Alam seisinya ini dirumat dan dikelola oleh manusia yang berkompetensi dan kecerdasannya sangat beragam. Jika kecerdasan yang beragam tersebut digali secara terus-menerus dengan cara yang cepat dan tepat, akan muncullah manusia-manusia unggul dalam bidang linguistik, logis-matematis, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonalnya.
Di sekolah mana pun dan kualitas apa pun, para siswanya adalah amanah yang perlu dijaga. Dan orang yang berrtanggung jawab adalah seorang guru. Guru adalah peran utama yang sangat sentral dalam dalam dunia proses belajar mengajarnya di kalangan sekolah maupun ranah pendidikan. Sekolah yang unggul adalah sekolah yang memiliki guru yang profesional. Artinya, sekolah tersebut harus memiliki sumber daya manusia (guru) yang terus belajar dan mengasah kreatifitasnya dengan pemahamannya untuk mendeteksi gaya belajar siswa. Sehingga yang belajar bukan siswanya saja, tetapi juga gurunya. Lewat metode (MI) Multiple Intelligences ini, Munif Chatib menerapkan metode belajar siswa yang dikenal dengan sekolahnya manusia.
“Betapa cantiknya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas; dan para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik. Kelas akan terasa hidup. Keluar kelas, semua siswa mendapat pengalaman pertama yang luar biasa dan tak akan pernah lupa seumur hidup”. (Hal. ix)
Metode MI sebenarnya temuan Dr. Howard Gardner, yang mengatakan kecerdasan seorang anak bukan diukur dengan angka (peringkat) dalam kelas saja, namun kecerdasan seorang anak majemuk, yaitu multiple Intellegences. Dan kecerdasan ini seharusnya dideteksi sejak awal masuk sekolah. Seperti sekolah di YIMI Gresik, salah satu sekolah yang menggunakan metode MI (multiple intelegences), yang menerapakan teori MI tersebut beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, banyak sekolah yang sadar atau tidak, malah membunuh banyak potensi siswa-siswa didiknya. Banyak sekali sekolah di negeri ini yang berperdikat “SEKOLAH ROBOT”; mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan, sampai pada sistem penilaiannya.
Dari sekolah yang diterapkan oleh Munif Chatib tersebut, pada waktu penerimaan siswa baru, sekolah menerima murid tanpa seleksi masuk. Artinya tidak ada penilaian (kecerdasan kognitif) sehingga siswa yang daftar dan diterima di sekolah tersebut bermacam-macam kondisinya, mulai dari kondisi kemampuan kurang,“nakal-nakal”, “bodoh” atau lainnya. Sehingga guru pun memiliki tugas untuk belajar, bagaimana guru mencari model pembelajaran pada masuk sekolah (pendaftaran) atau waktu pergantian semester. Kemudian bagaimana guru bisa mengetahui perkembangan belajar siswa. Karena gaya belajar siswa berbeda-beda dan memanusiakan manusia. Sekolah yang berbasis MI (multiple intelegences) ini lebih mengedepankan kreatifitas siswa atau lebih menangkap hiperaktif seorang anak ketimbang anak yang diam (pasif). Sehingga potensi, bakat dan minat seorang anak bisa di deteksi sejak dini mungkin.
Dalam buku Sekolahnya Manusia ini, Munif Chatib menyertakan contoh yang saya kira menarik dan menyakinkan. Bawasannya metode ini lebih efisien; “Seorang anak yang bernama Arif, si penakluk kucing. Banyak yang mengatakan si anak mengalami keterbelakangan mental. Dan orangtuanya mengatakan anaknya hiperaktif dan sulit dikendalikan ”. Dia sering keluar kelas ketika pelajaran sedang berlangsung, sewaktu ia tahu ada anak kucing, ia langsung menghampiri dan bisa menjinakkan anak kucing tersebut, sehingga guru kelasnya, memiliki inisiatif mencari gaya belajarnya. Seorang guru matematika mengajarkan penambahan dengan aktifitasnya menghitung jumlah gambar kucing, dan guru bahasa Indonesia pun bercerita tentang kucing, selain itu, guru fisikanya pun menjelaskan ciri-ciri fisik kucing. Dengan cara tersebut, Arif termotivasi untuk belajar dengan giat dan mengalami peningkatan dalam belajarnya, dan ada ketertarikan untuk belajar di dalam kelas. (Hal. 27-32)
"Lebih baik tidak jadi guru daripada jadi guru tidak baik"
Untuk menjadikan sekolah yang unggul, diperlukan kerjasama yang proaktif dari setiap elemen sekolah dan stakeholder sekolah lainnya terdiri dari guru, orangtua (wali murid), murid dan pemerintah. Sehingga tidak bisa menjadikan sekolah maju dengan metode “bim salabim”, tanpa ada kerja keras dan kerja cerdas.
Namun dari penanganan banyak sekolah bermasalah, bahwa ada pola yang identik bagi sekolah yang ingin berubah menjadi sekolah unggulan. Apa yang dilakukan para birokrasi sekolah? Tentu hanya memperbaiki kelas atau bangunan sekolah tanpa memperbaiki sistem pembelajaran atau pun mutu belajar gurunya. Seperti yang dikatakan Munif Chatib, “Guru mengajar bukan berarti siswa belajar, namun apabila guru belajar sudah barang pasti siswa juga ikut belajar”. Sehingga yang dilakukan guru adalah harus menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswanya. Dengan demikian, guru dapat mengajar dengan cara memasuki dunia belajar siswa. Dengan adanya partisipasi aktif dari guru, pembelajaran akan terasa hidup dan tidak kaku dalam kelas.
Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada tahun 1983 saat Dr. Howard Gardner, pemimpin Project Zero Harvard University mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya. Teori Multiple Intelligences yang belakangan ini bnayak diikuti oleh psikologi dunia yang berpikiran maju, mulai menyita perhatian masyarakat. Betapa tidak, multiple intellegences yang awalnya adalah wilayah psikologi, ternyata berkembang sampai ke wilayah edukasi, bahkan telah merambah dunia profesional di perusahan-perusahan besar. Seperti kata Howard gardner “Untuk mengetahui kecerdasan anak, seharusnya mengetahui dahulu kenakalan seorang anak.” Sehingga seorang guru berperan aktif untuk meningkatkan kecerdasan lewat kenalan tersebut, namun “racun” yang melukai orang anak, yaitu; cacian, macian, hinaan, marahan, dll, adapun obat untuk meningkatkan kecerdasan seorang anak adalah pujian, hadiah, dll.
Menurut Gardner, kecerdasan dapat diliht dari kebiasaan seseorang. Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya (kreatifitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving). Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam achievement test (test formal), tatkala nantinya terdapat justifikasi terhadap siswa yang nilainya dibawah rata-rata teman yang nilainya diatas. Sehingga terdapat kelompok atau klasifikasi siswa, antara siswa genius, cerdas, pandai dan bodoh.
Permasalahannya sekarang, sekolah-sekolah di Indonesia dewasa ini, memiliki pemahaman yang salah, perihal dari indikator Sekolah Unggulan. Dimana sekolah unggulan tersebut hanya menyeleksi dan memilih sisiwa yang akan masuk dalam sekolah dengna ketat dengan standarisasi nilai yang tinggi. Sehingga anak yang nilainya “rendah” tidak bisa belajar di sekolah unggulan. Sehingga dari peristiwa ini terjadi setiap tahun ajaran baru di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tanpa disadari, mental dan kecerdasan pada anak mendapat celaan “bodoh” lantaran hanya karena gagal dalam tes masuk sekolah favorit atau sekolah unggul. Banyak sekolah-sekolah yang yang hanya memerhatikan kualitas inputnya saja, tanpa memperhatikan the best proses dan proses out putnya.
Guru pada umumnya terjebak paham materialisme kerikulum. Mereka begitu terpacak pada pokok bahasan yang tercantum dalam kurikulum. Seluruh waktu nabis diboroskan untuk mengalihkan materi pelajaran ke benak siswa. Guru tenggelam dalam detail-detail yang ada dalam tertera dalam kurikulum. Setelah pokok pembahasan yang di ada dalam kurikulum sudah disampaikan semua, berarti tugasnya telah gugur dan tanggung jawabnya telah usai, bersamaan terakhirnya pembahasan yang ada di kontrakproduktif dalam kurikulum.
Pada dasarnya, sekolah unggul adalah sekolah yang berfokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajran bergantung pada kualitas para guru yang berkerja di sekolah tersebut. Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik, mereka akan berperan bagai “agen pengubah” siswanya. Dengan kata lain, sekolah yang guru-gurunya mampu mengubah kualitas dan moral siswanya dari negatif menjadi positf, itulah sekolah unggul. Karena pada prinsipnya; tidak ada siswa yang bodoh dalam sekolah atau pun dalam ranah edukasi. Dan sekali lagi, guru mengajar bukan berarti murid belajar. “Sebaik apa pun kurikulumnya, sulit berhasil apabila tidak dijalankan dengan strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan siswa-siswa.” Dan itulah saya katakan dengan metode MI yang diterapkan oleh Munif Chatib, yakni “MI IS THE BEST SOLUTION IN TEACHING”.[]
Judul Buku : Sekolahnya Manusia; Sekolah Berbasis Multipel Intellegences di Indonesia
Penulis : Munif Chatib
Penerbit : Kaifa, Bandung
Edisi : Cetakan XVIII, Januari 2014
Tebel : xxiii+187 Halaman
ISBN : 9789791284288
Di sekolah mana pun dan kualitas apa pun, para siswanya adalah amanah yang perlu dijaga. Dan orang yang berrtanggung jawab adalah seorang guru. Guru adalah peran utama yang sangat sentral dalam dalam dunia proses belajar mengajarnya di kalangan sekolah maupun ranah pendidikan. Sekolah yang unggul adalah sekolah yang memiliki guru yang profesional. Artinya, sekolah tersebut harus memiliki sumber daya manusia (guru) yang terus belajar dan mengasah kreatifitasnya dengan pemahamannya untuk mendeteksi gaya belajar siswa. Sehingga yang belajar bukan siswanya saja, tetapi juga gurunya. Lewat metode (MI) Multiple Intelligences ini, Munif Chatib menerapkan metode belajar siswa yang dikenal dengan sekolahnya manusia.
“Betapa cantiknya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas; dan para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik. Kelas akan terasa hidup. Keluar kelas, semua siswa mendapat pengalaman pertama yang luar biasa dan tak akan pernah lupa seumur hidup”. (Hal. ix)
Metode MI sebenarnya temuan Dr. Howard Gardner, yang mengatakan kecerdasan seorang anak bukan diukur dengan angka (peringkat) dalam kelas saja, namun kecerdasan seorang anak majemuk, yaitu multiple Intellegences. Dan kecerdasan ini seharusnya dideteksi sejak awal masuk sekolah. Seperti sekolah di YIMI Gresik, salah satu sekolah yang menggunakan metode MI (multiple intelegences), yang menerapakan teori MI tersebut beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, banyak sekolah yang sadar atau tidak, malah membunuh banyak potensi siswa-siswa didiknya. Banyak sekali sekolah di negeri ini yang berperdikat “SEKOLAH ROBOT”; mulai dari proses pembelajaran, target keberhasilan, sampai pada sistem penilaiannya.
Dari sekolah yang diterapkan oleh Munif Chatib tersebut, pada waktu penerimaan siswa baru, sekolah menerima murid tanpa seleksi masuk. Artinya tidak ada penilaian (kecerdasan kognitif) sehingga siswa yang daftar dan diterima di sekolah tersebut bermacam-macam kondisinya, mulai dari kondisi kemampuan kurang,“nakal-nakal”, “bodoh” atau lainnya. Sehingga guru pun memiliki tugas untuk belajar, bagaimana guru mencari model pembelajaran pada masuk sekolah (pendaftaran) atau waktu pergantian semester. Kemudian bagaimana guru bisa mengetahui perkembangan belajar siswa. Karena gaya belajar siswa berbeda-beda dan memanusiakan manusia. Sekolah yang berbasis MI (multiple intelegences) ini lebih mengedepankan kreatifitas siswa atau lebih menangkap hiperaktif seorang anak ketimbang anak yang diam (pasif). Sehingga potensi, bakat dan minat seorang anak bisa di deteksi sejak dini mungkin.
Dalam buku Sekolahnya Manusia ini, Munif Chatib menyertakan contoh yang saya kira menarik dan menyakinkan. Bawasannya metode ini lebih efisien; “Seorang anak yang bernama Arif, si penakluk kucing. Banyak yang mengatakan si anak mengalami keterbelakangan mental. Dan orangtuanya mengatakan anaknya hiperaktif dan sulit dikendalikan ”. Dia sering keluar kelas ketika pelajaran sedang berlangsung, sewaktu ia tahu ada anak kucing, ia langsung menghampiri dan bisa menjinakkan anak kucing tersebut, sehingga guru kelasnya, memiliki inisiatif mencari gaya belajarnya. Seorang guru matematika mengajarkan penambahan dengan aktifitasnya menghitung jumlah gambar kucing, dan guru bahasa Indonesia pun bercerita tentang kucing, selain itu, guru fisikanya pun menjelaskan ciri-ciri fisik kucing. Dengan cara tersebut, Arif termotivasi untuk belajar dengan giat dan mengalami peningkatan dalam belajarnya, dan ada ketertarikan untuk belajar di dalam kelas. (Hal. 27-32)
"Lebih baik tidak jadi guru daripada jadi guru tidak baik"
Untuk menjadikan sekolah yang unggul, diperlukan kerjasama yang proaktif dari setiap elemen sekolah dan stakeholder sekolah lainnya terdiri dari guru, orangtua (wali murid), murid dan pemerintah. Sehingga tidak bisa menjadikan sekolah maju dengan metode “bim salabim”, tanpa ada kerja keras dan kerja cerdas.
Namun dari penanganan banyak sekolah bermasalah, bahwa ada pola yang identik bagi sekolah yang ingin berubah menjadi sekolah unggulan. Apa yang dilakukan para birokrasi sekolah? Tentu hanya memperbaiki kelas atau bangunan sekolah tanpa memperbaiki sistem pembelajaran atau pun mutu belajar gurunya. Seperti yang dikatakan Munif Chatib, “Guru mengajar bukan berarti siswa belajar, namun apabila guru belajar sudah barang pasti siswa juga ikut belajar”. Sehingga yang dilakukan guru adalah harus menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswanya. Dengan demikian, guru dapat mengajar dengan cara memasuki dunia belajar siswa. Dengan adanya partisipasi aktif dari guru, pembelajaran akan terasa hidup dan tidak kaku dalam kelas.
Teori kecerdasan mengalami puncak perubahan paradigma pada tahun 1983 saat Dr. Howard Gardner, pemimpin Project Zero Harvard University mengumumkan perubahan makna kecerdasan dari pemahaman sebelumnya. Teori Multiple Intelligences yang belakangan ini bnayak diikuti oleh psikologi dunia yang berpikiran maju, mulai menyita perhatian masyarakat. Betapa tidak, multiple intellegences yang awalnya adalah wilayah psikologi, ternyata berkembang sampai ke wilayah edukasi, bahkan telah merambah dunia profesional di perusahan-perusahan besar. Seperti kata Howard gardner “Untuk mengetahui kecerdasan anak, seharusnya mengetahui dahulu kenakalan seorang anak.” Sehingga seorang guru berperan aktif untuk meningkatkan kecerdasan lewat kenalan tersebut, namun “racun” yang melukai orang anak, yaitu; cacian, macian, hinaan, marahan, dll, adapun obat untuk meningkatkan kecerdasan seorang anak adalah pujian, hadiah, dll.
Menurut Gardner, kecerdasan dapat diliht dari kebiasaan seseorang. Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya (kreatifitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving). Kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam achievement test (test formal), tatkala nantinya terdapat justifikasi terhadap siswa yang nilainya dibawah rata-rata teman yang nilainya diatas. Sehingga terdapat kelompok atau klasifikasi siswa, antara siswa genius, cerdas, pandai dan bodoh.
Permasalahannya sekarang, sekolah-sekolah di Indonesia dewasa ini, memiliki pemahaman yang salah, perihal dari indikator Sekolah Unggulan. Dimana sekolah unggulan tersebut hanya menyeleksi dan memilih sisiwa yang akan masuk dalam sekolah dengna ketat dengan standarisasi nilai yang tinggi. Sehingga anak yang nilainya “rendah” tidak bisa belajar di sekolah unggulan. Sehingga dari peristiwa ini terjadi setiap tahun ajaran baru di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tanpa disadari, mental dan kecerdasan pada anak mendapat celaan “bodoh” lantaran hanya karena gagal dalam tes masuk sekolah favorit atau sekolah unggul. Banyak sekolah-sekolah yang yang hanya memerhatikan kualitas inputnya saja, tanpa memperhatikan the best proses dan proses out putnya.
Guru pada umumnya terjebak paham materialisme kerikulum. Mereka begitu terpacak pada pokok bahasan yang tercantum dalam kurikulum. Seluruh waktu nabis diboroskan untuk mengalihkan materi pelajaran ke benak siswa. Guru tenggelam dalam detail-detail yang ada dalam tertera dalam kurikulum. Setelah pokok pembahasan yang di ada dalam kurikulum sudah disampaikan semua, berarti tugasnya telah gugur dan tanggung jawabnya telah usai, bersamaan terakhirnya pembahasan yang ada di kontrakproduktif dalam kurikulum.
Pada dasarnya, sekolah unggul adalah sekolah yang berfokus pada kualitas proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajran bergantung pada kualitas para guru yang berkerja di sekolah tersebut. Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik, mereka akan berperan bagai “agen pengubah” siswanya. Dengan kata lain, sekolah yang guru-gurunya mampu mengubah kualitas dan moral siswanya dari negatif menjadi positf, itulah sekolah unggul. Karena pada prinsipnya; tidak ada siswa yang bodoh dalam sekolah atau pun dalam ranah edukasi. Dan sekali lagi, guru mengajar bukan berarti murid belajar. “Sebaik apa pun kurikulumnya, sulit berhasil apabila tidak dijalankan dengan strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan siswa-siswa.” Dan itulah saya katakan dengan metode MI yang diterapkan oleh Munif Chatib, yakni “MI IS THE BEST SOLUTION IN TEACHING”.[]
Judul Buku : Sekolahnya Manusia; Sekolah Berbasis Multipel Intellegences di Indonesia
Penulis : Munif Chatib
Penerbit : Kaifa, Bandung
Edisi : Cetakan XVIII, Januari 2014
Tebel : xxiii+187 Halaman
ISBN : 9789791284288
إرسال تعليق