Negara Republik Indonesia pada bulan Agustus ini seperti mendapat durian runtuh. Setelah terhegemoni atas kemenangan melawan hawa nafsu di bulan Ramadan, kita langsung menyambut hari kemerdekaanRepublik Indonesia. Di bulan Agustus ini, kita bersuka cita merayakan peristiwa besar dalam sejarah dunia, yaitu kemenangan lebaran dan kemerdekaan negara tercinta.
Dengan ini, kita tidak boleh lupa dengan sejarah yang ditorehkan oleh founding father dahulu. Kita tidak diwajibkan untuk berperang melawan penjajah seperti para tokoh pahlawan. Kita sebagai generasi penerus diwajibkan untuk meneruskan cita-cita besar negeri ini. yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta pembangunan dan kesejahteraan bersama. Sebagai bangsa yang besar, apakah sudah benar-benar merdeka? Merdeka dalam artian bebas dari belenggu penjajahan dan kerja paksa oleh penjajah. Namun, kita harus meyakini, negara kita masih dijajah negara asing secara halus.
Moral dan budaya kita nyata dijajah bangsa lain. Bahkan identitas sebuah negara pun kita pertanyakan sendiri. Dahulu kita dikenal bangsa asing dengan budayanya. Budaya santunnya, dan ramah. Kini,setelah bangsa lain siap dengan gelombang globalisasi,budaya kita malah terdegradasi, identitas sebuah negara besar ikut tergusur.
Sekarang, kita tersulut emosi. Suka tawuran antar sesama. Suka memaksakan kehendak. Apalagi bertambahnya budaya korupsi yang mengakar membuat bangsa ini akan jatuh ke titik nadir kehancuran. Mengapa Indonesia bagaikan surga bagi para koruptor? Salah satu penyebab utamanya adalah hukum yang mudah dibeli. Rasa keadilanpun sulit diharapkan, seperti “jauh api dari panggang”.
Awalnya ketika para pendiri bangsa ini bersepakat untuk hidup dalam satu kesatuan bangsa, telah bersepakat untuk bersatu menjadi Indoneisa sebagai satu kesatuan Negara, bangsa dengan dasar Pancasila dan konstitusi UUD 1945. Dalam perjalannannya, kesatuan dan persatuan bangsa mengalami tantangan dengan terjadinya berbagai gejolak utamanya didaerah-daerah. Terjadinya gerakan saparatis, terorisme merupakan contoh kasus adanya tantangan bagi persatuan dan kesatuan NKRI.
Terlepas dari itu, rakyat indonesia baru saja menggelar pemilihan presiden yang begitu “ekstrim”. Karena kedua pendukung calon pemimpin bangsa ini, saling serang.Saling sikut.Saling menjatuhkan.Saling menghujat. Saling mengklaim sebagai pemenang. Dan banyak berita miring di media massa yang memicu retaknya tali persaudaraan bangsa Indonesia. Yang lebih ironis lagi, lantaran beda pilihan, pasangan suami istri saling satru, pisah ranjang.
Berkah di hari kemenangan di bulan syawal, dimana bulan yang penuh dengan ampunan. Kupatan yang artinya adum lepat, lebur dan kembali ke fitri atau bersih. Tidak ada lagi lendir rasa dendam, sakit hati. Semua telah lebur dalam bulan Idul Fitri yang kita rayakan bersama.Pasalnya, bulan penuh ampunan ini, kita kembali ke fitri, atau kembalinya kita keterbebasan dari segala dosa dan noda hingga berada dalam kesucian (fitroh).
Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam kontek ini berarti kembali asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk islam yang benar. Bagi umat islam yang telah lulus melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya. Sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci”.
Kita, rakyat bangsa Indonesia ibarat mendapat angin segar dari Surga, lantaran setelah kita menang dalam percaturan hawa nafsu, kini waktunya menyambut kemerdekaan RI. Bersama dengan hari besar, negara RI bisa keluar dari gelapnya jaman menuju padangnya cahaya kemenangan. “Minazh Dzulumati Ilan Nur”, seperti judul surat RA Kartini yang terkenal itu, yaitu “Habis gelap terbitlah terang.”
Moment Kembalinya Persatuan Indonesia
Kesatuan negara republik indonesia adalah harga mati. Oleh karena itu, kita sebagai rakyat indonesia sudah selayaknya berpegang teguh mengamalkan pancasila. Sila ketiga adalah persatuan indonesia.
Sementara, pada setiap event agustusan semua masyarakat bersatu padu, bergotong royong, bermasyarakat untuk memeriahkan dengan kegiatan yang mempererat tali persaudaraan antar ras, suku, dan agama. Walaupun berbeda kita tetap satu jua. Kata orang bijak “Janganlah takut akan perbedaan, karena perbedaan dapat menyatukan kita.” Sudah selayaknya kita bersatu padu membangun tekad dan kembali sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia.
Seharusnya, kita sebagai bangsa yang besar karena sejarah, selayaknya berjihad melawan imperalisme yang menjajah negara ini. Musuh utama kita adalah kemiskinan, kebodohan, fanatisme (agama) dan lemahnya keyakinan kita. Quraish shihab mengatakan ayat-ayat yang menerangkan tentang qital (perang) menyebutkan “Perang seluruhnya bersifat defensif, mempertahankan diri baik dari serangan nyata baik potensi yang membahayakan.” Menurut Koentjaraningrat (1982) kebanggaan bangsa Indonesia pada masa lalu bahwa rakyat Indonesia yang menduduki kepulauan nusantara ini memiliki sifat plural dengan beraneka warna bahasa dan kebudayaan, bineka tunggal ika. Karena perbedaan ideologi dengan budaya barat, maka kearifan lokal pun ditinggal dan terlupakan begitu saja.
Pada jaman dahulu, cikal bakal pemikiran ke-indonesian. Para pemuda berdiskusi, seperti dirumah Cokro Amienoto, Boedi Oetomo, dan lain sebagainya. Itu semuanya melahirkan ide besar yang kemudian menyejarah dan mendinamiskan pemikiran dan gerak masyarakat.Seperti gerakan Sumpah Pemuda di Surabaya kala itu.Kita patut bangga sebagai rakyat Indonesia. Pasalnya, setelah kita merayakan hari kemenangan, kita siap menyosong hari yang bersejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.
Oleh kesempatan bulan agustus ini, sepatutnya menjadi moment untuk mempersatukan tekad kita untuk membangun negara menjadi lebih baik lagi. Sejarah telah mencatat kemerdekaan bangsa Indonesia adalah kemerdekaan yang diperjuangkan, harus pertahankan, dan dihormati dari generasi ke generasi. Setelah kemenangan Idul Fitri adalah moment yang sangat prestise untuk bersatumenuju kemerdekaan, bebas dari permasalahan.
Kita jaga Tanah Air tercinta ini. Karena masalah secuil saja bisa menjadi bomerang menjadi kisruhnya negeri. Manakala moment lebaran dan hari kemerdekaan ini bisa menjadi membuat bersatu. Tidak dipungkiri, bangsa ini menjadi besar akan orang-orangnya, begitu kata Anies Baswedan.
NKRI Harga Mati. NKRI Harga Mati. NKRI Harga Mati.
Teriakkan itu di manapun/kapanpun. Bersama kita menyosong hari yang lebih baik. Dengan kebersamaan dan kesatuan kita selalu optimis membangun bangsa. Sekali lagi NKRI harga mati. Sekali Merdeka, Tetap Merdeka. []
Dengan ini, kita tidak boleh lupa dengan sejarah yang ditorehkan oleh founding father dahulu. Kita tidak diwajibkan untuk berperang melawan penjajah seperti para tokoh pahlawan. Kita sebagai generasi penerus diwajibkan untuk meneruskan cita-cita besar negeri ini. yaitu, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta pembangunan dan kesejahteraan bersama. Sebagai bangsa yang besar, apakah sudah benar-benar merdeka? Merdeka dalam artian bebas dari belenggu penjajahan dan kerja paksa oleh penjajah. Namun, kita harus meyakini, negara kita masih dijajah negara asing secara halus.
Moral dan budaya kita nyata dijajah bangsa lain. Bahkan identitas sebuah negara pun kita pertanyakan sendiri. Dahulu kita dikenal bangsa asing dengan budayanya. Budaya santunnya, dan ramah. Kini,setelah bangsa lain siap dengan gelombang globalisasi,budaya kita malah terdegradasi, identitas sebuah negara besar ikut tergusur.
Sekarang, kita tersulut emosi. Suka tawuran antar sesama. Suka memaksakan kehendak. Apalagi bertambahnya budaya korupsi yang mengakar membuat bangsa ini akan jatuh ke titik nadir kehancuran. Mengapa Indonesia bagaikan surga bagi para koruptor? Salah satu penyebab utamanya adalah hukum yang mudah dibeli. Rasa keadilanpun sulit diharapkan, seperti “jauh api dari panggang”.
Awalnya ketika para pendiri bangsa ini bersepakat untuk hidup dalam satu kesatuan bangsa, telah bersepakat untuk bersatu menjadi Indoneisa sebagai satu kesatuan Negara, bangsa dengan dasar Pancasila dan konstitusi UUD 1945. Dalam perjalannannya, kesatuan dan persatuan bangsa mengalami tantangan dengan terjadinya berbagai gejolak utamanya didaerah-daerah. Terjadinya gerakan saparatis, terorisme merupakan contoh kasus adanya tantangan bagi persatuan dan kesatuan NKRI.
Terlepas dari itu, rakyat indonesia baru saja menggelar pemilihan presiden yang begitu “ekstrim”. Karena kedua pendukung calon pemimpin bangsa ini, saling serang.Saling sikut.Saling menjatuhkan.Saling menghujat. Saling mengklaim sebagai pemenang. Dan banyak berita miring di media massa yang memicu retaknya tali persaudaraan bangsa Indonesia. Yang lebih ironis lagi, lantaran beda pilihan, pasangan suami istri saling satru, pisah ranjang.
Berkah di hari kemenangan di bulan syawal, dimana bulan yang penuh dengan ampunan. Kupatan yang artinya adum lepat, lebur dan kembali ke fitri atau bersih. Tidak ada lagi lendir rasa dendam, sakit hati. Semua telah lebur dalam bulan Idul Fitri yang kita rayakan bersama.Pasalnya, bulan penuh ampunan ini, kita kembali ke fitri, atau kembalinya kita keterbebasan dari segala dosa dan noda hingga berada dalam kesucian (fitroh).
Jadi yang dimaksud dengan Idul Fitri dalam kontek ini berarti kembali asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk islam yang benar. Bagi umat islam yang telah lulus melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan akan diampuni dosanya sehingga menjadi suci kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya. Sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci”.
Kita, rakyat bangsa Indonesia ibarat mendapat angin segar dari Surga, lantaran setelah kita menang dalam percaturan hawa nafsu, kini waktunya menyambut kemerdekaan RI. Bersama dengan hari besar, negara RI bisa keluar dari gelapnya jaman menuju padangnya cahaya kemenangan. “Minazh Dzulumati Ilan Nur”, seperti judul surat RA Kartini yang terkenal itu, yaitu “Habis gelap terbitlah terang.”
Moment Kembalinya Persatuan Indonesia
Kesatuan negara republik indonesia adalah harga mati. Oleh karena itu, kita sebagai rakyat indonesia sudah selayaknya berpegang teguh mengamalkan pancasila. Sila ketiga adalah persatuan indonesia.
Sementara, pada setiap event agustusan semua masyarakat bersatu padu, bergotong royong, bermasyarakat untuk memeriahkan dengan kegiatan yang mempererat tali persaudaraan antar ras, suku, dan agama. Walaupun berbeda kita tetap satu jua. Kata orang bijak “Janganlah takut akan perbedaan, karena perbedaan dapat menyatukan kita.” Sudah selayaknya kita bersatu padu membangun tekad dan kembali sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia.
Seharusnya, kita sebagai bangsa yang besar karena sejarah, selayaknya berjihad melawan imperalisme yang menjajah negara ini. Musuh utama kita adalah kemiskinan, kebodohan, fanatisme (agama) dan lemahnya keyakinan kita. Quraish shihab mengatakan ayat-ayat yang menerangkan tentang qital (perang) menyebutkan “Perang seluruhnya bersifat defensif, mempertahankan diri baik dari serangan nyata baik potensi yang membahayakan.” Menurut Koentjaraningrat (1982) kebanggaan bangsa Indonesia pada masa lalu bahwa rakyat Indonesia yang menduduki kepulauan nusantara ini memiliki sifat plural dengan beraneka warna bahasa dan kebudayaan, bineka tunggal ika. Karena perbedaan ideologi dengan budaya barat, maka kearifan lokal pun ditinggal dan terlupakan begitu saja.
Pada jaman dahulu, cikal bakal pemikiran ke-indonesian. Para pemuda berdiskusi, seperti dirumah Cokro Amienoto, Boedi Oetomo, dan lain sebagainya. Itu semuanya melahirkan ide besar yang kemudian menyejarah dan mendinamiskan pemikiran dan gerak masyarakat.Seperti gerakan Sumpah Pemuda di Surabaya kala itu.Kita patut bangga sebagai rakyat Indonesia. Pasalnya, setelah kita merayakan hari kemenangan, kita siap menyosong hari yang bersejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.
Oleh kesempatan bulan agustus ini, sepatutnya menjadi moment untuk mempersatukan tekad kita untuk membangun negara menjadi lebih baik lagi. Sejarah telah mencatat kemerdekaan bangsa Indonesia adalah kemerdekaan yang diperjuangkan, harus pertahankan, dan dihormati dari generasi ke generasi. Setelah kemenangan Idul Fitri adalah moment yang sangat prestise untuk bersatumenuju kemerdekaan, bebas dari permasalahan.
Kita jaga Tanah Air tercinta ini. Karena masalah secuil saja bisa menjadi bomerang menjadi kisruhnya negeri. Manakala moment lebaran dan hari kemerdekaan ini bisa menjadi membuat bersatu. Tidak dipungkiri, bangsa ini menjadi besar akan orang-orangnya, begitu kata Anies Baswedan.
NKRI Harga Mati. NKRI Harga Mati. NKRI Harga Mati.
Teriakkan itu di manapun/kapanpun. Bersama kita menyosong hari yang lebih baik. Dengan kebersamaan dan kesatuan kita selalu optimis membangun bangsa. Sekali lagi NKRI harga mati. Sekali Merdeka, Tetap Merdeka. []
إرسال تعليق