Pagi ini berbeda dengan pagi kemarin. Selain pagi ini matahari tidak memancarkan sinar cerah, namun ada yang berbeda dengan pagi kemarin. Hari ini saat saya masih di Kantor Desa Pakel, saya dikirimi sebuah gambar oleh istri saya. (Ini adalah tulisan pertama setelah saya nikah, maka saya akan membiasakan bahwa saya sudah beristri. Maka berbeda pula yang saya tulis).
Gambar tersebut bukan gambar hasil dari sumbangan teman-teman. Namun gambar tersebut adalah gambar 'laporan' bahwa ia telah menjadi seorang istri sempurna? Bahwa pagi ini ia telah menjalankan kodrat seorang istri. Yakni mencuci baju kami. (Meski bukan mencuci secara tradisional yang menggunakan kucek-kucek sabun colek). Tetapi bagi istri saya, ia masih canggung saat menggunakan mesin cuci yang berbeda dengan ada di rumahnya.
Sebab, sudah 2 minggu ini ia saya suruh mencuci memakai mesin cuci manual itu tetapi ia selalu menolak. Sempat saya suruh mencuci baju punya kami sekeluarga. Tetapi ia menolak dengan dalih nggak bisa cara menggunakan mesin manual itu. Bahkan ia ingin mencari tempat laundry untuk mencuci tumpukan baju yang ada di keranjang tersebut.
Kali ini ia memberanikan diri tampil di depan mertuanya untuk pertama kalinya mencuci baju. Selain itu, ia sedari pagi juga sudah membantu ibu saya di dapur. Ia telah membersihkan lantai, mulai dari teras sampai pawon. Jika saya amati memang ia sangat prigel soal menyapu. Sebab, jika dilihat rumah saya di Tasikmadu, Watulimo dengan rumahnya di Banjarsari, Ngantru luasnya lebih besar rumahnya di Ngantru. Oleh karena soal nyapu tak usah ditanya.
Namun berbeda soal nyuci baju. Meski di rumah ia juga sudah terbiasa mencuci menggunakan mesin cuci tetapi di rumah Prigi ini, istri saya masih belum lama beradaptasi. Ia harus malu-malu jika harus tanya sama mertuanya tentang ini itu. Termasuk bertanya cara pemakaian mesin cuci manual. Entah apa yang membuat ia nekad itu dan mencuci baju itu?
Tidak lain tidak bukan adalah terpaksa. Kami di rumah Prigi sudah ada 5 hari. Datang dari rumah Tulungagung hari Minggu kemarin sampai hari Jumat lusa. Sementara itu, baju bersih juga tidak terlalu banyak di rumah Prigi. Itu artinya, keadaan stock baju bersih untuk dipakai sore hari sudah menipis. Sementara di keranjang baju kotor juga semakin penuh.
Artinya ia harus sesegera mungkin mencuci baju yang ada di keranjang tersebut supaya ia bisa memakai baju bersih dan saat mau ditinggal dan pulang ke rumah Ngantru, Tulungagung tidak menumpuk dan tayumen. Namun saat ia mulai mencuci, ia menemui kendala. Tidak lain tidak bukan kendalanya adalah air. Air sedari pagi memang tidak mengalir lancar. Karena itu, ia bingung saat mau mencuci.
Saat ia bingung akan memulai mencuci baju karena tak ada air, saat itu pula saya berangkat ke kantor Desa Tasikmadu. Sebenarnya, saya di kantor desa hanya sebentar. Hanya untuk ijin karena ingin ke Kantor Desa Pakel perihal sharing aplikasi Siskuedes dengan perangkat Desa Pakel. Sebelum berangkat ke Desa Pakel, saya pulang karena sedari pagi perut belum diisi. Pulanglah saya untuk sarapan. Saat sampai di rumah, saya melihat istri sedang menadahi dan menuangkan air di mesin cuci. Karena belum terbiasa dengan sistem manual. Air yang ia tuangkan ke dalam mesin cuci tersebut terbuang secara percuma. Sebab program pembuangann masih nyala. Bahkan, menurut ceritanya, air juga sampai blambangan atau banjir di lantai.
Setelah itu saya tak mengikuti apa saja yang ia kerjakan selepas air itu terbuang percuma. Karena saya harus berangkat ke Desa Pakel dan bertemu dengan Pak Huda, salah satu perangkat Kaur Perencanaan untuk sharing tentang Siskuedes. Di sela-sela obrolan dengan Pak Huda, telepon genggam saya bergetar. Telepon itu saya raih dari saku baju dan membaca sekenanya.
Ternyata WhatsApp masuk tersebut dari istri saya. Ia mengabarkan bahwa ia telah menjadi seorang istri yang baik dan sempurna. Sebab ia telah menyelesaikan tugas menjadi seorang perempuan. Mencuci dan melipat baju. Baju yang ia cuci sudah dijemur di timur rumah. Karena cuaca pagi itu tetap mendung. Selain itu ia juga habis dari pasar membeli baju daster, yang ia pakai ganti di rumah Prigi, serta buah dan nugget beserta rincian yang ia belanjakan.
Sebenarnya WhatsApp tersebut ingin rasanya membalas dengan rasa pujian. Karena saya tak terlalu fokus dengan chat tersebut, maka chat tersebut saya balas dengan nada datar. Namun, dalam hati saya. Saat melihat istri senang serta merasa telah bisa menjalankan tugas sebagai perempuan, disitulah saya ikut bahagia. Karena bahagia itu sederhana itu. Terima kasih Istriku.
Tasikmadu, 4-7-2019 di tempat Potong Rambut
Gambar tersebut bukan gambar hasil dari sumbangan teman-teman. Namun gambar tersebut adalah gambar 'laporan' bahwa ia telah menjadi seorang istri sempurna? Bahwa pagi ini ia telah menjalankan kodrat seorang istri. Yakni mencuci baju kami. (Meski bukan mencuci secara tradisional yang menggunakan kucek-kucek sabun colek). Tetapi bagi istri saya, ia masih canggung saat menggunakan mesin cuci yang berbeda dengan ada di rumahnya.
Sebab, sudah 2 minggu ini ia saya suruh mencuci memakai mesin cuci manual itu tetapi ia selalu menolak. Sempat saya suruh mencuci baju punya kami sekeluarga. Tetapi ia menolak dengan dalih nggak bisa cara menggunakan mesin manual itu. Bahkan ia ingin mencari tempat laundry untuk mencuci tumpukan baju yang ada di keranjang tersebut.
Kali ini ia memberanikan diri tampil di depan mertuanya untuk pertama kalinya mencuci baju. Selain itu, ia sedari pagi juga sudah membantu ibu saya di dapur. Ia telah membersihkan lantai, mulai dari teras sampai pawon. Jika saya amati memang ia sangat prigel soal menyapu. Sebab, jika dilihat rumah saya di Tasikmadu, Watulimo dengan rumahnya di Banjarsari, Ngantru luasnya lebih besar rumahnya di Ngantru. Oleh karena soal nyapu tak usah ditanya.
Namun berbeda soal nyuci baju. Meski di rumah ia juga sudah terbiasa mencuci menggunakan mesin cuci tetapi di rumah Prigi ini, istri saya masih belum lama beradaptasi. Ia harus malu-malu jika harus tanya sama mertuanya tentang ini itu. Termasuk bertanya cara pemakaian mesin cuci manual. Entah apa yang membuat ia nekad itu dan mencuci baju itu?
Tidak lain tidak bukan adalah terpaksa. Kami di rumah Prigi sudah ada 5 hari. Datang dari rumah Tulungagung hari Minggu kemarin sampai hari Jumat lusa. Sementara itu, baju bersih juga tidak terlalu banyak di rumah Prigi. Itu artinya, keadaan stock baju bersih untuk dipakai sore hari sudah menipis. Sementara di keranjang baju kotor juga semakin penuh.
Artinya ia harus sesegera mungkin mencuci baju yang ada di keranjang tersebut supaya ia bisa memakai baju bersih dan saat mau ditinggal dan pulang ke rumah Ngantru, Tulungagung tidak menumpuk dan tayumen. Namun saat ia mulai mencuci, ia menemui kendala. Tidak lain tidak bukan kendalanya adalah air. Air sedari pagi memang tidak mengalir lancar. Karena itu, ia bingung saat mau mencuci.
Saat ia bingung akan memulai mencuci baju karena tak ada air, saat itu pula saya berangkat ke kantor Desa Tasikmadu. Sebenarnya, saya di kantor desa hanya sebentar. Hanya untuk ijin karena ingin ke Kantor Desa Pakel perihal sharing aplikasi Siskuedes dengan perangkat Desa Pakel. Sebelum berangkat ke Desa Pakel, saya pulang karena sedari pagi perut belum diisi. Pulanglah saya untuk sarapan. Saat sampai di rumah, saya melihat istri sedang menadahi dan menuangkan air di mesin cuci. Karena belum terbiasa dengan sistem manual. Air yang ia tuangkan ke dalam mesin cuci tersebut terbuang secara percuma. Sebab program pembuangann masih nyala. Bahkan, menurut ceritanya, air juga sampai blambangan atau banjir di lantai.
Setelah itu saya tak mengikuti apa saja yang ia kerjakan selepas air itu terbuang percuma. Karena saya harus berangkat ke Desa Pakel dan bertemu dengan Pak Huda, salah satu perangkat Kaur Perencanaan untuk sharing tentang Siskuedes. Di sela-sela obrolan dengan Pak Huda, telepon genggam saya bergetar. Telepon itu saya raih dari saku baju dan membaca sekenanya.
Ternyata WhatsApp masuk tersebut dari istri saya. Ia mengabarkan bahwa ia telah menjadi seorang istri yang baik dan sempurna. Sebab ia telah menyelesaikan tugas menjadi seorang perempuan. Mencuci dan melipat baju. Baju yang ia cuci sudah dijemur di timur rumah. Karena cuaca pagi itu tetap mendung. Selain itu ia juga habis dari pasar membeli baju daster, yang ia pakai ganti di rumah Prigi, serta buah dan nugget beserta rincian yang ia belanjakan.
Sebenarnya WhatsApp tersebut ingin rasanya membalas dengan rasa pujian. Karena saya tak terlalu fokus dengan chat tersebut, maka chat tersebut saya balas dengan nada datar. Namun, dalam hati saya. Saat melihat istri senang serta merasa telah bisa menjalankan tugas sebagai perempuan, disitulah saya ikut bahagia. Karena bahagia itu sederhana itu. Terima kasih Istriku.
Tasikmadu, 4-7-2019 di tempat Potong Rambut
إرسال تعليق