Membicarakan Kompas Gramedia tak pernah bisa lepas dari sosok penggede PK. Ojong serta Jakob Oetama. Kedua penggede ini menjadi tunggak perintis lahirnya perusahaan bernama Kompas Gramedia seperti sekarang ini. Dari kedua orang ini yang masih hidup dan terus berkarya dan berjasa dalam pendirian perusahaan-perusahaan di bawah induk Kompas Gramedia adalah Jakob Oetama.
Keberhasilan dan kesuksesan seperti itu tidak bisa dipisahkannya dengan sikap ngemong Jakob Oetama terhadap karyawan-karyawannya. Sikap ngemong ini ia dapatkan sejak kecil. Hidup di lingkungan yang berlatar belakang keluarga pendidikan. Ayahandanya adalah seorang guru Sekolah Rakyat (SR), dari ayahandanyalah Jakob belajar hidup sederhana. Selain ayahnya, ibunya juga berperan membentuk karakter kesederhanaan dan kerendahan hati menjadi prinsip hidup dalam memimpin perusahaan hingga saat ini.
Ada beberapa sikap spiritualitas yang dapat kita pelajari dari sosok Jakob Oetama ini. Pertama, dia juga seorang Katolik yang taat. Ketaatan terlihat dari keaktifannya di kegiatan gereja. Jakob juga memiliki sikap toleran terhadap penganut agama lain. Terbukti dengan dibangunnya dua tempat ibadah di kantor Kompas Gramedia: berupa gereja dan masjid di lingkungan kantor Kompas Gramedia. "Baginya, latar belakang agama bukan alasan untuk menciptakan perpecahan. Sebaliknya, perbedaan yang disikapi dengan benar akan menciptakan kesatuan." Kata Jakob. Upaya menyatukan pluralisme inilah yang dijadikan tujuan utama dalam membangun perusahaannya.
Kedua, sikap spiritualitasnya dari sikap ngemong dan rendah hatinya. Sikap ngemong ini ia setelah banyak belajar dari orangtuanya dan masuk di Seminari. Di Seminari ia banyak belajar dari para gurunya, salah satunya Pastor Van der Putten SJ. Konon, suatu ketika, Romo Van der Putten pernah berkata kepadanya, "kowe bisa ngemong." Yang dalam bahasa Indonesia berarti "kamu bisa ngemong". Yang secara harfiah kata ngemong diartikan membimbing. Namun dalam kata bahasa Jawa, ngemong memiliki arti yang lebih dalam, yakni sikap sabar, mau mengerti, memahami dan mendengarkan, meneduhkan, dan mengarahkan. Dan terbukti, ucapan ngemong ini ia pertahankan hingga saat ini di puncak kesuksesan dalam memimpin perusahaan Kompas Gramedia beserta anak perusahaan di bawah naungan Kompas Gramedia tersebut.
Ketiga, masih mau dan selalu belajar dari teman-temannya: wartawan maupun karyawannya. Pak J.O--sapaan akrab nyentriknya-di kantor Kompas Gramedia masih banyak belajar dan berguru dengan teman dan rekannya sesama wartawan, seperti Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar. Jakob sangat mengidolakan Rosihan Anwar. Melihat kiprah Rosihan Anwar di bidang jurnalistik, maka sangat wajar jika Jakob mengidolakan Rosihan Anwar. Rosihan Anwar juga dianggap teladan dan pembakar semangat para wartawan muda tanah air. "Saya pernah punya dua pilihan. Menjadi guru atau wartawan. Saya kemudian memilih jadi wartawan, seperti Rosihan Anwar yang pekan lalu meninggalkan kita untuk selamanya. Saya tidak pernah menyesali, bahkan bangga menjadi wartawan." (Hal. 34).
Selain belajar dari guru dan sesama wartawan, Jakob juga masih berguru pada banyak buku. Belajar dari banyak buku tersebut dianggapnya supaya mendapat pengetahuan dan kemampuan analisis yang mendalam. Rasa ingin tahu Jakob sangatlah tinggi. Ia banyak membaca buku pemikiran-pemikiran Gunnar Myrdall, Max Weber, Francis Fukoyama, Anthny Giddens, dan Samuel P. Huntington. Di bidang sejarah, ia menelan banyak karya-karya Arnold Toynbee. Tentang ilmu jurnalistik, Jakob mendalami literaturnya De Volder. Ia juga melahap seorang founding father ilmu komunikasi, yakni Wilbur Schramm dan masih banyak lagi.
Keempat, memiliki pribadi yang kukuh. "Kalau ingin melihat sosok sebenarnya J.O., lihat saja bagaimana bahasa Kompas. J.O. tidak meledak-ledak dalam menyampaikan kritik, bahasanya harus padahal nyelekit bagi yang memahami makna tersirat di balik kalimat itu." Kata August Parengkuan, Direktur Komunikasi KKG. (Hal. 133). Jakob dikenal sebagai pribadi yang sabar, mau mendengarkan, dan tidak menyukai konflik. Ia menyelesaikan masalah cenderung kalem dan tidak terburu-buru. Dari kekalemannya tersebut banyak orang merasa gregetan. Namun Jakob memikirkan matang-matang setiap keputusannya. Jakob juga dikenal santun, sederhana namun juga pemalu. (Hal. 134).
Kelima, "memanusiakan" karyawan. Jakob menerapkan falsafah we do care. Jakob sangat hati-hati dalam memperhatikan kesejahteraan karyawan. Gaji yang diberikan harus sepadan dengan keringat yang dikeluarkan. Dengan begitu, para karyawan akan ikhlas dan mempunyai semangat tinggi untuk terus meningkatkan kinerjanya. "Kita harus tahu apa yang diinginkan oleh karyawan. Dengan kepedulian, berarti kita menghargai keberadaan mereka. Jangan hanya memperlakukan mereka sebagai mesin penghasil uang." (Hal. 137)
Keenam, Ora et Labora. Bekerja sama halnya dengan beribadah. Sebelumnya, Jakob adalah seorang Katolik yang taat. Ia memang memiliki sifat religius dalam sehari-harinya, yang ditambahkan dalam perilaku sehari-harinya. Wajar jika segala yang dikerjakan selalu didasarkan pada niat beribadah. Perwujudan religiusitas ini ditunjukkan dengan bersyukur. Ia juga menekankan prinsip iman dan amal sebagai bentuk ibadah yang dilakukannya sehari hari dalam bingkai ibadah.
Oleh karena itu, tidak mustahil Jakob Oetama dalam ranah media mendapatkan beragam prestasi. Maka, tidak berlebihan apabila Jakob disebut sebagai salah satu maestro pengusaha Indonesia. Oleh majalah SWA, di tahun 2003 ia dinobatkan sebagai CEO terbaik. Ia juga dinobatkan sebagai Entrepreneur of the Year oleh Ernst & Young. Lalu, oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) diberi gelar Doktor Honoris Causa berkat konsistensinya mengembangkan pers Indonesia. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pengusaha yang sukses dan kaya raya. Ranah bisnisnya menggurita di segala bidang: koran, majalah, dan media cetak lainnya. Jaringan bisnisnya melebar ke segala bentuk produksi, yakni percetakan, perhotelan, siaran radio dan juga pertelevisian.
Buku yang ditulis oleh Nur Islafatun ini menyuguhkan rahasia-rahasia kecil yang dimiliki oleh Jakob Oetama dalam "menyiasati hidup". Buku yang berjudul Jakob Oetama Bekerja dengan Hati; Kisah Wartawan Miskin yang Berhasil Menjadi Konglomerat Media ini menjelajahi sepenggal demi sepenggal kisah Jakob Oetama dan sebuah perjalanan joerney dan spiritualitas dari seorang Jakob Oetama. []
Judul Buku: Jakob Oetama Bekerja dengan Hati: Kisah Wartawan Miskin yang Berhasil Menjadi Konglomerat Media
Penulis: Nor Islafatun
Penerbit: Buku Pintar, Yogyakarta
Terbit: Pertama, 2013
ISBN: 978-602-7881-05-1
Keberhasilan dan kesuksesan seperti itu tidak bisa dipisahkannya dengan sikap ngemong Jakob Oetama terhadap karyawan-karyawannya. Sikap ngemong ini ia dapatkan sejak kecil. Hidup di lingkungan yang berlatar belakang keluarga pendidikan. Ayahandanya adalah seorang guru Sekolah Rakyat (SR), dari ayahandanyalah Jakob belajar hidup sederhana. Selain ayahnya, ibunya juga berperan membentuk karakter kesederhanaan dan kerendahan hati menjadi prinsip hidup dalam memimpin perusahaan hingga saat ini.
Ada beberapa sikap spiritualitas yang dapat kita pelajari dari sosok Jakob Oetama ini. Pertama, dia juga seorang Katolik yang taat. Ketaatan terlihat dari keaktifannya di kegiatan gereja. Jakob juga memiliki sikap toleran terhadap penganut agama lain. Terbukti dengan dibangunnya dua tempat ibadah di kantor Kompas Gramedia: berupa gereja dan masjid di lingkungan kantor Kompas Gramedia. "Baginya, latar belakang agama bukan alasan untuk menciptakan perpecahan. Sebaliknya, perbedaan yang disikapi dengan benar akan menciptakan kesatuan." Kata Jakob. Upaya menyatukan pluralisme inilah yang dijadikan tujuan utama dalam membangun perusahaannya.
Kedua, sikap spiritualitasnya dari sikap ngemong dan rendah hatinya. Sikap ngemong ini ia setelah banyak belajar dari orangtuanya dan masuk di Seminari. Di Seminari ia banyak belajar dari para gurunya, salah satunya Pastor Van der Putten SJ. Konon, suatu ketika, Romo Van der Putten pernah berkata kepadanya, "kowe bisa ngemong." Yang dalam bahasa Indonesia berarti "kamu bisa ngemong". Yang secara harfiah kata ngemong diartikan membimbing. Namun dalam kata bahasa Jawa, ngemong memiliki arti yang lebih dalam, yakni sikap sabar, mau mengerti, memahami dan mendengarkan, meneduhkan, dan mengarahkan. Dan terbukti, ucapan ngemong ini ia pertahankan hingga saat ini di puncak kesuksesan dalam memimpin perusahaan Kompas Gramedia beserta anak perusahaan di bawah naungan Kompas Gramedia tersebut.
Ketiga, masih mau dan selalu belajar dari teman-temannya: wartawan maupun karyawannya. Pak J.O--sapaan akrab nyentriknya-di kantor Kompas Gramedia masih banyak belajar dan berguru dengan teman dan rekannya sesama wartawan, seperti Adinegoro, Parada Harahap, Kamis Pari, Mochtar Lubis, dan Rosihan Anwar. Jakob sangat mengidolakan Rosihan Anwar. Melihat kiprah Rosihan Anwar di bidang jurnalistik, maka sangat wajar jika Jakob mengidolakan Rosihan Anwar. Rosihan Anwar juga dianggap teladan dan pembakar semangat para wartawan muda tanah air. "Saya pernah punya dua pilihan. Menjadi guru atau wartawan. Saya kemudian memilih jadi wartawan, seperti Rosihan Anwar yang pekan lalu meninggalkan kita untuk selamanya. Saya tidak pernah menyesali, bahkan bangga menjadi wartawan." (Hal. 34).
Selain belajar dari guru dan sesama wartawan, Jakob juga masih berguru pada banyak buku. Belajar dari banyak buku tersebut dianggapnya supaya mendapat pengetahuan dan kemampuan analisis yang mendalam. Rasa ingin tahu Jakob sangatlah tinggi. Ia banyak membaca buku pemikiran-pemikiran Gunnar Myrdall, Max Weber, Francis Fukoyama, Anthny Giddens, dan Samuel P. Huntington. Di bidang sejarah, ia menelan banyak karya-karya Arnold Toynbee. Tentang ilmu jurnalistik, Jakob mendalami literaturnya De Volder. Ia juga melahap seorang founding father ilmu komunikasi, yakni Wilbur Schramm dan masih banyak lagi.
Keempat, memiliki pribadi yang kukuh. "Kalau ingin melihat sosok sebenarnya J.O., lihat saja bagaimana bahasa Kompas. J.O. tidak meledak-ledak dalam menyampaikan kritik, bahasanya harus padahal nyelekit bagi yang memahami makna tersirat di balik kalimat itu." Kata August Parengkuan, Direktur Komunikasi KKG. (Hal. 133). Jakob dikenal sebagai pribadi yang sabar, mau mendengarkan, dan tidak menyukai konflik. Ia menyelesaikan masalah cenderung kalem dan tidak terburu-buru. Dari kekalemannya tersebut banyak orang merasa gregetan. Namun Jakob memikirkan matang-matang setiap keputusannya. Jakob juga dikenal santun, sederhana namun juga pemalu. (Hal. 134).
Kelima, "memanusiakan" karyawan. Jakob menerapkan falsafah we do care. Jakob sangat hati-hati dalam memperhatikan kesejahteraan karyawan. Gaji yang diberikan harus sepadan dengan keringat yang dikeluarkan. Dengan begitu, para karyawan akan ikhlas dan mempunyai semangat tinggi untuk terus meningkatkan kinerjanya. "Kita harus tahu apa yang diinginkan oleh karyawan. Dengan kepedulian, berarti kita menghargai keberadaan mereka. Jangan hanya memperlakukan mereka sebagai mesin penghasil uang." (Hal. 137)
Keenam, Ora et Labora. Bekerja sama halnya dengan beribadah. Sebelumnya, Jakob adalah seorang Katolik yang taat. Ia memang memiliki sifat religius dalam sehari-harinya, yang ditambahkan dalam perilaku sehari-harinya. Wajar jika segala yang dikerjakan selalu didasarkan pada niat beribadah. Perwujudan religiusitas ini ditunjukkan dengan bersyukur. Ia juga menekankan prinsip iman dan amal sebagai bentuk ibadah yang dilakukannya sehari hari dalam bingkai ibadah.
Oleh karena itu, tidak mustahil Jakob Oetama dalam ranah media mendapatkan beragam prestasi. Maka, tidak berlebihan apabila Jakob disebut sebagai salah satu maestro pengusaha Indonesia. Oleh majalah SWA, di tahun 2003 ia dinobatkan sebagai CEO terbaik. Ia juga dinobatkan sebagai Entrepreneur of the Year oleh Ernst & Young. Lalu, oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) diberi gelar Doktor Honoris Causa berkat konsistensinya mengembangkan pers Indonesia. Selain itu, ia juga dikenal sebagai pengusaha yang sukses dan kaya raya. Ranah bisnisnya menggurita di segala bidang: koran, majalah, dan media cetak lainnya. Jaringan bisnisnya melebar ke segala bentuk produksi, yakni percetakan, perhotelan, siaran radio dan juga pertelevisian.
Buku yang ditulis oleh Nur Islafatun ini menyuguhkan rahasia-rahasia kecil yang dimiliki oleh Jakob Oetama dalam "menyiasati hidup". Buku yang berjudul Jakob Oetama Bekerja dengan Hati; Kisah Wartawan Miskin yang Berhasil Menjadi Konglomerat Media ini menjelajahi sepenggal demi sepenggal kisah Jakob Oetama dan sebuah perjalanan joerney dan spiritualitas dari seorang Jakob Oetama. []
Judul Buku: Jakob Oetama Bekerja dengan Hati: Kisah Wartawan Miskin yang Berhasil Menjadi Konglomerat Media
Penulis: Nor Islafatun
Penerbit: Buku Pintar, Yogyakarta
Terbit: Pertama, 2013
ISBN: 978-602-7881-05-1
إرسال تعليق