Sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa, saya melakukan beberapa aktivitas seperti biasa. Aktivitas itu tidak jauh dari ke(aktif)an di dunia maya. Karena itu saya hanya tidak ingin ketinggalan informasi dan kecepatannya dunia ini. Dan, karena saya termasuk dalam kategori orang yang tidak mau kalah soal menggunakan fasilitas internet yang super cepat, Telkomsel pun kena batunya. Awalnya kartu 3 yang menjadi pilihan, namun sekarang milih Telkomsel; simpati.
Mengingat di daerah tempat tinggal termasuk kategori pelosok rasa "kota", dan juga masuk daerah potensial. Bukan bermaksud untuk mempromosikan letak geografis, dan ambosador salah dua perusahaan profit tersebut, namun ingin mencari yang mudah dan kelancaran fasilitas saja saya bersua ini dan karena kebaikan hati ini, lantas saya tidak segan-segan untuk mem"publis" produk yang tidak memberi keuntungan kepada saya ini. Hanya saja, saya ingin mencari kemudahan dan kenyamanan dalam akses internet itu saja maksudnya.
Karena mas Trigus pulalah, saya harus menggembor-gemborkan salah dua perusahaan multi-nasional tersebut. Jadi maaf, sudah menyebutkan produk di lapak ini. Mas Trigus mintanya dilayani dengan tulisan tentang Trenggalek, sambil menunggu tukang beduk menabuh kentongan, saya menutar otak untuk ikuti instruksi akun Facebook itu.
Aktivitas yang awalnya hanya datar-datar saja berubah dengan kesibukan yang tak karuan. Kesibukan itu pulalah yang memecah keheningan dan ke"sueong"an saya tiada tara. Selepas pulang dari Puskesmas dengan mengidap penyakit Demam Berdarah (DB), yang kini berubah status menjadi penyakit typus. Sampeyan telah membantu saya untuk beraktivitas. Hingga kami pun ngobrol ngalor-ngidul tidak ada ujung pangkalnya.
"Hehehe. Aku disenggol mas Trigus Dodik Susilo. Oleh nulis status opo ora, mas?" Responku pertama kali.
"Status opo pernikahan ta, Kang, hahahaha," komentar sambil menahan sakit kepala, yang mutar-mutar tujuh putaran.
"Hahaha, oleh ae mas, asal iso sampek 800 kata, katane ora oleh duplicat luweh ko 10 kata. 800 kata iku kudu memakai 750 kata yang berbeda, hahaha," ujar Trigus, dengan membalasannya lama.
"Hahaha, mendah angel e, Mas?" Jawabku.
"Mergane statuse mung nikah tok, cobo lek status selingkuh mesti dowo... Okek, Bung Muhammad Choirur Rokhim jika berkenan saya tunggu tulisannya tentang Trenggalek. nulis potensi juga bagus beuut. soale tulisanmu seng pernah tak woco lumayan berkelas, loo. Aku ae pedooot cleng." Lagi-lagi balasannya lama dan rada nglenyit.
"Ahhhhh, mas Trigus Dodik Susilo mah gitu orangnya...."
Pikiran saya mulai bergelayut, padahal dalam ketentuan, cerita tentang selingkuh tidak diperbolehkan. Dan dari kejauhan suara perempuan memecahkan keheningan temaram senja. Dan suara perempuan paruh baya itu lah mengakhiri komen-komen saya.
Dan, waktu adzan Maghrib segera berkumandang. Dan, ta'jil dan menu berbuka puasa segera tersedia di meja atau di desa televisi. Karena kebanyakan orang Jawa, timuran dan orang desa khususnya, setiap makan, rasanya kurang bilamana tidak sambil melihat kotak "bodoh" itu, kotak yang hanya mau diremot oleh para majikannya itu. Padahal itu membuat kita juga ikut "bodoh" jikalau kita sering-sering dan terlalu fanatik dengan televisi itu. Tidak percaya? Buktikan sendiri, jangan ajak-ajak lingkungan Anda terdekat, ya! Terutama didekatkan dengan anak-anak, sekolah pun yang diingat dan dibicarakan dengan teman sebayanya tidak lebih dari sinetron GGS (Ganteng-Ganteng Stres), maka, apabila "nyumet" televisi jauhkan dari posisi anak-anak kita. Silahkan kalau mampu. Hahaha.
Kembali pada benang merah yang selalu kusut, saya mendapat tantangan dari seorang teman yang mengelola rumah situs, siapa lagi kalau bukan Mastrigus seng bagus dewe itu. Hehehe. Maaf Mas Trigus, di sini Sampeyan saya sanjung, tapi dilain kesempatan Sampeyan kutendang. Hiks. Sudah, sudah Mas Trigus, jangan dianggap serius, loh, ya! Ini cuma bercanda kok, serius. Suuuuwwwweeeerrr, dech.
Apapun itu, dan siapapun itu, tentang tawaran yang bersifat ajakan mas Trigus ke hal positif: menulis Trenggalek, bagi saya ini adalah tantangan. Tantangan! Kenapa harus tantangan? Sudahnya seharusnya memang, seseorang laki-laki harus suka akan tantangan. Laki-laki kalau enggak suka tantangan bukan laki-laki lagi namanya, tapi Anda beri sendiri istilah tersebut sesuai pandangan sendiri-sendiri, ya.
Tantangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia, Mizan, (2009) ialah acuman, dan ajakan. Mas Trigus yang diwakili oleh akun facebooknya mengajak saya, pak Nurani Soyomukti, mas Misbahus Surur, dan beberapa teman untuk menulis tentang Trenggalek. Trenggalek memang tempat yang tidak habis bilamana ditulis dari berbagai sudut pandang. Mulai dari letak agraris dan maritimnya. Jelas, wilayah Trenggalek sebagian besar adalah pegunungan. Apabila kita memotret lakon masyarakat dari wilayahnya, maka tampak sisi budaya dan Kebudayaannya.
Pada dasarnya alam Trenggalek adalah ekologi yang terbangun dari dua lanskap: ekologi agraris dan ekologi maritim
Misalnya, Seni Jaranan Turonggo Yakso adalah berawal dari latar belakang pertanian, dari pegunungan atau maritim tersebut. Menurut Misbahus Surur dalam buku yang berjudul Turonggo Yakso: Berjuang Untuk Sebauh Eksistensi (2013), "Seni Jaranan Turonggo Yakso adalah kesenian jaranan yang banyak mengambil dan bahkan menyedot inspirasi utamanya dari upacara sehabis pertanian dalam rangka syukuran." Artinya, sebuah tradisi yang memiliki nilai estetika tinggi berawal dari lanskap maritim. Karena daerah Kecamatan Dongko terkenal dengan lingkungannya yang perbukitan-pegunungan, rasanya tidak aneh, Dongko menghasilkan karya seperti jaranan tersebut. Karena dilihat dari gerakan-gerakan seni tarinya dan kreasinya terinspirasi dari latar belakang agraris.
Dari kekayaan alamnya yang subur dengan cocok tanamnya. Setiap tahunnya, Trenggalek adalah penghasil Cengkeh terbesar di daerah Jawa Timuran. Saya jadi teringat oleh sosok pak Soetran. Dan, kayaknya saya pernah menuliskan sosok mbah Soetran ini dalam catatan facebook tempo hari. Bupati Soetranlah sosok dalang di belakangnya sehingga Trenggalek menjadi sentra penghasil Cengkeh. Selain Cengkeh, Trenggalek juga kaya alam termasuk ketika musim Durian, dan beberapa tumbuhan dan tanaman yang lahir dari lumbung subur makmur, gemah limpah loh jinawinya wilayah Trenggalek ini.
Sementara itu, seperti yang sudah saya bilang tadi, Trenggalek tak akan habis bila ditulis bahkan dibukukan dari perspektif manapun. Dari sudut pandang laut kita bisa lihat upacara Longkangan yang ada di pantai Sumbreng atau Blado, di Kecamatan Munjungan, dan juga tradisi Larung Sembonyo di pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, dan beberapa kearifan lokal yang belum sempat terekspos oleh media, juga kekerdilan tempurung dari pengetahuan yang saya miliki.
Dan tidak kalah menarik dan patut lah kita syukuri atas karunia Tuhan Yang Maha Kaya dari segala Kuasanya, apabila musim tangkap ikan datang, masyarakat luar Trenggalek pun juga ikut merasakan: Tulungagung, dan sekitarnya yang dekat, dan yang patut bangga kepada kita, rakyat Terang ing Galih sebagai masyarakat yang suka memberi dan saking baik hatinya menurut mas Trigus "masyarakat Trenggalek ber(penghasil) ikan, tetapi tidak suka makan ikan", (jare'e sopo to, mas, mas?) Saya dan keluarga juga senang, "paleng-paleng Sampeyan iku seng nggak seneng iwak?" Sombong emen, yah! Kalau orang Jawa bilang loman tor kembagus (suka memberi dan rada sombong), adalah diekspornya sampai di Jawa Tengah dan pulau Jawa yang jauh dari pelupuk mata.
Oleh karena itu, melalui kesadaran yang paling dalam, mas Trigus membuka penulis pertama dengan menantang ikut kontribusi menulis tentang Trenggalek. Tantangan ini ide Bagus, sebagus orangnya. Tantangan dengan menulis adalah media yang produktif untuk menghidupkan yang telah "mati suri" dan menghidupkan yang masih hidup. Maksudnya, menggugah kembali literasi Trenggalek yang dulu sempat berjaya dan menggelorakan semangat menulis kembali dengan terobosan terbaru melalui mempromosikan kawasan Trenggalek sebagai medianya.
Tantangan untuk menuliskan tentang Trenggalek ini adalah semacam amunisi. Dan, tantangan ini menjadi buah irisan manis yang harus saya relakan untuk saya bagi-bagi (bukan silverquen, loh!) dengan Anda. Tantangan ini adalah menuliskan, dan mengabarkan kepada masyarakat dunia bahwa alam Trenggalek begitu cantik nan eksotis untuk Anda Semua. Mas Trigus seng bagus dewe (yang paling cakep sendiri) telah menyediakan label SUMINTEN (Suara Miniatur Trenggalek) kepada kita, kita? Loe, aja kale! Hahaha.
Itu Artinya, Mas Trigus welcome kepada kita untuk menyumbangkan, mensoundingkan, dan mewartakan Trenggalek dari berbagai perspektif kita sendiri. Selama tulisan atau informasi tersebut tidak mengandung unsur SARA, Good News. So, silahkan bersua di misterius.com. Loh, mas saya baik hati dan tidak sombong kan? Sudah ikut berpartisipasi untuk mengkampanyekan situs domain pribadi Sampeyan. Jangan kira saya ini jahat. Takutnya kalau saya jahat, tulisan saya malah kagak ke muat. Dan tidak salah, blog domain mas Trigus ini tidak ditarif alias gratis, tidak kalah pentingnya lagi, tulisan kita--Anda akan dibaca oleh masyarakat dunia, yang ada di sana. Di sana loh, ingat di sana itu loh! Hehehe. Pun, tantangan mas Trigus ini adalah ide cemerlang.
Tantangan ini pula patut diapresiasi dengan menuliskan dan mengabarkan kepada dunia bahwa masyarakat Trenggalek tidak kalah keren bisa menulis dan bertutur di atas blog atau situs yang rada "bergengsi" ini. Dengan menulis, kita akan dilihat orang. Jadi, menulis, menulis, dan menulislah seperti nasibnya. Kelak Anda dan Trenggalek akan menuai nasibnya sendiri. Maksudnya, tenar dengan sendirinya. Ide yang bagus, bukan? []
Mengingat di daerah tempat tinggal termasuk kategori pelosok rasa "kota", dan juga masuk daerah potensial. Bukan bermaksud untuk mempromosikan letak geografis, dan ambosador salah dua perusahaan profit tersebut, namun ingin mencari yang mudah dan kelancaran fasilitas saja saya bersua ini dan karena kebaikan hati ini, lantas saya tidak segan-segan untuk mem"publis" produk yang tidak memberi keuntungan kepada saya ini. Hanya saja, saya ingin mencari kemudahan dan kenyamanan dalam akses internet itu saja maksudnya.
Karena mas Trigus pulalah, saya harus menggembor-gemborkan salah dua perusahaan multi-nasional tersebut. Jadi maaf, sudah menyebutkan produk di lapak ini. Mas Trigus mintanya dilayani dengan tulisan tentang Trenggalek, sambil menunggu tukang beduk menabuh kentongan, saya menutar otak untuk ikuti instruksi akun Facebook itu.
Aktivitas yang awalnya hanya datar-datar saja berubah dengan kesibukan yang tak karuan. Kesibukan itu pulalah yang memecah keheningan dan ke"sueong"an saya tiada tara. Selepas pulang dari Puskesmas dengan mengidap penyakit Demam Berdarah (DB), yang kini berubah status menjadi penyakit typus. Sampeyan telah membantu saya untuk beraktivitas. Hingga kami pun ngobrol ngalor-ngidul tidak ada ujung pangkalnya.
"Hehehe. Aku disenggol mas Trigus Dodik Susilo. Oleh nulis status opo ora, mas?" Responku pertama kali.
"Status opo pernikahan ta, Kang, hahahaha," komentar sambil menahan sakit kepala, yang mutar-mutar tujuh putaran.
"Hahaha, oleh ae mas, asal iso sampek 800 kata, katane ora oleh duplicat luweh ko 10 kata. 800 kata iku kudu memakai 750 kata yang berbeda, hahaha," ujar Trigus, dengan membalasannya lama.
"Hahaha, mendah angel e, Mas?" Jawabku.
"Mergane statuse mung nikah tok, cobo lek status selingkuh mesti dowo... Okek, Bung Muhammad Choirur Rokhim jika berkenan saya tunggu tulisannya tentang Trenggalek. nulis potensi juga bagus beuut. soale tulisanmu seng pernah tak woco lumayan berkelas, loo. Aku ae pedooot cleng." Lagi-lagi balasannya lama dan rada nglenyit.
"Ahhhhh, mas Trigus Dodik Susilo mah gitu orangnya...."
Pikiran saya mulai bergelayut, padahal dalam ketentuan, cerita tentang selingkuh tidak diperbolehkan. Dan dari kejauhan suara perempuan memecahkan keheningan temaram senja. Dan suara perempuan paruh baya itu lah mengakhiri komen-komen saya.
Dan, waktu adzan Maghrib segera berkumandang. Dan, ta'jil dan menu berbuka puasa segera tersedia di meja atau di desa televisi. Karena kebanyakan orang Jawa, timuran dan orang desa khususnya, setiap makan, rasanya kurang bilamana tidak sambil melihat kotak "bodoh" itu, kotak yang hanya mau diremot oleh para majikannya itu. Padahal itu membuat kita juga ikut "bodoh" jikalau kita sering-sering dan terlalu fanatik dengan televisi itu. Tidak percaya? Buktikan sendiri, jangan ajak-ajak lingkungan Anda terdekat, ya! Terutama didekatkan dengan anak-anak, sekolah pun yang diingat dan dibicarakan dengan teman sebayanya tidak lebih dari sinetron GGS (Ganteng-Ganteng Stres), maka, apabila "nyumet" televisi jauhkan dari posisi anak-anak kita. Silahkan kalau mampu. Hahaha.
Kembali pada benang merah yang selalu kusut, saya mendapat tantangan dari seorang teman yang mengelola rumah situs, siapa lagi kalau bukan Mastrigus seng bagus dewe itu. Hehehe. Maaf Mas Trigus, di sini Sampeyan saya sanjung, tapi dilain kesempatan Sampeyan kutendang. Hiks. Sudah, sudah Mas Trigus, jangan dianggap serius, loh, ya! Ini cuma bercanda kok, serius. Suuuuwwwweeeerrr, dech.
Apapun itu, dan siapapun itu, tentang tawaran yang bersifat ajakan mas Trigus ke hal positif: menulis Trenggalek, bagi saya ini adalah tantangan. Tantangan! Kenapa harus tantangan? Sudahnya seharusnya memang, seseorang laki-laki harus suka akan tantangan. Laki-laki kalau enggak suka tantangan bukan laki-laki lagi namanya, tapi Anda beri sendiri istilah tersebut sesuai pandangan sendiri-sendiri, ya.
Tantangan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia, Mizan, (2009) ialah acuman, dan ajakan. Mas Trigus yang diwakili oleh akun facebooknya mengajak saya, pak Nurani Soyomukti, mas Misbahus Surur, dan beberapa teman untuk menulis tentang Trenggalek. Trenggalek memang tempat yang tidak habis bilamana ditulis dari berbagai sudut pandang. Mulai dari letak agraris dan maritimnya. Jelas, wilayah Trenggalek sebagian besar adalah pegunungan. Apabila kita memotret lakon masyarakat dari wilayahnya, maka tampak sisi budaya dan Kebudayaannya.
Pada dasarnya alam Trenggalek adalah ekologi yang terbangun dari dua lanskap: ekologi agraris dan ekologi maritim
Misalnya, Seni Jaranan Turonggo Yakso adalah berawal dari latar belakang pertanian, dari pegunungan atau maritim tersebut. Menurut Misbahus Surur dalam buku yang berjudul Turonggo Yakso: Berjuang Untuk Sebauh Eksistensi (2013), "Seni Jaranan Turonggo Yakso adalah kesenian jaranan yang banyak mengambil dan bahkan menyedot inspirasi utamanya dari upacara sehabis pertanian dalam rangka syukuran." Artinya, sebuah tradisi yang memiliki nilai estetika tinggi berawal dari lanskap maritim. Karena daerah Kecamatan Dongko terkenal dengan lingkungannya yang perbukitan-pegunungan, rasanya tidak aneh, Dongko menghasilkan karya seperti jaranan tersebut. Karena dilihat dari gerakan-gerakan seni tarinya dan kreasinya terinspirasi dari latar belakang agraris.
Dari kekayaan alamnya yang subur dengan cocok tanamnya. Setiap tahunnya, Trenggalek adalah penghasil Cengkeh terbesar di daerah Jawa Timuran. Saya jadi teringat oleh sosok pak Soetran. Dan, kayaknya saya pernah menuliskan sosok mbah Soetran ini dalam catatan facebook tempo hari. Bupati Soetranlah sosok dalang di belakangnya sehingga Trenggalek menjadi sentra penghasil Cengkeh. Selain Cengkeh, Trenggalek juga kaya alam termasuk ketika musim Durian, dan beberapa tumbuhan dan tanaman yang lahir dari lumbung subur makmur, gemah limpah loh jinawinya wilayah Trenggalek ini.
Sementara itu, seperti yang sudah saya bilang tadi, Trenggalek tak akan habis bila ditulis bahkan dibukukan dari perspektif manapun. Dari sudut pandang laut kita bisa lihat upacara Longkangan yang ada di pantai Sumbreng atau Blado, di Kecamatan Munjungan, dan juga tradisi Larung Sembonyo di pantai Prigi, Kecamatan Watulimo, dan beberapa kearifan lokal yang belum sempat terekspos oleh media, juga kekerdilan tempurung dari pengetahuan yang saya miliki.
Dan tidak kalah menarik dan patut lah kita syukuri atas karunia Tuhan Yang Maha Kaya dari segala Kuasanya, apabila musim tangkap ikan datang, masyarakat luar Trenggalek pun juga ikut merasakan: Tulungagung, dan sekitarnya yang dekat, dan yang patut bangga kepada kita, rakyat Terang ing Galih sebagai masyarakat yang suka memberi dan saking baik hatinya menurut mas Trigus "masyarakat Trenggalek ber(penghasil) ikan, tetapi tidak suka makan ikan", (jare'e sopo to, mas, mas?) Saya dan keluarga juga senang, "paleng-paleng Sampeyan iku seng nggak seneng iwak?" Sombong emen, yah! Kalau orang Jawa bilang loman tor kembagus (suka memberi dan rada sombong), adalah diekspornya sampai di Jawa Tengah dan pulau Jawa yang jauh dari pelupuk mata.
Oleh karena itu, melalui kesadaran yang paling dalam, mas Trigus membuka penulis pertama dengan menantang ikut kontribusi menulis tentang Trenggalek. Tantangan ini ide Bagus, sebagus orangnya. Tantangan dengan menulis adalah media yang produktif untuk menghidupkan yang telah "mati suri" dan menghidupkan yang masih hidup. Maksudnya, menggugah kembali literasi Trenggalek yang dulu sempat berjaya dan menggelorakan semangat menulis kembali dengan terobosan terbaru melalui mempromosikan kawasan Trenggalek sebagai medianya.
Tantangan untuk menuliskan tentang Trenggalek ini adalah semacam amunisi. Dan, tantangan ini menjadi buah irisan manis yang harus saya relakan untuk saya bagi-bagi (bukan silverquen, loh!) dengan Anda. Tantangan ini adalah menuliskan, dan mengabarkan kepada masyarakat dunia bahwa alam Trenggalek begitu cantik nan eksotis untuk Anda Semua. Mas Trigus seng bagus dewe (yang paling cakep sendiri) telah menyediakan label SUMINTEN (Suara Miniatur Trenggalek) kepada kita, kita? Loe, aja kale! Hahaha.
Itu Artinya, Mas Trigus welcome kepada kita untuk menyumbangkan, mensoundingkan, dan mewartakan Trenggalek dari berbagai perspektif kita sendiri. Selama tulisan atau informasi tersebut tidak mengandung unsur SARA, Good News. So, silahkan bersua di misterius.com. Loh, mas saya baik hati dan tidak sombong kan? Sudah ikut berpartisipasi untuk mengkampanyekan situs domain pribadi Sampeyan. Jangan kira saya ini jahat. Takutnya kalau saya jahat, tulisan saya malah kagak ke muat. Dan tidak salah, blog domain mas Trigus ini tidak ditarif alias gratis, tidak kalah pentingnya lagi, tulisan kita--Anda akan dibaca oleh masyarakat dunia, yang ada di sana. Di sana loh, ingat di sana itu loh! Hehehe. Pun, tantangan mas Trigus ini adalah ide cemerlang.
Tantangan ini pula patut diapresiasi dengan menuliskan dan mengabarkan kepada dunia bahwa masyarakat Trenggalek tidak kalah keren bisa menulis dan bertutur di atas blog atau situs yang rada "bergengsi" ini. Dengan menulis, kita akan dilihat orang. Jadi, menulis, menulis, dan menulislah seperti nasibnya. Kelak Anda dan Trenggalek akan menuai nasibnya sendiri. Maksudnya, tenar dengan sendirinya. Ide yang bagus, bukan? []
إرسال تعليق