Dulu menyebut nama Kabupaten Trenggalek di kota lain mengundang tanya. Trenggalek itu mana? Begitu tanya yang timbul selepas mendengar nama Trenggalek. Terpilihnya Bupati Dr. Emil Elestianto (yang kini Emil terpilih jadi Wakil Gubernur Jawa Timur) dan Wakil Bupati Muhammad Nur Arifin, nama Trenggalek sedikit terangkt secara nasional.
Kedua pemimpin ini usia masih muda. Lantas mereka diundang di televisi nasional untuk berbicara gebrakannya memimpin wilayah di usia muda. Mereka juga lantas sedikit “mencuri” dan memperkenalkan nama kota tempatnya mengabdi sebagai promosi di tingkat nasional. Rasanya ini nilai plus untuk memperkenalkan namanya di tingkat atas.
Namun yang penting untuk mempromosikan dan dikenal tidak hanya bicara banyak. Tetapi kinerja dan kebijakannya selaras dengan semangat jiwa mudanya yang membangun. Krisis yang melekat di kabupaten Trenggalek jadi tantangannya. Kita wajib ketahui, Trenggalek adalah sebuah wilayah di selatan Pulau Jawa memiliki rekam historis sebagai wilayah tak subur dan tertinggal.
Nama Kabupaten Trenggalek merupakan daerah atau wilayah yang identik dengan “tempat yang jauh” alias “daerah pedalaman”. Jauh di sini adalah tempat yang sulit dijangkau dari beberapa pusat kota. Begitu keterangan S. Wojowasito, yang Mbah Hamid—salah satu penulis Sejarah Trenggalek—mendermakan ceritanya kepada penulis dalam buku ini (hlm. 9).
Di lain sisi, nama Trenggalek juga memiliki konotasi negatif. Dalam buku tersebut, penulis memapar dengan apik geneologis nama Trenggalek. Meski perlu penelitian dan kajian lebih, setidaknya data-data yang dipaparkan oleh Misbahus Surur bisa melengkapi minimnya pengetahuan pembaca.
Pembaca dibawa pada pemahaman yang kolektif. Di mana nama Trenggalek memiliki konotasi yang tidak , maka ada upaya untuk mengubah dari Trenggalek jadi Trenggalih, yang memiliki makna yang baik dan membangun.
Mengkreasikan Diri
Membangun Trenggalek memang menjadi tantangan tersendiri
bagi siapa saja yang memimpin kabupaten ini. Sehingga pembangunan daerah ini jadi prioritas untuk mengimbangi daerah-daerah tetangga dan menghilangkan statemen bahwa Trenggalek adalah daerah tertinggal.
Nah, membangun sebuah daerah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi secara konteks sosiologis-geografis, kota tersebut jauh dan tidak terhubung secara strategis dengan kota lainnya.
Oleh karena itu, munculnya duet Mas Emil dan Mas Ipin, Misbahus Surur menegaskan supaya kabupaten ini untuk lebih “...pandai mengkreasi dirinya
lebih banyak dengan banyak yang sudah ada, namun tetap mengacu kepada karakter yang ada” (hlm. 3).
Bagi pemuda asli Munjungan, salah satu kecamatan di selatan Kabupaten Trenggalek ini seperti dikutipnya dari Italo Calvino, “Cities
like dreams, are made of desires and fears.” Ia begitu mencintai kota kelahirannya dengan tulus, tetapi juga kritis. Tulus karena tak ingin kota kelahirannya tersebut terperosok dalam lubang kemunduran.
Oleh karena, wujud cintanya tersebut, ia tuangkan dengan cara unik nan kritis. Terlebih kota yang dahulu dirasa kurang apresiatif dan terbelakang itu.
Sebab membentuk Trenggalek tidak lah gampang. Trenggalek memiliki keunikan, kesahajaan dan sejarahnya yang begitu panjang.
“Membangun Trenggalek seperti memanjat kekekaran gunung dengan liku jalan dan terjalnya buk it,” tulisnya dalam Ambiguitas Pembangunan. “Sebab membangun sebuah
daerah tak sebatas membenahi ataumemermak wajah dalam bentuk permukaan. Menampilkan kota tak melulu dibangun
dengan prioritas kecantikan tampilannya. Membangun daerah Trenggalek adalah membangun
keseluruhan dari bagian tubuh,” (hlm.45).
Karena melakukan pembangunan perlu sebagai memiliki nalar kebudayaan. Sebab, pemimpin memiliki nalar kebudayaan memberi pemahaman agar pembangunan tak melulu soal bentuk, tetapi juga etos dan nilai, dan tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena kita harus membangun daerah sebagai
jawaban keinginan masyarakat. Daerah Trenggalek pun membutuhkan pembangunan yang seimbang, antara kebutuhan masyarakat dan terobosan yang mengentaskan mental dan kesadaran manusianya untuk maju lebih tinggi.
Lewat buku Trenggalek, Pada Suatu Pagi dengan sampul gambar peta Kabupaten Trenggalek ini harus dibaca oleh masyarakat Trenggalek dan masyarakat luar. Kekuatan buku ini tidak berangkat dari asumsi pribadi. Namun buku yang jadi salah satu hadiah pernikahannya dijejali oleh
data-data yang valid dan riset serius yang dirajut dalam gaya bahasa yang khas. Pembaca bakal dibawa pada pembacaan yang tak terduga dari sebelumnya.
إرسال تعليق