Menulis dan mencatat menjadi perkara penting dari zaman pra sejarah hingga saat ini. Kegiatan catat-mencatat, tulis-menulis sangatlah penting adanya. Supremasi menulis sangat urgens dalam mendokumentasikan naskah maupun sejarah. Serta memiliki nilai positif dan bernilai tinggi untuk orang setelahnya.
Perkara menulis namun tidak ada niatan dan sengaja untuk membukukan ke dalam maha karya, kita bisa belajar dengan sosok pemikir dan tokoh Islam revolusioner, Ahmad Wahid. Ahmad Wahid adalah seorang anak muda kelahiran Madura yang melanjutkan studinya di Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia merantau serta menaburkan pemikiran yang progresif. Wahid adalah seorang intelektual muslim yang organis di Indonesia. Wahid juga benci melihat para pemikir yang duduk di singgah sana menara gading sana. Wahid juga sangat menekankan pentingnya mengembangkan budaya literasi (baca-tulis) untuk umat.
Rubrik yang ditulis oleh seorang Mohamad Afifuddin, yang berjudul Ahmad Wahid dan Supremasi Keaksaraan, (Jawa Pos, 04 Oktober 2009), yang juga asli orang Madura menilai Ahmad Wahid adalah tokoh intelektual muda terkemuka pada zamannya, Wahid memang tidak punya banyak karya (buku), kecuali puing-puing catatan hariannya yang akhirnya dibukukan dalam Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (LP3ES: 1981). Mohamad Afifuddin melacak bahwa buku Ahmad Wahid adalah sebuah buku yang segaris dengan idealismenya sebagai seorang muslim yang dituntut kritis dan mencintai literasi (baca-tulis).
Karena itu, dalam pesan yang ditulis oleh Mohamad Afifuddin Wahib menegaskan, "Membaca, membaca, dan teruslah membaca. Terserah itu buku, majalah, alam, masyarakat, dan manusia. Aku membaca bukan untuk hanya tahu. Aku juga ingin bahwa apa yang kubaca itu ikut membentuk sebagian dari pandanganku. Karena itu, aku mencerna, memeras dengan modal intelektualitas yang tersedia dan dalam pergaulannya dengan situasi. Memang aku bahagia. Dahaga akan segala pengaruh. Karena itu, kubuka bajuku, disajikan tubuhku yang telanjang agar setiap bagian dari tubuhku berkesempatan memandang alam luas dan memperoleh bomberdemen dari segala penjuru. Permainan yang tak akan pernah selesai ini sangat mengasyikkan" (hal 45-46).
Bagi kita, ucapan yang dicetuskan oleh Ahmad Wahib tersebut terlalu berlebihan. Pasalnya, budaya kita telah digerus oleh zaman yang serba canggih dan cepat. Hingga nalar kritis dari seorang intelektualitas pun juga ikut terbawa oleh arus globalisasi yang "cengeng" dan instan. Oleh karena itu, bukan tanpa resiko ungkapan Ahmad Wahid tersebut. Pada masa itu, permainan berpikir ala Ahmad Wahib masih dianggap kontroversial karena dinilai terlalu "liar" dan non-mainstreaming hingga oleh teman-temannya sendiri dimusuhi. Karena ingin konsistensi terhadap pemikirannya Ahmad Wahib pun mengundurkan diri dari organisasinya. Sebuah resiko yang diluar dugaan orang banyak. Tentang kebulatan dan tekad yang kuat dari seorang pemikir Islam ini.
Dalam dunia demontran kita memiliki sosok Soe Hok Gie, seorang demonstran yang sudah keterlaluan dijadikan referensi penulisan demonstrasi hingga saat ini.
Narasi dalam buku Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran (1983, Desember cetakan ke-2) tersebut, menggambarkan bagaimana Gie menjalani laku hidup sebagai seorang demonstran. Agenda peminjaman jas, menunjukkan hidup Gie yang sederhana. Sebagai mahasiswa yang tulisannya sudah dimuat di berbagai koran nasional tidak membuatnya berbangga diri dan hidup parlente. Gie tetap menjalani hidup semestinya, hidup bersama dalam bermasyarakat. Dan ketika melakukan demonstrasi Gie tidak hanya berteori dan bergagasan untuk membela rakyat tertindas, tapi melebur dengan masyarakat guna dapat mengetahui rasa hidup rakyat. Jadi, tidak salah jika Gie dikatakan sebagai “seorang demonstran sejati”, selain sebagai penulis dan pendaki gunung.
Memang tidak banyak mahasiswa seperti, "Soe Hok Gie: seorang pemuda yang tidak hanya belajar dan bertindak berusaha mewujudkan cita-citanya, melainkan juga dengan tekun mencatat apa yang dialaminya, apa yang dipikirkannya. Dengan perantaraan catatan-catatan hariannya dapatlah kita memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan para mahasiswa dengan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mereka," (halaman x-xi).
Soe Hok Gie adalah seorang cendekiawan yang ulung yang terpikat pada ide, pemikiran dan yang terus menerus menggunakan akal pikirannya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya. Tulisan-tulisannya menggugah hati pembaca, menjadikan mereka menyokong sepenuhnya pandangan-pandangan yang dikemukakan atau membenci penulisnya yang berani mengatakan apa yang tidak berani dinyatakan oleh orang lain. (Hal. xi)
Mudah-mudahan catatan-catatan Ahmad Wahid dan Soe Hok Gie menggerakkan orang lain--wabilkhusus saya sendiri--tidak hanya mahasiswa, untuk membuat catatan-catatan harian mengenai peristiwa-peristiwa berbagai hal yang dianggap penting. Karena menurut Muhidin M Dahlan mengkliping pekerjaan politis, mencatat pun pekerjaan politis.[]
Perkara menulis namun tidak ada niatan dan sengaja untuk membukukan ke dalam maha karya, kita bisa belajar dengan sosok pemikir dan tokoh Islam revolusioner, Ahmad Wahid. Ahmad Wahid adalah seorang anak muda kelahiran Madura yang melanjutkan studinya di Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia merantau serta menaburkan pemikiran yang progresif. Wahid adalah seorang intelektual muslim yang organis di Indonesia. Wahid juga benci melihat para pemikir yang duduk di singgah sana menara gading sana. Wahid juga sangat menekankan pentingnya mengembangkan budaya literasi (baca-tulis) untuk umat.
Rubrik yang ditulis oleh seorang Mohamad Afifuddin, yang berjudul Ahmad Wahid dan Supremasi Keaksaraan, (Jawa Pos, 04 Oktober 2009), yang juga asli orang Madura menilai Ahmad Wahid adalah tokoh intelektual muda terkemuka pada zamannya, Wahid memang tidak punya banyak karya (buku), kecuali puing-puing catatan hariannya yang akhirnya dibukukan dalam Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (LP3ES: 1981). Mohamad Afifuddin melacak bahwa buku Ahmad Wahid adalah sebuah buku yang segaris dengan idealismenya sebagai seorang muslim yang dituntut kritis dan mencintai literasi (baca-tulis).
Karena itu, dalam pesan yang ditulis oleh Mohamad Afifuddin Wahib menegaskan, "Membaca, membaca, dan teruslah membaca. Terserah itu buku, majalah, alam, masyarakat, dan manusia. Aku membaca bukan untuk hanya tahu. Aku juga ingin bahwa apa yang kubaca itu ikut membentuk sebagian dari pandanganku. Karena itu, aku mencerna, memeras dengan modal intelektualitas yang tersedia dan dalam pergaulannya dengan situasi. Memang aku bahagia. Dahaga akan segala pengaruh. Karena itu, kubuka bajuku, disajikan tubuhku yang telanjang agar setiap bagian dari tubuhku berkesempatan memandang alam luas dan memperoleh bomberdemen dari segala penjuru. Permainan yang tak akan pernah selesai ini sangat mengasyikkan" (hal 45-46).
Bagi kita, ucapan yang dicetuskan oleh Ahmad Wahib tersebut terlalu berlebihan. Pasalnya, budaya kita telah digerus oleh zaman yang serba canggih dan cepat. Hingga nalar kritis dari seorang intelektualitas pun juga ikut terbawa oleh arus globalisasi yang "cengeng" dan instan. Oleh karena itu, bukan tanpa resiko ungkapan Ahmad Wahid tersebut. Pada masa itu, permainan berpikir ala Ahmad Wahib masih dianggap kontroversial karena dinilai terlalu "liar" dan non-mainstreaming hingga oleh teman-temannya sendiri dimusuhi. Karena ingin konsistensi terhadap pemikirannya Ahmad Wahib pun mengundurkan diri dari organisasinya. Sebuah resiko yang diluar dugaan orang banyak. Tentang kebulatan dan tekad yang kuat dari seorang pemikir Islam ini.
Dalam dunia demontran kita memiliki sosok Soe Hok Gie, seorang demonstran yang sudah keterlaluan dijadikan referensi penulisan demonstrasi hingga saat ini.
Narasi dalam buku Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran (1983, Desember cetakan ke-2) tersebut, menggambarkan bagaimana Gie menjalani laku hidup sebagai seorang demonstran. Agenda peminjaman jas, menunjukkan hidup Gie yang sederhana. Sebagai mahasiswa yang tulisannya sudah dimuat di berbagai koran nasional tidak membuatnya berbangga diri dan hidup parlente. Gie tetap menjalani hidup semestinya, hidup bersama dalam bermasyarakat. Dan ketika melakukan demonstrasi Gie tidak hanya berteori dan bergagasan untuk membela rakyat tertindas, tapi melebur dengan masyarakat guna dapat mengetahui rasa hidup rakyat. Jadi, tidak salah jika Gie dikatakan sebagai “seorang demonstran sejati”, selain sebagai penulis dan pendaki gunung.
Memang tidak banyak mahasiswa seperti, "Soe Hok Gie: seorang pemuda yang tidak hanya belajar dan bertindak berusaha mewujudkan cita-citanya, melainkan juga dengan tekun mencatat apa yang dialaminya, apa yang dipikirkannya. Dengan perantaraan catatan-catatan hariannya dapatlah kita memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan para mahasiswa dengan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mereka," (halaman x-xi).
Soe Hok Gie adalah seorang cendekiawan yang ulung yang terpikat pada ide, pemikiran dan yang terus menerus menggunakan akal pikirannya untuk mengembangkan dan menyajikan ide-ide yang menarik perhatiannya. Tulisan-tulisannya menggugah hati pembaca, menjadikan mereka menyokong sepenuhnya pandangan-pandangan yang dikemukakan atau membenci penulisnya yang berani mengatakan apa yang tidak berani dinyatakan oleh orang lain. (Hal. xi)
Mudah-mudahan catatan-catatan Ahmad Wahid dan Soe Hok Gie menggerakkan orang lain--wabilkhusus saya sendiri--tidak hanya mahasiswa, untuk membuat catatan-catatan harian mengenai peristiwa-peristiwa berbagai hal yang dianggap penting. Karena menurut Muhidin M Dahlan mengkliping pekerjaan politis, mencatat pun pekerjaan politis.[]
إرسال تعليق