Sekolah merupakan salah satu institusi pendidikan yang menggelar aksi dan kreasi dalam mengelola dan memanajemen ilmu. Ketika menulis tentang sekolah, saya jadi teringat dua puluh tahun lebih yang lalu, dan ini masih terulang kembali pada adik-adik saya hingga sekarang.
Bagaimana saat orang tua saya ketika selesai mengantarkan saya atau adik-adik saya ke sekolah? Lalu apa yang dilakukan ibu saya selanjutnya? Apakah ibu saya tidak melakukan apa-apa setelah sesampainya di sekolah? Jika kita tilik dari historis dan kenyataannya. Tugasnya memang untuk mengantar sampai di gerbang sekolah, tidak lebih. Hanya waktu di bangku kanak-kanak, saya, cerita ibu, ditungguin sampai hari ketiga. Setelah itu, saya dititipkan oleh saudara.
Semestinya, orang tualah yang mengenal karakter anak, begitu pula sebaliknya, anak yang pertama kali dikenal adalah kedua orang tua, sebelum anak tersebut diasuh oleh orang lain.
Sudah ada dua puluh tahun lebih, pikiran yang carut marut ini mengendap tak sentuh oleh alam imaji, hingga tak “tergugah” oleh alam sadar. Terjawabnya pertanyaan di atas ketika saya belajar sendiri dari buku-buku yang saya dapat dari buku-buku obral—buku di perpustakaan yang tertumpuklah buku hingga tinggi menjulang, dan kemauan saya untuk membaca tentang makna belajar sesungguh.
Beberapa bulan ini, memang saya menarik membeli dan mengumpulkan--hanya mengumpulkan tanpa dibaca—buku-buku yang berbau Home Education. Saya tertarik mencari makna yang sesungguhnya tentang belajar yang tidak hanya tersekat oleh waktu, tempat dan biaya. Setelah membolak-balikkan hingga terlihat kusam dan terkelihatan ada bekas lipatan tersebut, ada satu hal yang mengganjal dalam benakku.
Ternyata setelah mempelajari buku tentang Home Educatioan, saya menemukan satu permasalahan yang tidak benar-benar ditampakkan, yaitu konflik. Ya, konflik. Buku-buku yang mengajarkan anak ditempat sesuai keinginan anak tersebut tidak megajarkan bagaimana menciptkan sebuah konflik, kemudian bagaimana cara untuk menyelesaikan konflisk tersebut atau Problem solving.
Saya juga memaklumi orang tua saya, dan orang tua pada umumnya, bila ada orang tua yang tidak dapat mendampingi buah hatinya belajar. Mungkin karena tuntutan ekonomi kedua orang tua harus bekerja. Barangkali berawal itulah orang tua pada umumnya memberi harapan dan memberikan anaknya ke lembaga pendidikan formal. Dan orang tua saya pun tidak dipungkiri sepehamanan akan hal itu.
Sementara sekolah yang mendapat keyakinan akan hak belajar anak, memberi satu dua atau lebih mata pelajaran lantas memberikan nilai yang bagus dan tinggi. Terlepas dari itu, sekolah adalah kegiatan mencari dan menggali potensi yang dimiliki siswa untuk dikeluarkan untuk mencapai sebuah prestasi. Namun pada kenyataannya jauh dari kata tersebut, menurut hemat saya, dari beberaa siswa yang saya tanyai, sekolah sekarang hanya tempat untuk kumpul dan mencari teman. Pun bukan persoalan pendidikan anak hanya sebatas menyediakan biaya pendidikan, mengingatkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah, atau membantu anak untuk menghafalkan pelajaran ketika akan ada ujian. Bukan. Bukan itu yang dimaksud belajar.
Menurut Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Financial Literacy mengatakan bahwa arti kata Learn (belajar) dalam bahasa Latin adalah mengeluarkan. Jadi yang dilakukan dalam kegiatan belajar dalam sekolah itu sebenarnya mengeluarkan (potensi anak).
Mencari nilai bukan di sekolah-sekolah, melainkan di tempat-tampat ajang pencari bakat sana. Tentu dari acara show seperti itu, maka akan penilaian akan sering kita dapati. Dan juri yang akan menentukan berapa nilai dari kemampuan Anda. Oleh sebab itu, guru bukan juri, kalau guru masih beranggapan siswa belajar di sekolah orientasi mencari nilai, lima atau sepuluh bulan akan hilang di telan jaman.
Guru adalah partner bersama-sama menggali kemampuan yang di anugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, ikhlas alam hal mengajar dan menginspirasi kepada siswa, kenangan, jejak, dan keringat akan dirasa sejauh mata siswa memandang.
K.H. Dindin Soluhudin dalam bukunya Kado untuk Ayah Bunda mengatakan anak adalah anugerah. Perlindungan kepada siswa-siswi yang pendidik curahkan memberi rasa aman dan nyaman, sekalipun terlindungi. Guru juga tidak harus memberi rasa cemas ketika memberi pelajaran tetapi juga memasukan pelajaran dari berbagai sudut pandang pula. Mulai dari karakter, sikap dan dan bakat yang mereka meliki. Karena setiap anak adalah sebuah keunikan. Sebuah keunikan yang akan memancarkan sinarnya yang dianugerahkan kepada kita dari Tuhan Yang Maha Esa.
Perlindungan kepada anak-anak tak ubahnya sebuah tanggung jawab yang selalu dipegang dalam setiap stakeholder di bidang apapun. Perlindungan adalah tindakan untuk memberikan rasa aman, nyaman ketika dalam lingkungan belajar atau di luar sekolah. Kalau saya boleh mengkritik, bagaimana sistem pendidikan saat ini, masih banyak guru-guru memberi pendidikan dengan rasa tidak nyaman. Masih banyak anak-anak merasa takut untuk belajar dan melakukan yang seharusnya ia kerjakan, dan disukai.
Bisa dilihat, ketika anak-anak mendapat hukuman lari-lari di luar kelas. Apa yang ia kerjakan sebelumnya? Adalah jenuhnya mengikuti pelajaran dalam kelas. Ya, kelas dan guru menjadi sebuah momok yang ditakuti oleh siswa. Bahkan, rasa nyaman dan amanpun tidak ia dapatkan dalam pendidikan saat ini.
Perlindungan untuk anak sekolah memang harus ditekankan untuk memberi kenyamanan dalam mendidik siswa-siswinya. Mengingat sebentar cerita tentang nenek moyang kita dahulu, “nenek moyang kita seorang pelaut”, adalah ia belajar, belajar dan belajar dalam kebebasan di lautan antah berantah dan membawa kemandirian sejati. Tak jauh berbeda anak-anak, anak semestinya belajar dengan kebebasan dan rasa nyaman tidak adarasa takut menjadi pembelajar sejati.
Kalau kita tarik lagi ke dalam perlindungan sebuah pendidikan, kita harus mengetahui psikologis seorang anak. Memberi rasa aman, nyaman dan bahagia ketika melakukan kegiatan belajar mengajar. Tanpa ada anggapan guru adalah manusia yang ditakuti.
Oleh karena itu, guru harus multifungsi setiap saat ketika anak-anak membutuhkan pendampingan. Barangkali harapan yang disematkan dalam pundak sebuah lembaga pendidikan akan terjawab dengan keberhasilan pencapaian dan ekspektasi dari orang tua pun juga terealisasi atas kerja sama yang harmonis pula. Melalui alat pendidikan sebuah negara menjadi maju dan berkembang menjadi lebih baik. []
Bagaimana saat orang tua saya ketika selesai mengantarkan saya atau adik-adik saya ke sekolah? Lalu apa yang dilakukan ibu saya selanjutnya? Apakah ibu saya tidak melakukan apa-apa setelah sesampainya di sekolah? Jika kita tilik dari historis dan kenyataannya. Tugasnya memang untuk mengantar sampai di gerbang sekolah, tidak lebih. Hanya waktu di bangku kanak-kanak, saya, cerita ibu, ditungguin sampai hari ketiga. Setelah itu, saya dititipkan oleh saudara.
Semestinya, orang tualah yang mengenal karakter anak, begitu pula sebaliknya, anak yang pertama kali dikenal adalah kedua orang tua, sebelum anak tersebut diasuh oleh orang lain.
Sudah ada dua puluh tahun lebih, pikiran yang carut marut ini mengendap tak sentuh oleh alam imaji, hingga tak “tergugah” oleh alam sadar. Terjawabnya pertanyaan di atas ketika saya belajar sendiri dari buku-buku yang saya dapat dari buku-buku obral—buku di perpustakaan yang tertumpuklah buku hingga tinggi menjulang, dan kemauan saya untuk membaca tentang makna belajar sesungguh.
Beberapa bulan ini, memang saya menarik membeli dan mengumpulkan--hanya mengumpulkan tanpa dibaca—buku-buku yang berbau Home Education. Saya tertarik mencari makna yang sesungguhnya tentang belajar yang tidak hanya tersekat oleh waktu, tempat dan biaya. Setelah membolak-balikkan hingga terlihat kusam dan terkelihatan ada bekas lipatan tersebut, ada satu hal yang mengganjal dalam benakku.
Ternyata setelah mempelajari buku tentang Home Educatioan, saya menemukan satu permasalahan yang tidak benar-benar ditampakkan, yaitu konflik. Ya, konflik. Buku-buku yang mengajarkan anak ditempat sesuai keinginan anak tersebut tidak megajarkan bagaimana menciptkan sebuah konflik, kemudian bagaimana cara untuk menyelesaikan konflisk tersebut atau Problem solving.
Saya juga memaklumi orang tua saya, dan orang tua pada umumnya, bila ada orang tua yang tidak dapat mendampingi buah hatinya belajar. Mungkin karena tuntutan ekonomi kedua orang tua harus bekerja. Barangkali berawal itulah orang tua pada umumnya memberi harapan dan memberikan anaknya ke lembaga pendidikan formal. Dan orang tua saya pun tidak dipungkiri sepehamanan akan hal itu.
Sementara sekolah yang mendapat keyakinan akan hak belajar anak, memberi satu dua atau lebih mata pelajaran lantas memberikan nilai yang bagus dan tinggi. Terlepas dari itu, sekolah adalah kegiatan mencari dan menggali potensi yang dimiliki siswa untuk dikeluarkan untuk mencapai sebuah prestasi. Namun pada kenyataannya jauh dari kata tersebut, menurut hemat saya, dari beberaa siswa yang saya tanyai, sekolah sekarang hanya tempat untuk kumpul dan mencari teman. Pun bukan persoalan pendidikan anak hanya sebatas menyediakan biaya pendidikan, mengingatkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah, atau membantu anak untuk menghafalkan pelajaran ketika akan ada ujian. Bukan. Bukan itu yang dimaksud belajar.
Menurut Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Financial Literacy mengatakan bahwa arti kata Learn (belajar) dalam bahasa Latin adalah mengeluarkan. Jadi yang dilakukan dalam kegiatan belajar dalam sekolah itu sebenarnya mengeluarkan (potensi anak).
Mencari nilai bukan di sekolah-sekolah, melainkan di tempat-tampat ajang pencari bakat sana. Tentu dari acara show seperti itu, maka akan penilaian akan sering kita dapati. Dan juri yang akan menentukan berapa nilai dari kemampuan Anda. Oleh sebab itu, guru bukan juri, kalau guru masih beranggapan siswa belajar di sekolah orientasi mencari nilai, lima atau sepuluh bulan akan hilang di telan jaman.
Guru adalah partner bersama-sama menggali kemampuan yang di anugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka, ikhlas alam hal mengajar dan menginspirasi kepada siswa, kenangan, jejak, dan keringat akan dirasa sejauh mata siswa memandang.
K.H. Dindin Soluhudin dalam bukunya Kado untuk Ayah Bunda mengatakan anak adalah anugerah. Perlindungan kepada siswa-siswi yang pendidik curahkan memberi rasa aman dan nyaman, sekalipun terlindungi. Guru juga tidak harus memberi rasa cemas ketika memberi pelajaran tetapi juga memasukan pelajaran dari berbagai sudut pandang pula. Mulai dari karakter, sikap dan dan bakat yang mereka meliki. Karena setiap anak adalah sebuah keunikan. Sebuah keunikan yang akan memancarkan sinarnya yang dianugerahkan kepada kita dari Tuhan Yang Maha Esa.
Perlindungan kepada anak-anak tak ubahnya sebuah tanggung jawab yang selalu dipegang dalam setiap stakeholder di bidang apapun. Perlindungan adalah tindakan untuk memberikan rasa aman, nyaman ketika dalam lingkungan belajar atau di luar sekolah. Kalau saya boleh mengkritik, bagaimana sistem pendidikan saat ini, masih banyak guru-guru memberi pendidikan dengan rasa tidak nyaman. Masih banyak anak-anak merasa takut untuk belajar dan melakukan yang seharusnya ia kerjakan, dan disukai.
Bisa dilihat, ketika anak-anak mendapat hukuman lari-lari di luar kelas. Apa yang ia kerjakan sebelumnya? Adalah jenuhnya mengikuti pelajaran dalam kelas. Ya, kelas dan guru menjadi sebuah momok yang ditakuti oleh siswa. Bahkan, rasa nyaman dan amanpun tidak ia dapatkan dalam pendidikan saat ini.
Perlindungan untuk anak sekolah memang harus ditekankan untuk memberi kenyamanan dalam mendidik siswa-siswinya. Mengingat sebentar cerita tentang nenek moyang kita dahulu, “nenek moyang kita seorang pelaut”, adalah ia belajar, belajar dan belajar dalam kebebasan di lautan antah berantah dan membawa kemandirian sejati. Tak jauh berbeda anak-anak, anak semestinya belajar dengan kebebasan dan rasa nyaman tidak adarasa takut menjadi pembelajar sejati.
Kalau kita tarik lagi ke dalam perlindungan sebuah pendidikan, kita harus mengetahui psikologis seorang anak. Memberi rasa aman, nyaman dan bahagia ketika melakukan kegiatan belajar mengajar. Tanpa ada anggapan guru adalah manusia yang ditakuti.
Oleh karena itu, guru harus multifungsi setiap saat ketika anak-anak membutuhkan pendampingan. Barangkali harapan yang disematkan dalam pundak sebuah lembaga pendidikan akan terjawab dengan keberhasilan pencapaian dan ekspektasi dari orang tua pun juga terealisasi atas kerja sama yang harmonis pula. Melalui alat pendidikan sebuah negara menjadi maju dan berkembang menjadi lebih baik. []
Mungkin sistem pendidikannya harus dirubah Mas,supaya anak anak merasa nyaman berada di sekolah.
ردحذفDi Sekolah kami malah menawarkan pendidikan praktik Setiap hari.
ردحذفإرسال تعليق