Saat menulis tentang ibu, aku serasa putus asa. Tak bakal mampu mengejawantahkan sosok ibu. Emosionalitas ikut berkecamuk. Antara tak berdayaan dan berhutang. Berhutang kepada ibu; sosok Bapak pernah saya tulis di blog; (silahkan kunjungi blogku muhammadchoirur-rokhim.blogspot.com, sekarang ganti masrochim.tk dengan berjudul Keteladanan dari Seorang Bapak). Giliran ibu. Aku tidak bisa berkisah tentangmu.
Aku pun mencari buku tentang ibu. Penguat dekripsi tentangmu, namun tak jua kutemukan. Aku berkilah, sekuat tenaga kucari referensi tentangmu. Berselancarlah di dunia maya. Berharap dermawan dari lapak-lapak online. Kutemukan juga buku berjudul Emak karya Daoed Joesoef. Namun nasib lagi tak mujur. Aku kalah cepat dengan yang lain. Sampai di titik nadir. Aku pusing sendiri, jika harus mendeskripsikan dan mengejawantahkan ibu dengan kata-kata.
Menulis figur seorang ibu seakan tidak ada kata terindah yang bisa menjelaskan tentang ibu. Begitu sulit menggambarkan semua kebaikan dan ketegaranmu semenjak aku dalam rahim dalam diksi-diksi yang puitis. Kurasa penyair pun tak kan mampu bermain kata tentangmu. Ade Ubaidil pernah menggambarkan tentang sosok ibu. Jika pelangi adalah penggambaran tentang warna-warni yang menakjubkan, engkau lebih dari itu bahkan tidak sebanding dengannya. Lalu, dikala gersang mengisi siang, satu-satunya yang dinanti adalah hujan. Maka engkau jauh dan sangat jauh dari jauh, hadirmu sungguh menyejukkan. Dan, apabila masih ada yang berkata warna jingga ketika sore tiba itu adalah hal yang paling dinanti sekaligus dengan hadirnya sunset, maka engkau sungguh wanita yang selalu ditunggu kehadirannya dalam setiap waktu.
Ade Ubaidil memandang seorang ibu selalu meneduhkan dan penuh warna. Selalu menyejukkan. Hadirnya selalu dinantikan siapapun juga. Namun bagi saya, seorang ibu tidak cukup direpresentasikan seperti itu. Ibu adalah perempuan yang istimewa. Sulit untuk ditulis dan dilukis. Satu suku kata. Tiga huruf. Sukar diterjemahkan. Namun penuh makna dan hikmah. IBU.
Engkau adalah penjelmaan dari bidadari surga yang tak bersayap yang telah Tuhan kirimkan bagi anak, sepertiku. Seorang anak yang hanya menangis merengek dengan roman-roman picisan. Kala permintaan tak juga engkau kabulkan, aku hanya bisa meronta-ronta. Tidak pula berhenti sampai di situ. Keinginanku tidak juga engkau turuti, aku pun tidak lantas diam. Genting dan perabotan rumah menjadi sasaran amuk (masa)ku.
Aku malu denganmu, ibu. Aku mengenalmu sudah lebih dua-puluh lima tahun lamanya. Engkau masih setia menemaniku dan mengenalkan aku pada dunia. Engkau yang mengajariku mengijrah setiap jejak hidup. Yang dengan tekun dan sabar mengajariku membaca kalimat-kalimat sederhana: ini budi; budi minum susu; ini susu ibu, (puisi cinta Joko Pinurba).
Aku sangat malu denganmu ibu. Di usia seper-empat abad, aku belum juga menyelesaikan pendidikan. Kalah dengan adik-adik tingkatku. Mereka telah mengenakan toga bertanda lulus dari jerat bangku kuliah. Kutahu, engkau tak akan permasalahkan tentang itu. Tujuanmu lebih mulia. Menampik dan mengentaskan gelapnya dunia melalui pendidikan. Setiap segmen-segmen lakon hidup; mana yang terbaik untukku dan mana yang tak indah masa depan.
Maafkan aku ibu! Aku melupakan kebaikanmu. Bukan kebaikan waktu engkau membelikan mainan. Bukan pula kedermawananmu. Engkau mengajari anakmu tentang cinta. Bagimu, cinta itu bukan kata benda. Bukan pula kata kerja. Yang mau disuruh mengambilkan sesuap nasi untuk bertahan hidup waktu kecilku. Cinta ibu tidak lain kata hati. Hatinya selalu ada untuk anak-anaknya.
Puisi yang ditulis oleh Joko Pinurbo yang berjudul “Dunia Ibu” yang dikutip oleh Bandung Mawardi dalam buku yang berjudul Sastra Bergelimang Makna; Kumpulan Esai Bandung Mawardi (2015: 158) Joko Pinurbo dalam puisi itu mengisahkan “ibu yang merajut luka” dan “ibu yang menyulam cinta”. Biografi ibu semakin menyentuh dalam dalam puisi “Ibu yang Tabah.” Joko Pinurba menulis dalam haru dan hormat pada sosok ibu: Setiap subuh ibu memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas dan menghidangkannya/ kepada anak-anakanya sebelum berangkat/ sekolah. Malam hari diam-diam ia memeras airmata,/ menyimpannya dalam botol dan meminumnya kepada anak-anaknya bila mereka sakit.
Puisi di atas mengingatkanku pada aktivitas ibu ketika musim ikan datang. Ketika musim ikan lagi mental (baca: muncul/ada), setiap pagi, ibu harus bangun pagi. Terkadang harus bangun pagi jam satu dini hari, hanya untuk mencari nafkah dengan ikut mbakul ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Prigi, Watulimo Trenggalek. Terkadang pulang dari TPI itu jam 9 siang. Bayangkan berapa jam ibuku terlindung dari tidurnya atau mungkin tertidur dengan bau amis dan tamparan angin laut di wajah senjanya. Jelas pekerjaan yang sungguh mulia, yang dikerjakan seorang ibu. Ketabahannya dan syukurnya atas nikmatnya, tidak sampai di situ. Meski, ibu kurang tidur, Alhamdulillah tetap diberi kesehatan. Dan, tanggung jawabnya tetap dikerjakan dengan baik. Memasak. Umbah-umbah (nyuci) baju yang menggunung, dan sekelumit dinamika keluarga. Ibuku memang Manusia Istimewa Hebat. My Mom is Wonderwomen. Sekali lagi. Aku tak mampu bercerita banyak tentang ibu. Apabila aku tulis dalam media seperti ini, tak ada habisnya. Seperti kasih ibu sepanjang masa. Tidak ada habisnya cerita ibu.
(i)Bu Manusia Istimewa
Ibu itu istimewa. Keberadaanya adalah kunci. Kunci dari kesuksesan dari anak dan istrinya. Selain itu, ibu adalah sosok terpenting bagi kelahiran manusia baru. Karena itulah selayaknya, ibu mendapat tempat yang istimewa bagiku, bagi kamu, kalian, dan kita semua. Sosok ibu di sini harus kita lihat benar-benar sebagai pusat peradaban umat manusia, yang dengan segala “doa”-nya, anak-anaknya telah menjalani kehidupan masing-masing dengan peran yang berbeda-beda.
Nurani Soyomukti membenarkan dalam bukunya yang berjudul Perempuan Lebih Hebat Daripada Laki-Laki (2013: 16), sosok ibu yang terhormat adalah ibu yang mampu mendorong agar anak-anaknya dapat berperan dalam membangun sejarah peradaban. Peradaban yang maju itu haruslah ditandai dengan capaian hubungan sosial yang menghidupi bagi semua umat manusia—bukan hanya segelincir saja—dan menunjukkan tingkat kematangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memudahkan hidup dan melestarikan hidup itu sendiri.
Oleh karena itu, tiap-tiap bayi atau bocah (aku) adalah kekuatan. Aku dan ibu adalah raga yang menyatu. Ibu, sebagaimana ibu-ibu yang lain, adalah perempuan hebat yang mampu melahirkan bayi-bayi hebat. Dari ibu, seorang bocah mampu menggenggam dunia. Ibu selalu mengiringi segala doanya kepada anaknya. Karena kodrat inilah maka perempuan atau ibu itu istimewa. Ibu lebih tangguh dibanding laki-laki, yang diwakili kaum adam. Ia juga lebih mandiri, lebih cekatan dan lebih cerdas. Tak bisa aku bayangkan, bagaimana rasanya ngandut atau hamil membawa (aku) kesana-kemari selama sembilan bulan. Jelas kebesaran Allah Swt., terhadap ibuku dan para ibuku, ibu Anda, ibu kita.
Meski ibuku bukanlah orang yang berkarir. Yang bekerja di instansi publik. Ibuku pekerja rumah tangga, yang melayani anak-anak dan suaminya. Tak apa. Itu soal pilihan hidup. Ia memiliki kesadaran intensif interaksi antara aku (anak), ibu, dan bapak (suami). Potret tanggung jawab yang luar biasa. Ibu adalah potret pemikul tanggung jawab urusan kehidupan. Dari memasak sampai tetek-bengek yang lain, ia lakoni dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
Seperti yang sudah aku potret di atas. Aku tak akan mampu menuliskan ‘biografi’ ibu. Secara garis besar, tak ada fragmen yang menggambarkan karakter ibuku. Memang! Seperti yang sudah aku katakan berulang-ulang. Tak ada kata yang tepat untuk mewakilinya. Yang ingin aku sampaikan di sini. Semoga di usia senjanya, beliau selalu diberikan kesehatan. Dilindungi dari mala-bahaya dan selalu cinta terhadap keluarga. Dan, diberi umur yang panjang. Amin.
Ibuku terlalu istimewa. Manusia dengan peradaban maju. Meski ibuku orang ndesit (desa), namun ibu adalah sekolahku. Tempat pertama kali memberi pelajaran hidup dan pertama kali yang aku panggil sejak kecil. Ibuku manusia istimewa. []
Judul Buku : Goresan Cinta Untuk Bunda
Penulis : Eni Setyowati, Dkk
Penerbit : Lentera Kreasindo, Yogjakarta
Cetakan : I, Desember 2015
Tebal : xii + 152 hlm
ISBN : 978-602-1090-84-8
)* Tulisan ini dibukukan dalam antologi Goresan Cinta Buat Bunda. Jika menginginkan buku ini silakan hubungi saya. Nomer ada di bawah. Terimakasih...
Aku pun mencari buku tentang ibu. Penguat dekripsi tentangmu, namun tak jua kutemukan. Aku berkilah, sekuat tenaga kucari referensi tentangmu. Berselancarlah di dunia maya. Berharap dermawan dari lapak-lapak online. Kutemukan juga buku berjudul Emak karya Daoed Joesoef. Namun nasib lagi tak mujur. Aku kalah cepat dengan yang lain. Sampai di titik nadir. Aku pusing sendiri, jika harus mendeskripsikan dan mengejawantahkan ibu dengan kata-kata.
Menulis figur seorang ibu seakan tidak ada kata terindah yang bisa menjelaskan tentang ibu. Begitu sulit menggambarkan semua kebaikan dan ketegaranmu semenjak aku dalam rahim dalam diksi-diksi yang puitis. Kurasa penyair pun tak kan mampu bermain kata tentangmu. Ade Ubaidil pernah menggambarkan tentang sosok ibu. Jika pelangi adalah penggambaran tentang warna-warni yang menakjubkan, engkau lebih dari itu bahkan tidak sebanding dengannya. Lalu, dikala gersang mengisi siang, satu-satunya yang dinanti adalah hujan. Maka engkau jauh dan sangat jauh dari jauh, hadirmu sungguh menyejukkan. Dan, apabila masih ada yang berkata warna jingga ketika sore tiba itu adalah hal yang paling dinanti sekaligus dengan hadirnya sunset, maka engkau sungguh wanita yang selalu ditunggu kehadirannya dalam setiap waktu.
Ade Ubaidil memandang seorang ibu selalu meneduhkan dan penuh warna. Selalu menyejukkan. Hadirnya selalu dinantikan siapapun juga. Namun bagi saya, seorang ibu tidak cukup direpresentasikan seperti itu. Ibu adalah perempuan yang istimewa. Sulit untuk ditulis dan dilukis. Satu suku kata. Tiga huruf. Sukar diterjemahkan. Namun penuh makna dan hikmah. IBU.
Engkau adalah penjelmaan dari bidadari surga yang tak bersayap yang telah Tuhan kirimkan bagi anak, sepertiku. Seorang anak yang hanya menangis merengek dengan roman-roman picisan. Kala permintaan tak juga engkau kabulkan, aku hanya bisa meronta-ronta. Tidak pula berhenti sampai di situ. Keinginanku tidak juga engkau turuti, aku pun tidak lantas diam. Genting dan perabotan rumah menjadi sasaran amuk (masa)ku.
Aku malu denganmu, ibu. Aku mengenalmu sudah lebih dua-puluh lima tahun lamanya. Engkau masih setia menemaniku dan mengenalkan aku pada dunia. Engkau yang mengajariku mengijrah setiap jejak hidup. Yang dengan tekun dan sabar mengajariku membaca kalimat-kalimat sederhana: ini budi; budi minum susu; ini susu ibu, (puisi cinta Joko Pinurba).
Aku sangat malu denganmu ibu. Di usia seper-empat abad, aku belum juga menyelesaikan pendidikan. Kalah dengan adik-adik tingkatku. Mereka telah mengenakan toga bertanda lulus dari jerat bangku kuliah. Kutahu, engkau tak akan permasalahkan tentang itu. Tujuanmu lebih mulia. Menampik dan mengentaskan gelapnya dunia melalui pendidikan. Setiap segmen-segmen lakon hidup; mana yang terbaik untukku dan mana yang tak indah masa depan.
Maafkan aku ibu! Aku melupakan kebaikanmu. Bukan kebaikan waktu engkau membelikan mainan. Bukan pula kedermawananmu. Engkau mengajari anakmu tentang cinta. Bagimu, cinta itu bukan kata benda. Bukan pula kata kerja. Yang mau disuruh mengambilkan sesuap nasi untuk bertahan hidup waktu kecilku. Cinta ibu tidak lain kata hati. Hatinya selalu ada untuk anak-anaknya.
Puisi yang ditulis oleh Joko Pinurbo yang berjudul “Dunia Ibu” yang dikutip oleh Bandung Mawardi dalam buku yang berjudul Sastra Bergelimang Makna; Kumpulan Esai Bandung Mawardi (2015: 158) Joko Pinurbo dalam puisi itu mengisahkan “ibu yang merajut luka” dan “ibu yang menyulam cinta”. Biografi ibu semakin menyentuh dalam dalam puisi “Ibu yang Tabah.” Joko Pinurba menulis dalam haru dan hormat pada sosok ibu: Setiap subuh ibu memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas dan menghidangkannya/ kepada anak-anakanya sebelum berangkat/ sekolah. Malam hari diam-diam ia memeras airmata,/ menyimpannya dalam botol dan meminumnya kepada anak-anaknya bila mereka sakit.
Puisi di atas mengingatkanku pada aktivitas ibu ketika musim ikan datang. Ketika musim ikan lagi mental (baca: muncul/ada), setiap pagi, ibu harus bangun pagi. Terkadang harus bangun pagi jam satu dini hari, hanya untuk mencari nafkah dengan ikut mbakul ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Prigi, Watulimo Trenggalek. Terkadang pulang dari TPI itu jam 9 siang. Bayangkan berapa jam ibuku terlindung dari tidurnya atau mungkin tertidur dengan bau amis dan tamparan angin laut di wajah senjanya. Jelas pekerjaan yang sungguh mulia, yang dikerjakan seorang ibu. Ketabahannya dan syukurnya atas nikmatnya, tidak sampai di situ. Meski, ibu kurang tidur, Alhamdulillah tetap diberi kesehatan. Dan, tanggung jawabnya tetap dikerjakan dengan baik. Memasak. Umbah-umbah (nyuci) baju yang menggunung, dan sekelumit dinamika keluarga. Ibuku memang Manusia Istimewa Hebat. My Mom is Wonderwomen. Sekali lagi. Aku tak mampu bercerita banyak tentang ibu. Apabila aku tulis dalam media seperti ini, tak ada habisnya. Seperti kasih ibu sepanjang masa. Tidak ada habisnya cerita ibu.
(i)Bu Manusia Istimewa
Ibu itu istimewa. Keberadaanya adalah kunci. Kunci dari kesuksesan dari anak dan istrinya. Selain itu, ibu adalah sosok terpenting bagi kelahiran manusia baru. Karena itulah selayaknya, ibu mendapat tempat yang istimewa bagiku, bagi kamu, kalian, dan kita semua. Sosok ibu di sini harus kita lihat benar-benar sebagai pusat peradaban umat manusia, yang dengan segala “doa”-nya, anak-anaknya telah menjalani kehidupan masing-masing dengan peran yang berbeda-beda.
Nurani Soyomukti membenarkan dalam bukunya yang berjudul Perempuan Lebih Hebat Daripada Laki-Laki (2013: 16), sosok ibu yang terhormat adalah ibu yang mampu mendorong agar anak-anaknya dapat berperan dalam membangun sejarah peradaban. Peradaban yang maju itu haruslah ditandai dengan capaian hubungan sosial yang menghidupi bagi semua umat manusia—bukan hanya segelincir saja—dan menunjukkan tingkat kematangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memudahkan hidup dan melestarikan hidup itu sendiri.
Oleh karena itu, tiap-tiap bayi atau bocah (aku) adalah kekuatan. Aku dan ibu adalah raga yang menyatu. Ibu, sebagaimana ibu-ibu yang lain, adalah perempuan hebat yang mampu melahirkan bayi-bayi hebat. Dari ibu, seorang bocah mampu menggenggam dunia. Ibu selalu mengiringi segala doanya kepada anaknya. Karena kodrat inilah maka perempuan atau ibu itu istimewa. Ibu lebih tangguh dibanding laki-laki, yang diwakili kaum adam. Ia juga lebih mandiri, lebih cekatan dan lebih cerdas. Tak bisa aku bayangkan, bagaimana rasanya ngandut atau hamil membawa (aku) kesana-kemari selama sembilan bulan. Jelas kebesaran Allah Swt., terhadap ibuku dan para ibuku, ibu Anda, ibu kita.
Meski ibuku bukanlah orang yang berkarir. Yang bekerja di instansi publik. Ibuku pekerja rumah tangga, yang melayani anak-anak dan suaminya. Tak apa. Itu soal pilihan hidup. Ia memiliki kesadaran intensif interaksi antara aku (anak), ibu, dan bapak (suami). Potret tanggung jawab yang luar biasa. Ibu adalah potret pemikul tanggung jawab urusan kehidupan. Dari memasak sampai tetek-bengek yang lain, ia lakoni dengan penuh kesabaran dan ketabahan.
Seperti yang sudah aku potret di atas. Aku tak akan mampu menuliskan ‘biografi’ ibu. Secara garis besar, tak ada fragmen yang menggambarkan karakter ibuku. Memang! Seperti yang sudah aku katakan berulang-ulang. Tak ada kata yang tepat untuk mewakilinya. Yang ingin aku sampaikan di sini. Semoga di usia senjanya, beliau selalu diberikan kesehatan. Dilindungi dari mala-bahaya dan selalu cinta terhadap keluarga. Dan, diberi umur yang panjang. Amin.
Ibuku terlalu istimewa. Manusia dengan peradaban maju. Meski ibuku orang ndesit (desa), namun ibu adalah sekolahku. Tempat pertama kali memberi pelajaran hidup dan pertama kali yang aku panggil sejak kecil. Ibuku manusia istimewa. []
Judul Buku : Goresan Cinta Untuk Bunda
Penulis : Eni Setyowati, Dkk
Penerbit : Lentera Kreasindo, Yogjakarta
Cetakan : I, Desember 2015
Tebal : xii + 152 hlm
ISBN : 978-602-1090-84-8
)* Tulisan ini dibukukan dalam antologi Goresan Cinta Buat Bunda. Jika menginginkan buku ini silakan hubungi saya. Nomer ada di bawah. Terimakasih...
إرسال تعليق