Sabtu dan Minggu saya berkesempatan berkunjung kota pelajar dan kota sepak bola di Jawa Timur. Ya, betul. Malang. Kota terbesar kedua setelah Surabaya. Ada hal yang menarik yang saya dapat hari itu. Yang menarik bagi saya: pertama, dari kejenuhan akibat rutinitas, saya bisa jalan-jalan di kota bersama teman. Kedua, bisa berjumpa orang-orang yang belum saya kenal. Yang ketiga, menambah wawasan dan pengetahuan.
Di kota Malang itu, saya memang tidak sendiri dan bukan tujuan saya sendiri. Saya ke sana lantaran ajakan dan tujuan menjenguk anak seorang teman yang sedang menimba ilmu di Sekolah Sepak Bola (SSB) Asifa Malang. Dari Sekolah Sepak Bola ini saya banyak belajar tentang cara mendidik anak-anak, juga belajar bagaimana membangun sekolah dengan baik dan benar. Memang semua harus terkonsep dan memiliki tenaga kerja (pelatih) yang profesional. Mendirikan sebuah sekolah--baik sekolah dasar maupun sekolah sepak bola--harus menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap dan didukung dengan para pengajar, dalam hal ini pelatih yang profesional dan memiliki lisensi standar.
Pada kesempatan itu, saya berjumpa langsung dengan mantan pemain, serta saat ini melatih klub Persela Lamongan, yaitu Aji Santoso. Aji Santoso merupakan salah satu legenda sepak bola Indonesia. Tercatat ia telah malang melintang di lapangan hijau baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih. Pria kelahiran 6 April 1970 tahun lalu ini pernah membawa Indonesia meraih emas pada pertandingan SEA Games tahun1991. Sebuah gelar juara yang diidam-idamkan warga negara Indonesia.
Banyak pelajaran yang aku dapat dari kunjungan saya ke kota Malang itu. Selain bertujuan menjenguk anak dari teman, biasa disapa Mamat, juga mempelajari apa yang satu tahu dan apa yang satu kenali. Mamat merupakan salah satu orang yang memiliki keinginan besar dalam mendidik anaknya di dunia sepak bola. Terlihat sejak sekolah dasar, ia sudah menitipkan anak di kabupaten sebelah untuk disekolahkan di SSB TAP (Tulungagung Putra) kemudian pindah ke SSB lain di kota yang sama.
Kemauan dan keinginannya mendidik anaknya jadi pemain profesional dipercayakan di sekolah sepak bola di Kota Malang ini. Ia satu-satunya warga di desa sata yang menyekolahkan anaknya di ASIFA (Aji Santoso International Football Asosiation) ini. Akademi ini terbesar dan pertama yang ada di Jawa Timur, mungkin juga di Indonesia. Asifa adalah tempat berkumpulnya anak-anak terbaik se Indonesia. Karena masuk dalam akademi ini melalui tes dan seleksi. Banyak anak-anak dari timur Indonesia dan daerah lain, termasuk Jakarta.
Salah satu pemain yang dibesarkan oleh berlokasi di lapangan Mojolangu, Kota Malang ini adalah Saddil Ramdani. Pemain yang mengantar Indonesia menempati posisi ke-3 di ajang Piala AFF U-19 ini merupakan produk asli Asifa. Asifa merupakan sekolah sepak bola pertama di Indonesia yang bertaraf Internasional. Di mana Asifa berkomitmen membentuk pemain sepak bola tak semudah membalik telapak tangan. Komitmen Asifa dalam membentuk pemain secara fisik dan mental melalui sistem kepelatihan yang berstandar serta dukungan fasilitas kelas Internasional. Misalnya, fasilitas asrama berkapasitas 300 orang dewasa, rumput lapangan standar FIFA/ AFC, ruang fisioterapi, kafe umum dan VIP, dan lain sebagainya.
Tak sedikit anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia menimba ilmu di sekolah sepak bola di Asifa. Saya menjumpai anak dari Poso, Sulawesi. Sering di sapa Messi karena tubuhnya yang mungil dan kelincahan dalam menggocek bola. Ya, dengan skill di atas rata-rata seorang anak, ia mendapat sebuta messi. Dia berusia 12 tahun, namun sudah berani jauh dari orang tua. Menarik ketika menelisik ke dalam. Ternyata, dia adalah anak seorang dokter di kota asalnya, kesehariannya bermain futsal bersama teman-teman kampungnya. Patut diacungi jempol, orangnya tidak memaksakan kehendak menjadikan anaknya ke profesi yang digeluti orang tuanya.
Bukan cuma itu saja yang saya dapat hari itu. Banyak sekali pengalaman dan pengetahuan tentang seluk-beluk tentang anak-anak yang harus saya rekam dalam bentuk tulisan seperti ini. Dari posisi pelatih, saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Bagaimana seorang pelatih menghargai kerja keras seorang anak di lapangan, dan tidak ada kata 'kritik keras' dialamatkan kepada anak-anak. Bukan cacian atau bentakan, namun ucapan yang mengingatkan kita, bahwa kita ini memang benar salah.
Ada satu kasus yang cukup dilematis jadi pelatih, ketika anak-anak berlatih sesama temannya, ternyata terdapat benturan satu team. Ketika seorang anak menteackling teman setimnya, hingga cidera. Lantas apa yang dilakukan seorang pelatih terhadap pemain tersebut? Menjadi seorang pelatih harus mampu memecahkan masalah tersebut. Apakah anak tersebut dibentak? Tidak dimainkan saat pertandingan? Atau dilarang mengikuti program latihan dan lain sebagainya?
Setiap anak memiliki kesempatan yang sama. Ia hanya memanggil anak tersebut.
“Nak, kamu ke sini! Kamu ganti baju, mandi, terus tidur ya.”
“Kamu tahu letak kesalahanmu?” tegas coach.
“Tahu coach” dengan keadaan bersalah anak itu cium tangan coachnya dan langsung bergegas dan meminta maaf kepada teman tadi.
Sudah selayaknya seorang pelatih menjadi orangtua, teman dan sahabat bagi para pemain. Dan itu harus dijadikan pijakan oleh kebanyakan seorang guru, pelatih dan orangtua anak-anak didiknya. Karena secara psikologis, seorang anak akan terbangun dengan baik, manakala tidak menerima celakaan dan kritikan yang berbentuk rasis. Anak-anak akan menerima kesalahannya, ketika guru tidak men-just dengan nada keras.
Sementara itu, saya mendapat pelajaran lain ketika obrolan ringan. Yakni, seorang manajer muda. Ia adalah president salah satu pengusaha sukses dari perusahaan asuransi nasional, prodensial. Pun menjadi manajer dari akademi ASIFA. Nuzul Kifli manajer dari sekolah sepak bola Asifa itu.
Ia memberi pesan, “bahwa permasalahan mendasar pada anak, saya kira bukan hanya anak tetapi juga untuk orang dewasa dan orangtua. Hal yang tidak disadari adalah takut untuk mengawali dan melakukan dari awal.” Kalimat itu tidak terlalu istimewa, tetapi secara filosofis, syarat akan makna. Seringkali, ketika anak-anak mau bertanding melawan klub lain, pada malam hari tidak bisa tidur. Tampak gelisah. Kepikiran hari esoknya di lapangan. Nerves serta gugup menghadapi musuh esok harinya menjadi pemandangan lumrah. Seakan-akan takut sebelum berperang. Kalau bahasa orang dewasanya “demam lapangan”.
Lantas metode apa yang diterapkan kepada anak-anak atau orang demam lapangan tersebut? Pasti Anda pernah melihat seorang pemain sepak bola kelas dunia mau pun nasional. Ketika mau bertanding, ia menggunakan headset. Ya, musik. Musik adalah sebuah seni yang diterapkan untuk melawan ketika kegelisahan. Musik yang enjoy kana membawa kita ke dalam keadaan enjoy juga. Musik adalah cara efektif untuk meredakan kegelisahan seseorang yang gugup dan cemas.
Pelajaran yang teramat istimewa itu ketika saya dapat tatap muka langsung dengan orang-orang besar: semacam coach Aji Santoso, Om Zul--sapaan--Nuzul Kifli, dan coach-coach yang lain yang ada di ASIFA. Selain mendapat pelajaran yang berharga, saya senang sekali bisa ngobrol langsung dengan coach Aji Santoso dan bisa foto langsung bersama beliau. Perjalanan yang indah selama dua hari di kota Singo Edan tersebut.[]
Di kota Malang itu, saya memang tidak sendiri dan bukan tujuan saya sendiri. Saya ke sana lantaran ajakan dan tujuan menjenguk anak seorang teman yang sedang menimba ilmu di Sekolah Sepak Bola (SSB) Asifa Malang. Dari Sekolah Sepak Bola ini saya banyak belajar tentang cara mendidik anak-anak, juga belajar bagaimana membangun sekolah dengan baik dan benar. Memang semua harus terkonsep dan memiliki tenaga kerja (pelatih) yang profesional. Mendirikan sebuah sekolah--baik sekolah dasar maupun sekolah sepak bola--harus menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap dan didukung dengan para pengajar, dalam hal ini pelatih yang profesional dan memiliki lisensi standar.
Pada kesempatan itu, saya berjumpa langsung dengan mantan pemain, serta saat ini melatih klub Persela Lamongan, yaitu Aji Santoso. Aji Santoso merupakan salah satu legenda sepak bola Indonesia. Tercatat ia telah malang melintang di lapangan hijau baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih. Pria kelahiran 6 April 1970 tahun lalu ini pernah membawa Indonesia meraih emas pada pertandingan SEA Games tahun1991. Sebuah gelar juara yang diidam-idamkan warga negara Indonesia.
Banyak pelajaran yang aku dapat dari kunjungan saya ke kota Malang itu. Selain bertujuan menjenguk anak dari teman, biasa disapa Mamat, juga mempelajari apa yang satu tahu dan apa yang satu kenali. Mamat merupakan salah satu orang yang memiliki keinginan besar dalam mendidik anaknya di dunia sepak bola. Terlihat sejak sekolah dasar, ia sudah menitipkan anak di kabupaten sebelah untuk disekolahkan di SSB TAP (Tulungagung Putra) kemudian pindah ke SSB lain di kota yang sama.
Kemauan dan keinginannya mendidik anaknya jadi pemain profesional dipercayakan di sekolah sepak bola di Kota Malang ini. Ia satu-satunya warga di desa sata yang menyekolahkan anaknya di ASIFA (Aji Santoso International Football Asosiation) ini. Akademi ini terbesar dan pertama yang ada di Jawa Timur, mungkin juga di Indonesia. Asifa adalah tempat berkumpulnya anak-anak terbaik se Indonesia. Karena masuk dalam akademi ini melalui tes dan seleksi. Banyak anak-anak dari timur Indonesia dan daerah lain, termasuk Jakarta.
Salah satu pemain yang dibesarkan oleh berlokasi di lapangan Mojolangu, Kota Malang ini adalah Saddil Ramdani. Pemain yang mengantar Indonesia menempati posisi ke-3 di ajang Piala AFF U-19 ini merupakan produk asli Asifa. Asifa merupakan sekolah sepak bola pertama di Indonesia yang bertaraf Internasional. Di mana Asifa berkomitmen membentuk pemain sepak bola tak semudah membalik telapak tangan. Komitmen Asifa dalam membentuk pemain secara fisik dan mental melalui sistem kepelatihan yang berstandar serta dukungan fasilitas kelas Internasional. Misalnya, fasilitas asrama berkapasitas 300 orang dewasa, rumput lapangan standar FIFA/ AFC, ruang fisioterapi, kafe umum dan VIP, dan lain sebagainya.
Tak sedikit anak-anak dari berbagai penjuru Indonesia menimba ilmu di sekolah sepak bola di Asifa. Saya menjumpai anak dari Poso, Sulawesi. Sering di sapa Messi karena tubuhnya yang mungil dan kelincahan dalam menggocek bola. Ya, dengan skill di atas rata-rata seorang anak, ia mendapat sebuta messi. Dia berusia 12 tahun, namun sudah berani jauh dari orang tua. Menarik ketika menelisik ke dalam. Ternyata, dia adalah anak seorang dokter di kota asalnya, kesehariannya bermain futsal bersama teman-teman kampungnya. Patut diacungi jempol, orangnya tidak memaksakan kehendak menjadikan anaknya ke profesi yang digeluti orang tuanya.
Bukan cuma itu saja yang saya dapat hari itu. Banyak sekali pengalaman dan pengetahuan tentang seluk-beluk tentang anak-anak yang harus saya rekam dalam bentuk tulisan seperti ini. Dari posisi pelatih, saya mendapatkan pelajaran yang begitu berharga. Bagaimana seorang pelatih menghargai kerja keras seorang anak di lapangan, dan tidak ada kata 'kritik keras' dialamatkan kepada anak-anak. Bukan cacian atau bentakan, namun ucapan yang mengingatkan kita, bahwa kita ini memang benar salah.
Ada satu kasus yang cukup dilematis jadi pelatih, ketika anak-anak berlatih sesama temannya, ternyata terdapat benturan satu team. Ketika seorang anak menteackling teman setimnya, hingga cidera. Lantas apa yang dilakukan seorang pelatih terhadap pemain tersebut? Menjadi seorang pelatih harus mampu memecahkan masalah tersebut. Apakah anak tersebut dibentak? Tidak dimainkan saat pertandingan? Atau dilarang mengikuti program latihan dan lain sebagainya?
Setiap anak memiliki kesempatan yang sama. Ia hanya memanggil anak tersebut.
“Nak, kamu ke sini! Kamu ganti baju, mandi, terus tidur ya.”
“Kamu tahu letak kesalahanmu?” tegas coach.
“Tahu coach” dengan keadaan bersalah anak itu cium tangan coachnya dan langsung bergegas dan meminta maaf kepada teman tadi.
Sudah selayaknya seorang pelatih menjadi orangtua, teman dan sahabat bagi para pemain. Dan itu harus dijadikan pijakan oleh kebanyakan seorang guru, pelatih dan orangtua anak-anak didiknya. Karena secara psikologis, seorang anak akan terbangun dengan baik, manakala tidak menerima celakaan dan kritikan yang berbentuk rasis. Anak-anak akan menerima kesalahannya, ketika guru tidak men-just dengan nada keras.
Sementara itu, saya mendapat pelajaran lain ketika obrolan ringan. Yakni, seorang manajer muda. Ia adalah president salah satu pengusaha sukses dari perusahaan asuransi nasional, prodensial. Pun menjadi manajer dari akademi ASIFA. Nuzul Kifli manajer dari sekolah sepak bola Asifa itu.
Ia memberi pesan, “bahwa permasalahan mendasar pada anak, saya kira bukan hanya anak tetapi juga untuk orang dewasa dan orangtua. Hal yang tidak disadari adalah takut untuk mengawali dan melakukan dari awal.” Kalimat itu tidak terlalu istimewa, tetapi secara filosofis, syarat akan makna. Seringkali, ketika anak-anak mau bertanding melawan klub lain, pada malam hari tidak bisa tidur. Tampak gelisah. Kepikiran hari esoknya di lapangan. Nerves serta gugup menghadapi musuh esok harinya menjadi pemandangan lumrah. Seakan-akan takut sebelum berperang. Kalau bahasa orang dewasanya “demam lapangan”.
Lantas metode apa yang diterapkan kepada anak-anak atau orang demam lapangan tersebut? Pasti Anda pernah melihat seorang pemain sepak bola kelas dunia mau pun nasional. Ketika mau bertanding, ia menggunakan headset. Ya, musik. Musik adalah sebuah seni yang diterapkan untuk melawan ketika kegelisahan. Musik yang enjoy kana membawa kita ke dalam keadaan enjoy juga. Musik adalah cara efektif untuk meredakan kegelisahan seseorang yang gugup dan cemas.
Pelajaran yang teramat istimewa itu ketika saya dapat tatap muka langsung dengan orang-orang besar: semacam coach Aji Santoso, Om Zul--sapaan--Nuzul Kifli, dan coach-coach yang lain yang ada di ASIFA. Selain mendapat pelajaran yang berharga, saya senang sekali bisa ngobrol langsung dengan coach Aji Santoso dan bisa foto langsung bersama beliau. Perjalanan yang indah selama dua hari di kota Singo Edan tersebut.[]
إرسال تعليق