“Buku adalah rumah bagi (orang) pengalaman-pengalaman membaca."
Dari layar datar, di acara televisi, Metro Tv, edisi Sabtu, 17 Mei, berbicara tentang buku, dengan bintang tamu Asma Nadia dan Andrea Hirata, serts deswita selaku pembawa acara. Asma Nadia masuk dengan menenteng beberapa buku hasil tulisannya yang akan diangkat ke layar lebar. Pada kesempatan Talk Show, host memberi pertanyaan kepada Asma Nadia, Anak-anak kita sekarang hadir di zaman gadget, akankah berpengaruh dengan minat membaca? Ia pun menjawab “Tidak masalah dengan hadirnya gadget, seperti dua mata sisi uang, apabila bisa manfaatkan untuk mencari informasi itu tidak akan mengganggu, dan sebaliknya," tutur Asma Nadia, yang dikenal penulis novel religius tersebut.
Dalam penuturannya, di lain kesempatan, Asma Nadia pernah ditanya oleh seorang ibu tentang minimnya minat baca seorang anak dalam sehari-harinya. Maka, sebelum menyuruh anaknya yang minim minat membaca, Asma Nadia bertanya balik kepada orang tua itu. Apakah orangtua atau ibu suka baca buku atau tidak? Karena pertama kali yang memperkenalkan anak pada buku adalah ibu, atau orang tua itu sendiri.
Karena lewat tuturan kata seorang ibulah perpustakaan baca akan tersampaikan kepada anak. Dengan cara, buku harus di-display, dan ditaruh di tempat terbuka, seperti di tempat makan, di ruang keluarga maupun tempat tidur. Sehingga, selain mendekatkan buku kepada anak-anak, orangtua juga menyebarkan kegemaran membaca buku kepada anak-anak.
Asma Nadia menyebutkan ada kurang lebih 100 anak menjadi penulis. Atau lebih familiar dengan sebutan kecil-kecil berkarya atau penulis kecil. Hal tersebut bermula dari mendekatkan, menyebarluaskan bacaan-bacaan kepada anak-anak. Terlebih orangtua juga gemar membacakan cerita-cerita pengantar tidur sebagai rangsangan awal bagi anak-anak untuk mencintai dunia buku dan bacaan.
Lebih lanjut, Asma Nadia bercerita awal mula kegemarannya terhadap bacaan atau buku. Ia bercerita bahwa untuk mendapatkan informasi, ia membaca bekas bungkus atau buku yang dibawakan dari pasar oleh ibunya. Ia dengan cermat membaca koran bekas itu. Dari membaca koran bekas atau buku yang dibawa oleh ibunya selepas pulang dari pasar itulah, ia semakin senang membaca. Senang mencari informasi dari berbagai sumber.
Berawal mencintai buku-buku atau bacaan mengantarkan Asma Nadia bisa menulis. Tidak hanya itu saja, Asma Nadia bisa berkeliling 27 negara. Kalau orangtua melihat bakat anaknya, itu memudahkan meningkatkan minat membaca anak. Asma Nadia mencontohkan anaknya, anaknya yang suka dengan mobil-mobilan, Asma Nadia membelikan buku-buku yang berbau dengan otomotif, dari membaca buku tersebut imajinasi anak akan terasang. Asma Nadia memiliki Rumah Belajar Asma Nadia di beberapa daerah di tanah air, dan semua anak bisa belajar di Founding Asma Nadia tersebut.
Pada season kedua, kesempatan Andrea Hirata datang dengan membawa buku berjudul Laskar pelangi versi bahasa Inggris. Ia pun dengan semangat bercerita tentang buku yang telah mengantarkan bukunya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia bercerita tidak kalah menariknya sama seperti Asma Nadia. Ia sadar, membaca penting sekali untuk kecerdasan anak-anak. Maka dari itu, dia menulis buku berjudul Laskar pelangi supaya anak-anak termotivasi sekolah suka membaca.
Ia melakukan riset, terhadap kegemaran yang dilakukan oleh seorang anak. Menurut risetnya, dari 80 % anak, yang memiliki kesukaan pada dunia baca adalah karena meniru yang dilakukan oleh orangtuanya. Misal, saat orangtua membaca buku atau bacaan lain, seperti koran atau lainnya. Dari orangtua yang sering menenteng buku kemana-kemana, maka seorang anak akan terespon untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan, dicontohkan oleh kedua orangtuanya.
Masih dalam ceritanya di acara tersebut, dia berkelakar dan teringat kampung halamannya. Dulu, saat masih di kampungnya, selepas membeli buku baru, sering atau kadang tidak langsung menghabiskan buku tersebut. Ia menyisakan beberapa halaman untuk ia lahap di hari berikutnya. Karena, ia takut habis tak ada bacaan yang akan dibaca selepas buku itu dilahapnya. Sebagai anak kampung yang jauh dari pasokan bacaan yang bermutu, hal tersebut adalah hal yang lumrah. Melihat dari gesturenya itu, ia sangat mencintai buku dan dunia literasi.
Hidup di perkampungan dan jauh dari pasokan buku bacaan yang berkualitas, maka untuk mendekatkan atau memperkenalkan buku bacaan kepada anak-anak, seyogyanya harus dilakukan hal-hal ysng sederhana di rumah. Sebab, seperti sebuah pepatah "tak kenal maka tak sayang" misal menghadirkan bacaan kepada anak-anak tentang cerita-cerita, tentang kegemaran dan menempatkan buku-buku di beberapa tempat yang strategis.
Hal tersebut adalah wajib. Sebab, dalam lingkungan keluarga, sangat mungkin hal demikian dilakukan sebagai pemicu kesukaan anak-anak untuk merangsang rasa keingintahuan terhadap dunia literasi (baca maupun tulis). Atau adanya taman baca dan reading coach di desa, tentu akan membangkit menjadi lebih baik. Selain itu, di rumah di-desain semenarik mungkin dengan menempatkan buku di mana-mana.
Ia menyarankan bahwa membaca adalah mengonsumsi waktu, maka pilih bacaan yang positif. Ia juga mengatakan dan memikirkan orang Indonesia tentang minat membaca dan menulis bagi anak-anak. Andrea Hirata merupakan satu dari sekian orang Indonesia yang senang membaca, sehingga ia menjadi penulis idola. Ia mengatakan bahwa dengan teori seperti reading coach di mana guru atau orangtua membaca cerita lalu anak atau murid menuliskan ulang. Sebab, buku merupakan rumah bagi (orang) pengalaman-pengalaman membaca.
Buku merupakan benda ajaib. Sementara metode raeding coach mampu membantu orangtua dalam meningkatkan dan membudayakan membaca di lingkungan rumah. Kesadaran di lingkungan rumah tangga, tak ayal mampu menciptakan kekuatan dan membangkitkan semangat anak-anak untuk mencintai buku untuk meningkatkan tahap pengetahuan dan kecerdasannya. []
Dari layar datar, di acara televisi, Metro Tv, edisi Sabtu, 17 Mei, berbicara tentang buku, dengan bintang tamu Asma Nadia dan Andrea Hirata, serts deswita selaku pembawa acara. Asma Nadia masuk dengan menenteng beberapa buku hasil tulisannya yang akan diangkat ke layar lebar. Pada kesempatan Talk Show, host memberi pertanyaan kepada Asma Nadia, Anak-anak kita sekarang hadir di zaman gadget, akankah berpengaruh dengan minat membaca? Ia pun menjawab “Tidak masalah dengan hadirnya gadget, seperti dua mata sisi uang, apabila bisa manfaatkan untuk mencari informasi itu tidak akan mengganggu, dan sebaliknya," tutur Asma Nadia, yang dikenal penulis novel religius tersebut.
Dalam penuturannya, di lain kesempatan, Asma Nadia pernah ditanya oleh seorang ibu tentang minimnya minat baca seorang anak dalam sehari-harinya. Maka, sebelum menyuruh anaknya yang minim minat membaca, Asma Nadia bertanya balik kepada orang tua itu. Apakah orangtua atau ibu suka baca buku atau tidak? Karena pertama kali yang memperkenalkan anak pada buku adalah ibu, atau orang tua itu sendiri.
Karena lewat tuturan kata seorang ibulah perpustakaan baca akan tersampaikan kepada anak. Dengan cara, buku harus di-display, dan ditaruh di tempat terbuka, seperti di tempat makan, di ruang keluarga maupun tempat tidur. Sehingga, selain mendekatkan buku kepada anak-anak, orangtua juga menyebarkan kegemaran membaca buku kepada anak-anak.
Asma Nadia menyebutkan ada kurang lebih 100 anak menjadi penulis. Atau lebih familiar dengan sebutan kecil-kecil berkarya atau penulis kecil. Hal tersebut bermula dari mendekatkan, menyebarluaskan bacaan-bacaan kepada anak-anak. Terlebih orangtua juga gemar membacakan cerita-cerita pengantar tidur sebagai rangsangan awal bagi anak-anak untuk mencintai dunia buku dan bacaan.
Lebih lanjut, Asma Nadia bercerita awal mula kegemarannya terhadap bacaan atau buku. Ia bercerita bahwa untuk mendapatkan informasi, ia membaca bekas bungkus atau buku yang dibawakan dari pasar oleh ibunya. Ia dengan cermat membaca koran bekas itu. Dari membaca koran bekas atau buku yang dibawa oleh ibunya selepas pulang dari pasar itulah, ia semakin senang membaca. Senang mencari informasi dari berbagai sumber.
Berawal mencintai buku-buku atau bacaan mengantarkan Asma Nadia bisa menulis. Tidak hanya itu saja, Asma Nadia bisa berkeliling 27 negara. Kalau orangtua melihat bakat anaknya, itu memudahkan meningkatkan minat membaca anak. Asma Nadia mencontohkan anaknya, anaknya yang suka dengan mobil-mobilan, Asma Nadia membelikan buku-buku yang berbau dengan otomotif, dari membaca buku tersebut imajinasi anak akan terasang. Asma Nadia memiliki Rumah Belajar Asma Nadia di beberapa daerah di tanah air, dan semua anak bisa belajar di Founding Asma Nadia tersebut.
Pada season kedua, kesempatan Andrea Hirata datang dengan membawa buku berjudul Laskar pelangi versi bahasa Inggris. Ia pun dengan semangat bercerita tentang buku yang telah mengantarkan bukunya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia bercerita tidak kalah menariknya sama seperti Asma Nadia. Ia sadar, membaca penting sekali untuk kecerdasan anak-anak. Maka dari itu, dia menulis buku berjudul Laskar pelangi supaya anak-anak termotivasi sekolah suka membaca.
Ia melakukan riset, terhadap kegemaran yang dilakukan oleh seorang anak. Menurut risetnya, dari 80 % anak, yang memiliki kesukaan pada dunia baca adalah karena meniru yang dilakukan oleh orangtuanya. Misal, saat orangtua membaca buku atau bacaan lain, seperti koran atau lainnya. Dari orangtua yang sering menenteng buku kemana-kemana, maka seorang anak akan terespon untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan, dicontohkan oleh kedua orangtuanya.
Masih dalam ceritanya di acara tersebut, dia berkelakar dan teringat kampung halamannya. Dulu, saat masih di kampungnya, selepas membeli buku baru, sering atau kadang tidak langsung menghabiskan buku tersebut. Ia menyisakan beberapa halaman untuk ia lahap di hari berikutnya. Karena, ia takut habis tak ada bacaan yang akan dibaca selepas buku itu dilahapnya. Sebagai anak kampung yang jauh dari pasokan bacaan yang bermutu, hal tersebut adalah hal yang lumrah. Melihat dari gesturenya itu, ia sangat mencintai buku dan dunia literasi.
Hidup di perkampungan dan jauh dari pasokan buku bacaan yang berkualitas, maka untuk mendekatkan atau memperkenalkan buku bacaan kepada anak-anak, seyogyanya harus dilakukan hal-hal ysng sederhana di rumah. Sebab, seperti sebuah pepatah "tak kenal maka tak sayang" misal menghadirkan bacaan kepada anak-anak tentang cerita-cerita, tentang kegemaran dan menempatkan buku-buku di beberapa tempat yang strategis.
Hal tersebut adalah wajib. Sebab, dalam lingkungan keluarga, sangat mungkin hal demikian dilakukan sebagai pemicu kesukaan anak-anak untuk merangsang rasa keingintahuan terhadap dunia literasi (baca maupun tulis). Atau adanya taman baca dan reading coach di desa, tentu akan membangkit menjadi lebih baik. Selain itu, di rumah di-desain semenarik mungkin dengan menempatkan buku di mana-mana.
Ia menyarankan bahwa membaca adalah mengonsumsi waktu, maka pilih bacaan yang positif. Ia juga mengatakan dan memikirkan orang Indonesia tentang minat membaca dan menulis bagi anak-anak. Andrea Hirata merupakan satu dari sekian orang Indonesia yang senang membaca, sehingga ia menjadi penulis idola. Ia mengatakan bahwa dengan teori seperti reading coach di mana guru atau orangtua membaca cerita lalu anak atau murid menuliskan ulang. Sebab, buku merupakan rumah bagi (orang) pengalaman-pengalaman membaca.
Buku merupakan benda ajaib. Sementara metode raeding coach mampu membantu orangtua dalam meningkatkan dan membudayakan membaca di lingkungan rumah. Kesadaran di lingkungan rumah tangga, tak ayal mampu menciptakan kekuatan dan membangkitkan semangat anak-anak untuk mencintai buku untuk meningkatkan tahap pengetahuan dan kecerdasannya. []
Posting Komentar