Multikulturisme, hakikatnya muncul berbagai kritik terhadap modernisme yang gagal menciptakan global yang berkeadilan manusia dan berkelanjutan. Multikulturisme merupakan perbedaan terhadap masyarakat sipil (madani) sebagai krititik terhadap negara yang cenderung tidak memihak publik.
Sebetulnya, membahas Ujian Nasional (UN) bisa dikatakan basi. Lantaran hajatan UN sudah usai dan sekarang masuk tahun ajaran baru. Namun, tidak lantas kita lupakan begitu saja UN tersebut karena banyak sekali permasalahan yang patut didiskusikan dan dipecahkan bersama. Pasalnya, semenjak UN menjadi penentu kelulusan SD, SMP, hingga SMA, terdapat beberapa catatan kelam.
Setiap UN akan digelar, suasana berubah menjadi horor. Apabila kita semua sadar bahwa sesungguhnya UN saat ini telah membuat siswa terdistori, memperlebar rasa takut siswa, dan gagal menciptakan pembelajaran yang nyata (real learning), kita sepakat mengembalikan UN sebagai pemetaan pemerataan pendidikan.
Seperti yang tercatat dalam buku ini, ada beberapa insiden yang memalukan. Misalnya, adanya jual beli jawaban UN, joki, dan pencurian soal yang dilakukan oleh oknum sekolah. Itu semua hanya dijadikan dagangan demi menjual sekolah kepada calon murid. Apabila sekolah mendapat predikat lulus UN seratus persen, otomatis murid akan datang sendiri mendaftar ke sekolah tersebut.
Buku ini mencatat secara detail sisi kelabu UN. Di tengah-tengah slogan kampenye jujur,masih ada praktik nyata ”menjual” kejujuran. Bahkan, orang yang melakukankebenaran malah mendapat intimindasi dan perlakuan yang tidak mengenakan. Kita masih ingat, Siami dan Alifah Ahmad Maulana atau akrab di sapa Alif. Mereka malah dicap “sok suci” dan dikucilkan oleh tetangganya. Bermaksud mengedepankan pendidikan karakter, UN justru tidak mencerminkan itu. ”Mega proyek UN” malah melahirkan banyak skandal.
Sementara media masa, baik cetak maupun eletronik, selalu memberitakan UN terkait irasionalitas. Misalnya, pensil 2B dicelupkan di air batu Ponari. Padahal, “si dukunsakti” cilik itu sendiri tidak lulus UN SD. Siswa bukannya belajar dengan giat, tapi malah pergi ke rumah dukun atau ke rumah kiai. Hanya sekadar mencium tangan kiai tersebut. Malah ada berita yang memalukan, ternyata 70 kasek-guru berkomplot curi soal UN. Kabut hitam kelam juga menelan korban siswa yang gantung diri lantaran takut tidak lulus ujian nasional. UN tampak sakral. Apabila menjelang ujian, siswa berbondong-bondong melakukan istighotsah, bermaaf-maafan kepada pihak sekolah maupun orang tua. Manakala tangisan pecah mengiringi kegiatan tersebut, kesakralan UN menjadi sangat terasa. (Hal. 73)
Membaca buku ini, kita akan merasa tertonjok oleh cermin kebobrokan UN. Ketika ujian berlangsung, ternyata para guru sudah memasang strategi untuk melanggengkan jurus menyebar jawaban untuk peserta ujian,yaitu di toilet sekolah. Ya, ditoliet sekolah kejujuran ditelanjangi. Selain itu, siswa menerima pesan singkat (SMS) untuk mendapat kunci jawaban yang disebar pihak sekolah itu sendiri. Hingga akhirnya terdapat tragedi heroik. Yakni, siswa SMAN di Ngawi tidak lulus 100 persen. Itu semua tidak didapat secara gratis. Untuk mendapat kunci jawaban,per siswa membayar Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu untuk penilik unas(hal. 37).
Berkaca pada negara-negara yang sistem pendidikannya terbaik, ternyata negara maju tidak mengenal UN sama sekali. Contohnya, Finlandia yang beberapa tahun ini menjadi barometer pendidikan. Amerika, Australia, dan Meksiko juga tidak menggunakan unas menjadi penentu kelulusan nasional, melainkan diserahkan kepada guru dan sekolahnya tentang keputusan kelulusan siswa.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah peningkatan kualitas guru profesional. Peningkatan kreativitas guru dan kesejahteraan mereka juga diperhatikan.
Jika kita tinjau secara bijaksana, sesungguhnya UN yang digagas JK (Jusuf kalla) ini sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Sudah usang. Mengapa? Sebab, target pemerintah (baca: Kemendikbud) telah tercapai. Nyaris setiap tahun unas selalu lulus 100 persen. Baik sekolah kota maupun sekolah desa. Kalaupun ada yang tidak lulus, salah satunya terjadi di SMAN 2 Ngawi yang siswanya tidak lulus 100 persen. Dan itu gara-gara hal sepele: kunci jawabannya salah dan cilokonya semua siswa mengerjakannya.
Kemendikbud berdalih bahwa keberagaman kualitas sekolah di Indonesia memerlukan standar yang berlaku secara nasional yang pencapaiannya diukur melalui UN. Memang dalam Permendikbud Nomor 97 Tahun 2014 Pasal 2 disebutkan bahwa peserta didik akan dinyatakan lulus setelah menyelesaikan seluruh program pembelajaran, memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran, lulus ujian sekolah, dan lulus nasional. Artinya UN wajib diselenggarakan di Indonesia (hal. 66).
Di tengah-tengah upaya pemerintah menerapkan kurikulum 2013 sebagai pendidikan berkarakter, pro dan kontra mengenai dua kebijakan UNmasih bergulir. Sebagian pihak menilai bahwa parameter keberhasilan belajar siswa tidak cocok jika diukur dengan model unas.Terkait standar kelulusan yang semakin meningkat, penentu kelulusan tetapmemakai format 60-40 persen penggabungan nilai UN.
Kalaupun UN ditiadakan, hal ini tak akan mempengaruhi kualitas pendidikan. Sudah saatnya pola usang pembelajaran yang menjadikan simbol angka-angka sebagai ukuran keberhasilan belajar siswa ditinggalkan. Sekolah harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Yang bisa melahirkan generasi yang kreatif, percaya diri, tidak takut dalam pembelajaran dan berkarakter kuat. Guru harus bisa mengekplorasi semua bakat dan minat yang terpendam dalam diri siswa dalam ruang kreativitasnya. Sebab, sekolah sejatinya menjadi pusat kreativitas intelektual, bukan penjara talenta dan kreativitas siswa.[]
Ketika Kejujuran Ditelanjangi (Duta Masyarakat, edisi (10/8))
Judul Buku : Rapor Merah UN
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Sarbi
Cetakan : I, 2014
Tebal : 90 halaman
ISBN : 978-602-14909-5-2
Perensensi : Muhammad Choirur Rokhim--tinggal di Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia.
Muhammad Choirur Rokhim, pegiat literasi, tinggal di Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek. Saat ini penulis mahasiswa aktif semester 7 Prodi Penjaskesrek di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.
Dimuat. http://dutamasyarakat.co/.../ketika-kejujuran-ditelanjangi/
Sebetulnya, membahas Ujian Nasional (UN) bisa dikatakan basi. Lantaran hajatan UN sudah usai dan sekarang masuk tahun ajaran baru. Namun, tidak lantas kita lupakan begitu saja UN tersebut karena banyak sekali permasalahan yang patut didiskusikan dan dipecahkan bersama. Pasalnya, semenjak UN menjadi penentu kelulusan SD, SMP, hingga SMA, terdapat beberapa catatan kelam.
Setiap UN akan digelar, suasana berubah menjadi horor. Apabila kita semua sadar bahwa sesungguhnya UN saat ini telah membuat siswa terdistori, memperlebar rasa takut siswa, dan gagal menciptakan pembelajaran yang nyata (real learning), kita sepakat mengembalikan UN sebagai pemetaan pemerataan pendidikan.
Seperti yang tercatat dalam buku ini, ada beberapa insiden yang memalukan. Misalnya, adanya jual beli jawaban UN, joki, dan pencurian soal yang dilakukan oleh oknum sekolah. Itu semua hanya dijadikan dagangan demi menjual sekolah kepada calon murid. Apabila sekolah mendapat predikat lulus UN seratus persen, otomatis murid akan datang sendiri mendaftar ke sekolah tersebut.
Buku ini mencatat secara detail sisi kelabu UN. Di tengah-tengah slogan kampenye jujur,masih ada praktik nyata ”menjual” kejujuran. Bahkan, orang yang melakukankebenaran malah mendapat intimindasi dan perlakuan yang tidak mengenakan. Kita masih ingat, Siami dan Alifah Ahmad Maulana atau akrab di sapa Alif. Mereka malah dicap “sok suci” dan dikucilkan oleh tetangganya. Bermaksud mengedepankan pendidikan karakter, UN justru tidak mencerminkan itu. ”Mega proyek UN” malah melahirkan banyak skandal.
Sementara media masa, baik cetak maupun eletronik, selalu memberitakan UN terkait irasionalitas. Misalnya, pensil 2B dicelupkan di air batu Ponari. Padahal, “si dukunsakti” cilik itu sendiri tidak lulus UN SD. Siswa bukannya belajar dengan giat, tapi malah pergi ke rumah dukun atau ke rumah kiai. Hanya sekadar mencium tangan kiai tersebut. Malah ada berita yang memalukan, ternyata 70 kasek-guru berkomplot curi soal UN. Kabut hitam kelam juga menelan korban siswa yang gantung diri lantaran takut tidak lulus ujian nasional. UN tampak sakral. Apabila menjelang ujian, siswa berbondong-bondong melakukan istighotsah, bermaaf-maafan kepada pihak sekolah maupun orang tua. Manakala tangisan pecah mengiringi kegiatan tersebut, kesakralan UN menjadi sangat terasa. (Hal. 73)
Membaca buku ini, kita akan merasa tertonjok oleh cermin kebobrokan UN. Ketika ujian berlangsung, ternyata para guru sudah memasang strategi untuk melanggengkan jurus menyebar jawaban untuk peserta ujian,yaitu di toilet sekolah. Ya, ditoliet sekolah kejujuran ditelanjangi. Selain itu, siswa menerima pesan singkat (SMS) untuk mendapat kunci jawaban yang disebar pihak sekolah itu sendiri. Hingga akhirnya terdapat tragedi heroik. Yakni, siswa SMAN di Ngawi tidak lulus 100 persen. Itu semua tidak didapat secara gratis. Untuk mendapat kunci jawaban,per siswa membayar Rp 30 ribu sampai Rp 100 ribu untuk penilik unas(hal. 37).
Berkaca pada negara-negara yang sistem pendidikannya terbaik, ternyata negara maju tidak mengenal UN sama sekali. Contohnya, Finlandia yang beberapa tahun ini menjadi barometer pendidikan. Amerika, Australia, dan Meksiko juga tidak menggunakan unas menjadi penentu kelulusan nasional, melainkan diserahkan kepada guru dan sekolahnya tentang keputusan kelulusan siswa.
Hal lain yang perlu dilakukan adalah peningkatan kualitas guru profesional. Peningkatan kreativitas guru dan kesejahteraan mereka juga diperhatikan.
Jika kita tinjau secara bijaksana, sesungguhnya UN yang digagas JK (Jusuf kalla) ini sebenarnya sudah ketinggalan zaman. Sudah usang. Mengapa? Sebab, target pemerintah (baca: Kemendikbud) telah tercapai. Nyaris setiap tahun unas selalu lulus 100 persen. Baik sekolah kota maupun sekolah desa. Kalaupun ada yang tidak lulus, salah satunya terjadi di SMAN 2 Ngawi yang siswanya tidak lulus 100 persen. Dan itu gara-gara hal sepele: kunci jawabannya salah dan cilokonya semua siswa mengerjakannya.
Kemendikbud berdalih bahwa keberagaman kualitas sekolah di Indonesia memerlukan standar yang berlaku secara nasional yang pencapaiannya diukur melalui UN. Memang dalam Permendikbud Nomor 97 Tahun 2014 Pasal 2 disebutkan bahwa peserta didik akan dinyatakan lulus setelah menyelesaikan seluruh program pembelajaran, memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran, lulus ujian sekolah, dan lulus nasional. Artinya UN wajib diselenggarakan di Indonesia (hal. 66).
Di tengah-tengah upaya pemerintah menerapkan kurikulum 2013 sebagai pendidikan berkarakter, pro dan kontra mengenai dua kebijakan UNmasih bergulir. Sebagian pihak menilai bahwa parameter keberhasilan belajar siswa tidak cocok jika diukur dengan model unas.Terkait standar kelulusan yang semakin meningkat, penentu kelulusan tetapmemakai format 60-40 persen penggabungan nilai UN.
Kalaupun UN ditiadakan, hal ini tak akan mempengaruhi kualitas pendidikan. Sudah saatnya pola usang pembelajaran yang menjadikan simbol angka-angka sebagai ukuran keberhasilan belajar siswa ditinggalkan. Sekolah harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Yang bisa melahirkan generasi yang kreatif, percaya diri, tidak takut dalam pembelajaran dan berkarakter kuat. Guru harus bisa mengekplorasi semua bakat dan minat yang terpendam dalam diri siswa dalam ruang kreativitasnya. Sebab, sekolah sejatinya menjadi pusat kreativitas intelektual, bukan penjara talenta dan kreativitas siswa.[]
Ketika Kejujuran Ditelanjangi (Duta Masyarakat, edisi (10/8))
Judul Buku : Rapor Merah UN
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Sarbi
Cetakan : I, 2014
Tebal : 90 halaman
ISBN : 978-602-14909-5-2
Perensensi : Muhammad Choirur Rokhim--tinggal di Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia.
Muhammad Choirur Rokhim, pegiat literasi, tinggal di Tasikmadu, Watulimo, Trenggalek. Saat ini penulis mahasiswa aktif semester 7 Prodi Penjaskesrek di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.
Dimuat. http://dutamasyarakat.co/.../ketika-kejujuran-ditelanjangi/
إرسال تعليق