"Nak," kataku pada anak kecil di bawah pohon rambutan."
"Ini memang pohon rambutan. Daunnya Setiap sore jatuh dan menjadi sampah," suaranya semakin dipertajam.
Perempuan paruh baya itu dengan sabar menyapu pekarangan depan rumah yang sudah mulai dipenuhi dedaunan yang gugur. Ia nampak selalu sabar dalam merawat tanaman di depan rumahnya tersebut. Di depan rumahnya ada pohon rambutan dan beberapa bunga yang ia rawat seperti anaknya sendiri.
Setiap hari pohon dan bunga itu disirami. Pohon rambutan hanya akarnya saja yang disiram, sementara bunga-bunga yang telah banyak yang mekar itu disiram sampai basah kuyup.
"Kamu tahu, Nak?" Ia tetap ingin memberi tahu bahwa daun ini bukan sekadar daun. "Meski daun itu sudah warna kecoklatan, ia merelakan untuk menjatuhkan diri di tanah."
Anak yang sedari tadi ikut menyirami ibunya itu tambah semakin bingung. Ia hanya bermain saluran air ke arah bunga. Dan sesekali bengong tanda bahwa ia sedang berpikir.
Daun yang jatuh biasa kita anggap benda tak bernilai. Seperti biasanya, pohon adalah tanaman yang ditunggu apabila bersemi atau cikal yang akan menuai asa tunas kehidupan pohon. Namun saat daun jatuh, orang banyak yang menggerutu. Bahwa daun adalah sampah. Sampah yang menghalang-halangi keindahan sekitar dan jadi sampah termasuk pekarangan rumah.
Tanpa banyak orang sadari, daun adalah awal kehidupan yang mencerahkan bagi manusia. Daun akan bernilai saat daun itu bersemi. Menunjukkan bahwa pohon tersebut hidup dan berkembang. Namun sebaliknya, berbeda ketika daun tersebut sudah menua dan sudah layu. Orang banyak putus asa dan memotongnya lalu dibuat kayu bakar.
Sementara daunnya jatuh tanpa ada perintah. Ia dengan sendirinya (di)terbang(kan) oleh angin yang semilir. Daun itu jatuh di depan wajah kita. Daun tersebut terbang dengan ringannya hingga jauh di bawah bumi, menyentuh tanah, kemudian diinjak-injak oleh para makhluk hidup yang melintas di bawah pohon.
Lantas, makhluk hidup itu, termasuk manusia tidak mengambil sari pati tentang jatuhnya daun itu.
Lalu kita hanya bisa melihat bahwa daun yang jatuh itu adalah sampah, maka ia menganggap bahwa semua yang tidak berguna itu adalah sampah. Daun yang berserakan di jalan, di pelataran/ pekarangan rumah, di perkebunan, atau di manapun berada, daun menjadi barang yang tidak ada nilainya. Tidak ada manfaat lagi. Bahkan, daun menjadi barang yang menambah-nambahi kesibukan seseorang.
Dengan demikian, kita menjadi orang yang tidak akan yang bersyukur dan selalu melakukan tindakkan yang sebetulnya merugikan diri kita sendiri. Melemahkan pandangan, menyiutkan mentalitas, melunturkan keyakinan kita sendiri. Sehingga manusia menjadi makhluk yang tidak memiliki asa untuk menjadi yang lebih baik. Kita hanya akan jadi manusia yang suka dengan hal-hal yang instan dan tidak suka dengan tindakan dengan gerakan nyata.
Untuk, manusia harus belajar dengan lingkungan sekitarnya, sekalipun itu dengan benda yang dinilai tidak ada harganya. Kita paham bahwa pesan yang disampaikan oleh daun yang jatuh itu. Daun yang jatuh tidak akan menyalahkan angin yang menerbangkan dan menjatuhnya. Daun jatuh dan terbang dengan kerelaan dan kerendahan harinya, serta ia tetap memiliki pegangan jatuh di tanah. Bagaimanapun, daun tetap tidak mau mengeluh. Ia tetap semangat kemana angin menerbangkan. Bahkan daun pun tidak mencap atau menghardik angin sebagai pembawa petaka baginya.
Namun, ketika kita hidup di dunia ini, masih banyak orang yang mengeluh dengan keadaannya yang sekarang kurang. Mengeluh dengan situasi yang menjepitnya. Hilang semangat ketika musibah datang. Pun hilang pedoman hidupnya sehingga ia nekat mengakhir hidupnya dengan bunuh diri, dan lainnya.
Barangkali, kita bisa belajar kepada kehidupan daun yang tidak pernah membenci angin yang menerbangkannya kemana pun ia terbang. Angin datang tanpa diduga-duga. Angin datang tanpa direncana. Angin berhembus tidak minta izin terlebih dahulu. Karena, daun tetaplah daun. Dengan kerendahan daun, batang atau tangkai yang ditinggalkan daun tersebut, ia yakin akan ada kehidupan baru lagi setelah daun itu jatuh.
Kita sebagai makhuk yang dibekali semua yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, alangkah indahnya belajar dengan alam. Dan kembali ke alam sekitar kita. Karena alam adalah awal kehidupan. Daun yang jatuh tidak akan membenci angin yang menjatuhkannya ke bawah. Kita sebagai khalifah dimuka bumi ini, sudah seharusnya tidak mengeluh dengan keadaan kita. Coba sejenak kita toleh ke bawah, masih banyak orang diluar sana yang masih kurang daripada kita. Sudah sepantasnya, kita tetap menatap dengan mantap keindahan hidup ini dengan suka cita. Namun, sudah seperti itu kah kita? Allahualam bishowab.[]
"Ini memang pohon rambutan. Daunnya Setiap sore jatuh dan menjadi sampah," suaranya semakin dipertajam.
Perempuan paruh baya itu dengan sabar menyapu pekarangan depan rumah yang sudah mulai dipenuhi dedaunan yang gugur. Ia nampak selalu sabar dalam merawat tanaman di depan rumahnya tersebut. Di depan rumahnya ada pohon rambutan dan beberapa bunga yang ia rawat seperti anaknya sendiri.
Setiap hari pohon dan bunga itu disirami. Pohon rambutan hanya akarnya saja yang disiram, sementara bunga-bunga yang telah banyak yang mekar itu disiram sampai basah kuyup.
"Kamu tahu, Nak?" Ia tetap ingin memberi tahu bahwa daun ini bukan sekadar daun. "Meski daun itu sudah warna kecoklatan, ia merelakan untuk menjatuhkan diri di tanah."
Anak yang sedari tadi ikut menyirami ibunya itu tambah semakin bingung. Ia hanya bermain saluran air ke arah bunga. Dan sesekali bengong tanda bahwa ia sedang berpikir.
Daun yang jatuh biasa kita anggap benda tak bernilai. Seperti biasanya, pohon adalah tanaman yang ditunggu apabila bersemi atau cikal yang akan menuai asa tunas kehidupan pohon. Namun saat daun jatuh, orang banyak yang menggerutu. Bahwa daun adalah sampah. Sampah yang menghalang-halangi keindahan sekitar dan jadi sampah termasuk pekarangan rumah.
Tanpa banyak orang sadari, daun adalah awal kehidupan yang mencerahkan bagi manusia. Daun akan bernilai saat daun itu bersemi. Menunjukkan bahwa pohon tersebut hidup dan berkembang. Namun sebaliknya, berbeda ketika daun tersebut sudah menua dan sudah layu. Orang banyak putus asa dan memotongnya lalu dibuat kayu bakar.
Sementara daunnya jatuh tanpa ada perintah. Ia dengan sendirinya (di)terbang(kan) oleh angin yang semilir. Daun itu jatuh di depan wajah kita. Daun tersebut terbang dengan ringannya hingga jauh di bawah bumi, menyentuh tanah, kemudian diinjak-injak oleh para makhluk hidup yang melintas di bawah pohon.
Lantas, makhluk hidup itu, termasuk manusia tidak mengambil sari pati tentang jatuhnya daun itu.
Lalu kita hanya bisa melihat bahwa daun yang jatuh itu adalah sampah, maka ia menganggap bahwa semua yang tidak berguna itu adalah sampah. Daun yang berserakan di jalan, di pelataran/ pekarangan rumah, di perkebunan, atau di manapun berada, daun menjadi barang yang tidak ada nilainya. Tidak ada manfaat lagi. Bahkan, daun menjadi barang yang menambah-nambahi kesibukan seseorang.
Dengan demikian, kita menjadi orang yang tidak akan yang bersyukur dan selalu melakukan tindakkan yang sebetulnya merugikan diri kita sendiri. Melemahkan pandangan, menyiutkan mentalitas, melunturkan keyakinan kita sendiri. Sehingga manusia menjadi makhluk yang tidak memiliki asa untuk menjadi yang lebih baik. Kita hanya akan jadi manusia yang suka dengan hal-hal yang instan dan tidak suka dengan tindakan dengan gerakan nyata.
Untuk, manusia harus belajar dengan lingkungan sekitarnya, sekalipun itu dengan benda yang dinilai tidak ada harganya. Kita paham bahwa pesan yang disampaikan oleh daun yang jatuh itu. Daun yang jatuh tidak akan menyalahkan angin yang menerbangkan dan menjatuhnya. Daun jatuh dan terbang dengan kerelaan dan kerendahan harinya, serta ia tetap memiliki pegangan jatuh di tanah. Bagaimanapun, daun tetap tidak mau mengeluh. Ia tetap semangat kemana angin menerbangkan. Bahkan daun pun tidak mencap atau menghardik angin sebagai pembawa petaka baginya.
Namun, ketika kita hidup di dunia ini, masih banyak orang yang mengeluh dengan keadaannya yang sekarang kurang. Mengeluh dengan situasi yang menjepitnya. Hilang semangat ketika musibah datang. Pun hilang pedoman hidupnya sehingga ia nekat mengakhir hidupnya dengan bunuh diri, dan lainnya.
Barangkali, kita bisa belajar kepada kehidupan daun yang tidak pernah membenci angin yang menerbangkannya kemana pun ia terbang. Angin datang tanpa diduga-duga. Angin datang tanpa direncana. Angin berhembus tidak minta izin terlebih dahulu. Karena, daun tetaplah daun. Dengan kerendahan daun, batang atau tangkai yang ditinggalkan daun tersebut, ia yakin akan ada kehidupan baru lagi setelah daun itu jatuh.
Kita sebagai makhuk yang dibekali semua yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, alangkah indahnya belajar dengan alam. Dan kembali ke alam sekitar kita. Karena alam adalah awal kehidupan. Daun yang jatuh tidak akan membenci angin yang menjatuhkannya ke bawah. Kita sebagai khalifah dimuka bumi ini, sudah seharusnya tidak mengeluh dengan keadaan kita. Coba sejenak kita toleh ke bawah, masih banyak orang diluar sana yang masih kurang daripada kita. Sudah sepantasnya, kita tetap menatap dengan mantap keindahan hidup ini dengan suka cita. Namun, sudah seperti itu kah kita? Allahualam bishowab.[]
Inspiratif mas...memang harus lebih banyak belajar bersyukur daripada sedikit2 mengeluh.
ردحذفHello Mas Rokhim, gimana kabar ?
ردحذفSalam kenal yaa..
Halo juga mas. Kabar baik. Anda gimana kabarnya? Salam kenal juga ya.
ردحذفTerima kasih atas kunjungannya..,
Maaf Mas. Ternyata Komentar sampean ada di spam benar. jadi Maaf kalau komentarnya slow respon.... Iya mas, kita harus banyak belajar dari hal-hal kecil...
ردحذفKabar saya baik.
ردحذفSaya lagi baca-baca aja tulisan mas, tentang opini-opini.
Posisi di Jawa Timur yah ?
Iya mas... posisi saya di Jawa Timur. Kalau masnya di mana??
ردحذفإرسال تعليق