dapat 10 dolar. Jadi, impor itu hanya menguntungkan yang impor saja," guyonan khas dari Gus Dur.
Jelas, ungkapan yang keluar dari mulut orang-orang besar di atas tidak semudah mengeluarkan kotoran dalam diri kita. Mereka sudah teruji ke-intelektualitas-nya, kebesaran, dan telah lolos uji seleksi dari sorotan masyarakat dunia. Mereka juga besar tidak hanya dirinya, melainkan besar karena pengakuan dari masyarakat luas, yang telah merasakan suntikan kontribusi dari sikap dan sifatnya yang bermanfaat bagi orang banyak, yang jelas mereka besar mampu membangun kearifan lokal yang ditempa di lingkungan mereka hidup.
Mereka lahir bukan begitu saja dibesarkan, tetapi mereka lahir karena tempaan yang telah ia rasakan. Tempaan yang tidak hanya diproses selama satu hari dua hari. Melainkan, tiada hari tanpa proses pengadilan dari masyarakat dan karena kesadaran merdeka sendiri atas pergaulan pemikirannya. Atas pergaulan pemikirannya pulalah mereka bisa mengekspresikan apa yang ia rasa tidak seusai dengan biasanya, normatif. Karena kearifan lokal seseorang itulah yang membuat pribadi orang besar itu lahir dan diamini oleh orang banyak. []
إرسال تعليق