Perempuan itu memiliki sifat dan naluri sensitif dan selektif. Sifat sensitif dan selektif ini merupakan salah satu kodrat seorang perempuan. Perempuan memang dibekali insting yang kuat dalam memilih dan menentukan dengan sifat manjanya. Perkara kodrat dalam menentukan dan mempertimbangkan segala sesuatu ini berurusan tentang material adalah hobinya.
Namun bagaimana jadinya seorang perempuan dihadapkan dua pilihan; salon atau mall dan toko buku? Maka nalurinya dengan cepat kilat sebagai seorang perempuan bakal bekerja secara alamiah. Ia tanpa berpikir panjang insting akan mengarahkan pilihan dan kesukaannya pada sesuatu yang nyata dan tentunya materialistik. Jika seseorang itu menyukai pada keramaian, maka dengan lantang mall jadi pilihannya dan salon jadi pilihan yang tak terhindarkan.
Kita berani taruhan. Seorang perempuan kuat berapa jam bertahan dalam romantisme toko buku? Atau kita rekam dan bandingkan guratan wajahnya saat berada di mall atau salon? Perbandingan ini sudah bisa ditebak dan akan menampakan hasil yang dominan. Di antara dua romantisme itu mata seorang perempuan akan bertahan cukup lama dan menikmati bahkan lebih intim di antara belantara baju-baju, kosmetik dan barang-barang lain beserta isi mengundang khilaf dan nafsu.
Tatkala berada di antara tumpukan-tumpukan kertas yang dijilid rapi dengan cover menarik, seseorang yang tidak memiliki minat baca, baik perempuan maupun laki-laki, ia tidak kuat bertahan lama. Pun saya bisa amati, mantan pacar saya dulu—saat ini telah jadi istri saya—kala saya ajak berkunjung ke toko buku atau perpustakaan ia lebih berasik-mansyuk dengan gadgetnya sendiri. Ia tak sudi menimbang—mengangkat buku, membaca snopsis, atau mengupdate buku baru yang berada di hadapannya.
Begitupun para mahasiswa yang harusnya bergelut dengan buku dan ilmu. Jika tidak ada tugas dari dosennya, buku adalah nomor sekian setelah beberapa piranti lain yang ada di tasnya. Wajah tampak tak bersahabat dengan buku. Selain itu, durasi di toko buku tak bertahan lama. Perasaannya gundah gulana. Seakan melarikan diri terbirit-birit atau bingung, buku tak berdandan dan tak penting untuk berpenampilan di depannya.
Kalaupun ia berasyik-mansyuk, buku jadi pelengkap status di media sosial. Pengabar dan pamer atas kegirangan dan kebahagian bersama buku. Kalau ingin ngehits dan tampak intelek, buku menjadi buah kutipan di media sosial. Pujian dan “like” membuat seseorang jadi terkenal dan dianggap melek huruf nan bijak.
Bagi sebagian orang memandang buku sebagai benda tak ternilai. Hanya seonggok kertas ditumpuk berlapis-lapis dan dijilid. Dibanding peralatan mandi, aksesoris, maupun paketan internet, buku ada di barisan paling bawah. Orang yang memiliki perilaku konsumtif, membeli semua kebutuhan fisik tanpa ada masalah dan beban. Berbeda ketika membeli peralatan untuk memanjakan atau mengup-grade otak, beratnya minta ampun.
Kalau kita rujuk hingga keadaan saat ini, buku bukan menjadi referensi para kaum hawa bahkan politikus. Mereka lebih memilih telepon pintar, shopping di mall daripada membeli buku. Alasannya sederhana, buku menjemukan. Dengan telepon pintar mereka bisa up date berita untuk menyerang lawan, main Facebook, Twitter, Instagram dan menghubungi kekasih gelap.
Setyaningsih mewakili perempuan dengan lantang mengamini perilaku itu. Sudah barang tentu, salon lebih menggugah gairah. Perempuan dan salon selalu bermesraan. Keintiman perempuan dan salon begitu lekat. Pun romantisme perempuan dengan mall begitu erat. Dunia perempuan penuh dengan cerita dan obrolan. Obrolan tentang kosmetik, busana, rumah tangga, jilbab, sepatu, tas dan impian-impian masa depan yang mengepul di angan-angan.
Peristiwa tersebut representasi kehidupan perempuan jauh panggang dari api. Adakah waktu bagi perempuan berkisah buku. Berceloteh dengan asik saat peristiwa-peristiwa memegang buku. Mengulas dan mengobrolkan. Serta membuka lembaran-lembaran buku dan dilengkapi oleh menceritakan buku lewat ulasan maupun resensi.
Peristiwa-peristiwa intelektual tersebut masih didominasi oleh kemesraan salon. Untuk itu, berharaplah dan berdoalah bahwa buku juga ada dalam obrolan perempuan di sela-sela jam kerja, jam istirahat, jam pedikur-medikur, hari libur ataupun bermain dengan anak-anak.
Buku Melulu Buku dengan cover anak-anak belajar bersama. Mereka memakai baju adat jawa mengisyaratkan gerola belajar tinggi. Buku yang lahir dalam sajian sejinah tampil mengisahkan perempuan-perempuan perupa dan pejuang buku. Entah perempuan maupun laki-laki kudu bergelut dengan belajar dan buku. Menikmati buku yang ditulis perempuan yang hari-harinya dijalani dengan membaca, menulis, dan dolan-dolan ke rumah para buku. Setyaningsih dalam kalam pembuka di bukunya Melulu Buku, di halaman 10, mengatakan “keluarganya menjadi ‘korban’ dengan memboyong buku-buku dari rumah buku di Colomadu”. Posisi ini menggambarkan, perempuan bukan saja soal kosmetik dan kecantikan.
Juga bukan melulu pada M3 (Masak, Macak, Manak). Ia sadar. Tugas seorang perempuan tidak hanya sebatas oleh M3, tetapi juga melawan kebodohan. Setyaningsih, agaknya ‘melawan fitrah’ seorang perempuan dengan memperdalam dan membangun imajinasi dengan membaca dan menulis. “Keluargaku, agaknya menjadi yang paling merana sekaligus mau tidak mau kudu nrimo saat aku membawa pulang berkresek-kresek buku. Buku terlanjur menjadi teman imanjinatif dalam kesukaan dan kedukaan.”
Sepertinya, perempuan (Setyaningsih) selalu ada waktu untuk buku. Buku selalu ada di momentum usai bersantap malam, sebelum tidur, kekecewaan dan pengasingan di perpustakaan keluarga maupun di tempat-tempat umum. Bahkan, masih menurutnya, buku ada salam situasi krisis, melarat, atau gawat, ketidak-menyerahan bersama buku. Dengan berliterasi, ia selalu belajar atau istilah “sinau” memperbaiki diri. Pekerjaan membaca dan menulis, ia lakoni untuk mengevaluasi diri.
Hal itu sekalipun perempuan tradisionalis maupun modern harus bisa membagi waktu antara belajar keterampilan, membaca dan menulis. Misal, Raden Ajeng Kartini, salah satu sosok perempuan yang menderma dirinya di jalan literasi. Menjadi perempuan patut memilih. Pilihan hanya ada dua. Merawat kewarasan dengan mengesah kekhawatiran, kekecewaan dan kegelisahan dengan membaca. Seperti dikatakan Dian Sastrowardoyo, organ tubuh paling seksi adalah otak.
Namun bagaimana jadinya seorang perempuan dihadapkan dua pilihan; salon atau mall dan toko buku? Maka nalurinya dengan cepat kilat sebagai seorang perempuan bakal bekerja secara alamiah. Ia tanpa berpikir panjang insting akan mengarahkan pilihan dan kesukaannya pada sesuatu yang nyata dan tentunya materialistik. Jika seseorang itu menyukai pada keramaian, maka dengan lantang mall jadi pilihannya dan salon jadi pilihan yang tak terhindarkan.
Kita berani taruhan. Seorang perempuan kuat berapa jam bertahan dalam romantisme toko buku? Atau kita rekam dan bandingkan guratan wajahnya saat berada di mall atau salon? Perbandingan ini sudah bisa ditebak dan akan menampakan hasil yang dominan. Di antara dua romantisme itu mata seorang perempuan akan bertahan cukup lama dan menikmati bahkan lebih intim di antara belantara baju-baju, kosmetik dan barang-barang lain beserta isi mengundang khilaf dan nafsu.
Tatkala berada di antara tumpukan-tumpukan kertas yang dijilid rapi dengan cover menarik, seseorang yang tidak memiliki minat baca, baik perempuan maupun laki-laki, ia tidak kuat bertahan lama. Pun saya bisa amati, mantan pacar saya dulu—saat ini telah jadi istri saya—kala saya ajak berkunjung ke toko buku atau perpustakaan ia lebih berasik-mansyuk dengan gadgetnya sendiri. Ia tak sudi menimbang—mengangkat buku, membaca snopsis, atau mengupdate buku baru yang berada di hadapannya.
Begitupun para mahasiswa yang harusnya bergelut dengan buku dan ilmu. Jika tidak ada tugas dari dosennya, buku adalah nomor sekian setelah beberapa piranti lain yang ada di tasnya. Wajah tampak tak bersahabat dengan buku. Selain itu, durasi di toko buku tak bertahan lama. Perasaannya gundah gulana. Seakan melarikan diri terbirit-birit atau bingung, buku tak berdandan dan tak penting untuk berpenampilan di depannya.
Kalaupun ia berasyik-mansyuk, buku jadi pelengkap status di media sosial. Pengabar dan pamer atas kegirangan dan kebahagian bersama buku. Kalau ingin ngehits dan tampak intelek, buku menjadi buah kutipan di media sosial. Pujian dan “like” membuat seseorang jadi terkenal dan dianggap melek huruf nan bijak.
Bagi sebagian orang memandang buku sebagai benda tak ternilai. Hanya seonggok kertas ditumpuk berlapis-lapis dan dijilid. Dibanding peralatan mandi, aksesoris, maupun paketan internet, buku ada di barisan paling bawah. Orang yang memiliki perilaku konsumtif, membeli semua kebutuhan fisik tanpa ada masalah dan beban. Berbeda ketika membeli peralatan untuk memanjakan atau mengup-grade otak, beratnya minta ampun.
Kalau kita rujuk hingga keadaan saat ini, buku bukan menjadi referensi para kaum hawa bahkan politikus. Mereka lebih memilih telepon pintar, shopping di mall daripada membeli buku. Alasannya sederhana, buku menjemukan. Dengan telepon pintar mereka bisa up date berita untuk menyerang lawan, main Facebook, Twitter, Instagram dan menghubungi kekasih gelap.
Setyaningsih mewakili perempuan dengan lantang mengamini perilaku itu. Sudah barang tentu, salon lebih menggugah gairah. Perempuan dan salon selalu bermesraan. Keintiman perempuan dan salon begitu lekat. Pun romantisme perempuan dengan mall begitu erat. Dunia perempuan penuh dengan cerita dan obrolan. Obrolan tentang kosmetik, busana, rumah tangga, jilbab, sepatu, tas dan impian-impian masa depan yang mengepul di angan-angan.
Peristiwa tersebut representasi kehidupan perempuan jauh panggang dari api. Adakah waktu bagi perempuan berkisah buku. Berceloteh dengan asik saat peristiwa-peristiwa memegang buku. Mengulas dan mengobrolkan. Serta membuka lembaran-lembaran buku dan dilengkapi oleh menceritakan buku lewat ulasan maupun resensi.
Peristiwa-peristiwa intelektual tersebut masih didominasi oleh kemesraan salon. Untuk itu, berharaplah dan berdoalah bahwa buku juga ada dalam obrolan perempuan di sela-sela jam kerja, jam istirahat, jam pedikur-medikur, hari libur ataupun bermain dengan anak-anak.
Buku Melulu Buku dengan cover anak-anak belajar bersama. Mereka memakai baju adat jawa mengisyaratkan gerola belajar tinggi. Buku yang lahir dalam sajian sejinah tampil mengisahkan perempuan-perempuan perupa dan pejuang buku. Entah perempuan maupun laki-laki kudu bergelut dengan belajar dan buku. Menikmati buku yang ditulis perempuan yang hari-harinya dijalani dengan membaca, menulis, dan dolan-dolan ke rumah para buku. Setyaningsih dalam kalam pembuka di bukunya Melulu Buku, di halaman 10, mengatakan “keluarganya menjadi ‘korban’ dengan memboyong buku-buku dari rumah buku di Colomadu”. Posisi ini menggambarkan, perempuan bukan saja soal kosmetik dan kecantikan.
Juga bukan melulu pada M3 (Masak, Macak, Manak). Ia sadar. Tugas seorang perempuan tidak hanya sebatas oleh M3, tetapi juga melawan kebodohan. Setyaningsih, agaknya ‘melawan fitrah’ seorang perempuan dengan memperdalam dan membangun imajinasi dengan membaca dan menulis. “Keluargaku, agaknya menjadi yang paling merana sekaligus mau tidak mau kudu nrimo saat aku membawa pulang berkresek-kresek buku. Buku terlanjur menjadi teman imanjinatif dalam kesukaan dan kedukaan.”
Sepertinya, perempuan (Setyaningsih) selalu ada waktu untuk buku. Buku selalu ada di momentum usai bersantap malam, sebelum tidur, kekecewaan dan pengasingan di perpustakaan keluarga maupun di tempat-tempat umum. Bahkan, masih menurutnya, buku ada salam situasi krisis, melarat, atau gawat, ketidak-menyerahan bersama buku. Dengan berliterasi, ia selalu belajar atau istilah “sinau” memperbaiki diri. Pekerjaan membaca dan menulis, ia lakoni untuk mengevaluasi diri.
Hal itu sekalipun perempuan tradisionalis maupun modern harus bisa membagi waktu antara belajar keterampilan, membaca dan menulis. Misal, Raden Ajeng Kartini, salah satu sosok perempuan yang menderma dirinya di jalan literasi. Menjadi perempuan patut memilih. Pilihan hanya ada dua. Merawat kewarasan dengan mengesah kekhawatiran, kekecewaan dan kegelisahan dengan membaca. Seperti dikatakan Dian Sastrowardoyo, organ tubuh paling seksi adalah otak.
إرسال تعليق