Kritik itu memiliki peranan penting untuk menciptakan kemajuan. Jika tidak ada kritik, mungkin kita tidak tahu apa saja hal-hal penting yang seharusnya diperbaiki. Menulis juga harus ada kritik, entah itu kritik yang bersifat membangun maupun kritik yang pedas sekalipun.
Menulis harus siap dengan kritikan yang disampaikan orang lain. Kritiklah! Karena kritik akan membangun karakter kita. Menulis biasanya dihadapkan oleh kritikkan dari yang kita anggap lebih bisa. Memang menulis itu, tak ubahnya kita akan mendakati gunung yang tinggi. Banyak kesiapan yang harus disiapkan untuk mencapai puncak keberhasilan dan menikmati hasil jerih payah selama ini.
Tetapi kritik itu tidak selalu ditanggapi secara baik. Ada pihak-pihak tertentu yang alergi dengan kritik. Bagi kelompok semacam ini, kritik dinilai sebagai penghinaan atau pelecahan. Mereka tersinggung, marah, dan kemudian melakukan perlawanan terhadap pengkritik secara membabi buta.
Ada juga yang terbuka dengan kritik. Kritik apapun akan disikapi secara arif dan bijaksana. Baginya, kritik adalah media konstruktif untuk berbenah. Sebab, tanpa kritik, tidak akan diketahui secara persis apa saja kelemahan dan kekurangan diri.
Seorang penulis harus siap untuk dikritik, dan harus mental dan psikologis. Kenapa harus mental?
Terkadang kita menulis, kita mendapati kritikan yang pedas sekaligus. Entah itu yang bersifat membangun karya kita maupun mengkritik dengan maksud yang tak mengenakkan dalam hati. Dan ada indikasi ingin menjatuhkan atas kerja keras kita.
Dukungan yang bersifat posifi yang membangun maupun yang bersifat mengkritisi, setidaknya menjadi bahan pelecut semangat. Kemauan penulis terkadang terhenti ketika banyak tak suka dengan hasil jerih payah dari karya kita.
Saya ingat betul dengan apa yang saya alami. Ada kejadian yang menggelitik maupun saran dari teman-teman saya yang harus dijadikan bahan pelecut semgat yang membara, bagaikan api yang sedang membara. Saya ingat dengan kutipan yang kata bijak “Batu pertama tidak bisa menjadi mengkilap tanpa ada gesekan; demikian juga dengan manusia, tidak akan bisa menjadi baiktanpa cobaan,” kata William Shakespeare
Saya ingat betul, apa yang dikatakan teman saya yang menyarankan saya untuk pindah jurusan kuliah. Karena kenapa? Bukan karena alasan! Karena memang kecintaanku terhadap dunia tulis menulis. teman saya menyarankan untuk pindah ke jurusan PBSI atau kejurusan sastra. Malah saya hitung ada 4 teman yang mengatakan seperti itu. Dari apa yang dikatakan teman tersebut. Akan saya jadikan pelecut semangat dan terus berkarya semampu saya.
Yang sejatinya saya adalah bisa dibilang olahragawan. Tetapi saya juga suka dalam dunia menulis. sehingga banyak teman yang menyarankan dan ”guyoni” salah jurusan. Memang, salah aakivitas akademik. Saya terdaftar sebagai mahasiswa aktif di salah satu jurusan FKIP. Yang notabene tercetak sebagai guru, dan jurusan yang saya ambil adalah Penjaskesrek, sangat jauh sekali dengan dunia tulis menulis.
Ya, terkadang juga kepikiran dengan saran oleh teman saya. Mungkin saja, kalau saya pada jurusan Bahasa dan Sastra boleh jadi, saya bisa lebih terdidik menjadi seorang penulis yang tak asal-asalan. Tetapi dengan ketelatenan saya untuk belajar dalam ranah dunia tulis menulis, dan untuk menyalurkan hobbi saya sejak masih duduk di bangku dasar. Ya, tidak ada salah untuk terus belajar tulis menulis. Dan budaya membaca yang saya bangun, tidaklah tanpa alasan untuk terus belajar menulis walau ada pendapat dari orang lain. Kalau saya salah jurusan.
Saya lebih suka membaca buku daripada menonton yang namanya televisi. Karena budaya menonton, secara tidak sadar kita disuruh meniru dan membeli dengan apa produk yang ditawarkan di televisi. Sedangkan dengan membaca kita banyak wawasan dan pengetahuan, membangun imajinasi dan membagun banyak pilihan soal karakter dan gaya hidup.
Dan yang mengelitik di telinga katika saya, ketika membaca buku yang berjudul “Tidur Berbantal Koran”. Adalah kisah inspiratif seorang penjual koran menjadi wartawan. Ternyata dari judu buku tersebut teman saya Brian dan Febri(teman kontrakan) mengomentari yang membuat hati ini menggelitik.
Memang pada dasarnya teman saya tersebut tidak suka membaca. Dari buku tersebut bukannya di baca apa yang di sampaikan oleh si penulis tetapi dikomentari dari cover depan tanpa ia menyentuhnya langsung.
Judul buku seharusnya dibuat semenarik mungkin untuk memikat para pembacanya, sehingga tidak salah dengan judul buku tersebut. Salah satu trik uuntuk memikat pembaca untuk penasaran dengan apa yang disampaikan oleh penulis, adalah dengan membuat judul berkesan semenarik mungkin. Itu memang dilakukan oleh semua penulis dan di sarankan seperti itu.
Dan para penulis harus siap untuk di kritik untuk kebaikan menulis semakin matang dan semakin percaya diri dari kritikan tersebut. Tetapi harus disikapi secara bijak dan positif. Bahwa kritik sepedas apapun itu adalah usaha untuk mendewasakan diri untuk berkarya terus.
Pernahkah para pengkritik mengkritik dirinya sendiri? Walaupun kritik itu perlu, seyogyanya disampaikan secara baik. Tujuan kritik seharusnya adalah untuk perbaikan, bukan untuk membuat musuh. Tukang kritik sendiri—sejauh pengamatan saya—biasanya juga bukan figur ideal. Ia bisa mengkritik, tetapi belum tentu bisa melakukan.
Nah, jika Anda ingin mengkritik, silahkan saja. Tetapi penting juga untuk dipertimbangkan apakah Anda lebih baik dari yang Anda kritik? Paling tidak pepatah Arab yang berbunyi Ibda’ binafsika, mulailah dari dirimu sendiri, penting sebagai bahan renungan. []
Menulis harus siap dengan kritikan yang disampaikan orang lain. Kritiklah! Karena kritik akan membangun karakter kita. Menulis biasanya dihadapkan oleh kritikkan dari yang kita anggap lebih bisa. Memang menulis itu, tak ubahnya kita akan mendakati gunung yang tinggi. Banyak kesiapan yang harus disiapkan untuk mencapai puncak keberhasilan dan menikmati hasil jerih payah selama ini.
Tetapi kritik itu tidak selalu ditanggapi secara baik. Ada pihak-pihak tertentu yang alergi dengan kritik. Bagi kelompok semacam ini, kritik dinilai sebagai penghinaan atau pelecahan. Mereka tersinggung, marah, dan kemudian melakukan perlawanan terhadap pengkritik secara membabi buta.
Ada juga yang terbuka dengan kritik. Kritik apapun akan disikapi secara arif dan bijaksana. Baginya, kritik adalah media konstruktif untuk berbenah. Sebab, tanpa kritik, tidak akan diketahui secara persis apa saja kelemahan dan kekurangan diri.
Seorang penulis harus siap untuk dikritik, dan harus mental dan psikologis. Kenapa harus mental?
Terkadang kita menulis, kita mendapati kritikan yang pedas sekaligus. Entah itu yang bersifat membangun karya kita maupun mengkritik dengan maksud yang tak mengenakkan dalam hati. Dan ada indikasi ingin menjatuhkan atas kerja keras kita.
Dukungan yang bersifat posifi yang membangun maupun yang bersifat mengkritisi, setidaknya menjadi bahan pelecut semangat. Kemauan penulis terkadang terhenti ketika banyak tak suka dengan hasil jerih payah dari karya kita.
Saya ingat betul dengan apa yang saya alami. Ada kejadian yang menggelitik maupun saran dari teman-teman saya yang harus dijadikan bahan pelecut semgat yang membara, bagaikan api yang sedang membara. Saya ingat dengan kutipan yang kata bijak “Batu pertama tidak bisa menjadi mengkilap tanpa ada gesekan; demikian juga dengan manusia, tidak akan bisa menjadi baiktanpa cobaan,” kata William Shakespeare
Saya ingat betul, apa yang dikatakan teman saya yang menyarankan saya untuk pindah jurusan kuliah. Karena kenapa? Bukan karena alasan! Karena memang kecintaanku terhadap dunia tulis menulis. teman saya menyarankan untuk pindah ke jurusan PBSI atau kejurusan sastra. Malah saya hitung ada 4 teman yang mengatakan seperti itu. Dari apa yang dikatakan teman tersebut. Akan saya jadikan pelecut semangat dan terus berkarya semampu saya.
Yang sejatinya saya adalah bisa dibilang olahragawan. Tetapi saya juga suka dalam dunia menulis. sehingga banyak teman yang menyarankan dan ”guyoni” salah jurusan. Memang, salah aakivitas akademik. Saya terdaftar sebagai mahasiswa aktif di salah satu jurusan FKIP. Yang notabene tercetak sebagai guru, dan jurusan yang saya ambil adalah Penjaskesrek, sangat jauh sekali dengan dunia tulis menulis.
Ya, terkadang juga kepikiran dengan saran oleh teman saya. Mungkin saja, kalau saya pada jurusan Bahasa dan Sastra boleh jadi, saya bisa lebih terdidik menjadi seorang penulis yang tak asal-asalan. Tetapi dengan ketelatenan saya untuk belajar dalam ranah dunia tulis menulis, dan untuk menyalurkan hobbi saya sejak masih duduk di bangku dasar. Ya, tidak ada salah untuk terus belajar tulis menulis. Dan budaya membaca yang saya bangun, tidaklah tanpa alasan untuk terus belajar menulis walau ada pendapat dari orang lain. Kalau saya salah jurusan.
Saya lebih suka membaca buku daripada menonton yang namanya televisi. Karena budaya menonton, secara tidak sadar kita disuruh meniru dan membeli dengan apa produk yang ditawarkan di televisi. Sedangkan dengan membaca kita banyak wawasan dan pengetahuan, membangun imajinasi dan membagun banyak pilihan soal karakter dan gaya hidup.
Dan yang mengelitik di telinga katika saya, ketika membaca buku yang berjudul “Tidur Berbantal Koran”. Adalah kisah inspiratif seorang penjual koran menjadi wartawan. Ternyata dari judu buku tersebut teman saya Brian dan Febri(teman kontrakan) mengomentari yang membuat hati ini menggelitik.
Memang pada dasarnya teman saya tersebut tidak suka membaca. Dari buku tersebut bukannya di baca apa yang di sampaikan oleh si penulis tetapi dikomentari dari cover depan tanpa ia menyentuhnya langsung.
Judul buku seharusnya dibuat semenarik mungkin untuk memikat para pembacanya, sehingga tidak salah dengan judul buku tersebut. Salah satu trik uuntuk memikat pembaca untuk penasaran dengan apa yang disampaikan oleh penulis, adalah dengan membuat judul berkesan semenarik mungkin. Itu memang dilakukan oleh semua penulis dan di sarankan seperti itu.
Dan para penulis harus siap untuk di kritik untuk kebaikan menulis semakin matang dan semakin percaya diri dari kritikan tersebut. Tetapi harus disikapi secara bijak dan positif. Bahwa kritik sepedas apapun itu adalah usaha untuk mendewasakan diri untuk berkarya terus.
Kamu pantasnya pindah di Bahasa saja, Mas!Kata teman yang memuji ku.Ogah!Pengkritik sendiri seharusnya juga menyadari bahwa mengkritik itu pekerjaan yang paling mudah. Siapa saja bisa melakukannya. Lihatlah hidup kita sehari-hari. Isi diskusi dan perbincangan kebanyakan ’menguliti’ kesalahan dan kekurangan orang lain.
Aku tak mau belajar dengan gaya klasik, belajar menghajar dan menghitung angka-angka peristiwa.Biarkan aku belajar menghafal ukuran-ukuran lapangan ilalangYang membentang bujursangkar antara selatan dan utara.
Pernahkah para pengkritik mengkritik dirinya sendiri? Walaupun kritik itu perlu, seyogyanya disampaikan secara baik. Tujuan kritik seharusnya adalah untuk perbaikan, bukan untuk membuat musuh. Tukang kritik sendiri—sejauh pengamatan saya—biasanya juga bukan figur ideal. Ia bisa mengkritik, tetapi belum tentu bisa melakukan.
Nah, jika Anda ingin mengkritik, silahkan saja. Tetapi penting juga untuk dipertimbangkan apakah Anda lebih baik dari yang Anda kritik? Paling tidak pepatah Arab yang berbunyi Ibda’ binafsika, mulailah dari dirimu sendiri, penting sebagai bahan renungan. []
إرسال تعليق