Semenjak memiliki blog seluler, saya selalu ingat dengan "mainan" yang satu ini. Di manapun berada, saya selalu menyempatkan diri untuk nengok sejenak lalu menulis sedikit tentang sesuai yang terlintas itu di smartphone. Entah karena saya kemaruk, lagi senang-senangnya dengan mainan baru ini atau saya ini tidak ada aktivitas lain selain dolanan telepon.
Jika ditanya tak memiliki aktivitas rutin itu memang benar. Sebab, awal mula saya menulis di blog, kalau tidak salah ingat di akhir tahun 2013 di awal 2014. Di tahun-tahun itu saya menggebu-gebu ingin menyelesaikan tugas "kenegaraan" dari Kota Tahu, Kediri. Selain melakukan rutinitas yang monoton. Kuliah pulang. Kuliah pulang. Kos. Saya juga lagi senang-senangnya belajar menulis. Di tahun itu pula saya menulis apa saja yang saya tahu. Saya ketik dari apa yang saya mengerti. Tidak ada fokus konten dalam pengembangan blog ini.
Pokoknya kalau sudah mulai menulis, saya tidak pantang pindah tempat sebelum tulisan itu jadi. Meski pada faktanya tulisan itu jadi sekena dan sekadarnya saja. Namun itu anggap saja embrio dari sebuah tulisan di suatu hari nanti, halah, ngomong ae isane ngunu. Ya, sebagian besar tulisan yang saya tulis adalah tentang hal remeh temeh nan receh. Panjangnya pun juga tak bisa dianggap panjang. Kalau tidak salah waktu itu hanya 3 sampai 4 paragraf.
Tulisan tiga atau empat paragraf itu kalau saya copy kemudian saya paste di Microsof Word kosong, jumlah karakternya tidak lebih dari 300 sampai 400 kata. Lagi-lagi, anggap saja ini merupakan modal awal saya untuk terus menjaga konsistensi. Meski pada akhirnya konsistensi ini kalah dengan kejenuhan dan menurunnya tingkat kepercayaan diri ini.
Meski begitu, itu merupakan salah satu kenikmatan menulis di blog seluler yang pernah saya lakukan selama beberapa bulan. Kenikmatan menulis di blog seluler waktu itu tak mengganggu dolan, bermain hingga ngopi di kantin maupun warung dekat kampus dan kosan. Seperti yang sudah saya bilang, menulis di blog seluler itu di manapun tak jadi alasan. Asal punya sinyal dan kouta internet menjangkau, tulisan pun langsung bisa di-posting.
Ngeblog Karena Melihat Orang
Semenjak menyukai buku dan tabloid, saya memiliki keinginan untuk menulis tentang lain. Namun, keinginan itu menemui kendala. Yakni kendala yang biasa orang ingin memulai untuk menulis. Misalnya, sebuah pertanyaan yang kerap muncul ketika akan memulai menulis. yakni ketidakpedean untuk mengawali dan ketidaktahuan dari mana saya akan menulis?
Meski saya biasa melakukan corat-coret ide yang terlintas seketika. Juga sebagai sarana untuk tetap terjaga dalam ide-ide ada. Saya juga sering meluapkan ide-ide itu di sela-sela buku yang belum terpakai. Karena saya menilai bahwa buku yang belum terpakai secara keseluruhan tersebut, bisa menghemat kertas dan buku tulis tentunya. Serta itung-itung menuruti hasrat corat-coret yang biasa tak terkendala pada media di depan saya.
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 3)
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 1)
Namun buku-buku yang saya buat untuk "mengikat" ide itu acapkali terkubur ditumpukkan tulisan-tulisan mata kuliah yang baru selesai diajarkan oleh dosen saya. Tulisan-tulisan itu juga kalah dan hilang terselip di balik tulisan-tulisan pada halaman yang lebih menarik dan lebih fresh.
Dari situ kendala menulis mulai tumbuh lagi. Kenikmatan menulis pun tidak saya rasakan seperti biasa. Tiga dua, tiga hingga empat hari blog itu tak saya sentuh, saya isi dan tak saya operasikan. Meski kouta internet unlimited, tetapi semangat menulis tak se-unlimited juga.
Namun, saya memiliki cara sendiri saat mengalami krisis ide maupun semangat menulis turun. Salah satunya adalah dengan melihat, membaca posting-an para blogger. Apa saja yang diberitakan, yang dituliskan oleh para blogger di blognya itu. Saya memilih Walking Blog di blog dengan background penulis. Sebab sudah saya singgung sebelumnya, komitmen awal saya menulis ini bukan untuk mempelajari babagan dunia blog, tetapi karena saya memiliki keinginan untuk menulis.
Saya pun menfokuskan pandangan pada Dr. Ngainun Naim. Ia secara tidak langsung bukan blogger. Tetapi semangat menulis dan mengupdate blognya perlu diapresiasi. Saya akhirnya membaca, kadang meng-copy paste dan saya pindah di word. Yang kemudian saya save untuk baca yang tak memakai kouta. Dari posting-an yang dibuat oleh dosen STAIN--kini IAIN--Tulungagung itu membuat hati kecil saya sedikit terusik.
Saya masih ingat, dahulu pertama kali membuat--khususnya yang saya baca--, ia memakai nama lengkapnya. Tetapi blog itu sudah tak terurus. Ia seperti membuat blog lagi dengan lebih fresh dan lebih fokus pada konten yang digemari.
Tampilan Blog Tak Menarik
Setelah melihat dan membaca posting-an blog Dr. Ngainun Naim, saya jadi tertarik dengan blog-blog milik para blog di luar sana. Saya kemudian menuju salah satu aplikasi Google+ (plus) untuk melihat-lihat tampilan blogger lain.
Melihat tampilan-tampilan blog dari para mastah-mastah saya merasa untuk mengganti template dari blog saya ini. Saya pun bermodal mesin pencari dan pengetahuan yang sangat dangkal mencoba untuk mengoperasikan dan memiliki template bawaan dari google. Saya hanya memiliki template gratis dari akun blogspot itu.
Saya pun akhirnya mau tidak mau harus mengubah tampilan blog itu. Mengintip blog-blog milik orang lain, dengan motif dan modif yang begitu menarik tetapi apalah daya. Pengetahuan untuk mendapatkan template yang bagus tetapi gratis pun tak mampu. Waktu itu saya tak memiliki kenalan untuk mengajari atau tanpa pamrih menawari template secara gratis. Hanya beberapa teman saya yang mengintai tulisan saya.
Saking ngebetnya ingin mengubah tampilan, saya menghubungi beberapa teman untuk membantu cara membuat dan mengoperasikan fasilitas tersebut semenarik mungkin. Karena saya termasuk orang yang gaptek atau gagal teknologi. Tidak begitu menguasai dan paham tentang dunia teknologi seperti blog ini.
Keinginan untuk mengubah template pun tak membuahkan hasil. Dan harus tetap setia dengan tampilan itu-itu saja. Saat itulah nge-blog mulai renggang. Satu, dua hingga tiga hari blog yang saya kelola itu tak berhuni dan sepi. Krik, krik, krik. Ada penghuninya nggak? Barangkali itu merupakan sapaan tamu yang nge-klik atau nge-read blog saya ini?
Jika ditanya tak memiliki aktivitas rutin itu memang benar. Sebab, awal mula saya menulis di blog, kalau tidak salah ingat di akhir tahun 2013 di awal 2014. Di tahun-tahun itu saya menggebu-gebu ingin menyelesaikan tugas "kenegaraan" dari Kota Tahu, Kediri. Selain melakukan rutinitas yang monoton. Kuliah pulang. Kuliah pulang. Kos. Saya juga lagi senang-senangnya belajar menulis. Di tahun itu pula saya menulis apa saja yang saya tahu. Saya ketik dari apa yang saya mengerti. Tidak ada fokus konten dalam pengembangan blog ini.
Pokoknya kalau sudah mulai menulis, saya tidak pantang pindah tempat sebelum tulisan itu jadi. Meski pada faktanya tulisan itu jadi sekena dan sekadarnya saja. Namun itu anggap saja embrio dari sebuah tulisan di suatu hari nanti, halah, ngomong ae isane ngunu. Ya, sebagian besar tulisan yang saya tulis adalah tentang hal remeh temeh nan receh. Panjangnya pun juga tak bisa dianggap panjang. Kalau tidak salah waktu itu hanya 3 sampai 4 paragraf.
Tulisan tiga atau empat paragraf itu kalau saya copy kemudian saya paste di Microsof Word kosong, jumlah karakternya tidak lebih dari 300 sampai 400 kata. Lagi-lagi, anggap saja ini merupakan modal awal saya untuk terus menjaga konsistensi. Meski pada akhirnya konsistensi ini kalah dengan kejenuhan dan menurunnya tingkat kepercayaan diri ini.
Meski begitu, itu merupakan salah satu kenikmatan menulis di blog seluler yang pernah saya lakukan selama beberapa bulan. Kenikmatan menulis di blog seluler waktu itu tak mengganggu dolan, bermain hingga ngopi di kantin maupun warung dekat kampus dan kosan. Seperti yang sudah saya bilang, menulis di blog seluler itu di manapun tak jadi alasan. Asal punya sinyal dan kouta internet menjangkau, tulisan pun langsung bisa di-posting.
Ngeblog Karena Melihat Orang
Semenjak menyukai buku dan tabloid, saya memiliki keinginan untuk menulis tentang lain. Namun, keinginan itu menemui kendala. Yakni kendala yang biasa orang ingin memulai untuk menulis. Misalnya, sebuah pertanyaan yang kerap muncul ketika akan memulai menulis. yakni ketidakpedean untuk mengawali dan ketidaktahuan dari mana saya akan menulis?
Meski saya biasa melakukan corat-coret ide yang terlintas seketika. Juga sebagai sarana untuk tetap terjaga dalam ide-ide ada. Saya juga sering meluapkan ide-ide itu di sela-sela buku yang belum terpakai. Karena saya menilai bahwa buku yang belum terpakai secara keseluruhan tersebut, bisa menghemat kertas dan buku tulis tentunya. Serta itung-itung menuruti hasrat corat-coret yang biasa tak terkendala pada media di depan saya.
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 3)
Baca Juga: Menulis Blog dan Suasana yang Menjemukan (Bag. 1)
Namun buku-buku yang saya buat untuk "mengikat" ide itu acapkali terkubur ditumpukkan tulisan-tulisan mata kuliah yang baru selesai diajarkan oleh dosen saya. Tulisan-tulisan itu juga kalah dan hilang terselip di balik tulisan-tulisan pada halaman yang lebih menarik dan lebih fresh.
Dari situ kendala menulis mulai tumbuh lagi. Kenikmatan menulis pun tidak saya rasakan seperti biasa. Tiga dua, tiga hingga empat hari blog itu tak saya sentuh, saya isi dan tak saya operasikan. Meski kouta internet unlimited, tetapi semangat menulis tak se-unlimited juga.
Namun, saya memiliki cara sendiri saat mengalami krisis ide maupun semangat menulis turun. Salah satunya adalah dengan melihat, membaca posting-an para blogger. Apa saja yang diberitakan, yang dituliskan oleh para blogger di blognya itu. Saya memilih Walking Blog di blog dengan background penulis. Sebab sudah saya singgung sebelumnya, komitmen awal saya menulis ini bukan untuk mempelajari babagan dunia blog, tetapi karena saya memiliki keinginan untuk menulis.
Saya pun menfokuskan pandangan pada Dr. Ngainun Naim. Ia secara tidak langsung bukan blogger. Tetapi semangat menulis dan mengupdate blognya perlu diapresiasi. Saya akhirnya membaca, kadang meng-copy paste dan saya pindah di word. Yang kemudian saya save untuk baca yang tak memakai kouta. Dari posting-an yang dibuat oleh dosen STAIN--kini IAIN--Tulungagung itu membuat hati kecil saya sedikit terusik.
Saya masih ingat, dahulu pertama kali membuat--khususnya yang saya baca--, ia memakai nama lengkapnya. Tetapi blog itu sudah tak terurus. Ia seperti membuat blog lagi dengan lebih fresh dan lebih fokus pada konten yang digemari.
Tampilan Blog Tak Menarik
Setelah melihat dan membaca posting-an blog Dr. Ngainun Naim, saya jadi tertarik dengan blog-blog milik para blog di luar sana. Saya kemudian menuju salah satu aplikasi Google+ (plus) untuk melihat-lihat tampilan blogger lain.
Melihat tampilan-tampilan blog dari para mastah-mastah saya merasa untuk mengganti template dari blog saya ini. Saya pun bermodal mesin pencari dan pengetahuan yang sangat dangkal mencoba untuk mengoperasikan dan memiliki template bawaan dari google. Saya hanya memiliki template gratis dari akun blogspot itu.
Saya pun akhirnya mau tidak mau harus mengubah tampilan blog itu. Mengintip blog-blog milik orang lain, dengan motif dan modif yang begitu menarik tetapi apalah daya. Pengetahuan untuk mendapatkan template yang bagus tetapi gratis pun tak mampu. Waktu itu saya tak memiliki kenalan untuk mengajari atau tanpa pamrih menawari template secara gratis. Hanya beberapa teman saya yang mengintai tulisan saya.
Saking ngebetnya ingin mengubah tampilan, saya menghubungi beberapa teman untuk membantu cara membuat dan mengoperasikan fasilitas tersebut semenarik mungkin. Karena saya termasuk orang yang gaptek atau gagal teknologi. Tidak begitu menguasai dan paham tentang dunia teknologi seperti blog ini.
Keinginan untuk mengubah template pun tak membuahkan hasil. Dan harus tetap setia dengan tampilan itu-itu saja. Saat itulah nge-blog mulai renggang. Satu, dua hingga tiga hari blog yang saya kelola itu tak berhuni dan sepi. Krik, krik, krik. Ada penghuninya nggak? Barangkali itu merupakan sapaan tamu yang nge-klik atau nge-read blog saya ini?
Klo blog diisi terus lama2 bantak yg nengok lhoo
ردحذفIya Bun. Ini mwnuju ke sana. Tapi ini lagi di luar kota. Belum bisa menulis lagi. Baru Sabtu malam bisa menulis lagi. Terima kasih Bun motivasinya. Hehehe
ردحذفإرسال تعليق