Membaca buku otobiografi Muhidin M Dahlan yang berjudul Jalan Sunyi Seorang Penulis ini serasa melek padam. Pasalnya, gaya kepenulisan Muhidin yang khas: konyol, porno dan terkadang meledak juga melankolis ini merepresentasikan bahwa ia adalah penulis yang sudah kawak; sudah kenyang makan asam garam kepenulisan hingga sekarang.
Buku Jalan Sunyi Seorang Penulis yang saya baca hampir dua Minggu selesai, mengingatkan betapa terjalnya menjadi seorang penulis. Dan buku ini sebagai apresiasi dan mengenang bagaimana seorang Gus Muh—sapaan akrabnya—memulai menulis: mematengkan kemampuannya dalam beberapa organisasi dan majalah kampus, mengirim “tulisan untuk kembali” hingga menjadi editor penerbitan kecil menandakan bahwa Muhidin pribadi yang kokoh.
Muhidin M Dahlan yang hidup dari keluarga pesisir sederhana bisa dibilang—sangat jauh—tidak mengenal buku. Sekalipun buku bacaan cerita rakyat. Yang dia lihat bukan buku, melainkan televisi. Itupun hanya ada satu dua dalam lingkungannya. Warnanya masih hitam putih. Televisi sangat digemari dan berwibawa. Hanya buku yang putih yang bergaris merah di tengahnya, (ingat Sidu?, ya itu, Sinar Dunia). Kendati memiliki buku tulis bergaris merah, namun bagi orang desa, tradisi membaca adalah tradisinya orang kota.
Kalaupun mau membaca, itu hasil menulis dari dikte’an oleh guru di kelas. Tanpa berani bertanya buku apa. Tugas seorang siswa, ketika itu, hanya mencatat diktean guru tidak lebih. Hanya mencatat. Selain itu, tugas siswa juga memperkuat hafalan dan merapalkan mantra-mantra nama serta menghafal tokoh-tokoh sastra, tanpa tahu isi buku tersebut. Lagi-lagi karena nilai. Kunci untuk mendapatkan nilai yang bagus adalah menghafal. Yang diperkuat bukan analisis tapi ingatan. Kemudian, dengan cara belajar seperti itu, Muhidin menaruh curiga terhadap guru Bahasa Indonesianya, “Jangan-jangan guru Bahasa Indonesia belum pernah membaca semua karya sastra yang pernah diajarkan olehnya. Juga jangan-jangan ia belum pernah punya pengalaman menulis dengan baik...”
Dari SD hingga SMP Muhidin mendakwa dirinya rabun membaca dan rabun menulis, dan ditambah rabun berhitung. Dia sangat membenci pelajaran yang berbau dengan angka atau berhitung, hanya merasakan kecintaanya terhadap pelajaran IPS saja. Sewaktu di SMP Muhidin belum banyak bergelut dengan buku-buku, hanya beberapa “buku cetak” pelajaran sekolah. Namun, keingintahuannya cukup besar, ia meminjam buku di perpustakaan daerah. Baru ketika di bangku STM-lah, perjalanan baru berbaur dengan buku-buku di mulai, terutama buku-buku agama, karena dia tergabung dengan organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia).
Dari teman-teman PII itulah ia berhubungan langsung dengan buku-buku ideologi. Dan buku bacaan utama dan bacaan wajib adalah karangan Endang Syarifuddin Anshari yang berjudul Wawasan Islam, buku ini semacam buku indeks Quran. Selain itu buku Menjawab 1001 Masalah dalam Islam terbitan GIP (Gema Insan Press). Hingga buku Ali Syari’ati, yang berjudul Membangun Masa Depan Islam dan Haji. Dan buku seukuran saku yang berjudul Ideologi kaum Intelektual. Karena itu, ia jarang sekali membaca buku pelajaran sekolah, namun lebih buku-buku berbau ideologi dan buku sastra. Karena tuntutan di PII itulah, yang ideologi yang diusung tentang agama. Majalah yang paling favorit adalah Hikmah dan Tiras. Adapun koran, ia lebih menyukai Republika. Maklum, ia tergabung dengan aktivis Islam dan gandrung dengan koran Islma. Dan Republika adalah koran Islam. Dan tentu koran Pelita. Hingga ia menjust, Kompas adalah milik Nasrani. Karena Nasrani, maka menyentuhnya haram dan kesan imejnya jelek.
Baru bersama teman-teman PII dan komunitas diskusi itu, dia merasa keranjingan dengan buku. Karena dia dituntut untuk berbicara di muka forum dan berbicara di mimbar-mimbar. Dari bergabungnya di komunitas diskusi itulah awal mulanya, ia belajar menulis. Dia mendapat bagian membuat undangan dan mengorganisir wacana. Dengan membuat surat, ia perlahan melajar menulis.
Namun ketika berdiskusi ia tidak banyak berbicara—paling-paling lima kalimat yang keluar—itupun juga disertai dengan gelombang kegugupan dan kegagapan. Karena tanggungan untuk berbicara wacana dalam komunitas diskusi, Muhidin harus banyak membaca dan berbicara. Maka, setelah sekolah, dia bukannya langsung pulang, akan tetapi dia malah langsung cabut ke perpustakaan Daerah dan mencari dan membaca buku yang ia sukai.
Dari situlah, ia memiliki perasaan gelisah untuk menulis. Namun menulis tidak semudah yang ia bayangkan. Bayangkan, hanya memparafrase dan memindah kalimat-kalimat dari paragraf dari buku, yang dia baca pun tak bisa. Dia memulai menulis memakai mesin ketik manual, tak tik tok. Satu paragraf. Cabut. Remuk. Buang. Ganti kertas. Tiga paragraf. Kabur maknanya. Cabut. Remuk. Ganti kertas lagi. Aku menulis memang menulis tetapi memindahi paragraf-paragraf yang aku anggap penting. “Sebetulnya yang kulakukan bukan menulis, tapi memindahkan paragraf-paragraf isi buku itu dalam tulisan pendek. Tapi sulitnya bukan main. Bayangkan, sudah sejauh ini memindah isi buku saja alias menyusun contekan saja tidak mampu. Aku hanya ingin meniru, tapi tetap saja tak sanggup.” Katanya
Menulis memang sulit manakala tidak dilakukan secara rutin dan terbiasa. Walau sudah banyak membaca buku, namun tidak terbiasa dalam menyusun dan merangkai tulisan, satu paragraf pun tidak bakal jadi. Menulis pun juga diperlukan ketelatenan. Kalau tidak telaten dan memiliki mental tahan banting maka tulisan itu pun tidak akan berhasil.
Dan Muhidin menyelesaikan tulisan pendek itu dengan beberapa kali kegagalan. Berkat kerja kerasnya, tulisan yang ia buat melalui beberapa kali kegagalan tersebut menuai keberhasilan dengan dimuat di buletin, Dinamika No. 09 di bawah titel: Brain Drain; Sebuah Malapetaka. Tujuan dia menulis adalah menulis. Entah dibaca oleh pembaca atau tidak, itu urusan belakangan. Yang tujuan utama adalah bahwa ia bisa menulis tidak lebih.
Karena kegandrungannya dan kecanduan menulis maka dia pun banyak membaca dan membeli buku. Usaha untuk mendapatkan buku tersebut harus menguruskan badannya. Dan usaha yahg dilakukan adalah mencicil dan mengurangi jatah makannya. Usahanya mencicil itu sama dengan apa yang dikatakan oleh Desiderius Eramus (1465-1536), “Kalau aku memiliki sedikit punya uang, aku beli buku. Kalau masih ada lebihnya, barulah aku belanja makanan dan pakaian.” Buku yang pertama kali dibeli oleh Muhidin adalah buku Psikologi Komunikasi Jalaluddin Rakhmat, Islam Merah-nya Ali Syari’ati, dan Kapita Salekta Mutiara Islam.
Menulis (Bukan) Hasil dari Pendidikan
Belajar menulis itu bisa di mulai dari mana saja. Tidak terkecuali di komunitas dan majalah sekolah atau majalah kampus. Karena keinginan belajar dan mengetahui banyak hal maka Muhidin keluar dari kepompong chauvinisme dan memilih dunia luar. Ia tidak membawa apa-apa ke tempat yang jauh dari bayangannya. Hanya membawa “ijazah” rabun tiga macam tadi. Yakni, rabun membaca, rabun menulis dan rabun berhitung.
Muhidin belajar di kemajalahan dengan cara tidak lazim—karena memaksa—dia terlambat untuk mendaftar sebagai anggota majalah kampus. Dia bersikeras untuk masuk dan menjadi anggota majalah kampus. Dan akhirnya, dia pun diterima sebagai anggota majalah kampus. Menurutnya, dengan masuknya di kemajalahan kampus, berarti satu langkah untuk mengenal dunia tulis-menulis mulai terkuak. Sebab majalah akan menerbitkan tulisan. Ditambah lagi, keyakinan terjun di duina tulis-menulis karena sebagai usaha balas dendam semasa sekolah SD hingga SMU tidak pernah diajari menulis. Sehingga temperamen dalam menulis pun meningkat.
Namun Muhidin tidak mempunyai ciri khas dalam menulis. beberapa kali dia terpesona oleh tulisannya orang, di antaranya: Budhy Munawar-Rahman, Yudi Latief, Jalaluddin Rakhmat, dan Emha Ainun Najib. Dalam hal gaya kepenulisan belita, dia terilham dari kawan-kawan Tempo dan Ummat, dari merekalah ia mulai belajar menulis bukan dari sekolah lembaga formal.
Saking gandungnya dengan dunia tulis-menulis, Pria kelahiran pada pertengahan 1978 sampai tidak “mengenal” lagi sekolahan. Dia lebih nyaman belajar dalam pondokan majalah kampus. Di majalah kampuslah, dia berproses dan curiculum vitenya dalam struktural majalah pun semakin menanjak. Hingga suatu ketika dia menjadi editor utama dan mendapati tulisan temannya, yakni Faidz Asol. Karena tidak ingin bermain-main dalam proses menulisnya, dia menghabisi tulisan-tulisan yang dinilai buruk. Dan, “Ctrl-A-Delete” adalah tombol favoritnya untuk menghabisi tulisannya Asol—juga tulisan-tulisan lain—yang masuk dalam kondisi buruk. Namun setelah majalah kampus mengalami beberapa kali konflik, akhirnya ia terhempas dan terhapus dari majalah kampus.
Merasa sudah kenyang dalam berproses menulis di majalah dan beberapa kali ikut dalam kepelatihan menulis; mulai dari dasar, menengah hingga lanjut bersama redaktur koran. Namun pelatihan tinggallah pelatihan. Apabila menulis tidak dibarengi dengan pengalaman interaksi dengan redaktur. Redaktur itulah guru terbaik Muhidin. Redakturlah yang nilai baik buruknya tulisan kita yang kemudian lebih dikenal dengan “ditolak.” Baginya, menulis artikel di koran adalah menulis untuk dikembalikan dan bukan untuk dimuat.
Namun berkat kerja keras dan tahan bantinganya dalam berproses, dia pun bisa menembus koran Kompas. Betapa parlentennya dia setelah menembus koran nasional itu. Akan tetapi setelah bisa menembus di koran nasional itu, dia serasa terhempas dari perjudian pemberitaan di koran, atau bahasa kerennya black list. Apa yang telah terjadi dan dia pun kalap sejadi-jadinya, dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Akan tepati, bukan akhir dari perjalanannya sebagai penulis, malah menawari temannya menjadi editor di KacaBuku, dan beberapa sebuah penerbitan kecil setelah itu, hingga di penerbitan buku-buku Pramoedya Ananta Toer.
Kini, penerbit mana yang akan menolak tulisan dan naskah Muhidin M Dahlan. Ia telah menulis ratusan artikel, esai, maupun ulasan buku di beberapa koran dan majalah nasioanl penting seperti Tempo, Koran Tempo, Kompas, Republika Media Indonesia, dan Jawa Pos. Dan pada 2002 dianugerahi Mizan sebagai peresensi Buku Terbaik Pertama. Dia pun juga sudah menelurkan beberapa karyanya dalam bentuk buku: Adam Hawa; Hawa Bukan Perempuan Pertama, Kabar Buruk dari Langit, Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur!, Jalan Sunyi Seorang Penulis, Mencari Cinta, Di langit Ada Cinta, Terbang Bersam Cinta, dan lain sebagainya.
Namun keberhasilannya bukan karena dia seorang Doktor atau Profesor dari lembaga pendidikan, bukan. Malah sekolah dan kuliahnya tidak ada kaitannya dengan dunia tulis-menulis. Dia pernah kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Teknik Bangunan, juga pernah kuliah IAIN (sekarang UIN) Sunan kalijaga Yogjakarta jurusan Sejarah Peradaban Islam, namun keduanya tidak rampung alisa DO (Drop Out).
Kesuksesannya dalam bidang kepenulisan itu atas jasa seorang guru di SD hingga SMU. Karena keingintahuanya yang baik, dan menutupi kebodohannya, ia menulis sehingga kelihatan pandai dan parlente. Sehingga hari-harinya selain membaca dan menulis, dia juga bergiat di Indonesia Buku (iBuku), Jakarta. Dan suatu ketika, Gus Muh berujar, “Ingat-ingatlah Kalian hai penulis-penulis belia, bila kalian jalan sunyi ini maka kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan siap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak pernah berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Ungkapan Pramoedya Ananta Toer yang sangat fenomental ini sangat besar pengaruhnya kepada cucu dan orang setelahnya. Karena itulah, penulis atau orang yang berkarya sangat menarik untuk ditelusuri. Sebab, Scripta Manent Verba Volant—yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucapakan berlalu bersama angin.[]
Judul Buku : Jalan Sunyi Seorang Penulis
Penulis : Muhidin M Dahlan
Penerbit : SeciPta Manent, Yogjakarta
Terbit : I, Maret 2005
Tebal : 325 hlm
Buku Jalan Sunyi Seorang Penulis yang saya baca hampir dua Minggu selesai, mengingatkan betapa terjalnya menjadi seorang penulis. Dan buku ini sebagai apresiasi dan mengenang bagaimana seorang Gus Muh—sapaan akrabnya—memulai menulis: mematengkan kemampuannya dalam beberapa organisasi dan majalah kampus, mengirim “tulisan untuk kembali” hingga menjadi editor penerbitan kecil menandakan bahwa Muhidin pribadi yang kokoh.
Muhidin M Dahlan yang hidup dari keluarga pesisir sederhana bisa dibilang—sangat jauh—tidak mengenal buku. Sekalipun buku bacaan cerita rakyat. Yang dia lihat bukan buku, melainkan televisi. Itupun hanya ada satu dua dalam lingkungannya. Warnanya masih hitam putih. Televisi sangat digemari dan berwibawa. Hanya buku yang putih yang bergaris merah di tengahnya, (ingat Sidu?, ya itu, Sinar Dunia). Kendati memiliki buku tulis bergaris merah, namun bagi orang desa, tradisi membaca adalah tradisinya orang kota.
Kalaupun mau membaca, itu hasil menulis dari dikte’an oleh guru di kelas. Tanpa berani bertanya buku apa. Tugas seorang siswa, ketika itu, hanya mencatat diktean guru tidak lebih. Hanya mencatat. Selain itu, tugas siswa juga memperkuat hafalan dan merapalkan mantra-mantra nama serta menghafal tokoh-tokoh sastra, tanpa tahu isi buku tersebut. Lagi-lagi karena nilai. Kunci untuk mendapatkan nilai yang bagus adalah menghafal. Yang diperkuat bukan analisis tapi ingatan. Kemudian, dengan cara belajar seperti itu, Muhidin menaruh curiga terhadap guru Bahasa Indonesianya, “Jangan-jangan guru Bahasa Indonesia belum pernah membaca semua karya sastra yang pernah diajarkan olehnya. Juga jangan-jangan ia belum pernah punya pengalaman menulis dengan baik...”
Dari SD hingga SMP Muhidin mendakwa dirinya rabun membaca dan rabun menulis, dan ditambah rabun berhitung. Dia sangat membenci pelajaran yang berbau dengan angka atau berhitung, hanya merasakan kecintaanya terhadap pelajaran IPS saja. Sewaktu di SMP Muhidin belum banyak bergelut dengan buku-buku, hanya beberapa “buku cetak” pelajaran sekolah. Namun, keingintahuannya cukup besar, ia meminjam buku di perpustakaan daerah. Baru ketika di bangku STM-lah, perjalanan baru berbaur dengan buku-buku di mulai, terutama buku-buku agama, karena dia tergabung dengan organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia).
Dari teman-teman PII itulah ia berhubungan langsung dengan buku-buku ideologi. Dan buku bacaan utama dan bacaan wajib adalah karangan Endang Syarifuddin Anshari yang berjudul Wawasan Islam, buku ini semacam buku indeks Quran. Selain itu buku Menjawab 1001 Masalah dalam Islam terbitan GIP (Gema Insan Press). Hingga buku Ali Syari’ati, yang berjudul Membangun Masa Depan Islam dan Haji. Dan buku seukuran saku yang berjudul Ideologi kaum Intelektual. Karena itu, ia jarang sekali membaca buku pelajaran sekolah, namun lebih buku-buku berbau ideologi dan buku sastra. Karena tuntutan di PII itulah, yang ideologi yang diusung tentang agama. Majalah yang paling favorit adalah Hikmah dan Tiras. Adapun koran, ia lebih menyukai Republika. Maklum, ia tergabung dengan aktivis Islam dan gandrung dengan koran Islma. Dan Republika adalah koran Islam. Dan tentu koran Pelita. Hingga ia menjust, Kompas adalah milik Nasrani. Karena Nasrani, maka menyentuhnya haram dan kesan imejnya jelek.
Baru bersama teman-teman PII dan komunitas diskusi itu, dia merasa keranjingan dengan buku. Karena dia dituntut untuk berbicara di muka forum dan berbicara di mimbar-mimbar. Dari bergabungnya di komunitas diskusi itulah awal mulanya, ia belajar menulis. Dia mendapat bagian membuat undangan dan mengorganisir wacana. Dengan membuat surat, ia perlahan melajar menulis.
Namun ketika berdiskusi ia tidak banyak berbicara—paling-paling lima kalimat yang keluar—itupun juga disertai dengan gelombang kegugupan dan kegagapan. Karena tanggungan untuk berbicara wacana dalam komunitas diskusi, Muhidin harus banyak membaca dan berbicara. Maka, setelah sekolah, dia bukannya langsung pulang, akan tetapi dia malah langsung cabut ke perpustakaan Daerah dan mencari dan membaca buku yang ia sukai.
Dari situlah, ia memiliki perasaan gelisah untuk menulis. Namun menulis tidak semudah yang ia bayangkan. Bayangkan, hanya memparafrase dan memindah kalimat-kalimat dari paragraf dari buku, yang dia baca pun tak bisa. Dia memulai menulis memakai mesin ketik manual, tak tik tok. Satu paragraf. Cabut. Remuk. Buang. Ganti kertas. Tiga paragraf. Kabur maknanya. Cabut. Remuk. Ganti kertas lagi. Aku menulis memang menulis tetapi memindahi paragraf-paragraf yang aku anggap penting. “Sebetulnya yang kulakukan bukan menulis, tapi memindahkan paragraf-paragraf isi buku itu dalam tulisan pendek. Tapi sulitnya bukan main. Bayangkan, sudah sejauh ini memindah isi buku saja alias menyusun contekan saja tidak mampu. Aku hanya ingin meniru, tapi tetap saja tak sanggup.” Katanya
Menulis memang sulit manakala tidak dilakukan secara rutin dan terbiasa. Walau sudah banyak membaca buku, namun tidak terbiasa dalam menyusun dan merangkai tulisan, satu paragraf pun tidak bakal jadi. Menulis pun juga diperlukan ketelatenan. Kalau tidak telaten dan memiliki mental tahan banting maka tulisan itu pun tidak akan berhasil.
Dan Muhidin menyelesaikan tulisan pendek itu dengan beberapa kali kegagalan. Berkat kerja kerasnya, tulisan yang ia buat melalui beberapa kali kegagalan tersebut menuai keberhasilan dengan dimuat di buletin, Dinamika No. 09 di bawah titel: Brain Drain; Sebuah Malapetaka. Tujuan dia menulis adalah menulis. Entah dibaca oleh pembaca atau tidak, itu urusan belakangan. Yang tujuan utama adalah bahwa ia bisa menulis tidak lebih.
Karena kegandrungannya dan kecanduan menulis maka dia pun banyak membaca dan membeli buku. Usaha untuk mendapatkan buku tersebut harus menguruskan badannya. Dan usaha yahg dilakukan adalah mencicil dan mengurangi jatah makannya. Usahanya mencicil itu sama dengan apa yang dikatakan oleh Desiderius Eramus (1465-1536), “Kalau aku memiliki sedikit punya uang, aku beli buku. Kalau masih ada lebihnya, barulah aku belanja makanan dan pakaian.” Buku yang pertama kali dibeli oleh Muhidin adalah buku Psikologi Komunikasi Jalaluddin Rakhmat, Islam Merah-nya Ali Syari’ati, dan Kapita Salekta Mutiara Islam.
Menulis (Bukan) Hasil dari Pendidikan
Belajar menulis itu bisa di mulai dari mana saja. Tidak terkecuali di komunitas dan majalah sekolah atau majalah kampus. Karena keinginan belajar dan mengetahui banyak hal maka Muhidin keluar dari kepompong chauvinisme dan memilih dunia luar. Ia tidak membawa apa-apa ke tempat yang jauh dari bayangannya. Hanya membawa “ijazah” rabun tiga macam tadi. Yakni, rabun membaca, rabun menulis dan rabun berhitung.
Muhidin belajar di kemajalahan dengan cara tidak lazim—karena memaksa—dia terlambat untuk mendaftar sebagai anggota majalah kampus. Dia bersikeras untuk masuk dan menjadi anggota majalah kampus. Dan akhirnya, dia pun diterima sebagai anggota majalah kampus. Menurutnya, dengan masuknya di kemajalahan kampus, berarti satu langkah untuk mengenal dunia tulis-menulis mulai terkuak. Sebab majalah akan menerbitkan tulisan. Ditambah lagi, keyakinan terjun di duina tulis-menulis karena sebagai usaha balas dendam semasa sekolah SD hingga SMU tidak pernah diajari menulis. Sehingga temperamen dalam menulis pun meningkat.
Namun Muhidin tidak mempunyai ciri khas dalam menulis. beberapa kali dia terpesona oleh tulisannya orang, di antaranya: Budhy Munawar-Rahman, Yudi Latief, Jalaluddin Rakhmat, dan Emha Ainun Najib. Dalam hal gaya kepenulisan belita, dia terilham dari kawan-kawan Tempo dan Ummat, dari merekalah ia mulai belajar menulis bukan dari sekolah lembaga formal.
Saking gandungnya dengan dunia tulis-menulis, Pria kelahiran pada pertengahan 1978 sampai tidak “mengenal” lagi sekolahan. Dia lebih nyaman belajar dalam pondokan majalah kampus. Di majalah kampuslah, dia berproses dan curiculum vitenya dalam struktural majalah pun semakin menanjak. Hingga suatu ketika dia menjadi editor utama dan mendapati tulisan temannya, yakni Faidz Asol. Karena tidak ingin bermain-main dalam proses menulisnya, dia menghabisi tulisan-tulisan yang dinilai buruk. Dan, “Ctrl-A-Delete” adalah tombol favoritnya untuk menghabisi tulisannya Asol—juga tulisan-tulisan lain—yang masuk dalam kondisi buruk. Namun setelah majalah kampus mengalami beberapa kali konflik, akhirnya ia terhempas dan terhapus dari majalah kampus.
Merasa sudah kenyang dalam berproses menulis di majalah dan beberapa kali ikut dalam kepelatihan menulis; mulai dari dasar, menengah hingga lanjut bersama redaktur koran. Namun pelatihan tinggallah pelatihan. Apabila menulis tidak dibarengi dengan pengalaman interaksi dengan redaktur. Redaktur itulah guru terbaik Muhidin. Redakturlah yang nilai baik buruknya tulisan kita yang kemudian lebih dikenal dengan “ditolak.” Baginya, menulis artikel di koran adalah menulis untuk dikembalikan dan bukan untuk dimuat.
Namun berkat kerja keras dan tahan bantinganya dalam berproses, dia pun bisa menembus koran Kompas. Betapa parlentennya dia setelah menembus koran nasional itu. Akan tetapi setelah bisa menembus di koran nasional itu, dia serasa terhempas dari perjudian pemberitaan di koran, atau bahasa kerennya black list. Apa yang telah terjadi dan dia pun kalap sejadi-jadinya, dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Akan tepati, bukan akhir dari perjalanannya sebagai penulis, malah menawari temannya menjadi editor di KacaBuku, dan beberapa sebuah penerbitan kecil setelah itu, hingga di penerbitan buku-buku Pramoedya Ananta Toer.
Kini, penerbit mana yang akan menolak tulisan dan naskah Muhidin M Dahlan. Ia telah menulis ratusan artikel, esai, maupun ulasan buku di beberapa koran dan majalah nasioanl penting seperti Tempo, Koran Tempo, Kompas, Republika Media Indonesia, dan Jawa Pos. Dan pada 2002 dianugerahi Mizan sebagai peresensi Buku Terbaik Pertama. Dia pun juga sudah menelurkan beberapa karyanya dalam bentuk buku: Adam Hawa; Hawa Bukan Perempuan Pertama, Kabar Buruk dari Langit, Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur!, Jalan Sunyi Seorang Penulis, Mencari Cinta, Di langit Ada Cinta, Terbang Bersam Cinta, dan lain sebagainya.
Namun keberhasilannya bukan karena dia seorang Doktor atau Profesor dari lembaga pendidikan, bukan. Malah sekolah dan kuliahnya tidak ada kaitannya dengan dunia tulis-menulis. Dia pernah kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Teknik Bangunan, juga pernah kuliah IAIN (sekarang UIN) Sunan kalijaga Yogjakarta jurusan Sejarah Peradaban Islam, namun keduanya tidak rampung alisa DO (Drop Out).
Kesuksesannya dalam bidang kepenulisan itu atas jasa seorang guru di SD hingga SMU. Karena keingintahuanya yang baik, dan menutupi kebodohannya, ia menulis sehingga kelihatan pandai dan parlente. Sehingga hari-harinya selain membaca dan menulis, dia juga bergiat di Indonesia Buku (iBuku), Jakarta. Dan suatu ketika, Gus Muh berujar, “Ingat-ingatlah Kalian hai penulis-penulis belia, bila kalian jalan sunyi ini maka kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan siap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak pernah berpikir untuk bunuh diri secepatnya.”
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Ungkapan Pramoedya Ananta Toer yang sangat fenomental ini sangat besar pengaruhnya kepada cucu dan orang setelahnya. Karena itulah, penulis atau orang yang berkarya sangat menarik untuk ditelusuri. Sebab, Scripta Manent Verba Volant—yang tertulis akan tetap mengabadi, yang terucapakan berlalu bersama angin.[]
Judul Buku : Jalan Sunyi Seorang Penulis
Penulis : Muhidin M Dahlan
Penerbit : SeciPta Manent, Yogjakarta
Terbit : I, Maret 2005
Tebal : 325 hlm
إرسال تعليق