Game adalah hasil kebudayaan manusia modern yang memanfaatkan teknologi atau pemikiran baru. Game tidak bisa dipisahkan dengan manusia sejak teknologi semakin berkembang. Perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat memang tidak bisa kita hindari di dunia ini. Pengguna permainan modern atau game ini tidak hanya anak-anak, tetapi kalangan dewasa pun banyak yang menjadi maniak game, bahkan mereka menjadi gamer sejati.
Pada awalnya, game ditemukan pada tiga dasawarsa yang lalu, yang pertama kali atas prakarsa Steven Russel dalam proyeknya bernama Computer Games pada tahun 1962. Game bertransformasi sedemikian canggih.
Pada era 1990-an, kita pasti mengenal game yang sangat populer Pacman dan Mortal Combat. Di masa jayanya, game tersebut menaruh hati pada anak-anak. Permainan yang mengusung genre dua karakter saling beradu jurus dan ilmu untuk saling menjatuhkan. Di era 2000-an, teknologi semakin canggih dan tampilan semakin sempurna. Dan, tidak sedikit yang gandrung dengan game. Maka kontroversi terkait dampak game terhadap perkembangan si anak semakin meruncing.
Tidak sedikit fitur dalam game menampilkan kekerasan. Misal, mungkin Anda mengenal game yang berjudul Counter Strike atau SWAT? Game ini adalah salah satu game ang mengangkat kekerasan dan menanamkan pemikiran anti terorisme dam benak anak-anak. pada game ini, anak dibuat untuk meniru apa yang setelah anak-anak mainkan. Seorang anak ditanamkan untuk sikap anti terorisme, atau malah kagum dengan keahlian terorisme. Hal ini akan mengancam pemikiran seorang anak terhadap perkembangannya ke depan bukan?
Dalam buku yang berjudul “How the gamer generation Is changing the workplace” menyatakan bahwa di antara 50 game mendapatkan rating E. Artinya, sebagian game yang tersebar di kalangan umum itu banyak yang menampilkan aksi-aksi yang mengandung kekerasan-kekerasan.
Pun sebagian peneliti maupun ahli menilai bahwa hadirnya game atau permainan modern menimbulkan dampak psikologis terhadap perkembangan anak. Saya mewakili kaum adam sekaligus kalangan remaja yang memiliki dominasi terhadap dunia game, saya menangkap, game memberikan beberapa dampak yang kurang baik. Pertama, game menjadikan anak-anak maupun orang dewasa menjadi malas. Setiap seseorang keasikan dengan aktivitas dan larut dengan game, ia akan lupa segalanya. Ia akan males untuk melakukan aktivitas yang semestinya ia lakukan. Misal, waktunya makan, ia akan males untuk makan. Salah satu faktor yang membuatnya malas adalah terlarutnya situasi dalam permainan game terhadap psikologis seorang gamer.
Kedua, lupa belajar. Orangtua terkadang memiliki penilaian berbeda. Karena anaknya yang suka bermain ke luar bersama-sama temannya, maka tanpa mengindahkan dampak yang akan terjadi, orangtua biasanya membelikan anaknya playstation di rumah. Dengan permainan modern itu seorang anak akan bermain di dalam rumah dan tidak harus pergi keluar luas. Namun, karena saking asiknya dengan dunia barunya bermain game, seorang anak akan melupakan kewajiban yang lain. Yaitu, lupa waktunya belajar.
Selain itu, karena game modern ini, nilai-nilai permainan tradisional tergerus oleh zaman. Dan, anak-anak melupakan permainan peninggalan nenek moyang kita, permainan tradisional. Permainan modern dewasa ini merajai tangga teratas dalam mempengaruhi minat anak.
Namun kini, para orangtua jangan terlalu khawatir terhadap perkembangan anak-anak yang memiliki kecenderungan terhadap permaianan itu. Dalam buku Optimalkan Potensi Anak dengan Game karya Al. Tridhonando dan Beranda Agency dalam halaman 18, “Kecerdasan seseorang tidak cukup diukur dari kemampuan inteligensi saja. Namun keberhasilan seseorang terletak pada bakat dan minat dari seseorang itu. Seseorang menjadi ahli dalam bidangnya lantaran ia telah mengasah bakat dan minat terhadap suatu objek tersebut lebih mendalam.”
Dari sisi inilah, yang dominan apabila diasah akan menghasilkan kecerdasan seperti yang dikatakan Dr. Howard Gardner dalam buku SEVEN KINDS OF SMART Identifying and Development Your Multiple Inteleligences. Misal, seorang anak yang menyenangi game balapan Moto GP, tanpa disadari, ia lebih mudah belajar mengendarai alat transportasi seperti sepeda motor. Bakat dan minat inilah yang membuat seorang anak akan berhasil dan mudah untuk menggapai tujuan yang ia inginkan. Gardner mengatakan setiap anak berhak untuk jenius.
Untuk itu, siapa yang bilang, game identik dengan hal-hal negatif, sumber kehancuran prestasi anak. Kita tentu pernah diperingatkan dan sering mendengar petuah dari orangtua kita, “belajar dulu, jangan hanya main game terus.” Apabila masih ada anggapan seperti itu, maka siapapun perlu memiliki pemahaman bahwa game dapat membantu seorang anak untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Misalnya, game RPG dan MMO, game ini menurut peneliti, mampu mempercepat seorang gamer menguasai bahasa Inggris. Selain itu, memainkan game bertipikal rhythm di konsol, seperti serial game Dance-dance Revolution, Pump It Up, Just Dance, yang tidak ubahnya melaukan gerakan olahraga sehingga sensoris motorik kasar bergerak. Hal tersebut senada dengan game Ayo Dance, Guitar Hero, Rock Band dan masih banyak lagi, merupakan game yang secara tidak sadar menggerakkan jari-jemari untuk bergerak aktif merangsang sensor motorik kasar.
Siapa tahu nasib kita seperti Vugar Huseynzade yang menjadi manajer salah satu klub sepakbola di Azerbaijan di Baku FC. Karena kehebatannya mengoperasikan Football Manager, Vugar mendapat kedudukan yang barangkali membuat kita melongo tidak percaya. Karena kecerdasannya bermain game, ia mendapatkan dan memimpin klub profesional di Azerbaijan. Tentu, kesempatan yang tidak terduga sebelumnya.
Oleh karena itu, situasi dan kondisi juga memberikan pengaruh ketika bermain game. Anak bisa mengubah keputusannya berdasarkan rencana tertentu, yang melibatkan logikanya. Unsur tantangan dari game dapat juga memberikan peningkatan masalah karena semakin rumit, yang disesuaikan dengan level yang dicapainya. Anak pun dapat melakukan improvisasi, belajar dari kesalahan, dan dapat mengambil kesimpulan terbaik atas motivasi dan inisiatif yang berkembang dinamis dalam game. []
Pada awalnya, game ditemukan pada tiga dasawarsa yang lalu, yang pertama kali atas prakarsa Steven Russel dalam proyeknya bernama Computer Games pada tahun 1962. Game bertransformasi sedemikian canggih.
Pada era 1990-an, kita pasti mengenal game yang sangat populer Pacman dan Mortal Combat. Di masa jayanya, game tersebut menaruh hati pada anak-anak. Permainan yang mengusung genre dua karakter saling beradu jurus dan ilmu untuk saling menjatuhkan. Di era 2000-an, teknologi semakin canggih dan tampilan semakin sempurna. Dan, tidak sedikit yang gandrung dengan game. Maka kontroversi terkait dampak game terhadap perkembangan si anak semakin meruncing.
Tidak sedikit fitur dalam game menampilkan kekerasan. Misal, mungkin Anda mengenal game yang berjudul Counter Strike atau SWAT? Game ini adalah salah satu game ang mengangkat kekerasan dan menanamkan pemikiran anti terorisme dam benak anak-anak. pada game ini, anak dibuat untuk meniru apa yang setelah anak-anak mainkan. Seorang anak ditanamkan untuk sikap anti terorisme, atau malah kagum dengan keahlian terorisme. Hal ini akan mengancam pemikiran seorang anak terhadap perkembangannya ke depan bukan?
Dalam buku yang berjudul “How the gamer generation Is changing the workplace” menyatakan bahwa di antara 50 game mendapatkan rating E. Artinya, sebagian game yang tersebar di kalangan umum itu banyak yang menampilkan aksi-aksi yang mengandung kekerasan-kekerasan.
Pun sebagian peneliti maupun ahli menilai bahwa hadirnya game atau permainan modern menimbulkan dampak psikologis terhadap perkembangan anak. Saya mewakili kaum adam sekaligus kalangan remaja yang memiliki dominasi terhadap dunia game, saya menangkap, game memberikan beberapa dampak yang kurang baik. Pertama, game menjadikan anak-anak maupun orang dewasa menjadi malas. Setiap seseorang keasikan dengan aktivitas dan larut dengan game, ia akan lupa segalanya. Ia akan males untuk melakukan aktivitas yang semestinya ia lakukan. Misal, waktunya makan, ia akan males untuk makan. Salah satu faktor yang membuatnya malas adalah terlarutnya situasi dalam permainan game terhadap psikologis seorang gamer.
Kedua, lupa belajar. Orangtua terkadang memiliki penilaian berbeda. Karena anaknya yang suka bermain ke luar bersama-sama temannya, maka tanpa mengindahkan dampak yang akan terjadi, orangtua biasanya membelikan anaknya playstation di rumah. Dengan permainan modern itu seorang anak akan bermain di dalam rumah dan tidak harus pergi keluar luas. Namun, karena saking asiknya dengan dunia barunya bermain game, seorang anak akan melupakan kewajiban yang lain. Yaitu, lupa waktunya belajar.
Selain itu, karena game modern ini, nilai-nilai permainan tradisional tergerus oleh zaman. Dan, anak-anak melupakan permainan peninggalan nenek moyang kita, permainan tradisional. Permainan modern dewasa ini merajai tangga teratas dalam mempengaruhi minat anak.
Namun kini, para orangtua jangan terlalu khawatir terhadap perkembangan anak-anak yang memiliki kecenderungan terhadap permaianan itu. Dalam buku Optimalkan Potensi Anak dengan Game karya Al. Tridhonando dan Beranda Agency dalam halaman 18, “Kecerdasan seseorang tidak cukup diukur dari kemampuan inteligensi saja. Namun keberhasilan seseorang terletak pada bakat dan minat dari seseorang itu. Seseorang menjadi ahli dalam bidangnya lantaran ia telah mengasah bakat dan minat terhadap suatu objek tersebut lebih mendalam.”
Dari sisi inilah, yang dominan apabila diasah akan menghasilkan kecerdasan seperti yang dikatakan Dr. Howard Gardner dalam buku SEVEN KINDS OF SMART Identifying and Development Your Multiple Inteleligences. Misal, seorang anak yang menyenangi game balapan Moto GP, tanpa disadari, ia lebih mudah belajar mengendarai alat transportasi seperti sepeda motor. Bakat dan minat inilah yang membuat seorang anak akan berhasil dan mudah untuk menggapai tujuan yang ia inginkan. Gardner mengatakan setiap anak berhak untuk jenius.
Untuk itu, siapa yang bilang, game identik dengan hal-hal negatif, sumber kehancuran prestasi anak. Kita tentu pernah diperingatkan dan sering mendengar petuah dari orangtua kita, “belajar dulu, jangan hanya main game terus.” Apabila masih ada anggapan seperti itu, maka siapapun perlu memiliki pemahaman bahwa game dapat membantu seorang anak untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Misalnya, game RPG dan MMO, game ini menurut peneliti, mampu mempercepat seorang gamer menguasai bahasa Inggris. Selain itu, memainkan game bertipikal rhythm di konsol, seperti serial game Dance-dance Revolution, Pump It Up, Just Dance, yang tidak ubahnya melaukan gerakan olahraga sehingga sensoris motorik kasar bergerak. Hal tersebut senada dengan game Ayo Dance, Guitar Hero, Rock Band dan masih banyak lagi, merupakan game yang secara tidak sadar menggerakkan jari-jemari untuk bergerak aktif merangsang sensor motorik kasar.
Siapa tahu nasib kita seperti Vugar Huseynzade yang menjadi manajer salah satu klub sepakbola di Azerbaijan di Baku FC. Karena kehebatannya mengoperasikan Football Manager, Vugar mendapat kedudukan yang barangkali membuat kita melongo tidak percaya. Karena kecerdasannya bermain game, ia mendapatkan dan memimpin klub profesional di Azerbaijan. Tentu, kesempatan yang tidak terduga sebelumnya.
Oleh karena itu, situasi dan kondisi juga memberikan pengaruh ketika bermain game. Anak bisa mengubah keputusannya berdasarkan rencana tertentu, yang melibatkan logikanya. Unsur tantangan dari game dapat juga memberikan peningkatan masalah karena semakin rumit, yang disesuaikan dengan level yang dicapainya. Anak pun dapat melakukan improvisasi, belajar dari kesalahan, dan dapat mengambil kesimpulan terbaik atas motivasi dan inisiatif yang berkembang dinamis dalam game. []
إرسال تعليق