Mula saya menulis di blog berasal dari rasa penasaran dan tidak tahu apa-apa. Yang saya tahu hanya keinginan menulis tentang hal remeh dan memanfaatkan layanan gratis berbasis blogspot ini. Yang lain, seperti pengembangan blog tak saya pikirkan. Itu bukan jadi komitmen awal saya menulis di blog. Yang jadi alasan saya nge-blog adalah karena saya ingin menulis saja. Bukan untuk mendalami babagan dunia blogger.
Bermodal dengan semangat menulis, saya menulis hampir setiap hari, setiap saat, di suatu tempat. Perasaan menggebu untuk mengisi blog setiap hari tak terbentung. Meski awalnya tulisan saya hanya beberapa karakter dan paling banyak 3 sampai empat paragraf itu merupakan batu loncatan untuk menumbuhkan semangat menulis setiap hari.
Karena semangat menulis itu ada. Saya kemudian tidak memungkiri untuk mempercantik dengan pilihan template dan lain-lainnya. Di sinilah identitas sebagai orang Jawa dipertaruhkan. Saya kemudian mengotak-atik mathuk.
Dengan bantuan mesin pencarian, saya mengotak-atik blog milik saya pribadi itu. Bermodal pengetahuan yang sangat minim, saya mengikuti apapun dari petunjuk yang ada di browser Google. Saya dengan percaya diri mengklik sana-sini untuk mendapatkan blog yang saya inginkan.
Hemat saya, memiliki akun blog pribadi meski secara gratis--blogspot--adalah suatu kebanggaan sendiri waktu itu. Tidak lain karena mempunyai akun blog yang dikelola oleh Google adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi saat saya pertama kali mempublikasikan tulisan perdana dan tulisan itu tertera di Google senangnya tidak terkira.
Di sisi lain, tak banyak yang bisa dan mampu mengoperasikan, menulis dan bahkan mengelola akun gratis-an seperti blogspot. Dari situ, ini merupakan fasilitar yang "wah" buat saya untuk merawat menulis, meski tanpa disadari perkara menulis itu berat sekali. Karena menulis di blog milik pribadi adalah perbuatan menyenangkan pada diri sendiri dan orang lain.
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bab.3)
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bab. 2)
Walaupun begitu tentu ada masalah ketika akan memulai masuk di blog, menulis sampai pada hal terpenting saat publikasi. Yakni, ketiadaan penunjang seperti wifi atau hotspot jadi kendala. Saya hampir bisa dipastikan berada di area free wifi atau bebas dari jaringan internet.
Perkara ngeblog tidak menjadikan kita nampak go-blok, tetapi kita malah go-book. Logikanya saat kita akan memulai menulis, secara tidak langsung kita harus membaca, mereview apa yang ada di sekitar, dan apa yang ada di buku setelah kita baca. Namun yang tidak kalah penting adalah membaca tulisan saya sendiri. Pada titik ini ada dua hal yang dapat saya lakukan. Selain membaca dan mereview tulisan, juga belajar mengedit tulisan sendiri di website blog pribadi.
Tasikmadu, Trenggalek, 31 Januari 2014
2/
Candu Nge-blog
Saat itu, saya memiliki aktifitas baru selain aktivitas pada umumnya. Di awal-awal menulis dan apalagi bisa menyelesaikan sebuah tulisan, hati saya berbunga-bunga. Ditambah lagi saya dapat mengekplor apa saja yang ada di pikiran, menggambarkan suasana yang telah terjadi. Atau saya dapat mereportasekan tentang sesuatu yang baru saya alami adalah sebuah kegembiraan tersendiri. Dari situ saya seolah terbuai dengan layanan dan fasilitas yang dikelola oleh mesin tercanggih ini. Saya jadi kecanduan untuk menulis setiap hari di blog.
Awalnya, memang kesulitan mendapatkan wifi untuk menayangkan hasil tulisan yang saya buat. Karena ada teman baik yang berbagi informasi tentang blog yang bisa diakses via smartphone saya jadi tambah semangat lagi. Teman saya ini adalah teman waktu saya masih di sekolah Sekolah Menengah Kejuruan. Barangkali ia telah terlebih dulu menggunakan aplikasi blogger seluler ini. Saya pun seperti mendapat ilham dan segera meluncur di aplikasi yang menampung segala aplikasi itu.
Seperti sudah mengetahui apa yang disampaikan kawan saya tadi, saya mengunjungi playstore pada smartphone. Kemudian saya ketik blog seluler pada pencarian. Ya, betul. Apa yang diberitahukan kawan saya tadi sesuai dengan keinginan saya. Yakni blog seluler. Apabila kemarin-kemarin saya terkendala oleh hotspot, saat itu kendala itu mulai bisa saya atasi sedikit.
Dengan aplikasi blog seluler saya bisa menulis dengan segala kondisi dan situasi. Asal ada jaringan internet saya bisa menulis dan langsung posting. Bagi saya, blog seluler ini sangat efisien, dan simple. Cukup menghadap di layar di gadget kita kita bisa melakukan menulis dan mengunggah gambar dan foto.
Namun permasalahannya sekarang. Kuat berapa hari saya bisa bertahan dengan keadaan seperti itu? Ya, saya secara bertubi-tubi menulis di harian akun jejaring ini. Namun kejenuhan yang mendera saya dari aktivitas yang lain menyerang saya untuk mempertanyakan komitmen dan semangat saya dalam menulis di blog ini.
Dan bener! candu ngeblog saya pun terkoyak dan kalah dalam kejemuan, meski saya hari itu sudah menulis beberapa paragraf, saya tetap merasakan ada yang kurang baik. Apalagi blog seluler itu saat saya lihat di tampilan web atau di layar monitor tampilannya kurang bagus. Di situ mulai menggerogoti semangat menulis di blog. Ini merupakan salah satu kendala orang yang memiliki hobi menulis, sekali pun melakukannya di media sosial seperti blog milik pribadi.
Tasikmadu, Trenggalek, 1 Februari 2014.
Bermodal dengan semangat menulis, saya menulis hampir setiap hari, setiap saat, di suatu tempat. Perasaan menggebu untuk mengisi blog setiap hari tak terbentung. Meski awalnya tulisan saya hanya beberapa karakter dan paling banyak 3 sampai empat paragraf itu merupakan batu loncatan untuk menumbuhkan semangat menulis setiap hari.
Karena semangat menulis itu ada. Saya kemudian tidak memungkiri untuk mempercantik dengan pilihan template dan lain-lainnya. Di sinilah identitas sebagai orang Jawa dipertaruhkan. Saya kemudian mengotak-atik mathuk.
Dengan bantuan mesin pencarian, saya mengotak-atik blog milik saya pribadi itu. Bermodal pengetahuan yang sangat minim, saya mengikuti apapun dari petunjuk yang ada di browser Google. Saya dengan percaya diri mengklik sana-sini untuk mendapatkan blog yang saya inginkan.
Hemat saya, memiliki akun blog pribadi meski secara gratis--blogspot--adalah suatu kebanggaan sendiri waktu itu. Tidak lain karena mempunyai akun blog yang dikelola oleh Google adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi saat saya pertama kali mempublikasikan tulisan perdana dan tulisan itu tertera di Google senangnya tidak terkira.
Di sisi lain, tak banyak yang bisa dan mampu mengoperasikan, menulis dan bahkan mengelola akun gratis-an seperti blogspot. Dari situ, ini merupakan fasilitar yang "wah" buat saya untuk merawat menulis, meski tanpa disadari perkara menulis itu berat sekali. Karena menulis di blog milik pribadi adalah perbuatan menyenangkan pada diri sendiri dan orang lain.
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bab.3)
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bab. 2)
Walaupun begitu tentu ada masalah ketika akan memulai masuk di blog, menulis sampai pada hal terpenting saat publikasi. Yakni, ketiadaan penunjang seperti wifi atau hotspot jadi kendala. Saya hampir bisa dipastikan berada di area free wifi atau bebas dari jaringan internet.
Perkara ngeblog tidak menjadikan kita nampak go-blok, tetapi kita malah go-book. Logikanya saat kita akan memulai menulis, secara tidak langsung kita harus membaca, mereview apa yang ada di sekitar, dan apa yang ada di buku setelah kita baca. Namun yang tidak kalah penting adalah membaca tulisan saya sendiri. Pada titik ini ada dua hal yang dapat saya lakukan. Selain membaca dan mereview tulisan, juga belajar mengedit tulisan sendiri di website blog pribadi.
Tasikmadu, Trenggalek, 31 Januari 2014
2/
Candu Nge-blog
Saat itu, saya memiliki aktifitas baru selain aktivitas pada umumnya. Di awal-awal menulis dan apalagi bisa menyelesaikan sebuah tulisan, hati saya berbunga-bunga. Ditambah lagi saya dapat mengekplor apa saja yang ada di pikiran, menggambarkan suasana yang telah terjadi. Atau saya dapat mereportasekan tentang sesuatu yang baru saya alami adalah sebuah kegembiraan tersendiri. Dari situ saya seolah terbuai dengan layanan dan fasilitas yang dikelola oleh mesin tercanggih ini. Saya jadi kecanduan untuk menulis setiap hari di blog.
Awalnya, memang kesulitan mendapatkan wifi untuk menayangkan hasil tulisan yang saya buat. Karena ada teman baik yang berbagi informasi tentang blog yang bisa diakses via smartphone saya jadi tambah semangat lagi. Teman saya ini adalah teman waktu saya masih di sekolah Sekolah Menengah Kejuruan. Barangkali ia telah terlebih dulu menggunakan aplikasi blogger seluler ini. Saya pun seperti mendapat ilham dan segera meluncur di aplikasi yang menampung segala aplikasi itu.
Seperti sudah mengetahui apa yang disampaikan kawan saya tadi, saya mengunjungi playstore pada smartphone. Kemudian saya ketik blog seluler pada pencarian. Ya, betul. Apa yang diberitahukan kawan saya tadi sesuai dengan keinginan saya. Yakni blog seluler. Apabila kemarin-kemarin saya terkendala oleh hotspot, saat itu kendala itu mulai bisa saya atasi sedikit.
Dengan aplikasi blog seluler saya bisa menulis dengan segala kondisi dan situasi. Asal ada jaringan internet saya bisa menulis dan langsung posting. Bagi saya, blog seluler ini sangat efisien, dan simple. Cukup menghadap di layar di gadget kita kita bisa melakukan menulis dan mengunggah gambar dan foto.
Namun permasalahannya sekarang. Kuat berapa hari saya bisa bertahan dengan keadaan seperti itu? Ya, saya secara bertubi-tubi menulis di harian akun jejaring ini. Namun kejenuhan yang mendera saya dari aktivitas yang lain menyerang saya untuk mempertanyakan komitmen dan semangat saya dalam menulis di blog ini.
Dan bener! candu ngeblog saya pun terkoyak dan kalah dalam kejemuan, meski saya hari itu sudah menulis beberapa paragraf, saya tetap merasakan ada yang kurang baik. Apalagi blog seluler itu saat saya lihat di tampilan web atau di layar monitor tampilannya kurang bagus. Di situ mulai menggerogoti semangat menulis di blog. Ini merupakan salah satu kendala orang yang memiliki hobi menulis, sekali pun melakukannya di media sosial seperti blog milik pribadi.
Tasikmadu, Trenggalek, 1 Februari 2014.
إرسال تعليق