Hambatan yang kami hadapi saat berkunjung di Sendang atau di Candi Penampihan waktu sore adalah turun hujan. Ya, di daerah Sendang memiliki curah hujan lebih tinggi dibanding di daerah dataran rendah seperti desa atau kabupaten kota Tulungagung. Selain itu turun hujannya juga tidak bisa diprediksi. Pokoknya di daerah dataran tinggi Sendang itu turun hujan dengan intensitas yang berbeda; rintik-rintik atau lebat kala sore.
Saya bukan kali pertamanya berkunjung ke Candi Penampihan. Terakhir kali tahun 2014. Saat itu saya dan Ella datang ke Candi Penampihan dalam rangka memberi kuesioner pada komunitas, rumah budaya atau sekolah yang mendapat bantuan dari Kementerian pendidikan dan Kebudayaan. Kalau itu, kami datang untuk mencari--saya sudah lupa dengan siapa?--yang kebetulan bekerja di lereng Gunung Wilis, Sendang ini. Kalau itu pula, sore juga sedang hujan meski tak deras.
Namun adanya hambatan hujan, kami tetep berkunjung di Candi Penampihan. Saya datang bersama Didik, teman yang dahulu satu organisasi. Ia mengajak saya untuk melakukan sesuatu. Pada hal ini, saya hanya menemani saja, tak melakukan apa yang ia lakukan. Saat saya memang sedikit kelelahan. Saya waktu berada di belakang, dibonceng Didik, saya berulang kali menahan kantuk. Bahkan, saya sempat seloyor tak kuat menahan kantuk. Hal ini karena hawanya yang sejuk dan dingin menambah rasa tak terhalang.
Meski sedikit mendung dan gerimis mengundang. Namun tak mengurangi kenikmatan kami berkendara di jalanan yang relatif sepi dan lumayan menguras tenaga karena kontur jalannya yang tidak rata dan ada lubang menganga di kanan kiri jalan. Sekali-kali, kami menurunkan tarikan gas untuk menghindari lubang atau aspal yang rusak itu. Meski jalannya tidak rata, kami sungguhi pemandangan yang indah oleh hamparan sawah dengan teknik terasering di sepanjang perjalanan.
Untuk menuju ke sana butuh waktu kurang lebih 40 menit. Lokasinya berada di lereng Gunung Wilis, Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Candi Penampihan ini merupakan candi Hindu kuno yang dibangun pada tahun Saka 820 atau 898 Masehi. Menurut sumber sekunder, ada dua penamaan yang memiliki perbedaan. Yang pertama, penamaan Candi Penampihan, dikatakan dalam cerita rakyat tersebut berasal dari kata ‘tampik’ yang artinya tolak. Penolakan sama dengan penampikan yang lama kelamaan menjadi penampihan.
Yang kedua adalah, merujuk dari Bahasa Jawa, nama Penampihan itu sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti Penerimaan. Oleh karena itu, terdapat dua versi arti yang berkembang, yakni penolakan dan penerimaan yang bersyarat. Namun jika mengacu dari kata Penampihan memiliki arti yang sangat dekat dengan arti dari kata nampi atau menerima.
Candi Penampihan merupakan candi pemujaan dengan tiga tahapan (teras) yang dipersembahkan untuk memuja Dewa Siwa. Konon, dulu saat peresmian candi ini dengan mengadakan pagelaran Wayang (ringgit). Di area kompleks candi arca yaitu Arca Siwa dan Dwarapala, tetapi karena ulah tangan yang tidak bertanggung jawab, ada beberapa arca yang hilang dan rusak. Untuk melindungi dan mengamankan beberapa arca yang tersisa, seperti arca siwa disimpan di museum situs Purbakala Majapahit Trowulan Jawa Timur.
Berdasarkan Bu Winarti, juru kunci Candi Penampihan, mengatakan bahwa prasasti ini berkisah tentang nama-nama Raja Balitung, serta seseorang bernama Mahesa Lalatan. siapa dia? Sejarah lisan maupun artefak belum bisa menguaknya. Serta seorang putri yang konon bernama Putri Kilisuci dari Kerajaan Kediri.
Perempuan yang berusia 44 tahun itu menambahkan, selain menyebutkan nama, prasasti itu juga memberikan informasi tentang Catur Asrama yaitu sistem sosial masyarakat era itu di mana klasifikasian masyarakat (stratifikasi) berdasarkan kasta dalam agama Hindu yaitu Brahmana, Satria, Vaisya dan Sudra.
Tanah yang Subur
Yang menarik saat berkunjung ke Candi Penampihan, Tulungagung ini adalah pemandangan yang indah. Pemandangan yang indah itu nampak dari berbagai arah. Selatan, Utara, Barat dan Timur, pemandangan membentang luas hijau nan subur. Berbagai macam jenis tumbuhan dan pohon tumbuh dengan rindang.
Saya menjumpai banyak tumbuh-tumbuhan yang hidup subur. Tanaman sayur dan lainnya banyak tumbuh. Tanaman atau tumbuhan ini memang ditanam oleh petani sekitar Gunung Wilis ini. Selain subur, Lereng Wilis di sisi Selatan ini memang terbilang cukup menawan.
Pemandangannya cukup memanjakan mata kala menikmatinya. Kala perjalanan pulang, saya meminta Didik untuk berhenti sebentar untuk mengabadikan pemandangan itu menjadi gambar. Karena tertusuk hawa yang dingin, kamu tak terlalu lama untuk mengambil foto itu.
Selain keindahan alam, baik saat kami dalam perjalanan menuju puncak dan pulang, kami sempat melempar tanya pada Didik, bahwa masyarakat sekitar lereng Wilis ini adalah orang kaya. Di sekitar rumah banyak binatang ternak, sebagai besar adalah sapi. Yang dalam satu kandang terdapat 5 sampai 10 ekor. Kita bisa kalkulasi sendiri. Belum lagi sapi perah dan lainnya. Tak ayal pinggir-pinggir jalan banyak sekali berdiri koperasi petani yang berdiri megah dan lengkap dengan alat modern.
Selain sebagai petani sapi, ia juga memiliki lahan untuk bertani. Tumbuhan yang ditanam sangat variasi. Namun kebanyakan tanaman yang ditanam adalah tanaman sayuran. Kekayaan alam ini sangat membantu kelangsungan hidup masyarakat sekitar maupun masyakarat luar yang disuplai dari sumber daya alam dari leren Wilis ini.
Sumber Tirta Merta
Tak jauh dari Candi Penampihan dan masih satu kompleks dengan candi Penampihan ada sumber air yang tak pernah mati aliran airnya. Dan menurut Bu Winarti terdapat 2 kolam kecil yang bernama Samudera Mantana (pemutaran air samudera), di mana menurut pengamatan empiris selama berpuluh-puluh oleh Bu Winarti, 2 kolam tersebut merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa.
Dua kolam itu berada di sebelah utara dam sebelah selatan. Kolam yang sebelah utara merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian utara sedangkan kolam yang berada sebelah selatan merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian selatan. Masih berdasarkan penuturan Bu Winarti, apabila sumber air di kedua kolam tersebut kering, maka keadaan air di bawah menderita kekeringan, begitupun sebaliknya. Apabila kedua atau salah satu kolam tersebut penuh air berarti keadaan air di bawah sedang banjir.
Nah, sumber air yang berada di komplek Candi Penampihan itu adalah Tirta Amerta. Dulu, saat saya datang bersama Ella, sumber air ini belum dibangun seperti sekarang ini. Dulu masih sangat alami. Keluar dari sumber mata air. Kini, sumber mata air itu telah dibangun sedemikian rupa. Dan sudah dirawat. Air tetap mengalir dengan melewati bangunan dan gapura yang dibangun, yang entah tahun berapa dibangun saya luput, menggali informasi.
Banyu Panguripan atau Tirta Amerta adalah air kehidupan yang membuat makhluk hidup abadi tak dapat mati. Sumber air ini sangat jernih, segar, dan dingin. Kali ini, kami tak sempat untuk membasuh atau bermain air. Sebab, bangunan Tirta Amerta telah dilindungi dan dibuatkan pagar supaya tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil.
Nah, rasanya kurang lengkap jika tidak berswafoto kompleks Candi Penampihan ini. Kami mengambil posisi dengan background kebun teh, yang kelihatannya baru dipanen. Rasanya seperti di tengah-tengah kebun teh. Haha....serasa di Puncak Pass![]
Saya bukan kali pertamanya berkunjung ke Candi Penampihan. Terakhir kali tahun 2014. Saat itu saya dan Ella datang ke Candi Penampihan dalam rangka memberi kuesioner pada komunitas, rumah budaya atau sekolah yang mendapat bantuan dari Kementerian pendidikan dan Kebudayaan. Kalau itu, kami datang untuk mencari--saya sudah lupa dengan siapa?--yang kebetulan bekerja di lereng Gunung Wilis, Sendang ini. Kalau itu pula, sore juga sedang hujan meski tak deras.
Namun adanya hambatan hujan, kami tetep berkunjung di Candi Penampihan. Saya datang bersama Didik, teman yang dahulu satu organisasi. Ia mengajak saya untuk melakukan sesuatu. Pada hal ini, saya hanya menemani saja, tak melakukan apa yang ia lakukan. Saat saya memang sedikit kelelahan. Saya waktu berada di belakang, dibonceng Didik, saya berulang kali menahan kantuk. Bahkan, saya sempat seloyor tak kuat menahan kantuk. Hal ini karena hawanya yang sejuk dan dingin menambah rasa tak terhalang.
Meski sedikit mendung dan gerimis mengundang. Namun tak mengurangi kenikmatan kami berkendara di jalanan yang relatif sepi dan lumayan menguras tenaga karena kontur jalannya yang tidak rata dan ada lubang menganga di kanan kiri jalan. Sekali-kali, kami menurunkan tarikan gas untuk menghindari lubang atau aspal yang rusak itu. Meski jalannya tidak rata, kami sungguhi pemandangan yang indah oleh hamparan sawah dengan teknik terasering di sepanjang perjalanan.
Untuk menuju ke sana butuh waktu kurang lebih 40 menit. Lokasinya berada di lereng Gunung Wilis, Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Candi Penampihan ini merupakan candi Hindu kuno yang dibangun pada tahun Saka 820 atau 898 Masehi. Menurut sumber sekunder, ada dua penamaan yang memiliki perbedaan. Yang pertama, penamaan Candi Penampihan, dikatakan dalam cerita rakyat tersebut berasal dari kata ‘tampik’ yang artinya tolak. Penolakan sama dengan penampikan yang lama kelamaan menjadi penampihan.
Yang kedua adalah, merujuk dari Bahasa Jawa, nama Penampihan itu sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang berarti Penerimaan. Oleh karena itu, terdapat dua versi arti yang berkembang, yakni penolakan dan penerimaan yang bersyarat. Namun jika mengacu dari kata Penampihan memiliki arti yang sangat dekat dengan arti dari kata nampi atau menerima.
Candi Penampihan merupakan candi pemujaan dengan tiga tahapan (teras) yang dipersembahkan untuk memuja Dewa Siwa. Konon, dulu saat peresmian candi ini dengan mengadakan pagelaran Wayang (ringgit). Di area kompleks candi arca yaitu Arca Siwa dan Dwarapala, tetapi karena ulah tangan yang tidak bertanggung jawab, ada beberapa arca yang hilang dan rusak. Untuk melindungi dan mengamankan beberapa arca yang tersisa, seperti arca siwa disimpan di museum situs Purbakala Majapahit Trowulan Jawa Timur.
Berdasarkan Bu Winarti, juru kunci Candi Penampihan, mengatakan bahwa prasasti ini berkisah tentang nama-nama Raja Balitung, serta seseorang bernama Mahesa Lalatan. siapa dia? Sejarah lisan maupun artefak belum bisa menguaknya. Serta seorang putri yang konon bernama Putri Kilisuci dari Kerajaan Kediri.
Perempuan yang berusia 44 tahun itu menambahkan, selain menyebutkan nama, prasasti itu juga memberikan informasi tentang Catur Asrama yaitu sistem sosial masyarakat era itu di mana klasifikasian masyarakat (stratifikasi) berdasarkan kasta dalam agama Hindu yaitu Brahmana, Satria, Vaisya dan Sudra.
Tanah yang Subur
Yang menarik saat berkunjung ke Candi Penampihan, Tulungagung ini adalah pemandangan yang indah. Pemandangan yang indah itu nampak dari berbagai arah. Selatan, Utara, Barat dan Timur, pemandangan membentang luas hijau nan subur. Berbagai macam jenis tumbuhan dan pohon tumbuh dengan rindang.
Saya menjumpai banyak tumbuh-tumbuhan yang hidup subur. Tanaman sayur dan lainnya banyak tumbuh. Tanaman atau tumbuhan ini memang ditanam oleh petani sekitar Gunung Wilis ini. Selain subur, Lereng Wilis di sisi Selatan ini memang terbilang cukup menawan.
Pemandangannya cukup memanjakan mata kala menikmatinya. Kala perjalanan pulang, saya meminta Didik untuk berhenti sebentar untuk mengabadikan pemandangan itu menjadi gambar. Karena tertusuk hawa yang dingin, kamu tak terlalu lama untuk mengambil foto itu.
Selain keindahan alam, baik saat kami dalam perjalanan menuju puncak dan pulang, kami sempat melempar tanya pada Didik, bahwa masyarakat sekitar lereng Wilis ini adalah orang kaya. Di sekitar rumah banyak binatang ternak, sebagai besar adalah sapi. Yang dalam satu kandang terdapat 5 sampai 10 ekor. Kita bisa kalkulasi sendiri. Belum lagi sapi perah dan lainnya. Tak ayal pinggir-pinggir jalan banyak sekali berdiri koperasi petani yang berdiri megah dan lengkap dengan alat modern.
Selain sebagai petani sapi, ia juga memiliki lahan untuk bertani. Tumbuhan yang ditanam sangat variasi. Namun kebanyakan tanaman yang ditanam adalah tanaman sayuran. Kekayaan alam ini sangat membantu kelangsungan hidup masyarakat sekitar maupun masyakarat luar yang disuplai dari sumber daya alam dari leren Wilis ini.
Sumber Tirta Merta
Tak jauh dari Candi Penampihan dan masih satu kompleks dengan candi Penampihan ada sumber air yang tak pernah mati aliran airnya. Dan menurut Bu Winarti terdapat 2 kolam kecil yang bernama Samudera Mantana (pemutaran air samudera), di mana menurut pengamatan empiris selama berpuluh-puluh oleh Bu Winarti, 2 kolam tersebut merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa.
Dua kolam itu berada di sebelah utara dam sebelah selatan. Kolam yang sebelah utara merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian utara sedangkan kolam yang berada sebelah selatan merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian selatan. Masih berdasarkan penuturan Bu Winarti, apabila sumber air di kedua kolam tersebut kering, maka keadaan air di bawah menderita kekeringan, begitupun sebaliknya. Apabila kedua atau salah satu kolam tersebut penuh air berarti keadaan air di bawah sedang banjir.
Nah, sumber air yang berada di komplek Candi Penampihan itu adalah Tirta Amerta. Dulu, saat saya datang bersama Ella, sumber air ini belum dibangun seperti sekarang ini. Dulu masih sangat alami. Keluar dari sumber mata air. Kini, sumber mata air itu telah dibangun sedemikian rupa. Dan sudah dirawat. Air tetap mengalir dengan melewati bangunan dan gapura yang dibangun, yang entah tahun berapa dibangun saya luput, menggali informasi.
Banyu Panguripan atau Tirta Amerta adalah air kehidupan yang membuat makhluk hidup abadi tak dapat mati. Sumber air ini sangat jernih, segar, dan dingin. Kali ini, kami tak sempat untuk membasuh atau bermain air. Sebab, bangunan Tirta Amerta telah dilindungi dan dibuatkan pagar supaya tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil.
Nah, rasanya kurang lengkap jika tidak berswafoto kompleks Candi Penampihan ini. Kami mengambil posisi dengan background kebun teh, yang kelihatannya baru dipanen. Rasanya seperti di tengah-tengah kebun teh. Haha....serasa di Puncak Pass![]
إرسال تعليق