Saat melihat penampilan impresif para striker Uruguay dari masa ke masa di semua ajang, saya langsung beranggapan bahwa pria-pria perkasa dari negara Amerika Latin itu sedang naik level. Pria itu, sebut saja, Suarez sangat tampak garang jika berduel di depan gawang lawan. Tidak perlu jika di garis bertahan lawan ia mampu menyatukan semua Arah, tanpa hadangan lawan, Suarez sangat mudah menjebloskan bola ke jala lawan.
Tidak hanya itu, para pemain asal Uruguay “jajahannya” begitu gemilang. Mulai Liverpool atau Barcelona dan klub yang dibelanya, Suarez selalu menampilkan tajinya dengan torehan gol yang tidak sedikit. Para klub yang dibelanya, selalu puas dengan layanandarinya. Taji Suarez tidak hanya diperuntukkan untuk menggigit para bedebah-bedebah. Bukan taji yang selalu membawa kontroversi dengan olahraga yang tidak mendidik di lapangan hijau. Namun kinerja yang selalu menghadirkan euforia. Tajinya ia menunjukkan di semua klub yang dibelanya dengan kinerja yang apik.
Luiz Suarez tidak sendiri untuk torehan impresif. Ada Cavani. Sosok gondrong ini juga tampak tak kalah garang di depan gawang lawan. Namun bedanya dengan Suarez, Cavani lebih anggun dengan gaya bermainnya tanpa diselingi kontroversi. Kehidupannya di lapangan dan di luar lapangan datar-datar saja, tidak ada ruginya. Meski begitu, ia juga memiliki sisi kekanak-kanakan. Ia “rayahan” bola dengan Neymar saat mendapat hadiah tendangan pinalti. Sebuah perilaku yang wagu (nan mboh apa lah?)
Jika membahas tentang para tokoh penyerang Uruguay, tak enak rasanya jika tak peduli sosok penuh dedikasi dan punya sejarah yang baik. Siapa lagi kalau bukan Diego Forlan. Sosok yang diterima dalam film dokumenter berjudul DF10 itu masih diagungkan oleh para suporter di mana pun berada. Di situ kaki Diego berpijak dan berlari, di situ pula ia dipuji dan disanjung. Sosoknya selalu memberikan harapan baru kepada klub-klub yang dibelanya. Karena Diego menerapkan falsafah orang-orang Endonesah , "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Dia selalu menerima atau menghargai ada istiadat tempat bernaungnya.
Misalnya saat masih bersama Manchester United, ia selalu bermain habis-habisan demi tim yang dibelanya. Meski pada akhirnya ia tidak menyatu dengan kultur Kick and Rush dalam permainan Liga Inggris . Forlan kebuntuan dan kesulitan memperbaiki dengan gaya pertandingan di liga Ratu Elizabeth.
Setara Merah membuat budaya yang tak sesuai dengan gaya permainanya membuat sulit menampilkan kinerja terbaik. Dengan 63 penampilan, ia hanya mampu mencetak 10 gol di semua pertandingan. Meski sulit paceklik gol dan kesulitan, Forlan tetap menunjukkan loyalitas dan totalitas untuk klub yang dibela. Dia harus bermain gila-gilaan. Gila-gilaan dalam artian bermain semaksimal mungkin, mengeluarkan kemampuan dan energi yang dibutuhkan atas nama kemenangan bagi tim yang dibela. Memang begitu sikap ksatria itu! Ya, ora, rek?
Namun bukan Diego Forlan yang namanya jika tidak disanjung-sanjung para pendukungnya, termasuk Mancunian . Terbukti, meski berhasil paceklik gol, sikap ksatria-nya disetujui oleh warga Manchester Merah. Nama diabadikan dalam chant pendukung suporter yang mendukung di Old Traffod. Sikap ksatrianya dibuktikan kala bersua dengan Liverpool dengan skor gol dan mengantarkan MU menang di Anfield di medio 1 Desember 2002.
“Setelah dia memenangkan dua gol melawan Liverpool itu, di mata suporter kami, dia sudah menjadi legenda,” papar Sir Alex Ferguson, manajer Uniter kala itu.
Lebih jauh lagi, selama mendapat pengakuan akan dimiliki sebagai warga negara dengan identitas kependudukan (KTP) di sakunya, Diego Forlan akan membahas negaranya dengan penuh rasa nasionalis. Bisa dihitung selama 13 tahun berseragam kenegaraan Uruguay, Forlan telah menyumbang 36 gol dengan koleksi 112 caps .
Puncaknya adalah pada 2010, saat Uruguay ditekuk dengan Ghana pada fase semifinal pertama untuk pertama kalinya setelah 1970. Lewat tendangan bebas yang dilesatkan oleh Forlan, Uruguay membuka Ghana bertarung lewat lubang tambahan dan melalui dua belas pas. Melalui pertandingan yang menegangkan, Uruguay menang di pertandingan tengah vuvuzela dan di akhir turmanen tersebut.
Diego Forlan kemudian dibaiat menjadi pemain terbaik. Namun pada akhirnya ia tak mampu mengantarkan negara ke puncak Piala Dunia, dan hanya menempati posisi 3 besar. Jelas ini adalah bukti bahwa jiwa Forlan melepaskan rasa nasionalisme untuk negaranya. Nasionalisme menurut Tesaurus Alfabetis (2009) adalah semangat kebangsaan. Seperti mengingat para pahlawan yang mempertahankan negara dari misi para penjajah, melalui cabang olah raga sepakbola, pesepakbola memiliki peluang dalam menciptakan rasa nasionalisme terhadap negara yang dibela.
Misal, saat berada di lapangan hijau dan berhadapan dengan negara lain, di saat bertemu nasionalisme merekah dan berlipat ganda berjuang dalam menghadapi negara. Kiranya kita harus menyematkan petuah dari Presiden Amerika, John F. Kennedy itu, "Jangan tanya apa yang telah diberikan negara ini kepadamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan kepada negaramu."
Saya kira, petuah Bapak Bangsa dari negeri Paman Sam perlu digulirkan di hati semua orang untuk semua anak. Sekiranya bukan hanya Diego Forlan, tetapi kita-kita para penerus bangsa ini. Bola-bola nasionalisme memang wajib digulirkan oleh semua warga negara.
Forlan, baik di luar lapangan maupun di lapangan yang dipenuhi layar lebar, termasuk saat masa kanak-kanak. Karena semangat patriotisme yang membuka bendera negaranya, bila di jalanan Montevideo semerbak harum dengan nama Diego Forlan.
Sebab, bunga-bunga nasionalisme harus ditempatkan pada pejuang-pejuang yang membewa negaranya dari berbagai ranah, termasuk di cabang olahraga. []
Penulis adalah orang pernah jadi tarkam dan hampir dikroyok penonton.Tulisan ini tayang perdana di Medium.com
Tidak hanya itu, para pemain asal Uruguay “jajahannya” begitu gemilang. Mulai Liverpool atau Barcelona dan klub yang dibelanya, Suarez selalu menampilkan tajinya dengan torehan gol yang tidak sedikit. Para klub yang dibelanya, selalu puas dengan layanandarinya. Taji Suarez tidak hanya diperuntukkan untuk menggigit para bedebah-bedebah. Bukan taji yang selalu membawa kontroversi dengan olahraga yang tidak mendidik di lapangan hijau. Namun kinerja yang selalu menghadirkan euforia. Tajinya ia menunjukkan di semua klub yang dibelanya dengan kinerja yang apik.
Luiz Suarez tidak sendiri untuk torehan impresif. Ada Cavani. Sosok gondrong ini juga tampak tak kalah garang di depan gawang lawan. Namun bedanya dengan Suarez, Cavani lebih anggun dengan gaya bermainnya tanpa diselingi kontroversi. Kehidupannya di lapangan dan di luar lapangan datar-datar saja, tidak ada ruginya. Meski begitu, ia juga memiliki sisi kekanak-kanakan. Ia “rayahan” bola dengan Neymar saat mendapat hadiah tendangan pinalti. Sebuah perilaku yang wagu (nan mboh apa lah?)
Jika membahas tentang para tokoh penyerang Uruguay, tak enak rasanya jika tak peduli sosok penuh dedikasi dan punya sejarah yang baik. Siapa lagi kalau bukan Diego Forlan. Sosok yang diterima dalam film dokumenter berjudul DF10 itu masih diagungkan oleh para suporter di mana pun berada. Di situ kaki Diego berpijak dan berlari, di situ pula ia dipuji dan disanjung. Sosoknya selalu memberikan harapan baru kepada klub-klub yang dibelanya. Karena Diego menerapkan falsafah orang-orang Endonesah , "di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung". Dia selalu menerima atau menghargai ada istiadat tempat bernaungnya.
Misalnya saat masih bersama Manchester United, ia selalu bermain habis-habisan demi tim yang dibelanya. Meski pada akhirnya ia tidak menyatu dengan kultur Kick and Rush dalam permainan Liga Inggris . Forlan kebuntuan dan kesulitan memperbaiki dengan gaya pertandingan di liga Ratu Elizabeth.
Setara Merah membuat budaya yang tak sesuai dengan gaya permainanya membuat sulit menampilkan kinerja terbaik. Dengan 63 penampilan, ia hanya mampu mencetak 10 gol di semua pertandingan. Meski sulit paceklik gol dan kesulitan, Forlan tetap menunjukkan loyalitas dan totalitas untuk klub yang dibela. Dia harus bermain gila-gilaan. Gila-gilaan dalam artian bermain semaksimal mungkin, mengeluarkan kemampuan dan energi yang dibutuhkan atas nama kemenangan bagi tim yang dibela. Memang begitu sikap ksatria itu! Ya, ora, rek?
Namun bukan Diego Forlan yang namanya jika tidak disanjung-sanjung para pendukungnya, termasuk Mancunian . Terbukti, meski berhasil paceklik gol, sikap ksatria-nya disetujui oleh warga Manchester Merah. Nama diabadikan dalam chant pendukung suporter yang mendukung di Old Traffod. Sikap ksatrianya dibuktikan kala bersua dengan Liverpool dengan skor gol dan mengantarkan MU menang di Anfield di medio 1 Desember 2002.
“Setelah dia memenangkan dua gol melawan Liverpool itu, di mata suporter kami, dia sudah menjadi legenda,” papar Sir Alex Ferguson, manajer Uniter kala itu.
Lebih jauh lagi, selama mendapat pengakuan akan dimiliki sebagai warga negara dengan identitas kependudukan (KTP) di sakunya, Diego Forlan akan membahas negaranya dengan penuh rasa nasionalis. Bisa dihitung selama 13 tahun berseragam kenegaraan Uruguay, Forlan telah menyumbang 36 gol dengan koleksi 112 caps .
Puncaknya adalah pada 2010, saat Uruguay ditekuk dengan Ghana pada fase semifinal pertama untuk pertama kalinya setelah 1970. Lewat tendangan bebas yang dilesatkan oleh Forlan, Uruguay membuka Ghana bertarung lewat lubang tambahan dan melalui dua belas pas. Melalui pertandingan yang menegangkan, Uruguay menang di pertandingan tengah vuvuzela dan di akhir turmanen tersebut.
Diego Forlan kemudian dibaiat menjadi pemain terbaik. Namun pada akhirnya ia tak mampu mengantarkan negara ke puncak Piala Dunia, dan hanya menempati posisi 3 besar. Jelas ini adalah bukti bahwa jiwa Forlan melepaskan rasa nasionalisme untuk negaranya. Nasionalisme menurut Tesaurus Alfabetis (2009) adalah semangat kebangsaan. Seperti mengingat para pahlawan yang mempertahankan negara dari misi para penjajah, melalui cabang olah raga sepakbola, pesepakbola memiliki peluang dalam menciptakan rasa nasionalisme terhadap negara yang dibela.
Misal, saat berada di lapangan hijau dan berhadapan dengan negara lain, di saat bertemu nasionalisme merekah dan berlipat ganda berjuang dalam menghadapi negara. Kiranya kita harus menyematkan petuah dari Presiden Amerika, John F. Kennedy itu, "Jangan tanya apa yang telah diberikan negara ini kepadamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan kepada negaramu."
Saya kira, petuah Bapak Bangsa dari negeri Paman Sam perlu digulirkan di hati semua orang untuk semua anak. Sekiranya bukan hanya Diego Forlan, tetapi kita-kita para penerus bangsa ini. Bola-bola nasionalisme memang wajib digulirkan oleh semua warga negara.
Forlan, baik di luar lapangan maupun di lapangan yang dipenuhi layar lebar, termasuk saat masa kanak-kanak. Karena semangat patriotisme yang membuka bendera negaranya, bila di jalanan Montevideo semerbak harum dengan nama Diego Forlan.
Sebab, bunga-bunga nasionalisme harus ditempatkan pada pejuang-pejuang yang membewa negaranya dari berbagai ranah, termasuk di cabang olahraga. []
Penulis adalah orang pernah jadi tarkam dan hampir dikroyok penonton.Tulisan ini tayang perdana di Medium.com
إرسال تعليق