Sepak bola menghadirkan daya magis tersendiri yang auranya bisa menghipnotis dan membius para penikmatnya. Alangkah bahagianya bisa beraksi di hadapan puluhan ribu penonton yang memadati stadion dan jutaan pasang mata melalui layar kaca.
Terlebih Kemenangan Arema atas Persib masih menyisakan kisah yang sayang jika dilupakan bagi penggemar olahraga bal-balan. Kisah seorang petarung bernama Cristian Gonzales. Kemenangan kera-kera Ngalam di ajang tournament Piala Bhayangkara 2016 kemarin, tak terlepas dari kontribusi Cristian Gonzales. Striker yang memiliki nama lengkap Christian Gerard Alvaro Gonzales, memberi assist kepada Rafahel Maitimo, yang dikonvensikan menjadi gol perdana.
Begitupun prosesi lahirya gol kedua yang disarangkan oleh Sunarto lewat umpan manja Gonzalez. Umpan satu dua bersama pemain Arema lain menandakan bahwa Gonzales masih berbahaya beredar di lapangan. Striker kawakan ini masih liar dan terus berlari dan berlari tanpa mengenal usia.
Sejurus kemudian saat melawan Sriwijaya FC di laga semi final, dia juga berlari mengejar bola yang ditendang mendatar oleh kiper Sriwijaya FC, Dian Agus Prasetyo. Dia tidak memikirkan usianya yang sudah mulai senja; bermalas-malasan menunggu bola di depan gawang. Tetapi dia masih terus berlari mengejar mimpi di sisa waktunya di senjakala menjadi pemain bola.
Ibarat sebuah token pulsa, Gonzales merupakan masa tenggang. Masa injury time. Masa “turun minum” dan melihat generasi emas dari marga Gonzalez di pinggir lapangan. Tetapi itu bukan tipikal Gonzales. Di usia yang tak lagi muda, yang lahir di Montevideo, 30 Agustus 1975 ini, pantang menyeka keringat sebelum Arema menang. Untuk ukuran pesepak bola, di usia di bawah balok empat stamina dan fisiknya tentu fit dan seprima usia muda. Kekuatan kaki dan daya tahannya jelas menurun drastis. Tapi tidak bagi ‘El Loco’. Pria yang mengidolai aktor Tom Cruise ini masih konsisten dengan penampilan menawan dengan akurasi tendangannya. Dalam laga romantisme dan seremonial misalnya, dia terus berlari dan tendangannya masih akurat. Pertandingan yang dihelat memperingati satu dasawarsa Persik Kediri, menjadi juara kompetisi tertinggi Indonesia untuk terakhir kalinya di tahun 2006 ini, Gonzalez tampil impresif, meski gelontoran golnya melalui titik putih.
Pertandingan para legend Persik Kediri—yang dulu pernah membawa Si Macan Putih berjaya merebut Liga Indonesia—melawan Madura United berkesudahan 2-1 untuk kemenangan tim Sapeh Kerah. Gonzalez mengulang romantisme keriuhan suporter di dalam lapangan Stadion Brawijaya sore itu. Barangkali karena alasan romantisme itulah, dia mengurungkan menggantung sepatu sebagai pesepak bola.
Sebelum berkarier di klub-klub Indonesia, dia memulai kariernya klub tanah kelahirannya, yakni Uruguay. Klub yang sudah merasakan servisnya mulai dari klub Penarol Uruguay (1988-1991), South Amerika (1997) dan Deportivo Maldonado (2000-2002) pernah dijajaki.
Artinya Cristian ‘El Loco’ Gonzales sendiri hampir memasuki tiga dekade berkarier sebagai pesepak bola profesional. Dia telah membuktikan bahwa ia ada karena sepak bola. Karena sepak bola yang membuatnya bertahan dan terus berlari, meloncat dan melompat beraturan.
“Lebih baik saya merasa capek dalam jadwal kompetisi yang padat, daripada harus berhenti main bola seperti sekarang ini.” Tegas striker bernomor punggung 10 tersebut.
men Piala Bhayangkara 2016 kemarin, saya lupa namanya, juga ikut berkomentar, “Gonzales masih kuat berlari, bahkan juga melakukan tipuan kepada lawan.” Begitu kiranya yang bisa saya tanggap
Menjadi seorang pesepak bola, seperti Cristian Gonzales tentu saja tak serta merta dan seinstan merebus mi. Begitu banyak diperjuangkan yang dilalui. Di televisi, mungkin Anda bisa melihat bagaimana Gonzales bermain, berlari, mencetak gol, layaknya remaja belasan tahun. Padahal, usianya nyaris kepala empat, tetapi, sepertinya Anda belum lihat dia berlari dalam latihan. Dalam pertandingan, hampir sepanjang 90 menit pemain berusia 39 tahun terus bermain dan berlari, tak sedikitpun terlihat lelah bermain di lapangan.
Yang tampak dari kejauhan hanya Gonzales sang raja gol. Tetapi, itu semua telah melalui rangkaian latihan yang displin dan kerja keras tinggi. “Betapa sangat keras dia melatih finishing ball dan shooting yang nyaris 90 persen selalu masuk ke gawang. Rutinitas luar biasa dilakukan demi menjaga kebugaran, melalui fitnes dengan menambah porsi di atas rata-rata pemain lain. Resepnya adalah dia menjaga pola makan, meminum suplemen dan vitamin, serta laku lain yang harus dijalani.” Ujar Samsul Arif, mantan pemain Arema Cronus. Tak mustahil ia mampu menjadi topskore Liga Indonesia 3 kali berturut-turut.
Di usia yang hampir menyentuh 40 tahun, dia masih diandalkan sebagai ujung tombak dalam urusan mencetak gol. Terlebih di usia senjanya di klub Arema Cronus. Di usia emasnya, dia menjadi barisan terdepan untuk menjebol gawang lawan. Dia menjadi tumpuan utama timnya, termasuk di timnas Indonesia. Tapi sayang di usia senjanya—mungkin—dia tak bisa membasahi kostum berlambang garuda di dadaku itu. Karena sampai sekarang kita tidak bisa melihat sang garuda berlaga di ajang internasional
Meski tubuhnya tak ideal dan larinya tak sekencang lima atau sepuluh tahun yang lalu. Tetapi semangatnya untuk tim dan timnas sangat membanggakan. Pengorbanannya dalam meniti jalan menjadi Warga Negara Indonesia sangat mengharukan. Cintanya terhadap lambang sang Garuda sangatlah besar. Semoga ‘El Loco’ bisa berlari tak mengenal lelah sampai di senjakala pemain bola, di usia 40 tahun. Dan, tampil menawan di gelaran kompetisi Indonesia Soccer Championship.
Namun di liga 1 Gojek Traveloka bukan milikmu!. Apakah kakimu sudah renta? Lelah untuk berlari? Ataukah musim ini menjadi musim terakhir untukmu? Semua penggemarmu menunggumu berlari dan terus berlari. Jangan pernah merasa tua. Karena itu adalah menyerah.[]
Terlebih Kemenangan Arema atas Persib masih menyisakan kisah yang sayang jika dilupakan bagi penggemar olahraga bal-balan. Kisah seorang petarung bernama Cristian Gonzales. Kemenangan kera-kera Ngalam di ajang tournament Piala Bhayangkara 2016 kemarin, tak terlepas dari kontribusi Cristian Gonzales. Striker yang memiliki nama lengkap Christian Gerard Alvaro Gonzales, memberi assist kepada Rafahel Maitimo, yang dikonvensikan menjadi gol perdana.
Begitupun prosesi lahirya gol kedua yang disarangkan oleh Sunarto lewat umpan manja Gonzalez. Umpan satu dua bersama pemain Arema lain menandakan bahwa Gonzales masih berbahaya beredar di lapangan. Striker kawakan ini masih liar dan terus berlari dan berlari tanpa mengenal usia.
Sejurus kemudian saat melawan Sriwijaya FC di laga semi final, dia juga berlari mengejar bola yang ditendang mendatar oleh kiper Sriwijaya FC, Dian Agus Prasetyo. Dia tidak memikirkan usianya yang sudah mulai senja; bermalas-malasan menunggu bola di depan gawang. Tetapi dia masih terus berlari mengejar mimpi di sisa waktunya di senjakala menjadi pemain bola.
Ibarat sebuah token pulsa, Gonzales merupakan masa tenggang. Masa injury time. Masa “turun minum” dan melihat generasi emas dari marga Gonzalez di pinggir lapangan. Tetapi itu bukan tipikal Gonzales. Di usia yang tak lagi muda, yang lahir di Montevideo, 30 Agustus 1975 ini, pantang menyeka keringat sebelum Arema menang. Untuk ukuran pesepak bola, di usia di bawah balok empat stamina dan fisiknya tentu fit dan seprima usia muda. Kekuatan kaki dan daya tahannya jelas menurun drastis. Tapi tidak bagi ‘El Loco’. Pria yang mengidolai aktor Tom Cruise ini masih konsisten dengan penampilan menawan dengan akurasi tendangannya. Dalam laga romantisme dan seremonial misalnya, dia terus berlari dan tendangannya masih akurat. Pertandingan yang dihelat memperingati satu dasawarsa Persik Kediri, menjadi juara kompetisi tertinggi Indonesia untuk terakhir kalinya di tahun 2006 ini, Gonzalez tampil impresif, meski gelontoran golnya melalui titik putih.
Pertandingan para legend Persik Kediri—yang dulu pernah membawa Si Macan Putih berjaya merebut Liga Indonesia—melawan Madura United berkesudahan 2-1 untuk kemenangan tim Sapeh Kerah. Gonzalez mengulang romantisme keriuhan suporter di dalam lapangan Stadion Brawijaya sore itu. Barangkali karena alasan romantisme itulah, dia mengurungkan menggantung sepatu sebagai pesepak bola.
Sebelum berkarier di klub-klub Indonesia, dia memulai kariernya klub tanah kelahirannya, yakni Uruguay. Klub yang sudah merasakan servisnya mulai dari klub Penarol Uruguay (1988-1991), South Amerika (1997) dan Deportivo Maldonado (2000-2002) pernah dijajaki.
Artinya Cristian ‘El Loco’ Gonzales sendiri hampir memasuki tiga dekade berkarier sebagai pesepak bola profesional. Dia telah membuktikan bahwa ia ada karena sepak bola. Karena sepak bola yang membuatnya bertahan dan terus berlari, meloncat dan melompat beraturan.
“Lebih baik saya merasa capek dalam jadwal kompetisi yang padat, daripada harus berhenti main bola seperti sekarang ini.” Tegas striker bernomor punggung 10 tersebut.
men Piala Bhayangkara 2016 kemarin, saya lupa namanya, juga ikut berkomentar, “Gonzales masih kuat berlari, bahkan juga melakukan tipuan kepada lawan.” Begitu kiranya yang bisa saya tanggap
Menjadi seorang pesepak bola, seperti Cristian Gonzales tentu saja tak serta merta dan seinstan merebus mi. Begitu banyak diperjuangkan yang dilalui. Di televisi, mungkin Anda bisa melihat bagaimana Gonzales bermain, berlari, mencetak gol, layaknya remaja belasan tahun. Padahal, usianya nyaris kepala empat, tetapi, sepertinya Anda belum lihat dia berlari dalam latihan. Dalam pertandingan, hampir sepanjang 90 menit pemain berusia 39 tahun terus bermain dan berlari, tak sedikitpun terlihat lelah bermain di lapangan.
Yang tampak dari kejauhan hanya Gonzales sang raja gol. Tetapi, itu semua telah melalui rangkaian latihan yang displin dan kerja keras tinggi. “Betapa sangat keras dia melatih finishing ball dan shooting yang nyaris 90 persen selalu masuk ke gawang. Rutinitas luar biasa dilakukan demi menjaga kebugaran, melalui fitnes dengan menambah porsi di atas rata-rata pemain lain. Resepnya adalah dia menjaga pola makan, meminum suplemen dan vitamin, serta laku lain yang harus dijalani.” Ujar Samsul Arif, mantan pemain Arema Cronus. Tak mustahil ia mampu menjadi topskore Liga Indonesia 3 kali berturut-turut.
Di usia yang hampir menyentuh 40 tahun, dia masih diandalkan sebagai ujung tombak dalam urusan mencetak gol. Terlebih di usia senjanya di klub Arema Cronus. Di usia emasnya, dia menjadi barisan terdepan untuk menjebol gawang lawan. Dia menjadi tumpuan utama timnya, termasuk di timnas Indonesia. Tapi sayang di usia senjanya—mungkin—dia tak bisa membasahi kostum berlambang garuda di dadaku itu. Karena sampai sekarang kita tidak bisa melihat sang garuda berlaga di ajang internasional
Meski tubuhnya tak ideal dan larinya tak sekencang lima atau sepuluh tahun yang lalu. Tetapi semangatnya untuk tim dan timnas sangat membanggakan. Pengorbanannya dalam meniti jalan menjadi Warga Negara Indonesia sangat mengharukan. Cintanya terhadap lambang sang Garuda sangatlah besar. Semoga ‘El Loco’ bisa berlari tak mengenal lelah sampai di senjakala pemain bola, di usia 40 tahun. Dan, tampil menawan di gelaran kompetisi Indonesia Soccer Championship.
Namun di liga 1 Gojek Traveloka bukan milikmu!. Apakah kakimu sudah renta? Lelah untuk berlari? Ataukah musim ini menjadi musim terakhir untukmu? Semua penggemarmu menunggumu berlari dan terus berlari. Jangan pernah merasa tua. Karena itu adalah menyerah.[]
إرسال تعليق