Pasar Wonokromo merupakan satu dari banyak pasar di Kota Surabaya yang hidup di malam hari. Kehidupan Pasar Wonokromo tak hanya menceritakan keceriaan, kebahagiaan serta keasikan bertransaksi antara pembeli dan penjual saat menemukan barang murah dengan kualitas bagus.
Ada sisi lain dari Pasar Wonokromo yang membawa pada sebuah pengakuan, judge dan kenyataan bertahun-tahun hingga sekarang. Pengakuan atau sebutan itu datang dari warga setempat tentang kejahatan. Tindak kejahatan itu adalah para pelaku pencurian yang menjual barang hasil curiannya di pasar tersebut
Oleh karena itu, masyarakat Surabaya dan sekitarnya melabeli pasar Wonokromo dengan sebutan pasar maling. Cerita itu memang terbentuk puluhan tahun silam. Pasar itu terkenal hingga sekarang dengan sebutan pasar maling. Namun, jika dilihat dengan seksama volume barangnya tidak sebanyak dulu atau kalau tidak ada jumlahnya tidak sebanyak barang yang diambil dari pabrik peralatan tersebut.
Sementara itu ada yang bilang bahwa pasar Wonokromo disebut juga sebagai tempat pelarian buronan polisi atau pelaku kejahatan seperti pencurian. Menurut cerita, dahulu banyak sekali kawanan penjahat yang masuk ke pasar tersebut. Alasannya sederhana para pelaku kejahatan tersebut merasa aman saat ngumpet di pasar tersebut. Polisi yang mengejarnya, menurut cerita, tidak mungkin blusukan di pasar yang kumuh. Akhirnya para pencuri yang mencuri barang tersebut merasa aman di pasar tersebut. Menurut cerita, para pelaku tindak kriminal ini berasal dari kota-kota besar di Indonesia, mulai dari Surabaya, maupun kota lain, seperti Jakarta, Semarang, bahkan Bandung.
Untuk membuktikan dan menikmati malam di pasar maling, kami menyusuri lapak pasar ini. Di bawah cahaya remang-remang lampu neon warna kuning dan putih,kami "berkeliaran" di lapak-lapak tersebut. Suasananya sangat hidup. Setiap orang yang datang atau pejalan oleh para penjual pasti ditawari barang yang mereka jual. Hal tersebut kami (saya dan Ella--partner keluyuran) merasakan suasana riuh rendah, penuh keakraban di pasar ini. Suasana riuh sudah kami rasakan saat kami membelokkan motor dan di parkiran di pojok sisi selatan.
Saya memiliki alasan tersendiri parkir paling pojok? Tidak lain adalah karena benar-benar ingin melihat dan menikmati bagian dari setiap lapak yang berada di pasar maling tersebut. Seolah tak ingin menyia-nyiakan setiap lapak yang menggelar dagangan, kami membelah jalan di antara lapak yang berjajar di kanan kiri. Kami telusuri mulai ujung selatan hingga mentok di ujung utara.
Pasar Wonokromo ini merupakan tempat jujug-an warga dalam mencari barang harga yang bersahabat. Para pedagang menggelar dagangannya mulai pukul 19.00 WIB sampai dini hari bahkan menjelang subuh. Karena siang hari, tempat ini jadikan lahan parkir kendaraan roda empat dan tempat ngetem angkutan umum. Biasanya, pasar ini ramai dikunjungi pada tanggal-tanggal muda atau ketika masyarakat usai menerima gaji. Kebanyakan dari mereka berburu barang yang harganya murah tetapi kualitasnya bagus-bagus.
Di jam-jam itu aktivitas di jalan Wonokromo, tepatnya di selatan Stasiun Kereta Api Wonokromo atau di timur Darmo Trade Center DTC) Wonokromo sangat hidup. Lalu lalang pengunjung (pembeli) dan penjual di lapak dan jalan tersebut mulai padat. Saya ke pasar maling malam itu, karena saya punya rencana beli sepatu untuk adik di rumah. Karena penasaran dengan barang di pasar maling, akhirnya saya mencoba mampir dan menawar barang di salah satu di lapak tersebut.
Ditemani cahaya remang-remang di salah satu lapak yang menjual berbagai macam sepatu, saya pilah-pilah model sepatu tersebut. Jika dilihat kualitasnya, sebagian barang itu saya jamin bukan sepatu hasil maling, seperti nama pasarnya. Terlebih terlihat seperti sepatu dengan kualitas KW. Meski kualitasnya KW, sepatu itu tidak kalah dengan sepatu yang dijual di tempat-tempat lain.
"Pak, ada sepatu yang seperti ini?" saya tunjukkan gambar sepatu di layar smartphone kepada seorang bapak penjual dagangan tersebut.
Seolah paham dengan gambar yang saya tunjukkan tadi, ia seraya mencari model yang sesuai dengan permintaan tadi. Namun apalah daya, sepatu yang saya cari ini tak sesuai. Oleh karena itu, saya tidak jadi menawar sepatu tadi. Ia bahkan beberapa kali menyodorkan sepatu yang hampir mirip dengan permintaan saya. Namun tetap tak ada yang sesuai. Sepatu itu adalah sepatu ulang tahun adik perempuan saya. Sebenarnya di lapak itu, pilihan dan model sepatu banyak sekali. Malah lapak ini terbilang besar dibanding lapak yang lain.
"Coba yang ini saja, Mas," ia menunjukkan safety shoes.
Di lapak itu ada sepatu safety shoes. Kebetulan di tempat kerja sebagian besar karyawannya memakai safety shoes untuk keamanan kerja. Jadi saya penasaran dengan merk dan harga yang dipatok oleh bapak tersebut. Memang kalau dihitung-hitung, harganya tidak beda jauh dengan harga yang saya beli waktu di pasar Glodok, Jakarta dahulu. Namun yang membedakan adalah kualitas. Namun harga di pasar maling itu belum sempat saya tawar. Karena memang saya hanya ingin sekadar melihat saja, tanpa maksud membelinya. Hehehe. (Maaf ya pak).
Pada saat melihat barang tersebut, saya langsung teringat pesan Bu Astin dan Bu Lia. Mereka menyarankan apabila menawar di pasar "Sepanyola" (separuh nyolong), istilah Bu Astin lebih baik ditawar dulu dengan harga setengahnya, kemudian tambahi sedikit lagi. Sepatu yang saya cari tak ada. Kami pun langsung menyusuri setiap lapak yang memakai bahu jalan itu.
Pasar maling ini tidak memiliki lahan yang pasti jika dilihat dari alih fungsi dari pagi, siang ke malam. Pasar ini hanya memanfaatkan bahu jalan di depan Stasiun Wonokromo. Tak jarang membuat arus lalu lintas macet karena badan jalan dibuat parkir motor para pengunjung. Tetapi berjualan di pasar maling termasuk tempat yang strategis. Karena orang tak terlalu capek berjalan dari tempat parkir kendaraan ke stand termasuk. Tinggal jalan sedikit sudah sampai di lapak pasar maling.
Sementara barang dagangan yang dijual di pasar maling kebanyakan barang elektronik sekaligus asesoris dari telepon genggam, alat rumah tangga serta peralatan sekolah seperti sepatu dan lain-lain. Kualitas barang yang dijual mulai dari barang second dan baru. Juga ada barang sisa ekspor maupun impor dari sejumlah negara, seperti Korea, Hongkong, Tiongkok, dan Singapura. Mulai dari sandal, sepatu, ponsel, baju, celana, alat pertukangan, sampai makanan dan minuman, bisa didapatkan di pasar yang hanya bukan saat malam ini.
Kalau penasaran, Anda bisa pergi ke tempat yang juga disebut pasar jongkok. Kenapa disebut pasar jongkok? Tidak lain adalah lapak yang menjajakan dagangan tersebut terlalu pendek, sehingga orang yang menawar dan membeli harus jongkok. Selain itu lapak untuk menjajakan dagangannya juga tidak besar-besar amat. Lapaknya berukuran mulai ukuran 70 x 70 sentimeter sampai 1,5 meter x 1,5 meter.
Saya menaruh keyakinan bahwa di tempat ini tidak semua barang yang dijual merupakan barang ilegal atau tindak kriminal. Jika dilihat dari barang dagangan yang dijual di lapak-lapak tersebut, terutama barang yang masih kental oleh barang hasil curian adalah peralatan elektronik, khususnya ponsel. Telepon genggam di sini dijual dengan kondisi second sangat banyak.
Saat di depan lapak yang menjual telepon, kami ditawari dua pilihan; kalau tidak dirayu untuk membeli hape di lapak itu dan handphone milik kita suruh jual. Malam itu saya tidak berkenan untuk menawar atau menjual ponsel. Saya sudah memiliki beberapa ponsel pribadi.
Di pasar maling itu banyak sekali yang menjual aneka macam asesoris telepon seluler. Ella mencoba menawar sampul untuk smartphonenya. Ia beberapa kali mencoba memilih-milih dan mencoba buat telepon genggamnya. Tetapi lagi-lagi belum ada tanda-tanda sesuai apa yang kami cari. Seolah malam kemarin belum berjodoh dengan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tanpa bawa satu barang pun. Namun saya berpesan pada Ella bahwa suatu waktu nanti saya akan kembali ke pasar maling tersebut dengan barang inceran yang berbeda.
Ada sisi lain dari Pasar Wonokromo yang membawa pada sebuah pengakuan, judge dan kenyataan bertahun-tahun hingga sekarang. Pengakuan atau sebutan itu datang dari warga setempat tentang kejahatan. Tindak kejahatan itu adalah para pelaku pencurian yang menjual barang hasil curiannya di pasar tersebut
Oleh karena itu, masyarakat Surabaya dan sekitarnya melabeli pasar Wonokromo dengan sebutan pasar maling. Cerita itu memang terbentuk puluhan tahun silam. Pasar itu terkenal hingga sekarang dengan sebutan pasar maling. Namun, jika dilihat dengan seksama volume barangnya tidak sebanyak dulu atau kalau tidak ada jumlahnya tidak sebanyak barang yang diambil dari pabrik peralatan tersebut.
Sementara itu ada yang bilang bahwa pasar Wonokromo disebut juga sebagai tempat pelarian buronan polisi atau pelaku kejahatan seperti pencurian. Menurut cerita, dahulu banyak sekali kawanan penjahat yang masuk ke pasar tersebut. Alasannya sederhana para pelaku kejahatan tersebut merasa aman saat ngumpet di pasar tersebut. Polisi yang mengejarnya, menurut cerita, tidak mungkin blusukan di pasar yang kumuh. Akhirnya para pencuri yang mencuri barang tersebut merasa aman di pasar tersebut. Menurut cerita, para pelaku tindak kriminal ini berasal dari kota-kota besar di Indonesia, mulai dari Surabaya, maupun kota lain, seperti Jakarta, Semarang, bahkan Bandung.
Untuk membuktikan dan menikmati malam di pasar maling, kami menyusuri lapak pasar ini. Di bawah cahaya remang-remang lampu neon warna kuning dan putih,kami "berkeliaran" di lapak-lapak tersebut. Suasananya sangat hidup. Setiap orang yang datang atau pejalan oleh para penjual pasti ditawari barang yang mereka jual. Hal tersebut kami (saya dan Ella--partner keluyuran) merasakan suasana riuh rendah, penuh keakraban di pasar ini. Suasana riuh sudah kami rasakan saat kami membelokkan motor dan di parkiran di pojok sisi selatan.
Saya memiliki alasan tersendiri parkir paling pojok? Tidak lain adalah karena benar-benar ingin melihat dan menikmati bagian dari setiap lapak yang berada di pasar maling tersebut. Seolah tak ingin menyia-nyiakan setiap lapak yang menggelar dagangan, kami membelah jalan di antara lapak yang berjajar di kanan kiri. Kami telusuri mulai ujung selatan hingga mentok di ujung utara.
Pasar Wonokromo ini merupakan tempat jujug-an warga dalam mencari barang harga yang bersahabat. Para pedagang menggelar dagangannya mulai pukul 19.00 WIB sampai dini hari bahkan menjelang subuh. Karena siang hari, tempat ini jadikan lahan parkir kendaraan roda empat dan tempat ngetem angkutan umum. Biasanya, pasar ini ramai dikunjungi pada tanggal-tanggal muda atau ketika masyarakat usai menerima gaji. Kebanyakan dari mereka berburu barang yang harganya murah tetapi kualitasnya bagus-bagus.
Di jam-jam itu aktivitas di jalan Wonokromo, tepatnya di selatan Stasiun Kereta Api Wonokromo atau di timur Darmo Trade Center DTC) Wonokromo sangat hidup. Lalu lalang pengunjung (pembeli) dan penjual di lapak dan jalan tersebut mulai padat. Saya ke pasar maling malam itu, karena saya punya rencana beli sepatu untuk adik di rumah. Karena penasaran dengan barang di pasar maling, akhirnya saya mencoba mampir dan menawar barang di salah satu di lapak tersebut.
Ditemani cahaya remang-remang di salah satu lapak yang menjual berbagai macam sepatu, saya pilah-pilah model sepatu tersebut. Jika dilihat kualitasnya, sebagian barang itu saya jamin bukan sepatu hasil maling, seperti nama pasarnya. Terlebih terlihat seperti sepatu dengan kualitas KW. Meski kualitasnya KW, sepatu itu tidak kalah dengan sepatu yang dijual di tempat-tempat lain.
"Pak, ada sepatu yang seperti ini?" saya tunjukkan gambar sepatu di layar smartphone kepada seorang bapak penjual dagangan tersebut.
Seolah paham dengan gambar yang saya tunjukkan tadi, ia seraya mencari model yang sesuai dengan permintaan tadi. Namun apalah daya, sepatu yang saya cari ini tak sesuai. Oleh karena itu, saya tidak jadi menawar sepatu tadi. Ia bahkan beberapa kali menyodorkan sepatu yang hampir mirip dengan permintaan saya. Namun tetap tak ada yang sesuai. Sepatu itu adalah sepatu ulang tahun adik perempuan saya. Sebenarnya di lapak itu, pilihan dan model sepatu banyak sekali. Malah lapak ini terbilang besar dibanding lapak yang lain.
"Coba yang ini saja, Mas," ia menunjukkan safety shoes.
Di lapak itu ada sepatu safety shoes. Kebetulan di tempat kerja sebagian besar karyawannya memakai safety shoes untuk keamanan kerja. Jadi saya penasaran dengan merk dan harga yang dipatok oleh bapak tersebut. Memang kalau dihitung-hitung, harganya tidak beda jauh dengan harga yang saya beli waktu di pasar Glodok, Jakarta dahulu. Namun yang membedakan adalah kualitas. Namun harga di pasar maling itu belum sempat saya tawar. Karena memang saya hanya ingin sekadar melihat saja, tanpa maksud membelinya. Hehehe. (Maaf ya pak).
Pada saat melihat barang tersebut, saya langsung teringat pesan Bu Astin dan Bu Lia. Mereka menyarankan apabila menawar di pasar "Sepanyola" (separuh nyolong), istilah Bu Astin lebih baik ditawar dulu dengan harga setengahnya, kemudian tambahi sedikit lagi. Sepatu yang saya cari tak ada. Kami pun langsung menyusuri setiap lapak yang memakai bahu jalan itu.
Pasar maling ini tidak memiliki lahan yang pasti jika dilihat dari alih fungsi dari pagi, siang ke malam. Pasar ini hanya memanfaatkan bahu jalan di depan Stasiun Wonokromo. Tak jarang membuat arus lalu lintas macet karena badan jalan dibuat parkir motor para pengunjung. Tetapi berjualan di pasar maling termasuk tempat yang strategis. Karena orang tak terlalu capek berjalan dari tempat parkir kendaraan ke stand termasuk. Tinggal jalan sedikit sudah sampai di lapak pasar maling.
Sementara barang dagangan yang dijual di pasar maling kebanyakan barang elektronik sekaligus asesoris dari telepon genggam, alat rumah tangga serta peralatan sekolah seperti sepatu dan lain-lain. Kualitas barang yang dijual mulai dari barang second dan baru. Juga ada barang sisa ekspor maupun impor dari sejumlah negara, seperti Korea, Hongkong, Tiongkok, dan Singapura. Mulai dari sandal, sepatu, ponsel, baju, celana, alat pertukangan, sampai makanan dan minuman, bisa didapatkan di pasar yang hanya bukan saat malam ini.
Kalau penasaran, Anda bisa pergi ke tempat yang juga disebut pasar jongkok. Kenapa disebut pasar jongkok? Tidak lain adalah lapak yang menjajakan dagangan tersebut terlalu pendek, sehingga orang yang menawar dan membeli harus jongkok. Selain itu lapak untuk menjajakan dagangannya juga tidak besar-besar amat. Lapaknya berukuran mulai ukuran 70 x 70 sentimeter sampai 1,5 meter x 1,5 meter.
Saya menaruh keyakinan bahwa di tempat ini tidak semua barang yang dijual merupakan barang ilegal atau tindak kriminal. Jika dilihat dari barang dagangan yang dijual di lapak-lapak tersebut, terutama barang yang masih kental oleh barang hasil curian adalah peralatan elektronik, khususnya ponsel. Telepon genggam di sini dijual dengan kondisi second sangat banyak.
Saat di depan lapak yang menjual telepon, kami ditawari dua pilihan; kalau tidak dirayu untuk membeli hape di lapak itu dan handphone milik kita suruh jual. Malam itu saya tidak berkenan untuk menawar atau menjual ponsel. Saya sudah memiliki beberapa ponsel pribadi.
Di pasar maling itu banyak sekali yang menjual aneka macam asesoris telepon seluler. Ella mencoba menawar sampul untuk smartphonenya. Ia beberapa kali mencoba memilih-milih dan mencoba buat telepon genggamnya. Tetapi lagi-lagi belum ada tanda-tanda sesuai apa yang kami cari. Seolah malam kemarin belum berjodoh dengan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke tanpa bawa satu barang pun. Namun saya berpesan pada Ella bahwa suatu waktu nanti saya akan kembali ke pasar maling tersebut dengan barang inceran yang berbeda.
إرسال تعليق