Perjalanan seseorang, baik jalan kaki, menggunakan moda transportasi umum atau kendaraan pribadi selalu menghadirkan cerita-cerita yang menarik. Karena setiap individu selalu memiliki lakon atau peristiwa perlintasan yang beragam; tidak sama satu sama lain, dan bahkan unik. Ketidaksamaan menjalani perjalanan inilah kisah-kisahnya kerap menghadirkan rasa kaget, seru, menantang bahkan mengandung rasa miris dari ekstrimnya jalan yang dilalui.
Tidak lain dan tidak bukan, para pengguna jalan itu kini hadir dan menuliskan kisahnya yang dibungkus rapi dan renyah siap untuk disantap. Namun, selera untuk menyantap pun seakan sedikit tertunda setelah pembaca mendapati sampul dari buku berjudul Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek. Pasalnya, dari sampul itu kita bisa menarasikan perjuangan para pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah dengan seragam lengkap sedang naik dua mobil bak terbuka--pick up dan melintas di jalan yang tidak beraspal. Hanya jalan bertanah menuju suatu tempat. Entah pulang sekolah maupun berangkat sekolah.
Dari arah berlawanan, ada perempuan paruh baya, yang kelihatannya pulang dari hutan yang membawa barang yang ia gendong di punggungnya dengan tangan kiri membawa sesuatu berwarna hitam. Dari suasana tersebut bisa dipresentasikan bahwa daerah tersebut adalah daerah yang sangat minim oleh sentuhan pembangunan--terutama pembangunan aspal.
Buku yang hadir di hadapan pembaca ini adalah buku kompilasi, yang ditulis oleh orang-orang Trenggalek maupun orang Trenggalek yang sekarang berdomisili di luar kota, serta orang yang pernah memiliki emosional saat melintasi jalan-jalan di Trenggalek. Hadirnya buku ini ibarat surat terbuka untuk para pemegang kebijkan tentang keluh kesah para pemakai jalan.
Di sisi lain, bagi para pengarang, cerpenis dan esais Trenggalek maupun di luar Trenggalek, membukukan kisah-kisah melintasi jalanan yang terjal ibarat mengumpulkan kenangan-kenangan yang tercecer. (Per)jalan(an) yang menjadi sorotan adalah jalan yang menghubungkan antara tiga wilayah di Kabupaten Trenggalek. Sebagian besar tulisan ini diambil di medio 2012-an. Sehingga banyak background peristiwa di periode dua atau tiga tahun yang lalu. So, ada perubahan signifikan atas kontruksi jalan. Yang dulu belum diaspal sekarang sudah menikmati aspal korea, atau malah ada jalan yang dari dulu hingga sekarang belum tersentuh oleh karpet hitam merata itu.
Jalur itu adalah jalur Kampak-Munjungan, Prigi Kecamatan Watulimo, serta jalur arah ke Trenggaek-Dongko-Panggul. Ketiga kawasan ini jadi sorotan tajam para pengisah atau pengguna jalan itu. Jalan Prigi-Trenggalek, misalnya di halaman 74, Nurani menuliskan kisahnya tentang perjalanan Trenggalek-Prigi yang sering menjumpai kesialan. Kesialan ini bukan ia kecelakaan dari sepeda motor atau lain. Yang ia jumpai adalah sudah jalannya berliku, terjal, lubang-lubang menganga menjadi santapan yang tidak bisa dihindari. Ia kerap khilaf dan terperosok di lubang-lubang di tengah jalan itu. Ditambah lagi saat musim ikan di Prigi, jalanan jadi licin. Tingkat kehati-hatianya sungguh sangat ekstra. Lena sedikit, nyawan jadi taruhannya.
Senada dengan cerita Nurani, Nur Fitriani juga harus sampai merem melek saat melintasi jalan di kawasan Kecamatan Watulimo. Kali ini ia sedang menikmati kontur jalan di Desa Watuagung. Ia berkisah bahwa ini adalah perjalanannya pertama kalinya di Desa Watuagung ini. Perjalanan ini adalah ia lakukan bersama rombongan, lantaran mengantarkan pengantin perempuan, yang tidak lain adalah kakak kandungnya. Dari beberapa penumpang yang berada di rombongan itu, ia mengamati seorang ibu yang sampai tidak berani memejamkan mata saat melewati jalan yang tidak bersahabat. Menurutnya, ibu yang ia amati sedari tadi itu baru membuka matanya setelah Pick Up yang ia tumpangi telah tiba di tempat tujuan, dengan wajah pucat. Hal ini menandakan bahwa jalan yang ditempunya sangat sulit, terjal dan bisa disebut ekstrim.
Membaca buku ini, hati saya juga ikut terbawa dan merasakan betapa butuh mental kuat, keberanian dan bahkan nyali besar untuk menaklukkan jalan itu. Setiap fragmen yang dikisahkan membawa dan menghanyut dalam desiran emosi, ketegangan bahkan miris dari keadaan jalan-jalan yang ada di wilayah Trenggalek ini. Dari kisah itu, saya terbawa suasana. Otot saya mengeras, keringat dan tenaga serasa terkuras, bahkan tak jarang ekspresi juga mengikuti dengan apa yang diceritakan pejalan itu.
Kisah getir tentang jalan tidak berhenti sampai di situ. Kisah Siti Nurul Hidayah, asli warga Munjungan tidak kalah serem. Perempuan yang pada tahun 2008 mendapatkan beasiswa belajar di negeri Kangguru, Australia ini mendapat tugas mengisi acara Talk Show di sekolah dasar ia harus menapaki punggung gunung di jalan Kecamatan Munjungan. Dalam perjalanannya itu hati kecil, nyalinya sudah menciut duluan ketika melintasi jalur Munjungan yang terkenal ekstrem itu. Ia merasa melintasi jalur Munjungan ini seperti sedang berlaga di sirkuit Moto GP; menikang-menikung; meliak-meliuk. Namun, tubuh dari sirkuit itu penuh luka, yang lepas dari rasa waspada dan hati-hati bakal menghempaskannya di jurang. Tak berlebihan jika melewati jalan yang buruk dan sulit itu ibarat makan hati kita sendiri.
Dari kesereman jalan itu, ibu turut mengajarkan yang kurang baik tentang anaknya yang ingin masuk sekolah. Tak sedikit orang-orang yang menghiraukan wejangan orangtuanya. Atas nama kewajiban, apapun diperjuangkan untuk melewati jalan yang tidak bersahabat, termasuk pitutur dari seorang ibu. Saya juga memiliki kisah yang tentang jalan jalan alternatif, yang dulu ‘bletok’, jalur di Desa Gemaharjo, di sebelah selatan pos polisi sekarang telah diaspal. Namun saat melintas leter S imaji tentang sesuatu yang tak baik pun kerap melintas.
Jalur Prigi-Trenggalek tidak separah, meminjam istilah judul Ngainun Naim, jejak Blok-M. Jalan ini mengundang mitologi dan dekripsi yang memberikan teror yang horor untuk sebuah perjuangan melintasi dan menjelajahi jalan-jalan yang ada di Trenggalek. Namun dari balik ekstremnya jalanan, ada kisah yang bisa diambil secara edukatif nan inspiratif. Santi Novelas, menggali kisah bernilai edukatif dari seorang penumpang bak terbuka yang sudah tua dengan pakaian lusur. Perempuan tua itu meminta turun dan membayar dengan menyodorkan uang lembaran seratus ribu rupiah. Namun uang yang disodorkan tersebut adalah uang mainan--yang bisa dipakai anak-anak bermain itu.
Namun apa yang dilakukan oleh si sopir tersebut? Ia tidak menerima uang tersebut dengan bahasa yang harus nan bijak. Bahwa pak sopir tak ingin membongkar yang dilakukan oleh perempuan tua itu di muka umum. Fragmen ini tidak saya bayangkan sebelumnya. Yang sedari awal tersaji cerita-cerita ekstrem tentang jalan. Di akhir cerita masih ada kisi-kisi inspiratif dan edukatif dari jalan yang begitu menantang dan kadang memacu adrenalin itu.
“Rengkek-Rengkek” merupakan sebuah nama lokal untuk sepenggal ruas jalan di wilayah Kecamatan Munjungan. Dalam bahasa Jawa, ‘rengkek-rengkek’ memiliki konotasi berat, terjal dan susah. Buku Rengkek-Rengkek; Senarai Catatan dan kisah Per(jalan)an di Kota Trenggalek ini merupakan piranti untuk mengabadikan perasaan-perasaan manusia-manusia gunung. Buku Rengek-rengek ini menawarkan dua dimensi, yang pertama ekstream dan kedua edukatif. Jalan merupakan poros. Poros untuk membangun ekonomi di sebuah daerah. Apabila jalan di suatu daerah tersebut tidak layak untuk dilalui, ekonomi daerah itu pun ikut terkendala.[]
Judul Buku : Rengkek-Rengkek; Senarai Catatan dan Kisah (Per)Jalan(an) di Kota Trenggalek
Penulis : Misbahus Surur (Peny) dkk.
Penerbit : DISPENDA, QLC dan Tuhalas Biblioteca
Terbit : I, 2015
ISBN : 987-602-1048-33-7
Tidak lain dan tidak bukan, para pengguna jalan itu kini hadir dan menuliskan kisahnya yang dibungkus rapi dan renyah siap untuk disantap. Namun, selera untuk menyantap pun seakan sedikit tertunda setelah pembaca mendapati sampul dari buku berjudul Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek. Pasalnya, dari sampul itu kita bisa menarasikan perjuangan para pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah dengan seragam lengkap sedang naik dua mobil bak terbuka--pick up dan melintas di jalan yang tidak beraspal. Hanya jalan bertanah menuju suatu tempat. Entah pulang sekolah maupun berangkat sekolah.
Dari arah berlawanan, ada perempuan paruh baya, yang kelihatannya pulang dari hutan yang membawa barang yang ia gendong di punggungnya dengan tangan kiri membawa sesuatu berwarna hitam. Dari suasana tersebut bisa dipresentasikan bahwa daerah tersebut adalah daerah yang sangat minim oleh sentuhan pembangunan--terutama pembangunan aspal.
Buku yang hadir di hadapan pembaca ini adalah buku kompilasi, yang ditulis oleh orang-orang Trenggalek maupun orang Trenggalek yang sekarang berdomisili di luar kota, serta orang yang pernah memiliki emosional saat melintasi jalan-jalan di Trenggalek. Hadirnya buku ini ibarat surat terbuka untuk para pemegang kebijkan tentang keluh kesah para pemakai jalan.
Di sisi lain, bagi para pengarang, cerpenis dan esais Trenggalek maupun di luar Trenggalek, membukukan kisah-kisah melintasi jalanan yang terjal ibarat mengumpulkan kenangan-kenangan yang tercecer. (Per)jalan(an) yang menjadi sorotan adalah jalan yang menghubungkan antara tiga wilayah di Kabupaten Trenggalek. Sebagian besar tulisan ini diambil di medio 2012-an. Sehingga banyak background peristiwa di periode dua atau tiga tahun yang lalu. So, ada perubahan signifikan atas kontruksi jalan. Yang dulu belum diaspal sekarang sudah menikmati aspal korea, atau malah ada jalan yang dari dulu hingga sekarang belum tersentuh oleh karpet hitam merata itu.
Jalur itu adalah jalur Kampak-Munjungan, Prigi Kecamatan Watulimo, serta jalur arah ke Trenggaek-Dongko-Panggul. Ketiga kawasan ini jadi sorotan tajam para pengisah atau pengguna jalan itu. Jalan Prigi-Trenggalek, misalnya di halaman 74, Nurani menuliskan kisahnya tentang perjalanan Trenggalek-Prigi yang sering menjumpai kesialan. Kesialan ini bukan ia kecelakaan dari sepeda motor atau lain. Yang ia jumpai adalah sudah jalannya berliku, terjal, lubang-lubang menganga menjadi santapan yang tidak bisa dihindari. Ia kerap khilaf dan terperosok di lubang-lubang di tengah jalan itu. Ditambah lagi saat musim ikan di Prigi, jalanan jadi licin. Tingkat kehati-hatianya sungguh sangat ekstra. Lena sedikit, nyawan jadi taruhannya.
Senada dengan cerita Nurani, Nur Fitriani juga harus sampai merem melek saat melintasi jalan di kawasan Kecamatan Watulimo. Kali ini ia sedang menikmati kontur jalan di Desa Watuagung. Ia berkisah bahwa ini adalah perjalanannya pertama kalinya di Desa Watuagung ini. Perjalanan ini adalah ia lakukan bersama rombongan, lantaran mengantarkan pengantin perempuan, yang tidak lain adalah kakak kandungnya. Dari beberapa penumpang yang berada di rombongan itu, ia mengamati seorang ibu yang sampai tidak berani memejamkan mata saat melewati jalan yang tidak bersahabat. Menurutnya, ibu yang ia amati sedari tadi itu baru membuka matanya setelah Pick Up yang ia tumpangi telah tiba di tempat tujuan, dengan wajah pucat. Hal ini menandakan bahwa jalan yang ditempunya sangat sulit, terjal dan bisa disebut ekstrim.
Membaca buku ini, hati saya juga ikut terbawa dan merasakan betapa butuh mental kuat, keberanian dan bahkan nyali besar untuk menaklukkan jalan itu. Setiap fragmen yang dikisahkan membawa dan menghanyut dalam desiran emosi, ketegangan bahkan miris dari keadaan jalan-jalan yang ada di wilayah Trenggalek ini. Dari kisah itu, saya terbawa suasana. Otot saya mengeras, keringat dan tenaga serasa terkuras, bahkan tak jarang ekspresi juga mengikuti dengan apa yang diceritakan pejalan itu.
Kisah getir tentang jalan tidak berhenti sampai di situ. Kisah Siti Nurul Hidayah, asli warga Munjungan tidak kalah serem. Perempuan yang pada tahun 2008 mendapatkan beasiswa belajar di negeri Kangguru, Australia ini mendapat tugas mengisi acara Talk Show di sekolah dasar ia harus menapaki punggung gunung di jalan Kecamatan Munjungan. Dalam perjalanannya itu hati kecil, nyalinya sudah menciut duluan ketika melintasi jalur Munjungan yang terkenal ekstrem itu. Ia merasa melintasi jalur Munjungan ini seperti sedang berlaga di sirkuit Moto GP; menikang-menikung; meliak-meliuk. Namun, tubuh dari sirkuit itu penuh luka, yang lepas dari rasa waspada dan hati-hati bakal menghempaskannya di jurang. Tak berlebihan jika melewati jalan yang buruk dan sulit itu ibarat makan hati kita sendiri.
Dari kesereman jalan itu, ibu turut mengajarkan yang kurang baik tentang anaknya yang ingin masuk sekolah. Tak sedikit orang-orang yang menghiraukan wejangan orangtuanya. Atas nama kewajiban, apapun diperjuangkan untuk melewati jalan yang tidak bersahabat, termasuk pitutur dari seorang ibu. Saya juga memiliki kisah yang tentang jalan jalan alternatif, yang dulu ‘bletok’, jalur di Desa Gemaharjo, di sebelah selatan pos polisi sekarang telah diaspal. Namun saat melintas leter S imaji tentang sesuatu yang tak baik pun kerap melintas.
Jalur Prigi-Trenggalek tidak separah, meminjam istilah judul Ngainun Naim, jejak Blok-M. Jalan ini mengundang mitologi dan dekripsi yang memberikan teror yang horor untuk sebuah perjuangan melintasi dan menjelajahi jalan-jalan yang ada di Trenggalek. Namun dari balik ekstremnya jalanan, ada kisah yang bisa diambil secara edukatif nan inspiratif. Santi Novelas, menggali kisah bernilai edukatif dari seorang penumpang bak terbuka yang sudah tua dengan pakaian lusur. Perempuan tua itu meminta turun dan membayar dengan menyodorkan uang lembaran seratus ribu rupiah. Namun uang yang disodorkan tersebut adalah uang mainan--yang bisa dipakai anak-anak bermain itu.
Namun apa yang dilakukan oleh si sopir tersebut? Ia tidak menerima uang tersebut dengan bahasa yang harus nan bijak. Bahwa pak sopir tak ingin membongkar yang dilakukan oleh perempuan tua itu di muka umum. Fragmen ini tidak saya bayangkan sebelumnya. Yang sedari awal tersaji cerita-cerita ekstrem tentang jalan. Di akhir cerita masih ada kisi-kisi inspiratif dan edukatif dari jalan yang begitu menantang dan kadang memacu adrenalin itu.
“Rengkek-Rengkek” merupakan sebuah nama lokal untuk sepenggal ruas jalan di wilayah Kecamatan Munjungan. Dalam bahasa Jawa, ‘rengkek-rengkek’ memiliki konotasi berat, terjal dan susah. Buku Rengkek-Rengkek; Senarai Catatan dan kisah Per(jalan)an di Kota Trenggalek ini merupakan piranti untuk mengabadikan perasaan-perasaan manusia-manusia gunung. Buku Rengek-rengek ini menawarkan dua dimensi, yang pertama ekstream dan kedua edukatif. Jalan merupakan poros. Poros untuk membangun ekonomi di sebuah daerah. Apabila jalan di suatu daerah tersebut tidak layak untuk dilalui, ekonomi daerah itu pun ikut terkendala.[]
Judul Buku : Rengkek-Rengkek; Senarai Catatan dan Kisah (Per)Jalan(an) di Kota Trenggalek
Penulis : Misbahus Surur (Peny) dkk.
Penerbit : DISPENDA, QLC dan Tuhalas Biblioteca
Terbit : I, 2015
ISBN : 987-602-1048-33-7
إرسال تعليق