Tidak ada bosannya ketika berbicara tentang sepak bola. Apalagi membahas liga paling kompetitif di antara liga-liga top Eropa. Sepak bola di negeri Pizza, Italia, selalu menarik dijadikan bahan obralan di warung-warung kopi, sesama teman-teman di kelas hingga semasa tifosi Italia. Ditambah lagi yang diobrolkan adalah klub kesayangannya, yang lagi ngebut dalam perebutan scudetto, ngedabrusnya sampai lupa waktu.
Mulai dari hasil highlight pertandingan, serba-serbi dari luar lapangan maupun di lapangan hijau hingga capaian rekor terbaru dari pemain favoritnya. Saya kira, jika sedang berbincang liga serie A, kita tak akan melupakan sosok penjaga gawang yang satu ini, yaitu Gianlugi Buffon, sosok teladan, pemimpin sekaligus pemain sepak bola profesional Italia, yang mampu menjaga kehormatan klub maupun negaranya di bawah mistar gawang.
Tentu kita telah mafhum dengan pepatah tua-tua keladi. Jika pepatah itu tersematkan bagi orangtua, saya rasa, Buffon lah yang tepat masuk dalam kategori sebagai semakin tua semakin menjadi. Pria yang sekarang berusia 40 tahun ini masih belum ada tanda-tanda menurun kualitasnya, namun malah sebaliknya, performanya semakin mengkilap dengan rekor baru terpecahkan. Sebagai seorang penjaga gawang yang bertugas sebagai palang pintu terakhir di bawah mistar gawang, Buffon harus sekuat tenaga melakukan clean sheet dari sepakan para pemain dan penyerang klub lawan.
Artinya jika Buffon hingga usia yang tidak lagi muda masih tetap konsisten dengan penampilannya, itu sama saja para pemain, khususnya penjaga gawang Juventus harus menunggu hingga sang kapten gantung sarung tangan, orang jawa bilang mengenteni pitek blorok netes (sabar menunggu ayam betelur). Konsistensi penampilan Buffon berimbas pada deretan penjaga gawang lain yang berada dalam generasi Buffon selalu berada dalam bayang-banyangnya. Harus sedikit bersabar 2,5 tahun lagi sampai Buffon setidaknya berusia 40 tahun. Karena dia telah memiliki rencana pensiun selepas Piala Dunia 2018, setidaknya saat usianya sudah masuk balok empat.
Nama
Kiper Juventus, Gianlugi Buffon, baru saja memecahkan rekor clean sheet terlama di Serie A. Selepas bentrok derby della Mode melawan Torino, Minggu (20/3) di Stadion Olimpico, Turin, mengungguli clean sheet milik Sebastiano Rossi. Legenda kiper AC Milan memiliki catatan durasi 929 menit tanpa kebobolan.
Kehadiran Legenda kiper AC Milan, Sebastiano Rossi tersebut di salah satu acara di Sportmediaset sebagai bintang tamu menandakan “terusiknya” dia dengan rekor baru dari penjaga gawang lain.
“Momen seperti ini selalu luar biasa dan harus dinikmati. Saya bahagia rekor saya menjadi milik Gigi dan tetap berada di tangan pemain Italia. Semua rekor hadir buat dipatahkan. Dino Zoff mengatakan itu ketika saya mematahkan rekornya,” kata Rossi.
Rekor Sebastiano Rossi di tahun 1993/1994 tersebut dipertajam oleh catatan legenda kiper Italia lainnya, yakni Gianlugi Buffon. Jika Rossi hanya mampu memparkirkan rekornya dengan durasi 929 menit, Buffon memperlebar catatannya dengan 973 menit tanpa kebobolan terlama di Serie A.
Lain halnya dengan legenda Jerman. Jika tiga tahun silam legenda Jerman, Franz Beckhenbaur pernah mencibirnya Gianluigi Buffon tak ubahnya seorang pensiunan yang gagal move on setelah mendapat PHK perusahaan tempat kerjanya. Untuk saat ini, Der Keisar harus meluruskan statement yang telah dilontarkan itu. Cibiran itu ketika Buffon gagal mengantisipasi sepakan keras jarak jauh David Alaba.
Tetapi, saat usianya beranjak 38 tahun, performa Buffon justru membuktikan penampilannya semakin luar biasa. Buffon berhasil menjaga gawang Juve dengan catatan clean sheet sebanyak 16 kali dengan 9 di antaranya secara beruntun. Yang memecahkan rekor legenda Italia, Sebastiano Rossi, eks kiper AC Milan.
Sehebat apapun Gianluigi Buffon dalam mengukir 973 menit tanpa kebobolan, ia sadar, bahwa dia tidak bekerja sendirian di barisan belakang pertahanan Juventus. “Abbiamo bisogno di voi!” yang artinya kami membutuhkan kalian,” ujar Buffon. Banyak argumen mengemuka Buffon terbantu oleh aksi-aksi barisan para bek, dan memiliki salah satu pertahanan terbaik sejak kembali ke Serie A pasca-calciopoli.
Dengan ketangguhan Barzagli, Bonucci dan Giorgio Chielini di lini pertahanan adalah kunci keberhasilan Juventus. Ibarat prajurit, mereka adalah pasukan yang berjaga di depan gerbang, menahan segala bentuk serangan musuh.
Angka
Gianluigi Buffon sukses mengukir rekor baru clean sheet terlama di Serie A, yakni 973 menit clean sheet. Buffon menjadi seorang legenda kiper terlama dalam memegang clean sheet. Rekor 973 menit itu sama artinya 15 jam 30 menit melakukan pertandingan sepak bola nonstop tanpa kemasukan bola ke gawang. Dan, dengan rasio kebobolan 0,53 dalam setiap partai (hingga pekan ke-30).
Bukan hanya itu saja yang membanggakan dalam diri sang kapten. Dari sembilan atau sepuluh partai clean sheet, pertahanan yang digalang Andrea Barzagli, Giorgio Chielini, dan Leonardo Bonucci hanya mengizinkan lawan mengemas rata-rata 1,78 shot on target.
Trio B100 (Buffon, Barzagli, dan Bonucci)—begitu para pandit menjuluki tiga pilar tembok milik Juventus—yang kukuhnya di barisan belakang. Angka 100 di depan huruf B tersebut menunjukkan akumulasi dari jumlah usia produktif yang dimiliki dari tiga pilar pemian belakang itu. Jika dikalkulasi--saat tulisan ini ditulis--dari Buffon (38 tahun), Barzagli (34 tahun) dan Bonucci (28 tahun) adalah 100 tahun.
Buffon bersama rekan sepekerja-se-klub-nya barangkali bisa mencatat 100 persen rekor dan di lini belakang alias tanpa kebobolan dalam sisa laga Serie A terakhir!
Kiranya Juve telah mafhum, sepak bola tak sekadar soal menyerang dan menang, tetapi juga bertahan. Juventus memiliki komposisi lengkap dari beberapa aspek tersebut. Komposisi lengkap yang siap mendatangkan kemenangan demi kemenangan. Apalagi klub berjulukkan Si Nyonya Tua terus menjaga tren baik, yang tidak mungkin di sisa partai merebut scudetto Serie A, bahkan Coppa Italia.
Mulai dari hasil highlight pertandingan, serba-serbi dari luar lapangan maupun di lapangan hijau hingga capaian rekor terbaru dari pemain favoritnya. Saya kira, jika sedang berbincang liga serie A, kita tak akan melupakan sosok penjaga gawang yang satu ini, yaitu Gianlugi Buffon, sosok teladan, pemimpin sekaligus pemain sepak bola profesional Italia, yang mampu menjaga kehormatan klub maupun negaranya di bawah mistar gawang.
Tentu kita telah mafhum dengan pepatah tua-tua keladi. Jika pepatah itu tersematkan bagi orangtua, saya rasa, Buffon lah yang tepat masuk dalam kategori sebagai semakin tua semakin menjadi. Pria yang sekarang berusia 40 tahun ini masih belum ada tanda-tanda menurun kualitasnya, namun malah sebaliknya, performanya semakin mengkilap dengan rekor baru terpecahkan. Sebagai seorang penjaga gawang yang bertugas sebagai palang pintu terakhir di bawah mistar gawang, Buffon harus sekuat tenaga melakukan clean sheet dari sepakan para pemain dan penyerang klub lawan.
Artinya jika Buffon hingga usia yang tidak lagi muda masih tetap konsisten dengan penampilannya, itu sama saja para pemain, khususnya penjaga gawang Juventus harus menunggu hingga sang kapten gantung sarung tangan, orang jawa bilang mengenteni pitek blorok netes (sabar menunggu ayam betelur). Konsistensi penampilan Buffon berimbas pada deretan penjaga gawang lain yang berada dalam generasi Buffon selalu berada dalam bayang-banyangnya. Harus sedikit bersabar 2,5 tahun lagi sampai Buffon setidaknya berusia 40 tahun. Karena dia telah memiliki rencana pensiun selepas Piala Dunia 2018, setidaknya saat usianya sudah masuk balok empat.
Nama
Kiper Juventus, Gianlugi Buffon, baru saja memecahkan rekor clean sheet terlama di Serie A. Selepas bentrok derby della Mode melawan Torino, Minggu (20/3) di Stadion Olimpico, Turin, mengungguli clean sheet milik Sebastiano Rossi. Legenda kiper AC Milan memiliki catatan durasi 929 menit tanpa kebobolan.
Kehadiran Legenda kiper AC Milan, Sebastiano Rossi tersebut di salah satu acara di Sportmediaset sebagai bintang tamu menandakan “terusiknya” dia dengan rekor baru dari penjaga gawang lain.
“Momen seperti ini selalu luar biasa dan harus dinikmati. Saya bahagia rekor saya menjadi milik Gigi dan tetap berada di tangan pemain Italia. Semua rekor hadir buat dipatahkan. Dino Zoff mengatakan itu ketika saya mematahkan rekornya,” kata Rossi.
Rekor Sebastiano Rossi di tahun 1993/1994 tersebut dipertajam oleh catatan legenda kiper Italia lainnya, yakni Gianlugi Buffon. Jika Rossi hanya mampu memparkirkan rekornya dengan durasi 929 menit, Buffon memperlebar catatannya dengan 973 menit tanpa kebobolan terlama di Serie A.
Lain halnya dengan legenda Jerman. Jika tiga tahun silam legenda Jerman, Franz Beckhenbaur pernah mencibirnya Gianluigi Buffon tak ubahnya seorang pensiunan yang gagal move on setelah mendapat PHK perusahaan tempat kerjanya. Untuk saat ini, Der Keisar harus meluruskan statement yang telah dilontarkan itu. Cibiran itu ketika Buffon gagal mengantisipasi sepakan keras jarak jauh David Alaba.
Tetapi, saat usianya beranjak 38 tahun, performa Buffon justru membuktikan penampilannya semakin luar biasa. Buffon berhasil menjaga gawang Juve dengan catatan clean sheet sebanyak 16 kali dengan 9 di antaranya secara beruntun. Yang memecahkan rekor legenda Italia, Sebastiano Rossi, eks kiper AC Milan.
Sehebat apapun Gianluigi Buffon dalam mengukir 973 menit tanpa kebobolan, ia sadar, bahwa dia tidak bekerja sendirian di barisan belakang pertahanan Juventus. “Abbiamo bisogno di voi!” yang artinya kami membutuhkan kalian,” ujar Buffon. Banyak argumen mengemuka Buffon terbantu oleh aksi-aksi barisan para bek, dan memiliki salah satu pertahanan terbaik sejak kembali ke Serie A pasca-calciopoli.
Dengan ketangguhan Barzagli, Bonucci dan Giorgio Chielini di lini pertahanan adalah kunci keberhasilan Juventus. Ibarat prajurit, mereka adalah pasukan yang berjaga di depan gerbang, menahan segala bentuk serangan musuh.
Angka
Gianluigi Buffon sukses mengukir rekor baru clean sheet terlama di Serie A, yakni 973 menit clean sheet. Buffon menjadi seorang legenda kiper terlama dalam memegang clean sheet. Rekor 973 menit itu sama artinya 15 jam 30 menit melakukan pertandingan sepak bola nonstop tanpa kemasukan bola ke gawang. Dan, dengan rasio kebobolan 0,53 dalam setiap partai (hingga pekan ke-30).
Bukan hanya itu saja yang membanggakan dalam diri sang kapten. Dari sembilan atau sepuluh partai clean sheet, pertahanan yang digalang Andrea Barzagli, Giorgio Chielini, dan Leonardo Bonucci hanya mengizinkan lawan mengemas rata-rata 1,78 shot on target.
Trio B100 (Buffon, Barzagli, dan Bonucci)—begitu para pandit menjuluki tiga pilar tembok milik Juventus—yang kukuhnya di barisan belakang. Angka 100 di depan huruf B tersebut menunjukkan akumulasi dari jumlah usia produktif yang dimiliki dari tiga pilar pemian belakang itu. Jika dikalkulasi--saat tulisan ini ditulis--dari Buffon (38 tahun), Barzagli (34 tahun) dan Bonucci (28 tahun) adalah 100 tahun.
Buffon bersama rekan sepekerja-se-klub-nya barangkali bisa mencatat 100 persen rekor dan di lini belakang alias tanpa kebobolan dalam sisa laga Serie A terakhir!
Kiranya Juve telah mafhum, sepak bola tak sekadar soal menyerang dan menang, tetapi juga bertahan. Juventus memiliki komposisi lengkap dari beberapa aspek tersebut. Komposisi lengkap yang siap mendatangkan kemenangan demi kemenangan. Apalagi klub berjulukkan Si Nyonya Tua terus menjaga tren baik, yang tidak mungkin di sisa partai merebut scudetto Serie A, bahkan Coppa Italia.
إرسال تعليق