Semarak dunia media sosial sedemikian rupa semaraknya dunia tulis-menulis. Dunia tulis-menulis semakin gayeng ditandai oleh masyarakat sadar akan pentingnya dunia menulis di media sosial. Meski demikian, ini tidak bisa dijadikan patokan yang serius. Akapengantar napi, tidak menafikan kontribusi masyarakat terhadap dunia tulis, dengan semakin banyaknya jumlah orang menulis di media sosial: catatan Facebook, blog, twitter hingga milling list yang lain adalah tanda semakin meningkat budaya menulis itu.
Karena menulis--disadari atau tidak--merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap orang, terutama mereka yang menginginkan nilai-nilai kebaikan dalam hidupnya. Bahkan, maju-tidaknya suatu negara, hal itu dapat dilihat dari jumlah keterbatasan perpustakaan dan budaya membaca dan menulis. Jika masyarakat dalam satu negara mempunyai budaya literasi yang tinggi maka kualitas sebuah negara juga ikut maju. Demikian juga masyarakatnya, manakala orang-orangnya memiliki budaya membaca dan menulis maka akan mempengaruhi kualitas taraf hidup masyarakat itu sendiri.
Akan tetapi, jika kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, maka masyarakat kita, khususnya Indonesia, tidak memiliki budaya membaca dan menulis. Budaya masyarakat dan rakyat Indonesia lebih didominasi dengan budaya tonton. Masyarakat kita lebih suka dengan melihat televisi dibanding dengan membaca. Ini terlihat setiap harinya, saya ambil contoh di lingkungan keluarga saya sendiri, budaya tonton sangat kuat sekali. Misalnya, adik terkecil saya. Bangun dari tidur pagi-pagi yang dicari bukan yang semestinya diperlukan, semacam, seperti lagu itu, bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi ... dan lain sebagainya. Melainkan, melihat Upin dan Ipin hingga masuk waktu untuk berangkat sekolah. Melihat televisi masih terjaga hingga pulang sekolah. Malam pun demikian, waktu masuk untuk belajar yang pertama dijamah adalah televisi. Televisi semakin hari semakin menjadi ibu yang menjaga dan merawat diri dari ketentraman dan kenyamanan. Budaya baca yang seharusnya digiatnya malah nggak dikenalnya.
Seperti adagium yang telah banyak orang kenal, buku identik dengan 'jendela dunia' atau 'gudangnya ilmu' maka untuk membuka jendela atau gudang tersebut tidak lain dengan kunci. Dan kuncinya ada di membaca. Dengan membaca jendela atau gudang tersebut akan terbuka dengan wawasan dan pengetahuan selama akumulatif dari membaca tersebut. Jadi, tidak dipungkiri budaya membaca harus digalakkan menjadi budaya dalam masyarakat.
Seperti saya ini, setelah membaca bukunya pak Wawan Susetya "Menulis dengan Hati, Menulis Merdeka: Bekerja untuk Keabadian" (2014) inilah saya terinspirasi dengan judulnya. Judul ini, jujur saja saya dapat setelah saya membolak-balikkan buku tersebut. Judul tersebut juga saya pakai dari kata pengantar dari buku itu juga. Menulis adalah membaca ulang. Artinya, yang saya lakukan ini adalah membaca ulang dengan cara mencukil judulnya yang kemudian saya tulis dengan gaya dan kemampuan saya sendiri. Dengan "jam terbang" yang minim, saya menulis ulang dan melebarkan memakai gagasan dan pengetahuan saya. Yang saya dapat dari literatur dari buku-buku yang pernah saya bacai. Karena menulis menjadi hal yang tidak bisa ditinggal bagi saya, di manapun dan kapanpun ada kesempatan saya menulis. Seperti hasilnya yang ada dihadapkan dan sedang Anda nikmati ini.
Budaya membaca sebagaimana budaya menulis ibarat dua sisi mata uang. Saling berkaitan. Apabila memiliki budaya membaca yang kuat budaya menulis juga ikut terikat. Artinya, hal ini menyangkut kebiasaan saja. Semakin lama 'jam terbang' seseorang menggeluti dunia tulis-menulis niscaya akan teratasi dengan semakin giat membaca, demikian pula dengan menulis, kesulitan dalam menulis akan teratasi dengan semakin seringnya berlatih menulis setiap hari.
Itu sebabnya agama Islam mewajibkan umatnya untuk menulis. Meski yang diperintahkan secara eksplisit dalam QS. Al-Baqarah [2]: 282, adalah menuliskan hubungan muamalah dalam utang-piutang tapi itu secara implisit mendorong umat Islam untuk melakukan menulis sebagai bagian hidup sehari-hari.
Salah seorang Ulama kenamaan yang sering menyuntikkan energi atau semangat menulis yaitu Imam Al-Ghazali. Perhatikan dan renungkanlah penuturan Sang Hujjaratul Islam: " Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." Barangkali, yang dimaksudkan Imam al-Ghazali dengan pernyataan ini bahwa seorang Muslim dapat beramal sholeh dengan menulis buku. Sebab, dengan menulis buku, ia secara otomatis harus belajar ilmu terlebih dahulu, lalu diamalkan dengan ikhlas. Berbeda dengan anak raja yang dengan segala fasilitas dan kekuasaannya ia dapat beramal sholeh. Demikian halnya dengan anak seorang ulama besar, yang dengan ilmunya ia lang dapat berdakwah di tengah-tengah masyarakat.
Imam Al-Ghazali sendiri adalah seorang ulama besar yang karya bukunya mencapai 313, sedang yang sudah beredar ke Indonesia sekitar 18 buku. Salah satu karya Imam Ghazali yang paling termasyhur dan kesohor yaitu berjudul Ihya' Ulumuddien. Subhanallah.
Disinilah esensi yang sesungguhnya tentang pentingnya menulis bagi diri kita. Yang jelas, menulis ya bersifat positif dan mendatangkan kemanfaatan, memberikan inspirasi, menggugah jiwa, membangkitkan semangat, mengandung ilmu penting dan seterusnya.[]
Karena menulis--disadari atau tidak--merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap orang, terutama mereka yang menginginkan nilai-nilai kebaikan dalam hidupnya. Bahkan, maju-tidaknya suatu negara, hal itu dapat dilihat dari jumlah keterbatasan perpustakaan dan budaya membaca dan menulis. Jika masyarakat dalam satu negara mempunyai budaya literasi yang tinggi maka kualitas sebuah negara juga ikut maju. Demikian juga masyarakatnya, manakala orang-orangnya memiliki budaya membaca dan menulis maka akan mempengaruhi kualitas taraf hidup masyarakat itu sendiri.
Akan tetapi, jika kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, maka masyarakat kita, khususnya Indonesia, tidak memiliki budaya membaca dan menulis. Budaya masyarakat dan rakyat Indonesia lebih didominasi dengan budaya tonton. Masyarakat kita lebih suka dengan melihat televisi dibanding dengan membaca. Ini terlihat setiap harinya, saya ambil contoh di lingkungan keluarga saya sendiri, budaya tonton sangat kuat sekali. Misalnya, adik terkecil saya. Bangun dari tidur pagi-pagi yang dicari bukan yang semestinya diperlukan, semacam, seperti lagu itu, bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi ... dan lain sebagainya. Melainkan, melihat Upin dan Ipin hingga masuk waktu untuk berangkat sekolah. Melihat televisi masih terjaga hingga pulang sekolah. Malam pun demikian, waktu masuk untuk belajar yang pertama dijamah adalah televisi. Televisi semakin hari semakin menjadi ibu yang menjaga dan merawat diri dari ketentraman dan kenyamanan. Budaya baca yang seharusnya digiatnya malah nggak dikenalnya.
Seperti adagium yang telah banyak orang kenal, buku identik dengan 'jendela dunia' atau 'gudangnya ilmu' maka untuk membuka jendela atau gudang tersebut tidak lain dengan kunci. Dan kuncinya ada di membaca. Dengan membaca jendela atau gudang tersebut akan terbuka dengan wawasan dan pengetahuan selama akumulatif dari membaca tersebut. Jadi, tidak dipungkiri budaya membaca harus digalakkan menjadi budaya dalam masyarakat.
Seperti saya ini, setelah membaca bukunya pak Wawan Susetya "Menulis dengan Hati, Menulis Merdeka: Bekerja untuk Keabadian" (2014) inilah saya terinspirasi dengan judulnya. Judul ini, jujur saja saya dapat setelah saya membolak-balikkan buku tersebut. Judul tersebut juga saya pakai dari kata pengantar dari buku itu juga. Menulis adalah membaca ulang. Artinya, yang saya lakukan ini adalah membaca ulang dengan cara mencukil judulnya yang kemudian saya tulis dengan gaya dan kemampuan saya sendiri. Dengan "jam terbang" yang minim, saya menulis ulang dan melebarkan memakai gagasan dan pengetahuan saya. Yang saya dapat dari literatur dari buku-buku yang pernah saya bacai. Karena menulis menjadi hal yang tidak bisa ditinggal bagi saya, di manapun dan kapanpun ada kesempatan saya menulis. Seperti hasilnya yang ada dihadapkan dan sedang Anda nikmati ini.
Budaya membaca sebagaimana budaya menulis ibarat dua sisi mata uang. Saling berkaitan. Apabila memiliki budaya membaca yang kuat budaya menulis juga ikut terikat. Artinya, hal ini menyangkut kebiasaan saja. Semakin lama 'jam terbang' seseorang menggeluti dunia tulis-menulis niscaya akan teratasi dengan semakin giat membaca, demikian pula dengan menulis, kesulitan dalam menulis akan teratasi dengan semakin seringnya berlatih menulis setiap hari.
Itu sebabnya agama Islam mewajibkan umatnya untuk menulis. Meski yang diperintahkan secara eksplisit dalam QS. Al-Baqarah [2]: 282, adalah menuliskan hubungan muamalah dalam utang-piutang tapi itu secara implisit mendorong umat Islam untuk melakukan menulis sebagai bagian hidup sehari-hari.
Salah seorang Ulama kenamaan yang sering menyuntikkan energi atau semangat menulis yaitu Imam Al-Ghazali. Perhatikan dan renungkanlah penuturan Sang Hujjaratul Islam: " Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis." Barangkali, yang dimaksudkan Imam al-Ghazali dengan pernyataan ini bahwa seorang Muslim dapat beramal sholeh dengan menulis buku. Sebab, dengan menulis buku, ia secara otomatis harus belajar ilmu terlebih dahulu, lalu diamalkan dengan ikhlas. Berbeda dengan anak raja yang dengan segala fasilitas dan kekuasaannya ia dapat beramal sholeh. Demikian halnya dengan anak seorang ulama besar, yang dengan ilmunya ia lang dapat berdakwah di tengah-tengah masyarakat.
Imam Al-Ghazali sendiri adalah seorang ulama besar yang karya bukunya mencapai 313, sedang yang sudah beredar ke Indonesia sekitar 18 buku. Salah satu karya Imam Ghazali yang paling termasyhur dan kesohor yaitu berjudul Ihya' Ulumuddien. Subhanallah.
Disinilah esensi yang sesungguhnya tentang pentingnya menulis bagi diri kita. Yang jelas, menulis ya bersifat positif dan mendatangkan kemanfaatan, memberikan inspirasi, menggugah jiwa, membangkitkan semangat, mengandung ilmu penting dan seterusnya.[]
إرسال تعليق