Amunisi. Berbicara tentang amunisi tidak bisa lepas dengan senjata. Senjata adalah salah satu kekuatan untuk mengalahkan dan melumpuhkan lawan. Dengan amunisi itulah kita bisa berjaya juga memenangkan musuh-musuh yang sedang menghadang. Karena amunisi adalah faktor penguat. Penguat diri maupun teman dalam medan perang.
Berbicara amunisi, saya memiliki dua buah buku yang judulnya hampir sama, yang intinya membahas tentang ihwal menulis. Memiliki buku memang sama halnya memiliki amunisi. Sebab, dengan buku data, gagasan, dan ide bisa dikembangkan dengan buku tersebut. Pendek kata, buku menjadi penambah daya dan upaya dalam menggagas ide yang sedang kita pikirkan. Apabila kita sedang memiliki ide atau gagasan mengenai sesuatu hal membutuhkan data dari sebuah referensi, maka buku layak menjadi teman dan pelengkap.
Dengan adanya buku, kreativitas dalam berkarya, semisal menulis dapat berkembang dan kuat. Kuat dalam arti mempunyai analisis peristiwa sesuatu yang relevan dengan apa yang sedang kita tuliskan. Semakin banyak referensi buku yang kita miliki semakin mudah kita dalam bekerja atau menulis. Semakin banyak buku yang kita punyai semakin dinamis karya tersebut.
Menulis memang harus memiliki data yang relevan dengan apa yang kita tulis. Misal, saya sedang menulis sebuah catatan atau artikel seperti ini, ya, minimal harus memiliki data atau buku untuk memperkuat argumen dan improvisasi. Dengan improvisasi dari buku-buku yang sesuai dengan tema yang sedang dihadapi maka tulisan akan jadi menarik atau berkembang.
Buku yang sesuai dengan tema ini, tema amunisi dalam menulis, yang saya koleksi menjadi amunisi dalam menghadapi tantangan menulis. Padahal sejatinya menulis itu mengasyikkan, tetapi harus butuh amunisi untuk membangkitkan ghairah menulis.
Buku yang memiliki judul yang hampir mirip tapi dengan data itu membuat tulisan saya semakin hidup dan kaya argumentasi tentang ikhwal menulis. Sehingga menulis itu sungguh mengasyikkan.
Saya akan mengutip pendapat penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan, bagaimana tanggapannya tentang menulis itu? Pendapat ini saya kutip dari Andrias Harefa dalam bukunya yang berjudul Happy Writing: 50 Kiat Agar Bisa Menulis dengan "Ngasyik" (2010: xiii)
Bagi pendiri Komunitas Writing Schoolen ini, "Menulis adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan sulit didefinisikan dengan kata-kata. Proses menulis, dalam banyak kasus, membawanya ke dalam percengkeraman dengan kekekalan. Artinya, menulis membuat saya melayang dan terbang dari kefanaan, lalu bercengkrama dengan alam ide, dunia maya, alam batin yang non-aktif, di mana ruang dan waktu tak berfungsi sebagaimana di alam nyata (fisik)."
Saking asyiknya, Andrias Harefa tidak mendengar suara di sekitarnya. Ia tidak bisa berhenti menulis walau ada suara yang menggema di dekatnya. Pernah, ia menulis sebuah tulisan dari jam 7 malam hingga jam 7 pagi. Non stop. Tanpa berdiri sekali pun. Tanpa makan dan minum. Selama 12 jam itu, ia serasa diikat oleh waktu. Merasakan betapa asyiknya menulis itu. Apabcila bila ide sudah berkelindan, tidak mustahil, seseorang lupa akan waktu. Dan lupa sudah dengan aktivitas lalu lalang lingkungan sekitar.
Sementara itu, buku yang ditulis oleh Radinal Mukhtar Harahap dengan judul yang lebih santai ini nan asyik ini lebih condong bercerita tentang asyiknya menulis karena banyak teman. Dengan eksis dalam dunia tulis-menulis, ia bisa mengenal banyak orang yang sebelumnya tidak pernah ia jumpai dan dengan membaca tulisan penulis tentu, ia bisa berkenalan dengan, misal, pak Hernowo Hashim, pak Bambang Trim, mas Tasaro GK, dan lain sebagainya. Dengan tulisan kita bisa bersilaturahmi, seperti sebagaimana hadits, "bersilaturrahim bisa memperpanjang umur."
Bagi saya, sebagaimana yang telah saya jelas tulisan saya yang berjudul Media Penghibur, menulis memang mendapatkan kepuasan material dan imaterial/spiritual. Karena menulis berjuang dalam ranah jiwa dan raga. Dakwah bil qolam. Berdakwah melalui tulisan/ pena.
Dan juga sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan suka maupun duka. Tulisan bisa sebagai tempat untuk menuangkan perasaan kita. Karena perasaan akan luluh apabila diutarakan. Dengan menulis, perasaan akan tersublim dengan tidak merugikan orang di sekitarnya.
Selain itu, menulis juga mendatangkan kepuasaan yang bersifat mental dan material. Bersifat mental karena tulisan terkait dengan intelektualitas, cogito ergo sum. Dan bersifat spiritual karena tulisan bermain di wilayah makna, mengejawantahkan keberadaan saya sebagai homo significant, sang pemberi makna, yang keberadaannya juga disebabkan oleh kepercayaan atas "sesuatu" yang lebih besar dari dirinya, credo ergo sum. Karena itu, menulis itu menumbuhkan keasyikan dan manfaat bagi kita sendiri dan orang lain. Sebab, menulis, sebagaimana amunisi/ bacaan untuk meningkatkan kualitas dan keyakinan (spiritualitas) dalam mengemas ide dan gagasan.[]
Berbicara amunisi, saya memiliki dua buah buku yang judulnya hampir sama, yang intinya membahas tentang ihwal menulis. Memiliki buku memang sama halnya memiliki amunisi. Sebab, dengan buku data, gagasan, dan ide bisa dikembangkan dengan buku tersebut. Pendek kata, buku menjadi penambah daya dan upaya dalam menggagas ide yang sedang kita pikirkan. Apabila kita sedang memiliki ide atau gagasan mengenai sesuatu hal membutuhkan data dari sebuah referensi, maka buku layak menjadi teman dan pelengkap.
Dengan adanya buku, kreativitas dalam berkarya, semisal menulis dapat berkembang dan kuat. Kuat dalam arti mempunyai analisis peristiwa sesuatu yang relevan dengan apa yang sedang kita tuliskan. Semakin banyak referensi buku yang kita miliki semakin mudah kita dalam bekerja atau menulis. Semakin banyak buku yang kita punyai semakin dinamis karya tersebut.
Menulis memang harus memiliki data yang relevan dengan apa yang kita tulis. Misal, saya sedang menulis sebuah catatan atau artikel seperti ini, ya, minimal harus memiliki data atau buku untuk memperkuat argumen dan improvisasi. Dengan improvisasi dari buku-buku yang sesuai dengan tema yang sedang dihadapi maka tulisan akan jadi menarik atau berkembang.
Buku yang sesuai dengan tema ini, tema amunisi dalam menulis, yang saya koleksi menjadi amunisi dalam menghadapi tantangan menulis. Padahal sejatinya menulis itu mengasyikkan, tetapi harus butuh amunisi untuk membangkitkan ghairah menulis.
Buku yang memiliki judul yang hampir mirip tapi dengan data itu membuat tulisan saya semakin hidup dan kaya argumentasi tentang ikhwal menulis. Sehingga menulis itu sungguh mengasyikkan.
Saya akan mengutip pendapat penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan, bagaimana tanggapannya tentang menulis itu? Pendapat ini saya kutip dari Andrias Harefa dalam bukunya yang berjudul Happy Writing: 50 Kiat Agar Bisa Menulis dengan "Ngasyik" (2010: xiii)
Bagi pendiri Komunitas Writing Schoolen ini, "Menulis adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan sulit didefinisikan dengan kata-kata. Proses menulis, dalam banyak kasus, membawanya ke dalam percengkeraman dengan kekekalan. Artinya, menulis membuat saya melayang dan terbang dari kefanaan, lalu bercengkrama dengan alam ide, dunia maya, alam batin yang non-aktif, di mana ruang dan waktu tak berfungsi sebagaimana di alam nyata (fisik)."
Saking asyiknya, Andrias Harefa tidak mendengar suara di sekitarnya. Ia tidak bisa berhenti menulis walau ada suara yang menggema di dekatnya. Pernah, ia menulis sebuah tulisan dari jam 7 malam hingga jam 7 pagi. Non stop. Tanpa berdiri sekali pun. Tanpa makan dan minum. Selama 12 jam itu, ia serasa diikat oleh waktu. Merasakan betapa asyiknya menulis itu. Apabcila bila ide sudah berkelindan, tidak mustahil, seseorang lupa akan waktu. Dan lupa sudah dengan aktivitas lalu lalang lingkungan sekitar.
Sementara itu, buku yang ditulis oleh Radinal Mukhtar Harahap dengan judul yang lebih santai ini nan asyik ini lebih condong bercerita tentang asyiknya menulis karena banyak teman. Dengan eksis dalam dunia tulis-menulis, ia bisa mengenal banyak orang yang sebelumnya tidak pernah ia jumpai dan dengan membaca tulisan penulis tentu, ia bisa berkenalan dengan, misal, pak Hernowo Hashim, pak Bambang Trim, mas Tasaro GK, dan lain sebagainya. Dengan tulisan kita bisa bersilaturahmi, seperti sebagaimana hadits, "bersilaturrahim bisa memperpanjang umur."
Bagi saya, sebagaimana yang telah saya jelas tulisan saya yang berjudul Media Penghibur, menulis memang mendapatkan kepuasan material dan imaterial/spiritual. Karena menulis berjuang dalam ranah jiwa dan raga. Dakwah bil qolam. Berdakwah melalui tulisan/ pena.
Dan juga sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan suka maupun duka. Tulisan bisa sebagai tempat untuk menuangkan perasaan kita. Karena perasaan akan luluh apabila diutarakan. Dengan menulis, perasaan akan tersublim dengan tidak merugikan orang di sekitarnya.
Selain itu, menulis juga mendatangkan kepuasaan yang bersifat mental dan material. Bersifat mental karena tulisan terkait dengan intelektualitas, cogito ergo sum. Dan bersifat spiritual karena tulisan bermain di wilayah makna, mengejawantahkan keberadaan saya sebagai homo significant, sang pemberi makna, yang keberadaannya juga disebabkan oleh kepercayaan atas "sesuatu" yang lebih besar dari dirinya, credo ergo sum. Karena itu, menulis itu menumbuhkan keasyikan dan manfaat bagi kita sendiri dan orang lain. Sebab, menulis, sebagaimana amunisi/ bacaan untuk meningkatkan kualitas dan keyakinan (spiritualitas) dalam mengemas ide dan gagasan.[]
إرسال تعليق